Suara Misterius pada Pukul Dua

1182 Kata
Tak ada yang bisa aku ungkapkan di hari itu selain rasa senang yang aku rasakan, kedatangan Marilyn dan juga Lisa di apartemenku membuatku merasa bahwa perasaan rindu akan rumah pun terobati oleh kehadian mereka berdua di hari itu, terlebih kami akan menghabiskan waktu selama tiga hari penuh, dan itu patut untuk aku syukuri, malam itu diam-diam aku mengendap-endap turun dari matrasku dan melihat Marilyn dan juga Lisa yang tertidur dengan lelap. Membuatku tidak ingin melewatkan momen yang satu itu, yang pada akhirnya aku masuk ke dalam kamarku untuk mengambil kamera pemberian Rico ketika ulang tahunku yang ke dua puluh, dan aku pun mengambil gambar dari keduanya yang senang tertidur dengan pulas pada malam itu. Grug! Pandanganku dengan cepat menoleh menatap ke arah dinding samping kiri di mana itu adalah apartemen nomor tiga lima enam, yang tentu saja tempat gadis remaja menyebalkan bernama Scarlet tinggal. Buk! “!!” aku terlonjak lagi ketika mendengar suara debuk kan di sana, seolah ada sesuatu yang tengah di pukul pada saat itu, seperti … bantal? Boneka? Atau orang?! aku tidak yakin akan hal itu, namun suara itu tentu saja membuatku merasa penasaran setengah mati. Pandanganku menoleh menatap ke arah jam dinding yang kala itu menunjukkan pukul dua malam, dan aku menjadi tidak yakin jika suara itu hadir hanya di saat ini, karena mungkin saja suara itu hadir setiap harinya namun aku tidka mendengar karena waktu saat ini adalah waktu di mana semua pasti akan tertidur dengan sangat pulas dan tentu akan suklit untuk mendengar suara debuk kan seperti itu. Buk!! “Hh … hhh … “ napasku menjadi tidak karuan saat ini, dan pada akhirnya aku pun memutuskan untuk mendatanginya dan mengecek keadaannya, mengingat Rico berkata jika Scarlet, anak remaja menyebalkan itu hanya tinggal dengan ayahnya saja. Aku berjalan keluar dari pintu apartemenku, namun ketika aku melangkah untuk mendekati pintu apartemen tiga lima enam di sana, aku menjadi merasa sangat ragu. Aku takut jika ternyata ayahnya menyiksa Scarlet saat ini, dan tentu hal itu tidak boleh dibiarkan. “Tapi bagaimana jika aku yang nantinya akan diculik dan dipukuli olehnya?” gumamku penuh dengan perasaan takut, dan bahkan aku terlalu fokus saat ini hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah berjalan mendekati diriku saat itu. “AA!!” aku hanya bisa terlonjak kaget dan berteriak kencang untuk kemudian berbalik dengan cepat menoleh menatap lelaki yang kini berusaha untuk menenangkanku di sana dengan berkata, “Ssst … sstt … hei, hei tenanglah ini aku!” aku menatapku, ya … Andrew. Dia berdiri di hadapanku dengan raut khawatirnya, dan hal itu membuatku merasa lega, ternyata lelaki itu bukan penjahat melainkan tetangga yang tinggal di nomor tiga sepuluh. “Andrew …” panggilku dengan lega, dan hal itu membuatnya mengangguk, “Kau baik?? kenapa kau berdiri di sini di jam dua malam?? aku khawatir kau memiliki sleeping habit!” ucapnya kepadaku, dan hal itu membuatku menghembuskan napas dan menggenggam lengannya yang kala itu menggenggam kedua bahuku, “Tidak … hanya saja aku ingin memastikan Scarlet … aku mendengar suara seperti sesuatu dipukul berkali-kali dari dinding apartemenku!” jelasku kepada Andrew, dan hal itu membuatnya kini mengerutkan dahi dan kemudian berucap, “Jadi … kau terdiam di sini untuk memberanikan dirimu mengetuk pintu itu?” tanya Andrew, dan membuatku menganggukkan kepala dan setelahnya ia tersenyum kepadaku, seolah aku seharusnya tidak perlu melakukan hal itu. “Tidak seharusnya kau seperti ini, biarkan dia … aku rasa akan lebih baik jika kita membiarkan tetangga kita melakukan aktifitasnya!” jelas Andrew, namun tidak denganku yang merasa khawatir saat ini, “Aku tahu suara itu tidak begitu mengganggu, tapi aku merasa khawatir!” jelasku kepada Andrew, dan hal itu pada akhirnya membuat Andrew pun mengangguk menanggapiku seraya berkata, “Baiklah … kita akan memastikannya bersama, ayo!” ajak Andrew kepadaku, dan kini aku melangkah mengikuti langkah kakinya yang berjalan menuju pintu apartemen nomor tiga lima enam. Tok … tok … tok … Diketuknya pintu itu sebanyak tiga kali oleh Andrew dan tidak lama dari sana, seorang lelaki dewasa kini membukakan pintunya dan membuatku terlonjak kaget ketika melihatnya yang kini hanya mengenakan celana boxer dengan tubuh kekar dan penuh keringat di sana, membuatku kini berpikiran yang tidak-tidak di sana. “Ah … selamat malam, maaf mendatangi anda di malam hari, Sir Nicholas!” ucap Andrew kepada lelaki itu, yang kini tertawa dan menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu, “Hahaha … tak apa-apa Andrew, ada apa?” tanya lelaki dewasa itu, dan membuat Andrew menoleh menatapku yang kini menggenggam jas belakangnya dan bersemnbunyi di sana, tentu saja aku akan melakukan hal seperti itu, karena saat ini aku takut sekaligus curiga kepada lelaki dewasa ini, “Ah … begini, eum … Sophia … adiiku kebetulan ia tinggal tepat di samping apartemenmu, dan mendengar bunyi-bunyian dari sini, hingga ia mendatangiku dan memintaku untuk memastikan keadaan anda, apakah anda dan juga Scarlet baik-baik saja?” pandanganku menoleh dengan cepat ke arah Andrew yang baru saja berucap seperti itu, dan kemudian pandanganku kembali tertoleh ke arah lelaki dewasa itu yang kini tertawa dan berucap, “Ahahaha … aktifitas kami terdengar ya? Maaf ya … habis Scarlet harus menyiapkan perlombaannya di minggu depan dan memaksaku untuk melatihnya!” jelas lelaki itu kepadaku, dan membuatku kini mengerutkan dahi seraya bertanya, “Be … berlatih?” tanyaku kepadanya yang kini lelaki dewasa itu tersenyum dengan ramah untuk kemudian membuka pintu apartemennya dengan lebar, memperlihatkan Scarlet yang tengah memukuli sak besar yang tergantung di sana, “Ya … turnamen Muai thai akan ia ikuti minggu depan, maaf atas keributan yang anda dengar ya!” ucap lelaki dewasa itu kepadaku, dan membuatku mengangguk dengan cepat, “Ah … semoga turnamennya dimenangkan oleh Scarlet!” ucap Andrew dan membuat lelaki itu mengangguk dengan senang, “Terima kasih, aku juga mengharapkan itu! Ia terlihat bersemangat soalnya!” jelas Nicholas kepada kami, dan hal itu membuat Andrew pun menganggukkan kepala untuk kemudian berkata, “Kalau begitu, silahkan lanjutkan latihannya … maaf telah mengganggu!” ucap Andrew dan hal itu membuat lelaki tersebut mengangguk, “Tak apa … maaf atas ketidak nyamanannya ya!” ucapnya dengan ramah kepadaku, dan aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalaku sebelum akhirnya kami pergi dari hadapan lelaki bernama Nicholas itu. “...” aku tidak bisa berkata apa pun lagi selain terdiam di sana, dan hal itu membuat Andrew yang melihatnya menatapku untuk kemudian tersenyum dan berucap, “Tak perlu khawatir padanya, Ayah Scarlet adalah polisi … jadi tidak mungkin ia melakukan kekerasa kepada putrinya sendiri!” ucapan Andrew pada saat itu, membuatku dengan segera menoleh menatapnya yang kini menepuk bahuku dengan lembut untuk kemudian berkata, “Masuk lah … dan tidurlah dengan nyenyak!” itu lah yang diucapkan oleh Andrew kepadaku, dan aku merasa beruntung karena bertemu dengannya malam itu. Aku menatap Andrew yang kini berjalan dengan lelah menuju apartemennya, dan dari baju yang ia kenakan, aku pastikan ia baru saja pulang dari kantornya. Dan dari situ lah aku menyadari jika Andrew adalah orang yang pekerja keras dan tidak akan pernah bisa berhenti bekerja, bahkan di hari sabtu, dan membuatku semakin penasaran mengenai apakan dia juga akan bekerja di hari minggu? … 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN