Pengakuan Lisa

1178 Kata
Dua malam dari malam itu, secara mengejutkan Lisa menghubungiku di sore hari itu, dan posisinya saat itu aku sedang berada di kediaman dari Marla, sengaja menginap setelah sebelumnya aku lembur dan pulang cukup malam, pada akhirnya Marla menawariku untuk bermalam. Pandanganku kini menoleh menatap ponselku yang bergetar di sana, dan membuatku kini menoleh dengan singkat Marla yang kala itu juga menoleh ke arah ponselku, “Sebentar ya!” ucapku kepada Marla, yang kini Marla pun tersenyum untuk kemudian menganggukkan kepala seraya berkata, “Santai! Angkat lah … aku akan siapkan makan untuk kita ya!” ucap Marla kepadaku, yang pada akhirnya aku pun menganggukkan kepala menanggapi hal itu, dan segera saja mengangkat sambungan telfon dari Lisa. “Halo, Lisa?” tanyaku kepadanya, yang kemudian membuatnya kini segera berkata, “Segera pergi dari sana, Sophia … hhh … hh … pergi dari apartemen itu sekarang jugaa!!!” alih-alih menyapa, Lisa berteriak dengan kencang, yang tentu saja membuatku terkejut buka main pada saat itu. “Hei … hei … Lisa … Lisa !! dengarkan aku!!” ucapku berusaha untuk menenangkan Lisa dari sini, dan aku tahu dari deruan napas Lisa, dirinya tengah panik, dan perlahan suara deruan napas itu pun berangsur menjadi tenang, Aku mengangguk yakin ketika memastikan suara deruan itu, yakin jika Lisa sudah tenang saat itu. “Lisa … sekarang aku ingin kau berbcerita, apa yang terjadi?” itu lah yang aku tanyakan kepada Lisa, yang kemudian membuatnya berkata, “Kau harus pergi dari sana, Sophia!” ucapnya kepadaku, yang kini membuatku kembali bertanya, “Ada apa?? aku baik-baik saja di sini Lisa, Lagipula penjahatnya sudah tertangkap!” jelasku kepadanya, yang kini aku dengar dia mulai menangis di sana dan kembali berkata, “Tidak … kau tidak mengerti Sophia … lelaki itu mengikutiku dan datang kemari! Ia memberikanku peringatan, kau harus segera pergi dari situ!” ucapnya, yang tentu saja membuatku terkejut bukan main, “seorang lelaki?? siapa itu? Dan apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku, hingga aku bisa melapor kepada polisi!” ucapku kepadanya yang dengan cepat berucap, ”Tidak! Kau tidak mengerti … dia akan membunuhmu jika aku melakukannya!” itu lah yang di katakan Lisa, namun dengan tenang aku kini meyakinkan Lisa jika itu takkan terjadi dengan berucap, “Tidak Lisa … dengarkan aku! Aku adalah wanita yang kuat, kau tahu sendiri akan hal itu kan? Tak ada yang akan bisa melukaiku, percaya padaku jadi berceritalah!” jelasku lagi, yang pada akhirnya kini Lisa berucap, ”Tiga Lima Sembilan!” ucapnya kepadaku, yang dengan spontan membuat dahiku berkerut, “Apa?” tanyaku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan di sana, “Aku melihat hal yang mengerikan di sana, dan aku juga melihat lelaki itu … dia berada di sana dan tertawa ketika melihatku menyaksikannya! Kau bisa bercerita kepada polisi, dan kumohon berhati-hati lah, Sophia!” ucapnya kepadaku, yang membuatku kini menganggukkan kepala dan berusaha untuk kembali menenangkan Lisa, dan bertanya, “Bagaimana dia bisa mendatangimu saat ini?” tanyaku, dan kemudian Lisa berkata, “Dia tidak datang, tapi dia menelfonku!” jelasnya kepadaku, dan hal itu membuatku mengangguk untuk kemudian berkata, “Kalau begitu ganti lah nomor handphone mu! Minta bantuan kepada Rico agar ia melindungimu, kau mengerti Lisa!” ucapku kepadanya, yang kemudian Lisa pun berkata, “Ya, aku akan melakukannya!” ucapnya dan aku menganggukkan kepalaku sebelum akhirnya sambungan kami pun terputus sampai di situ. Aku tertegun beberapa detik ketika mengingat ucapan dari Lisa mengenai apartemen nomor tiga lima sembilan di sana, sehingga membuatku merasa penasaran bukan main. “Apakah ada masalah yang serius, Sophia?” pandanganku seketika menoleh menatap ke arah Marla yang datang membawa satu piring wings pedas yang kemudian membuatku tersenyum dan menggeleng dengan cepat, “Tidak … tak ada apapun!” ucapku kepadanya, dan kami pun menyantap makanan itu dan berbincang seolah tak ada yang terjadi pada saat itu, namun tidak dengan pikiranku saat ini. Apa pun yang terjadi, aku rasa aku harus melaporkan hal ini kepada Sir Nicholas. Namun sebelum itu aku harus memastikan agar aku tidak dikenai sebuah laporan palsu di sana, dan bagaimana caraku untuk mendapatkan kunci tiga lime sembilan itu? Itu lah pertanyaan yang kini hinggap di dalam kepalaku, untuk akhirnya wajah Andrew pun terbayang di dalam benakku, dan aku mengangguk untuk memutuskannya, ya … aku akan meminta bantuan Andrew dalam hal ini, dan besok malam aku harus menemuinya dan bercerita mengenai pengakuan Lisa akan ruangan nomor tiga lima sembilan itu serta memintanya menemaniku untuk mengecek apa yang ada di dalam ruangan tersebut. … Sesuai dengan apa yang aku niatkan, dua hari dari malam ketika Lisa menghubungiku, dan lebih tepatnya itu adalah malam sabtu, di mana semua akan berlibur di hari minggu. Aku mengetuk apartemen dari Andrew setelah meyakinkan jika dirinya pasti libur di malam itu. Tidak lama dari ketukan pintu yang aku lakukan, pintu tersebut pun terbuka, dan Andrew berdiri tepat di hadapanku malam itu, “Hei, Sophia … ada yang bisa kubantu?” itu lah yang ia tanyakan ketika melihatku berada di depan pintu apartemennya, aku tersenyum mendengar pertanyaan itu, yang kini membuatku mengangguk dan berbalik bertanya, “Ya … aku membutuhkan bantuanmu, Andrew … apakah kau sibuk?” tanyaku kepadanya, yang kini tersenyum dengan lebar untuk kemudian membuka pintu apartemennya dengan lebar seraya berkata, “Tentu tidak … masuk lah! Akan lebih baik jika kita berbincang di dalam!” ucapnya kepadaku, mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam apartemennya, dan tentu saja aku masuk dengan permisi. Dan kini pemandangan apartemen dari Andrew tidak seperti pertama kalinya aku datang, apartemen itu tampak sangat rapih di malam ini, yang tentu saja hal itu membuatku merasa aneh. “Aku rasa kau tidak sibuk di minggu ini ya! Aku tidak melihat banyak kertas seperti kali pertamanya aku kemari!” jelasku kepada Andrew yang kini tertawa dan memintaku untuk duduk di sofa itu, “Hahaha … maafkan aku, saat itu aku tengah mengusut kasus pemerkosaan dan pembunuhan sembilan anak kecil, jadi aku tidak sempat untuk membereskannya karena aku harus kembali melihat data-data mereka saat itu, sehingga aku membiarkannya berantakan di atas mejaku!” jelasnya kepadaku, dan aku yang mendengarnya merasa terkejut sekaligus terpukau, karena aku rasa Andrew adalah orang yang baik dan hebat, sehingga ia menjadi seornag pengacara di sana. “Eum … pada saat itu, kau berdiri di pihak mana?” tanyaku penasaran, dan hal itu membuatnya kini mengerutkan dahi dan kemudian berkata, ”Tentu aku berdiri di pihak penuntut, Sophia! Untuk apa aku berdiri di samping terdakwa jika memang ia melakukan tindak kejahatan?” jawabnya kepadaku, dan hal itu membuatku mengangguk seraya tersenyum dengan senang mendengarnya, dia keren itu lah yang ada di dalam benakku saat ini. “Jadi … apa yang bisa aku bantu, Sophia?” dan kali ini, pembicaraan kami kembali kepada topik awal, hingga senyumanku luntur di sana dan kemudian dengan serius aku berkata, “Andrew … aku membutuhkanmu untuk menemaniku memastikan sesuatu!” jelasku kepadanya yang kini ikut menatapku dengan tatapan serius juga, dan pada malam itu aku putuskan untuk mengeceknya bersama dengan Andrew, agar setidaknya sahabatku Lisa bisa menjadi tenang jika kasus ini terpecahkan dan lelaki yang menerornya tertangkap. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN