Hilangnya Lisa

1333 Kata
Suasana yang tidak mengenakan di malam itu pun harus segera berakhir dengan cepat, dan kini tergantikan dengan pagi yang indah. Itu adalah harapan yang aku inginkan. Namun, pada kenyataannya pagi itu sama sekali tidak indah untukku, maupun teman-temanku. “Sophia! Sophia bangun!! Lisa hilang!” ucapan yang aku dengar dari Marilyn pagi itu, seketika saja membuatku membuka kedua mataku dan segera beranjak dari posisiku saat itu untuk kemudian menoleh menatap ke arah samping di mana seharusnya Lisa memang ada di sana saat ini, namun kala itu ia tidak ada di sana. Aku beralih menatap Marilyn yang memasang wajah paniknya di hadapanku saat itu. “Hei … hei … tenanglah! Apakah dia tidak ada di kamar mandi?” tanyaku kepada Marilyn, yang kini menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu, “Gak ada, tadi aku pun berpikir jika ia ada di sana … jadi aku mengambil minum dan menunggunya keluar, namun ia tidak kunjung keluar dan aku pergi untuk mengecek, namun ternyata itu kosong!” jelas Marilyn kepadaku, dan tentu saja membuatku merasa khawatir dengannya saat ini, “Apa jangan-jangan dia nekat untuk pulang tadi malam?” tanyaku kepadanya, dan Marilyn kembali menggelengkan kepala dan berkata, “Dia gak mungkin ninggalin tas dan handphonenya kan!” jelasnya lagi, dan hal itu kembali membuatku merasa khawatir, dengan cepat aku beranjak dari matras itu untuk kemudian mengelilingi apartemenku, mencari batang hidung dari Lisa di sana, namun ia sama sekali tidak dapat aku temui. “Sop … gimana nih??” aku menoleh menatap Marilyn yang merasa khawatir di sana, dan akhirnya aku mengangguk untuk kemudian berucap, “Coba kamu hubungin Rico, pastikan sama dia untuk melihat kondisi stasiun, aku akan mencarinya ke sekitar apartemen ini!” jelasku kepada Marilyn, dan hal itu membuat Marilyn dengan cepat mengangguk dan segera menghubungi adiiku, sedangkan aku kini berjalan dengan cepat untuk keluar dari apartemen, hanya mengenakan sliper, dan juga baju tidurku. Persetan dengan orang-orang yang nantinya akan melihatku dengan tatapan aneh di sana, aku tidak perduli. Aku lebih memfokuskan diriku kepada Lisa saat ini, aku berjalan keluar dari apartemen untuk kemudian berlari menghampiri lift yang kala itu hendak tertutup di sana. “Oh! Hei!! tunggu!!!” ucapku dan bersamaan dengan itu, aku melihat sebuah telapak tangan menjulur keluar dan menghalangi pintu lift itu yang kembali terbuka di sana, dan itu adalah Scarlet. Di awal aku merasa bersyukur karena orang itu mau menahan liftnya agar tetap terbuka, namun ketika aku melihat Scarlet lah yang menahannya, perasaan senang itu sedikit pudar di sana. “Thanks!” ucapku kepadanya ketika aku masuk ke dalam lift tersebut, dan bahkan kini bukan hanya Scarlet yang ada di sana, melainkan Andrew pun ada di sana. “Oh … Sophia? Kau tidak bekerja?” tanya Andrew kepadaku, dan hal itu membuatku segera menggelengkan kepala untuk menjawabnya, namun aku tidka terlalu fokus hingga aku tidak tahu apa yang ia ucapkan di sana, aku terlalu cemas dan panik, hingga aku berkali-kali menggerakan kaki kananku seolah tidak sabar untuk segera sampai di lobby utama. “Hei … Sophia!” aku mendengar Andrew kembali memanggilku, dan hal itu membuatku menoleh dengan cepat ke arahnya dan ternyata tidak hanya Andrew namun Scarlet pun menatapku dengan kebingungan saat ini, “Yeah?” tanyaku kepadanya, “Kau baik-baik saja? Kau menangis!” ucap Andrew, dan oh … aku baru menyadari jika kini aku menangis. Aku terlalu panik saat itu hingga aku bahkan tidak menyadari jika ras apanik dan cemas itu membuatku menangis tanpa sadar. “Oh … maafkan aku, aku … hanya sedang cemas!” ucapku seraya tertawa kepada Andrew, dan menatap Scarlet yang kini menghembuskan napasnya di sana, “Apa yang terjadi? Kau bisa bercerita kepadaku!” aku menggelengkan kepala untuk menjawabnya dan berucap, “Tidak ada waktu! Aku mencari temanku, dia hilang pagi ini setelah sebelumnya ia bersikap aneh malam tadi!” jelasku kepada Andrew, dan membuat Andrew kini mengerutkan dahinya dan berkata, “Temanmu?? dia menghilang pagi ini?” tanya Andrew dan aku menganggukkan kepala, “Dia hanya aku tinggal semalam untuk membeli bahan makanan, tapi ketika kami pulang dia menangis ketakutan dan memintaku untuk segera mengantarnya pulang, tapi aku tidak melakukannya karena tak ada bis di jam itu! Dan berniat untuk pulang pagi ini, tapi ketika kami terbangun, dia sudah tidak ada … bahkan dia tidak membawa dompet atau handphonennya! Aku jadi khawatir!” ucapku mulai menangis di sana, dan hal itu membuat Andrew menepuk bahuku dan berucap, “Sst … jangan khawatir, aku yakin dia masih ada di sekitar sini … kita bisa cari sama-sama!” pandanganku kini menoleh menatapnya yang berkata seperti itu, “Tapi bukankah kau harusnya bekerja?” tanyaku kepadanya yang kini tersenyum dan berucap, “Tak apa … klienku bisa menunggu, aku akan membantu mencarinya, ok?” ucapnya dan hal itu membuatku mengangguk dan merasa sedikit lega, karena setidaknya ada orang yang mau membantuku di sana. “CCTV!” pandanganku kini menoleh menatap Scarlet yang kala itu masih berdidi tegap menatap pintu lift yang belum terbuka di sana, “Eh?” tanyaku kepadanya yang kini menolehkan pandangannya ke arahku dan berucap, “Kita bisa melihat pergerakannya dari CCTV apartemen ini!” jelas Scarlet kepadaku, dan hal itu membuat Andrew mengangguk emnanggapinya, “Ya … benar, kita pergi ke security!” jelas Andrew dan hal itu membuatku menganggukkan kepalaku lagi. … Setelah pintu lift terbuka, bukan hanya aku dan Andrew, namun Scarlet pun ikut bersama kami pergi ke ruang security untuk meminta memutar ulang rekaman CCTV dan melaporkan jika seseorang telah hilang pagi ini, dan hal itu membuat para security pun mengulang ulang CCTV yang merekam aktifitas di sana. “Dari lantai berapa?” tanya Security kepadaku dan hal itu membuatku kini berucap, “Tiga!” dan hal itu membuat sang security mengetik angka tersebut dan kemudian berucap, “Ah … ya … kami lupa, CCTV di lantai itu selalu rusak, dan terakhir kami belum memperbaikinya!” jelas security itu kepada kami, dan tentu saja hal itu membuatku merasa semakin kacau di sana, “Bagaimana bisa kau belum memperbaikinya huh? Bukankah biaya sewa di sini mahal?!” rutuk Scarlet kepada sang security yang kini hanya bisa mendecik di sana, “Coba kita cek CCTV yang ada di lift satu dan dua, pak! Jika memang kita tidak bisa melihatnya, mungkin kita bisa melihat kemana Lisa pergi!” jelas Andrew kepada sang Security, yang kini mengangguk dan membuka CCTV tersebut. Kami terus menatap rekaman dari CCTV yang kala itu dipercepat dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari yang biasanya, dan di sana kami berusaha untuk sefokus mungkin melihat pergerakan yang ada di dalam CCTV tersebut, dan banyak sekali orang yang keluar masuk dan menaiki Lift di keduanya. “Stop!!” ucap Scarlet separuh menjerit, dan karenanya sang Security pun langsung mem-pause rekaman itu, yang kini menunjukkan seseorang naik lift nomor dua dari lantai tiga, dan itu adalah Andrew yang menaiki lift tersebut di jam dua malam. “Yeah … saat itu aku sedang memesan pizza!” jelas Andrew kepada kami, dan hal itu membuat sang Security kini kembali menekan tombol play di sana, dan pandanganku kini tertuju ke arah lift nomor satu yang bersamaan dengan Andrew yang baru saja turun, lift nomor satu ditumpangi oleh Wanita penghuni tiga lima-lima yang datang dari lantai Lobby membawa sebuah koper besar yang entah apa isinya di sana, “Apa yang di bawa olehnya?” tanya ku seraya menunjuk ke arah koper dari wanita itu, “Oh … Mrs.Edler? Dia selalu membawa banyak barang ke dalam apartemennya, dan dia mengatakan padaku jika itu adalah oleh-oleh dari suami kesembilannya yang baru saja datang dari Eropa lusa kemarin!” pandanganku kini menoleh menatap ke arah pak Security bernama Bill yang kala itu berkata seperti itu, “Suami ke sembilan?” tanyaku di sana, dan hal itu membuat pak Bill mengedikkan kedua bahunya dan kemudian berkata, “Entah lah … dia mengaku jika memiliki lebih dari sepuluh orang suami kepada semua orang!” ucap pak Bill, dan hal itu diberi anggukkan oleh Scarlet dan juga Andrew yang masih memfokuskan diri mereka ke arah layar di sana. … 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN