Mengungkapkan

1092 Kata
Jiak seseorang sedang memendam perasaan Memperhatikannya saja sudah cukup Tapi tahukah kamu kata cukup itu haya sebuah penghibur untuk menyenangkan hati Sibuk merangkai hal indah Sibuk merangkai setiap kejadian menjadi pembenaran setiap perasangka Dia tersenyum “dia tersenyum padaku” Dia menyapa “dia memperhatikanku” Dia mendekat “dia menyukaiku juga” Nyatanya itu semua hanyalah hal biasa yang dia lakukan pada setiap orang Hati ini yang selalu sibuk berperasangka berlebihan Jangan salahkan aku Aku hanya pemilik hati yang memilihmu sebagai tambatan hati Kau yang disana Tahukah kamu Aku menyukaimu Sangat To: kENANA                 Aku sedang bosan, sedari tadi aku terus mengingat kejadian tadi siang, Kenan yang duduk di sampingku, Sasa yang mengetahui perasaanku, tangan kami yang bersentuhan. Aku tidak konsentrasi belajar. Dan berakhir dengan menulis kalimat yang mungkin bisa meredam sedikit perasaan yang semakin meluap                k****a kembali lambat-lambat, kuperhatikan, kusobek kertas yang menampung perasaanku “cukup Sasa yang tahu” benakku, lantas menyimpan kertas itu di katong tas bagian dalam ***                Sedari pagi Sasa masih asik menggodaku, bahkan saat ini, “Tidak bisakah dia langsung pergi kekantin tapa menggodaku terlebih dahulu” benakku saat Sasa berbisik pelan di sampingku                “Cieee, cieee, yang mau ngerjain tugas berdua”                “Sa, kamu sudah berjanji” bisikku tak kalah pelen “Ok,ok” menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya “Ini yang terakhir” tersenyum sumringah mininggalkanku yang kesal dengan tingkahnya “Dia kenapa” tanya Sophia yang melihat Sasa “Abaikan saja” balasku mencari portopolio dan catatan buku IPSku “Kamu dekat dengan Sasa, nggak biasanya, kelihatannya dekat bangat” “kamikan satu kelompok” “Iya juga sih, kamu sih sulit bangat dekat dengan orang lain kelain kami berempat, sekalinya ada yang dekatin jadi terasa aneh” Aku hanya menanggapi perkataan Sophia dengan senyum, Perkataan Sophia benar, rasanya sangat tidak nyaman jika berbaur dengan orang lain, sehingga kesannya aku seperti membatas diri. “Ke kantin yuk, lapar” ajak Sophia kemudian Aku menunjuk catatanku “kalian duluan saja, aku harus mengerjakan ini” “Aku sudah di jemput” balas Hala, bertepatan dengan Ammar yang baru datang kekelas kami, Hala langsung berlari kecil menghampiri Ammar “Duluan” ucapnya sebelum meninggalkan kelas “Ngerjain tugasnya nanti aja” bujuk Sophia Cyra sudah berdiri di sampingku, bersiap kekantin Kenan datang ke mejaku membawa buku catatannya juga “Ai, aku pinjam sebentar” ucapnya pada Sophia dan Cyra Melihat kenan Sophia tidak bisa memaksaku lagi, akhirnya sophia dan Cyra pergi meninggalkan kami. Kenan langsung duduk dibagku yang ditinggalkan Sophia, membuka buku catatanku, melihat tulisan yang ada di kertas portopolia. “kita mulai dari sini” tunjuk Kenan pada paragrap selanjutnya yang akan ku tulis “Iya” “Kamu cepat juga selesainya” “Karena hari ini tidak ada tugas jadi semalam aku mengerjakan ini” “Sisa satu lembar lagi” memperhatikan, kenan mulai membaca setiap tulisan yang ada di catatanku Aku menulis apa yang dia katakan, sesekali dia menanyakan bacaan dari tulisanku yang kurang jelas, dan terkadang juga dia menyarankan untuk mengganti kalimat yang lebih enak untuk di dengar. Karean di kerjakan berdua selesanya lebih cepat Kenan melanjutkan membaca buku untuk melengkapi beberapa tulisannya, tampak serius membaca setiap baris buku yang ada di tangannya Aku sengaja menyenderkan badanku untuk bisa melihatnya diam-diam. Tangan yang menopang dagu membuat wajahnya miring ke kanan sehingga wajahnya tampak jelas olehku meski dari belakang. Tangan kanannya bergerak seakan mengikuti irama bacaannya. Beberapa kali meraih pulpen. Mencatat yang dibutuhkan kemudian lanjut membaca Sedangkan aku, dengan posisi menyenderkan badan, tangan kiri menopang tangan kanan yang memegang buku seakan sedang membaca. Padahal nyatanya aku sedang memperhatikan orang yang membuat hatiku terus berdebar. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya padaku, aku terkejut langsung memutar-mutar bola mataku seakan sedang memperhatikan sekita “Sedang apa” tanyanya kemudian Aku memperlihatkan buku yang sedang ku genggam “ Tidak lapar, mau kekantin” “Tidak, aku tidak begitu lapar, lagipula sebentar lagi bel masuk” jawabku yang masih gugup karena dia hampir mengetahuai kalau aku sedang memperhatikannya. Kenan menutup buku yang dia baca, memperbaiki posisi duduk ke arahku “Sudah 5 tahun kita satu kelas dari SMP sampai sekarang, tapi baru kali ini kita bisa ngomrol seperti ini” Kenan memulai percakapan yang tidak berhubungan dengan tugas Aku tersenyum canggung “Iya, kau benar” “Kulihat, kamu sangat sering meminjam buku di perpustakaan, dan bisanya itu tidak Cuma satu, buat apa?” “O...., itu,m....setiap hari minggu aku, Cyra, Sophia dan Hala ada agenda. Salah satu kegiatannya itu baca buku. Jadi setiap minggu kami meminjam buku di perpus untuk empat orang” jelasku “Mmm. Pantes, setiap hari minggu kalian sering terlihat pergi naik sepeda” ucapnya “Dia memperhatikan” batinku senang, diam-diam tersenyum Berbicara dengannya sangat meyenangkan. Terutama untuk hatiku yang semakin aku tau tentangnya semangin mekar bunga dalam hatiku. Sesekali tawa kami pecah saat membicarakan sesuatu, menyenangkan sekali hari itu. “Selain Sophia, Cyra dan Hala, kamu berteman dengan siapa lagi, selama ini aku hanya meliat kamu mersama mereka dan tidak pernah dengan orang lain” Menggaruk tengkuk leher, memikirkan jawaban yang paling tepat “ Sedikit sulit beradaptasi dengan yang lain, jadi aku memilih bersama dengan orang yang aku rasa nyaman saja” “Kalau gitu, saat melanjutkan kuliah kamu akan bersama mereka lagi” “Mungkin iya” “Memang, rencannya mau kuliah di mana” “ Rencananya sih di Universitas yang ada di kabupaten” “Mmmmm” menggukkan kepalanya mendengar perkataanku Di luar terdengar bunyi bel masuk, satu persatu murid-murid mulai masuk kelas, kulihat Kenan mulai merapikan bukunya yang ada di atas meja, setalh menimbang-nimbang cukup lama, kuberanikan untuk akngkat suara bertanya padanya “Kalu kamu mau lanjut kuliah di mana” “Sama, rencanya aku juga akan kuliah di sana” Senyumku mengembang mendengar perkataannya “Berarti akami akan bersama lagi” benakku kegirangan. Kenan sudah kembali ketempatnya, Sophia, Hala, dan Cyra juga sudah duduk di abngku masing-masing. Tepat ketika aku ingin memasukkan paper yang baru ku kerjakan kedalam tas, Sasa yang baru masuk langsung menghampiriku “Sudah selesai” “Sudah” “Wahhh, kalian sudah selesai, cepat bangat” Sophia yang mendengar jawabanku terkejut karena dia mengira Paper kelompok kami sudah selesai “Kan dikerjakan berdua” Sasa memberi tanggapan Aku langsung memukul tangannya yang berate di atas meja, kemudian menatapnya galak. Sasa hanya menanggapi dengan cengiran tanpa rasa bersalah “Belum semunya selesai, masih ada beberapa lagi” Sasa mengklarifikasi jawabannya tadi “Ohhh, aku fpikir sudah selesai semuanya” “Belum, ini baru setengahnya” Sasa langsung pergi meninggalkanku saat aku kembali memelototinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN