Keanehan

1867 Kata
Waktu berganti dan aku terbangun tepat pada pukul tujuh pagi, dan mendapati kedua temanku di sana masih tertidur dnegan lelap dan membuatku tersenyum ketika melihat mereka yang seperti itu. “Hei! Ayo bangun!” ucapku kepada keduanya, aku merasa tidak tega memang jika harus membangunkan keduanya yang tertidur sangat pulas di sana, namun aku harus melakukannya karena aku dan juga Lisa harus segera pergi ke pasar untuk berbelanja. “Eugh!” pandanganku kini menoleh menatap Lisa yang baru saja menggeliat seperti cacing di atas matras itu, dan membuatku segera melempar bantal ke arahnya .  “Hei! Ayo cepat bangun … bukankah kita harus belanja ke pasar?!” tanyaku kepada Lisa, dan hal itu segera saja membuat Marilyn yang masih berbaring dengan nyaman pun segera membuka kedua matanya dengan cepat dan menoleh menatap jam dinsing yang menunjukkan pukul tujuh di sana. “Ah ya benar! Pergi lah segera dan beli bahan yang segar!” ucap Marilyn kepada kami, yang tentu saja hal itu cukup menyebalkan bagiku yang kini terkekeh mendengarnya. “Ck! Iya … iya … aku cuci muka dulu!” itu lah yang dibalas oleh Lisa sebelum akhirnya kami pergi dari apartemen menuju pasar. Dengan sengaja kami memang tidak mandi di pagi hari, karena pasar adalah tempat di mana banyak sekali bau-bau yang bercampur dan itu membuatku malas untuk mandi dan aku memutuskan hanya memakai jaket dan parfum di sana, selainnya aku memakai piyama tidur yang aku kenakan di pagi itu. Aku dan Lisa berjalan dengan santai menuju lift, namun aku terkejut ketika mendapati jika Scarlet ikut masuk ke dalam lift itu. Membuatku merasa tidak enak karena telah menganggu latihannya malam tadi, namun aku melihat jika nampaknya Scarlet tidak akan membahasnya di sana dan hal itu patut untuk aku syukuri. Pagi itu, kami membeli ikan segar, kerang, serta beberapa bahan lainnya. Setelah kami semalam tadi memutuskan untuk membuat sup ikan dan sup kerang untuk menjadi menu pagi hari kami dan akan membuat salad di menu siang hari lalu untuk menu makan malam kami akan membelinya nanti di sore harinya karena sesuai kesepakatan Marilyn dan aku yang akan berbelanja untuk malam nanti. “Apakah bisa kita menggunakan ikan ini untuk menjadi sup, Sophia?” aku menganggukkan kepala ketika Lisa bertanya akan hal itu, dan saat ini kita tengah berjalan menuju apartemenku setelah banyak berbelanja dan mendapatkan banyak sekali bahan untuk pagi dan siang ini. “Yah … serahkan saja semuanya padaku dan Marilyn, kami pandai memasak!” ucapku kepada Lisa yang kini tertawa mendengarnya dan menganggukkan kepala, “Yeah …yeah … tentu!” ucapnya, dan di saat yang bersamaan pandanganku kini menoleh menatap Andrew yang berjalan dari arah lainnya untuk masuk ke dalam apartemen, dan tnetu saja membuatjku segera berlari kecil dan menyapanya di sana, “Oh, Andrew Selamat pagi!” ucapku kepada Andrew yang kini terlihat terkejut atas kedatanganku di sana, “Oh … selamat pagi!” balas sapanya dengan ramah. Pandanganku kini menoleh menatap plastik yang berisikan mie instan di sana, dan hal itu membuatku bertanya, “Mie instan?” tanyaku, dan hal itu membuatnya tertawa dan berkata, “Ahahaha … ya, ini sarapan pagiku, bagaimana denganmu? Kulihat kau akan memasak ikan!” jelasnya dan hal itu membuatku mengangguk dan berucap, “Ah ya! Kebetulan teman-temanku datang, jadi aku akan memasak sup ikan!” ucapku kepadanya, dan deheman dari Lisa di sana membuatku tersadar untuk secara spontan memperkenalkan Lisa dengan Andrew, “Ah … ini adalah temanku, Lisa!” ucapku kepada Andrew yang kini menatap Lisa untuk kemudian tersenyum di sana, “Selamat pagi!” sapa Andrew dan hal itu membuat Lisa ikut mengangguk dan tersenyum di sana, “Ah … selamat pagi juga!” balas Lisa di sana dan bertepatan dengan itu pintu lift pun terbuka dan menampakkan Mark yang baru saja akan keluar dari lift sana, “Ah, selamat pagi Mark!” sapaku dengan spontan, namun nampaknya mark tidak ingin menjawab sapaanku hingga ia hanya berlalu begitu saja dari hadapan kami, dan tentu saja itu membuatku merasa sedikit sebal di sana, terlebih kini Andrew sedikit terkekeh karenanya. “Tidak perlu menyapa orang itu, Sophia!” pandanganku kini menoleh menatap Andrew, saat ini kami berada di dalam lift itu, “Kenapa?” tanyaku kepada Andrew yang kini mengedikkan kedua bahunya dan kemudian ia berucap, “Entah lah … hanya saja, dia terlihat anti sosial … jadi, percuma jika kau menyapanya dengan ramah seperti itu, dia akan jarang membalas!” ucap Andrew kepadaku, dan hal itu membuatku menghembuskan napas setelah mendengarnya. Namun ada sesuatu di dalam hatiku yang merasa bahwa Mark tidak mungkin seperti itu, mengingat senyumannya yang manis di sana, ia tidak mungkin anti sosial. … “Wah! Jadi itu yang namanya Andrew dan Mark?? mereka cukup tampan!” aku menganggukkan kepalaku ketika mendengar Lisa yang berjalan dengan cepat menuju dapur di sana bertanya, yang tentu saja membuat Marilyn yang tengah terduduk di sofa itu kini menoleh dengan cepat seraya berkata, “Kalian bertemu dengan keduanya?!” tanya Marilyn, dan hal itu membuat Lisa tersenyum mengangguk seraya berkata, “Ya … bahkan Sophia mengenalkanku kepada Andrew! Wah … tampan, kau tahu!” ucap Lisa dan hal itu tentu saja membuat Marilyn Iri dan membuatku hanya bisa tertawa melihat tingkah dari keduanya di sana. “Sudah lah … nanti juga kau akan bertemu dengannya, eh …. mungkin!” jelas Lisa lagi, dan kembali membuat Marilyn mengamuk di sana dan memukul Lisa dengan bantal, sedangkan aku kini berjalan untuk mencuci bahan-bahan yang telah kami beli di pasar itu. Memasak sup ikan dan juga kerang adalah hal yang mudah, tidak memakan waktu lama sup yang kami pasak pun telah siap. “Hei, Sophia … tidakkah kau akan memberikan satu mangkuk ini untuk Andrew? Dia terlihat sangat kasihan, jika harus makan pagi hanya dengan mie instan saja!” pandanganku menoleh menatap Lisa, dan aku baru ingat jika memang benar Andrew hanya membeli mie instan saja untuk sarapan paginya, dan aku pun sepakat dengan Lisa yang membuatku kini segera menyiapkan satu mangkuk sup kerang dan ikan di sana untuk Andrew. “AKu akan mengantar ini kepada Andrew!” ucapku kepada mereka, dan disaat yang bersamaan Marilyn beranjak dari kursinya untuk kemudian berkata, “Aku akan mengantarmu!” ucapnya di sana, namun aku kini menggeleng dan berkata, “Tidak perlu … aku rasa percuma jika kau mengantar, Andrew tidak akan bisa berlama-lama berbincang, mengingat dia pasti akan sibuk!” jelasku kepada Marilyn yang kini mendengus sedih dan kesal, dan aku memang tidak ingin ia ikut karena aku memang tidak mau mengganggu konsentrasi dari Andrew hanya untuk berkenalan dengan teman-temannya, ”Nanti saja ya, Marilyn!” ucapku kepada Marilyn, dan beruntung anak itu adalah tipikal teman yang pengertian, hingga ia kini menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arahku untuk berkata, “Yap! Tenang saja … waktu masih panjang … lagi pula kau masih di sini selama tiga tahun!” ucapnya yang kini terkekeh dan hal itu membuatku tersenyum mendengarnya. … Ting … tong … Aku tekan bel tersebut, dan tidak lama dari sana Andrew membukakan pintu itu untukku, aku tersenyum dengan manis ketika dia menatapku di sana, “Oh … Sophia!” ucapnya dan aku dengan segera menyodorkan mangkuk kramik yang memiliki tutup di sana kepada Andrew, “AKu membuatnya terlalu banyak, jadi aku rasa jika kau juga harus mencicipinya!” ucapku kepada Andrew yang terlihat terkejut di sana, dan kemudian ia tersenyum dengan senang kearahku seraya berkata, “Terima kasih Sophia … aku akan mencicipinya!” aku mengangguk dan menatap jika ada seseorang yang berada di dalam rumah itu, dan aku yakin ia adalah klien dari Andrew, karena pakaian yang dikenakan oleh orang itu sangat rapih. “Ah … kalau begitu aku permisi!” ucapku merasa tidak enak jika harus berlama-lama dengannya pada saat itu, dan ia pun menyetujui keputusanku di sana dengan berkata, “Terima kaish, Sophia … aku akan mengembalikannya setelah kerjaanku selesai!” ucapnya dan aku mengangguk menanggapi ucapan itu. Dia memang orang yang sibuk. … Waktu sangat tidak terasa hari itu, dan kini aku tengah bersiap-siap untuk pergi ke mart dan berbelanja dengan Marilyn. “Ingat! Aku ingin kau membereskan semuanya, Lisa!” ucapku kepada Lisa, yang kini tertawa mendengarkan omelanku di sana dan menganggukkan kepala, “Tenang saja … kerapihan adalah urusanku!” jelasnya di sana, ya … tentu saja hal itu harus dilakukan oleh Lisa, karena lihatlah! Saat ini apartemenku sudah seperti kapal pecah, kami memang bersenang-senang namun kerapihan juga harus menjadi nomor satu di sana! “Oh! Aku ingin kau membuang sampahnya juga ya! Tempat pembuangan sampah ada di ruang terbuka samping tiga kosong delapan!” jelasku kepada Lisa mengenai ruang sampah yang ada di apartemen itu, dan hal itu membuat Lisa kembali menganggukkan kepalanya dan berkata, “Ya … ya … pokonya kalian sampai, ini semua sudah beres!” jelas Lisa dan kata seperti itu lah yang memang aku harapkan darinya, ”Ayo!’ aku menoleh menatap Marilyn yang sudah siap dan kini mengajakku, dan aku menganggukkan kepala untuk menanggapinya, dan sore itu kami pun pergi dari apartemen untuk berbelanja daging serta kentang, setelah sebelumnya kami akhirnya memutuskan untuk membuat steak di sana. Tidak lebih dari dua puluh menit kami pergi, menit selanjutnya kami sudah berada di perjalanan pulang. Mendapatkan daging dan kentang tidak sesulit mendapatkan ikan dan kerang. “Kami datang!” ucapku dengan riang dan kini aku melihat jika kondisi dari apartemen sangat rapi, dan membuatku merasa senang setelah menyadari bahwa Lisa sangat cepat ketika merapihkan sesuatu. “Wah, Lisa! Kau hebat … rapih dalam sekejap!” ucapku seraya menoleh menatap Lisa yang kini terduduk di kursi depan meja makan itu, namun raut wajahku kini menjadi bingung ketika melihatnya terdiam dengan wajah yang pucat pasi di sana, dan bahkan tidak hanya diriku, Marilyn pun melihatbnya di sana. “Hei … kau baik-baik saja?” tanya Marilyn, dan seketika ia memeluk Marilyn dan menangis, dan hal itu tentu saja membuatku terkejut atas perlakuan yang ia tunjukkan saat itu, pandanganku menoleh menatap Marilyn yang juga menatapku dengan aneh, karena kami tidak pernah melihat Lisa seperti ini. Melihat Lisa menangis adalah hal yang aneh bagi kami, karena Lisa tidak pernah menangis di hadapan kami sebelumnya, dan ini adalah kali pertamanya ia seperti itu. “Hei … kau baik-baik saja Lisa?” tanyaku kepadanya, “Aku ingin pulang!” ucap Lisa dengan terisak, yang tentu saja hal itu membuat kami kebingungan di sana, “Hei … katakan kepada kami apa yang terjadi?” tanya Marilyn, “AKU INGIN PULANG!!!” aku dan Marilyn terkejut ketika mendengarnya berteriak histeris di sana, dan tentu saja hal itu membuat suasana menjadi tidak nyaman saat ini, Marilyn memeluk Lisa dan mengangguk, “Yeah … kita akan pulang subuh nanti, tenanglah Lisa!” ucap Marilyn kepada Lisa yang kini menggelengkan kepalanya, “Aku ingin pulang sekarang!” ucap Lisa dan hal itu membuat Marilyn berkata, “Tidak bisa Lisa … tiket bus kita besok! Tenang lah … kami di sini!” ucap Marilyn kepada Lisa, yang kemudian membuat Lisa pun berusaha untuk tetap tenang di sana, namun yang kami bingungkan saat itu adalah Lisa yang tidak bercerita apapun kepada kami hingga kami merasa cemas kepadanya. Malam itu kami memutuskan untuk tidur, malam yang harusnya kita habiskan dengan canda tawa, kini dihabiskan untuk diam satu sama lain dan menatap Lisa dengan cemas.  … 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN