“Apa?? Tiga Lima Sembilan?” aku menganggukkan kepalaku ketika menjelaskan semua yang di jelaskan oleh Lisa kepadaku perihal kamar tersebut, dan kini pandanganku menatap Andrew yang terlihat terkejut mendengar hal itu, yang kemudian membuatnya kini menoleh ke arah samping kanan di mana dinding itu tepat berbatasan dengan kamar tersebut.
“Selama aku di sini, semenjak para penghuni Tiga Lima Sembilan pindah, aku tidak pernah lagi mendengar suara ke gaduhan dari sana, Sophia … apa kau yakin akan hal itu?” tanyanya kepadaku, yang tentu saja aku menganggukkan kepala ,menanggapi pertanyaan itu,
“itu lah sebabnya aku meminta bantuanmu, Andrew … aku tidak mungkin melaporkan ini secara langsung tanpa ada barang bukti atau secara langsung menyaksikannya, karena aku bisa terjerat pasal informasi palsu yang nantinya merugikanku, itu lah sebabnya aku memintamu dan kita harus mengambil setidaknya barang bukti untuk bisa melapor!” itu lah yang aku jelaskan kepadanya yang kini menghembuskan napas mendengar ucapanku itu,
“Hh … baiklah, kita akan mengeceknya!” Aku merasa senang ketika Andrew berkata seperti itu, yang kini membuatku mengangguk dengan semangat ketika iamemutuskannya.
“Kita akan pergi malam ini!” ucapku kepadanya yang kini mengangguk untuk kemudian berkata,
“AKu akan meminta kunci kepada satpam, karena aku dengar mereka memiliki kunci ganda untuk memakainya jika-jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi!” Aku menganggukkan kepalaku yang kemudian aku beranjak dari sana untuk kemudian berkata,
“Aku akan ambil kameraku!” jelasku kepadanya yang kini mengangguk menyetujuinya.
…
Dan di sini lah aku kini, menunggu kedatangan dari Andrew. Aku yang dengan sengaja menunggunya di depan Lift, saat itu pukul sebelas lewat tiga puluh menit dan jam itu sesuai dengan jam yang kami janjikan untuk bertemu. Tidak lama dari sana pintu apartemen Andrew pun terbuka dan menampakkan Andrew yang kala itu mengenakan kemeja biru muda dengan celana hitam rapih, dan membuatku kini menganggukkan kepala ketika kedua matanya menoleh menatapku.
Ia berjalan menghampiriku dan begitu pun denganku,
“Bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan kuncinya, Andrew?” tanyaku kepadanya yang kini menganggukkan kepala seraya memperlihatkan satu buah kunci yang ia genggam, dan membuatku kini mengangukkan kepala merasa jika itu adalah waktu kita untuk masuk ke dalam apartemen itu.
“Ayo!” kami berjalan setelah Andrew mengajakku untuk segera pergi menuju apartemen itu.
“Hh … hh …” berkali-kali aku merasakan deruan napasku yang mulai terasa panas, jantungku berdegup dengan kencang pada saat itu, meski kami belum masuk ke dalamnya. Namun, aku merasa jika adrenalinku sudah tinggi di sana.
Cklek!
Dengan tanpa keraguan, Andrew membuka pintu apartemen itu, untuk kemudian kami pun masuk ke dalam apartemen tiga lima sembilan di sana. Kosong, itu lah yang kami dapati di ruang utama apartemen tersebut.
“Tak ada satu pun yang mencurigakan di sini, Sophia!” aku menghembuskan napasku merasa jika aku belum puas mengecek kondisi apartemen itu, yang membuatku kini menggelengkan kepala untuk menjawab ucapan dari Andrew di sana.
“Aku rasa kita harus mengecek satu persatu kamar yang ada di sini, Andrew!” itu lah yang aku katakan kepadanya, yang pada akhirnya Andrew mengangguk dan berkata,
“Apakah kau ingin berpencar?” tanyanya, dan dengan cepat aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan tersebut,
“Akan menjadi lebih baik jika kita bersama-sama mengecek kamar-kamar yang ada di sini, Andrew!” itu lah yang aku katakan kepada Andrew, karena kurasa kita hanya perlu mengecek tiga ruangan yang terdapat di dalam apartemen itu, satu merupakan kamar mandi, dan dua lainnya adalah kamar tidur.
Kami berjalan bersama sama menuju kamar mandi, namun seperti sama halnya dengan ruang utama, kami tidak mendapati apapun di sana, dan hal itu membuatku bernapas lega.
“Ayo kita lihat dua kamar lainya, Andrew!” ajakku kepadanya, dan hal itu membuat Andrew menganggukkan kepala dan kami pun berjalan memasuki ruang kamar yang posisinya berdekatan dengan kamar mandi di sana. Dan sama halnya dengan dua ruangan yang telah kami kunjungi, tak ada satu pun hal yang mencurigakan di sana.
“Apakah kau yakin jika kamar berikutnya kita mendapatkan sesuatu, Sophia?? aku merasa jika kita tidak akan menemukan apa yang kita cari di kamar berikutnya!” jelasnya kepadaku, dan ya … aku menjadi yakin jika hal yang diucapkan oleh Andrew ada benarnya. Namun, aku masih merasa penasaran hingga aku menggelengkan kepalaku dan mengelak jika kamar lainnya sama seperti kamar yang lainnya.
“Kita tidak akan tahu jika tidak mengeceknya secara langsung, Andrew!” ucapku kepadanya yang terlihat sangat tidak yakin dengan ucapanku itu,
“Kita tetap harus mengeceknya, dan jika tidak ada … aku tidak akan merasa oenasaran lagi Andrew!” ucapnya kepadaku, yang pada akhirnya Andrew pun menghembuskan napas untuk kemudian mengangguk di sana.
“Baiklah … kita cek itu sama-sama”
Penjelasan Andrew membuat kami berjalan melangkah menuju ruang kamar yang letaknya berada di ujung dekat jendela sana, yang kemudian pintu kamar yang tertutup itu dengan tanpa keraguan kubuka dengan lebar.
“!!” aku terhentak, terkejut bukan main ketika mendapati satu ruangan itu dipenuhi oleh puluhan photo mengerikan yang tergantung di beberapa utas tali yang terpasang di ruangan tersebut.
“A… apa ini?” gumamku dengan lemas, bahkan Andrew tidak mengatakan satu patah kata pun selain berjalan mendekati gamar-gambar itu untuk melihatnya dengan jelas.
“Ini … photo penyiksaan, Sophia!” jelas Andrew kepadaku, dan seketika membuat kedua tanganku bergetar dengan hebat, merasa ketakutan ketika mengetahui bahwa tempat ini tidak aman untuk kami.
“K… kita harus pergi melapor, Andrew!” ucapku kepadanya yang kini menoleh ke arahku seraya mengangguk, ia melenggang terlebih dahulu seraya berkata,
“Baiklah … aku akan menghubungi Aght …
Aku mendengar suara ringisan Andrew pada saat itu, yang seketika saja membuatku menoleh menatapnya yang kini berdiri memunggungiku dengan tubuh yang bergetar di sana.
“Andrew?” tanyaku kepadanya, dan ketika aku melihat Andrew terjatuh, aku menyadari jika kita tidak hanya berdua di sana. Pandanganku kini menatap ke arah seorang lelaki yang berdiri di ambang pintu itu, dan itu adalah Mark. Lelaki penghuni Tiga lima delapan, yang tentu saja hal itu sangat mengejutkanku.
“K … kau!” ucapku separuh terkejut karenanya, ia menyeringai dengan jahat kearahku dan Andrew yang tengah menahan rasa sakitnya di sampingku saat ini.
“Sophia … p … pergih… segera pergi ketika akhu menahannyahh … hubungi Nic!” bisik Andrew kepadaku, yang tentu saja aku terkejut mendengarnya berkata seperti itu, hingga aku menggelengkan kepala mendengar ide tersebut,
“Lalu membiarkan dirimu di sini bersamanya? Tidak Andrew!” ucapku membalasnya,
“Tak ada waktu, lakukan apa yang aku katakan, Sophia!! Eught! Sekarang!” ucapnya yang kini berdiri dari sana untuk kemudian memeluk Mark agar menghalanginya menyerangku di sana, dan karena Andrew memerintahkan seperti itu aku pun otomatis berlari untuk melaporkan hal itu kepada Nicholas.
Aku berlari keluar dari kamar tersebut menuju pintu apartemen, dan aku mendengar dari kejauhan sana Andrew kembali meringis kesakitan seolah Mark kembali melukainya di sana, aku tidak bisa berhenti atau pun menolongnya saat ini, karena aku harus segera melaporkan itu kepada Nicholas. Dengan kedua kakiku yang bergetar dengan hebat, aku berhasil keluar dari apartemen itu, berlari menuju apartemen tiga lima enam, tempat di mana Nicholas berada. Namun entah mengapa waktu terasa amat lamban bagiku, hingga kedua pasang tangan mendekapku dengan erat dan aku berteriak sekencang-kencangnya di sana dan anehnya, aku jeritanku yang kencang itu perlahan menghilang setelah aku merasakan sakit di leherku, karena orang yang mendekapku itu menyuntikan sesuatu beberapa saat yang lalu. Yang pada akhirnya kesadaranku pun menghilang. Hal terakhir yang aku rasakan adalah Mark yang kembali menyeretku masuk ke dalam apartemen itu dan melemparku tepat di samping Andrew yang tengah meringis kesakitan karena luka tusuk yang ia dera pada saat itu.
…