Sudah satu minggu semenjak peristiwa Lisa ditemukan, dan semua berjalan dengan baik. Namun tidak dengan kondisi fisik ku yang tiba-tiba saja memburuk. Aku terserang flu dan kelelahan di hari senin itu, dan Dokter pun bahkan menyarankanku untuk istirahat selama lima hari penuh setelah sebelumnya aku tidak bisa merasakan seluruh tubuhku hingga bersusah payah menghubungi Sir Nicholas dan meminta pertolongannya di sana. Ia dengan senang hati membawaku ke rumah sakit saat itu, dan aku bersumpah bahwa nanti setelah aku pulih, aku akan memberikan setidaknya sebuah bingkisan yang tidak manis atau bahkan kue buatan ibuku atas bentuk rasa terima kasihku kepadanya pagi hari itu.
Tak ada yang bisa aku lakukan di pagi itu selain berbaring di atas kasur dan tidak melakukan apapun selain merebahkan diri dan memakan beberapa potong biskuit, dan sesekali aku harus meraih tisu yang ada di samping kasurku untuk membuang air yang keluar dari hidungku ketika aku bersin, dan itu tidak hanya satu kali, namun berkali-kali.
“Achoo!! Achoo!! hh …” aku hanya bisa menghembuskan napasku di sana dan bahkan aku dengan sengaja berbohong kepada Rico jika aku akan sangat sibuk di minggu ini agar supaya dirinya tidak dengan sengaja datang kemari dan menemukan diriku dalam keadaan seperti ini, itu pasti akan membuat kedua orang tuaku sangat khawatir, karena aku tahu Rico tidak akan pernah bisa menutup mulutnya.
“Eaghh … kepalaku sakit sekali!” aku menggelengkan kepala seraya bergumam seperti itu, aku kembali menghela napasku untuk kemudian meraih handphone di sana dan mulai menonton beberapa video yang menurutku sangat lucu di aplikasi pemutar Video online dan sebenarnya itu cukup menghiburku di banding aku harus menonton TV, karena jujur tayangan akhir-akhir ini membuatku bosan.
Buk!!
Buk!! Buk!!
Mendengat sebuah suara debukan membuatku kini mempause pemutaran video itu dan mendengarkan dengan seksama, karena takut-takut suara tersebut berasal dari video yang aku putar pada saat itu, namun aku menyadari jika itu bukanlah berasal dari Video ketika aku kembali mendengar suara debukan sebanyak tiga kali di sana dan bahkan seterusnya.
Aku mengedikkan kepalaku ketika berusaha untuk mencari asal suara debukan seperti seseorang memukul sesuatu di sana, dan aku bahkan sempat mengira jika itu pastilah Scarlet yang berlatih Muay Thai untuk perlombaan.
“Yeah … aku rasa itu Scarlet!” gumamku menenangkan diri, namun detik kemudian aku teringat jika Scarlet pergi bersekolah, dan aku mengetahuinya karena dia sempat berlari dan membantu Sir Nicholas yang tentu saja ayahnya sendiri untuk membukakan pintu lift serta membantu membukakan pintu mobil ketika Sir Nicholas membawaku ke rumah sakit pagi tadi, dan kini jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang tentu saja ini bukan lah waktu bagi seorang pelajar menghentikan aktifitas belajarnya di sekolah bukan? Ya! Setahuku anak SMU akan pulang sekitar jam enam atau delapan malam.
Buk!! Buk!! Buk!!
Aku mengedikkan kepalaku ketika merasa bahwa aku sangat penasaran mengenai dari mana asalnya suara itu, apakah berasal dari atas? Bawah? Atau samping lainnya? Dan pada akhirnya tak ada cara lain selain memastikannya. Aku turun dari kasur tempat di mana aku berbaring pada saat itu, aku dengan sengaja terlentang di atas lantai yang beralas kayu tersebut, dan berusaha mendengarkan jika-jika suara itu berasal dari sana. Namun ternyata aku tidak mendengarkan dengan jelas suara itu, yang membuatku kini menilai jika suara itu tidak berasal dari bawah sana.
Pandanganku kini beralih ke arah atas dan bergantian ke arah samping dinding yang berada di kamarku pada saat itu, yang pada akhirnya aku berjalan perlahan untuk menghampiri dinding itu, dan baru saka aku menempelkan telingaku pada dinding itu, suara debukan di sana terdengar sangat jelas, dan membuatku tahu jika ternyata suara debukan itu berasal dari tetangga lainnya, yang lain dan bukan adalah tetangga tiga lima delapan, dia adalah Mark.
“Apa yang di lakukan Mark hingga aku dapat dengan jelas mendengar suara debukan itu? Apakah dia sama seperti Scarlet? Atau kah dia adalah petinju?” gumamku seraya mengedikkan kepalaku, berusaha untuk menerka-nerka apa yang sedang ia lakukan di sana,
“Hmm … ck! Mungkin dia sedang memalu sesuatu, atu merenovasi ruangannya! Ya … suara itu bisa saja dari sana!” jelasku yang membuatku kini kembali naik ke atas tempat tidurku untuk kemudian kembali streaming di sana dan menghealing diriku sendiri dengan hal-hal yang menyenangkan.
…
Aku pikir … suara itu hanya akan timbul di pagi itu, namun ini sudah hari ketiga semenjak suara itu terdengar, yang kemudian mulai menggangguku di sana.
“Hh! Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Tidak mungkin kan orang merenovasi apartemennya akan menjadi selama ini, itu memang akan lama jika merenovasi seluruhnya namun aku merasa itu tidak terjadi ketika malam tiba!” gumamku setengah kesal, karena jujur semenjak suara itu muncul di setiap paginya, konsentrasiku untuk tidur dan menghealing pun menjadi sulit, aku menjadi tidak tenang setelah mendengar suara bising seperti itu.
Karena aku merasa jika setidaknya aku harus tahu apa yang di lakukan oleh Mark di dalam apartemennya itu, atau setidaknya aku akan menegurnya sehingga dia tidak begitu menggangguku, atau setidaknya aku akan menanyakan sampai kapan ia melakukannya? Karena agar setidaknya aku bisa menjadi rileks di hari-hari berikutnya.
Aku memaskakan diriku untuk bangkit dari tempat tidurku dan keluar dari apartemen, dan tentu saja aku tidak ingin membuat orang lain rugi karena fluku ini, yang terbilang akan cepat menular, hingga aku memakai jaket tebal, dan masker yang berlapis di sana, sebelum akhirnya aku keluar dari apartemenku dengan seperti itu.
Tok … tok … tok …
Aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali di pintu yang bertuliskan nomor tiga lima delapan itu, namun ketika aku menyadari bahwa Mark pasti tidak akan mendengar suara ketukanku yang pelan itu, membuatku kini menekan bel yang terdapat di sana.
Tidak lama dari aku menekan bel pintunya, lelaki itu keluar dari apartemennya dan menatapku dengan raut terkejutnya di sana,
“Oh … Hi, Mark … maaf sebelumnya, tapi … apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku kepadanya yang kini membulatkan kedua matanya di sana seraya bertanya,
“Ah … itu … aku sedang memasang rak buku!” jelasnya padaku, dan hal itu membuatku menghembuskan napas untuk kemudian mengangguk dan berkata,
“Eum .. maaf sebelumnya, tapi aku mendengar suara itu selama tiga hari berturut-turut! Apakah kau bisa mempercepat pemasangan itu? Karena aku rasa kepalaku sakit setiap mendengarnya dan aku harus segera pulih dari sakitku ini, agar bisa kembali bekerja!” ucapku kepadanya, dan hal itu membuat Mark dengan cepat menganggukkan kepala menanggapi hal itu dan kemudian berucap,
“Yeah! Aku akan mempercepatnya, maafkan aku telah membuatmu eum … merasa terganggu!” jelasnya kepadaku, yang jelas aku sebenarnya tidak enak jika harus menegurnya seperti ini, namun aku tidak bisa melakukan hal yang lain selain ini, demi kebaikanku juga. Aku menganggukkan kepalaku untuk mereaksikan ucapannya di sana dan akhirnya aku tersenyum dan berpamitan kepadanya untuk kembali ke kamarku. Dan untuk satu hari itu, aku tidak mendengar suara debukan tersebut, yang tentu saja membuatku merasa kebingungan karenanya.
“Hei … padahal aku tidak menyuruhnya untuk berhenti!” gumamku merasa aneh dengan hal itu, namun … aku tidak bisa kembali melakukan apapun, karena mungkin Mark merasa menyesal di sana.
…
Mlam hari itu, aku mendengar pintu dari apartemenku di ketuk, yang tentu saja membuatku merasa bahwa aku harus membuka dan mengecek siapa yang datang dan menjenguk, sekaligus merasa khawatir jika-jika ternyata yang mengetuk adalah Rico di sana. Aku dengan sengaja memakai masker meski tidak mengenakan jaket di sana, dan akan segera melepasnya jika ternyata itu benar Rico.
Namun ternyata itu bukan lah seseorang yang aku pikirkan, melainkan andrew yang datang membawa satu buket buah di sana, yang tentu saja membuatku merasa terkejut melihat kedatangannya malam itu.
“Andrew??” tanyaku merasa kaget, ia tersenyum setelah mendapati jika aku membukakan pintu untuknya di sana.
“Hi … aku dengar kau kurang sehat, jadi aku datang membawa buah-buah untukmu!” jelasnya, aku tersenyum mendengarnya berkata seperti itu,
“Yeah … aku sudha merasa membaik, dan hanya perlu memulihkan tubuhku, silahkan masuk! Aku rasa tidak enak jika harus berbincang di sini!” ucapku kepadanya yang kini tertawa mendengar hal itu dan akhirnya masuk ke dalam apartemenku.
...