"Sya, dokumen ini kamu bawa ke ruang Manajer, bisa kan?" ucap bu Handayani, kepala divisi marketing. Sayangnya Arsya tak bergeming, matanya menatap kosong, kepalanya masih sibuk memikirkan Elsa. Pertama kali dalam hidupnya dia merasakan patah hati yang begitu menyakitkan. "Arsya? Bisa?" ucap bu Handayani dengan nada lebih tinggi, membuat Arsya tersentak dan mengangguk. "Eh, bisa Bu, bisa." Dia mengadahkan tangannya lalu mengambil berkas dari tangan ibu Handayani. Arsya lalu bangkit menuju lift, matanya masti melamun, memikirkan Elsa. Kenapa gadis itu tidak mengundang kawan kuliah jika menikah? Kenapa terkesan diam-diam dan tak mau memberi tahu kepada publik? Siapa sebenarnya suami Elsa? Kenapa Elsa tak juga memiliki rasa kepadaku meski telah bertahun-tahun mencintainya? Berulang kali

