Ketahuan

1222 Kata
Sudah lewat dua hari sejak pembagian kelompok tugas paper, hari ini kami akan mendiskusikan bahan yang sudah kami siapkan, itu berarti aku memiliki waktu yang cukup lama untuk lebih dekat dengannya. Semenjak tadi pagi aku sudah tidak sabar untuk memutar jam yang terasa lama bergerak sejak tadi. Aku tidak konsentrasi memperhatikan guru yaang sedang mengajar. Aku lebih sibuk memperhatikan jam yang menempel di dinding dengan jam yang ada di tanganku. Berharap jam itu salah, berhar jam itu sedang rusak, sehingga harus di perbaiki yang seharusnya sudah waktunya pulang sekolah. Tapi ternyata bukan jam itu yang rusak tapi aku, aku yang otaknya sudah rusak karena berpikir yang tidak masuk akal. Lama menghitung setiap menit yang berlalu akhirnya bel pulang berbunyi, dalam hati aku bersorak gembira. Lucu mengingat saat itu, padahal setiap hari kami selau bertemu di kelas, tapi kenapa hanya karena bisa lebih dekat satu meter dengarnya hatiku bisa bersorak sorai.  Sasa menghampiriku, mengajak bersama pergi ke bawah pohon Akasia depan perpustakaan, tempat kami akan melakukan diskusi. “Aku dengar kamu dan Azka sudah jadian” tanyaku pada Sasa, membuka obrolan Sasa terlihat sedikit terkejut “Ssssut” menaruh jari telunjuknya di bibir “Tau dari mana ?” “Bukankah semua orang sudah tau” Menggelengkan kepalanya “Terus bagaimana Hala bisa tahu” benakku melihat tingkah Sasa yang seakan ingin merahasiakannya “Kamu tau dari mana” ulang Sasa “Tidak ada orang yang tau soal itu, bahkan aku belum menjawab pernyataan Azka” Aku masih terdiam “Pasti tau dari Hala” Akhirnya Sasa mengingat sesuatu “Sewaktu Azka menyatakan perasaannya, Hala tidak sengaja ikut mendengar” Aku langsung menolehkan kepalaku manatap Sasa mengisyaratkan bahwa benar, aku mengetahui informasi itu darai Hala “Hala memang tidak bisa di percaya” gumam Sasa “Jadi itu tidak benar” “Kalau soal pernyataan itu benar, tapi aku belum menjawab” “kenapa, mau seperti orang-orang” Mengingat orang-orang disekitarku sering menunda jawaban mereka yang sudah jelas “Iya”, katanya agar tidak terlihat murahan atau gampangan, padahal menurutku, itu tidak benar, kalau memang benar-benar suka bukankah pikiran negatif seprti itu tidak ada, bukankah hanya ada bunga yang bermekaran, pelangi terlukis indah, untaian kata puitis salalu terbersit dalam jiwa. Bukankah hanya itu? Kalau mereka masih sempat memikirkan kau murahan atau gampangan mungkin itu bukan cinta. “Bukan, aku tidak diperbolehkan untuk pacaran, kalau sampai orang tuaku tahu bisa gawat” “Kalau itu masalahnya memang rumit, tapi kamu suka tidak pada Azka” Sasa mengangguk tersenyum malu Kusikut lengan temanku yang sedang malu-malu itu “Menjadi teman juga bukan hal yang buruk, menyukai seseorang tidak selamanya harus memiliki lebel pacaran, mejadi teman yang saling menjaga dan menghargai itu beda tipis dengan orang pacaran” “Jika tidak ada status pada subuah hubungan bukankah hal itu akan menjadi sebuah boomerang nantinya, karena setatus adalah pengingat antar dua orang” “Pengikat ya” mengaggukkan kepala memahami setiap perkataan Sasa “Pengikat,Mmmmm, apapakah harus diikat jika seseorang saling menyukai, apakah tidak cukup dengan kepercayaan?” diam beberapa saat “Ah, jangan hiraukan perkataanku tadi, sebenarnya aku juga tidak mengerti dengan hal ini, lagipula setiap orang itu berbeda-beda,tidak bias di sama ratakan” terus berjalan “Namun secara pribadi,aku sendiri merasa perasaan sesorang yang tulus itu tidak memerlukan pengikat”     Sasa terlihat mencerna kata-kataku, memikirkan sesuatu dan kemudian terlihat seperti telah membuat keputusan “Terimakasih Fa, berkatmu aku tahu harus berbuat apa” Aku tersenyum mendengarnya “Semoga itulah yang terbaik untukmu” Kami sudah sampai di depan perpus, di bawah pohon kami menunggu sembari duduk di hamparan rumput hijau. “Kamu sepertinya sangat mengerti tentang cinta, kamu punya pacar” tanya Sasa sembari mengeluarkan beberapa buku dari tas “Tidak” menggelang kepala dengan pasti “Terus bagaiman kamu bisa merangkai kata-kata seperti tadi” “Kalimat bisa di dapat dari mana saja, tidak hanya dari sebuah pengalaman, dari buku juga bisa kan” “Kau menyukai seseorang” selidik Sasa Aku terdiam, tidak bisa mengatakan tidak dan tidak mungkin mengatakan ya “Adakan, siapa” Sasa semakin menyelidik Dari kejauhan terlihat Kenan dan Azka sedang berjalan kearah kami, aku memperbaiki posisi duduk, seperti ingin terlihat sempurna di mata seseorang Ternyata sikapku itu memberika kode yang sangat jelas pada Sasa “Kamu menyukai Kenan?” menutup mulutnya takpercaya dengan yang dia pikirkan sendiri Sedangkan aku terkejut mendengar kalimat Sasa, seakan petir manyambar tepat di ubun-ubunku, panik, seseorang sudah tau tentang perasaan yang ingin sesalu aku sembunyikan bahkan dari sahabat-sahabatku “Benar, kamu menyukai Kenan” semakin yakin melihat tanggapanku “Wahhhh” Sasa masih tidak percaya “Diamlah” ucapku memelas , menutup wajahku dengan kedua tangan karena merasa malu “Tolong jangan katakan pada siapapun” masih dengan posisi menutup wajah Sasa tertawa pelan melihat tingkahmu “Iya, iya, kamu tenang saja, aku tidak akan mengatakan pada siapapun” menepuk bahuku menenangkan “Mereka sudah mau sampai, bersikaplah seperti biasa” ucap Sasa yang masih tersenyu “Budi mana, tidak bersama kalian?”tanya Sasa tepat ketika Kenan dan Azka sampai di depan kami Azka menaikkan bahu acuh, tidak tahu dimana keberadaaan Budi “Nanti juga datang sendiri” Azka duduk di samping Sasa otomatis Kenan duduk di sampingku, senyum Sasa masih mengembang , sesekali menyikut lenganku, menggoda. Kami mulai berdiskusi, bahan yang sudah kami siapkan, beberapa bagianku ada yang dikurangi dan ada juga yang perlu di tambahkan, di pertengahan diskusi, Budi yang memang termasuk anak bandel di kelas baru datang dan membuat alasan ke toilet. Padahal kami jelas tau dia baru selesai makan di kantin dengan teman-teman segengnya “Masih banyak bahan yang harus di persiapkan, besok setiap orang harus melengkapi bahan sesuai tema masing-masing” jelas Kenan “Aku minta waktu 2 hari” Sasa mengangkat tangan, meminta kelonggaran “kakakku yang kuliah di kabupaten sangat sulit dimintai tolong, dua hari ini aku akan coba membujuknya agar bisa mencari peninggalan masa kini Jendral Sudirman di internet” “Tidak masalah, lagipula penempatan bagian masa kini ada di bagian akhir jadi tidak akan mengganggu yang lainnya” Kenan kemudian melihatku “Ai, kamu sudah bisa mulai memindahkan bagian yang sudah Fix dari tema yang kamu siapkan” Aku membolak-balik bukuku mencari bagian yang bisa ku salian “Dari bagaian ini” Kenan menghentikan tanganku yang membalik lembaran buku Desiran darah mengalir menyebar keseluruh tubuhku saat tangannya menyentuh tanganku, mataku kaku tertuju pada jemari yang tadi               bersentuhan. Hanya terfokus pada lengan itu, mengabaikan ucapannya yang masih menjelaskan bebeberapa bagian yang biasaku tulis. Aku tersentak saat Sasa mencolek lenganku yang hanya terdiam “Sudah bisa pulang” Budi angkat bicara setelah sedari tadi hanya diam tak peduli dengan diskusi “Iya sudah” jawab Kenan singkat Karena memang sudah tidak ada yang perlu dibicarakan kami bersiap-siap untuk pulang “Ai, besok aku akan menemanimu saat mencatat paper ke portofolio agar lebih mudah dan bisa lebih cepat selesai” Kau sedikit terkejut mendengar perkataannya tapi, namun aku tetap menyetujui perkataannya Aku berdiri di susul Sasa, dia merangkulku mendekatkan mulutnya ke telingaku, berbisik “Cieeee, yang besok bakal berduaan” Sasa masih bersemangat menggodaku “Saaaaa” memelas padanya agar berhenti menggodaku “Iya,iya” tersenyum puas Meski Sasa merahasiakannya, serapat apapun aku menyembunyikannya, ternyata rahasia tidak selamanya bisa menjadi rahasia. Hari ini aku telah ketahuan oleh Sasa, esok bisa saja semua orang akan tau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN