Ibu Ratna, guru Sejarah memasuki kelas tepat loncek masuk berbunyi, Bu Ratna meletakkan tas dan buku bawaanya di atas meja kemudian mengeluarkan beberapa carik kertas yang sudah di lipat-lipat dari saku tas “sebelum kita mulai pelajaran hari ini Ibu ingin kalian membut kelompok, ibu sudah menyiapkan kertas yang di dalamnya sudah ada angka-angka dan yang mendapatka kertas dengan angka sama akan di jadikan satu kelompok, Kenan tolong bagikan kertas ini pada teman-temanmu
Kenan maju kedepan mengambil kertas yang ada di atas meja kemudian membagikannya kesetiap murid, setelah selesai membagi kertas Kenan kembali ke tempat duduknya
“kalian bisa buka kertasnya dan bisa langsung membuat lingkaran sesuai dengan kelompok, kelompok 1 duduk disana, dua, tiga ,empat,lima, enam” menunjuk tempat yang harus di duduki setiap kelompok
Kulihat angka yang tertera dalam kertas tercantum angka 3, Cyra kelompok 5, Hala dan Sophia kelompok 1, kami berpisah menuju kelompok masing-masing, langkahku terhenti di depan bangku yang akan Aku tempati, persisi di depanku Kenan sudah duduk di lingkaran kelompok 3. Ketika Kenan mengangkat kepalanya aku langsung buru-buru duduk
Setiap kelompoh berjumlah 5 orang, dalam kelompok kami ada aku, Kenan, Azka, Sasa, dan Budi
Setelah merasa puas dengan pembagian kelompok, Bu Ratna kemudian mulai mengajar, aku memiringkan badankku agar bisa menghadap kedepan dan menghindari agar aku tidak mencoba melihat Kenan, karena jika aku melakukannya itu akan sangat mencolok
Setelah pelajaran selesai, Bu Ratna beru menjelaskan kenapa ia membegi kelas menjadi beberapa kelompok
“Ibu minta kalian untuk membuat paper seorang pahlawan, didalamnya kalian harus menjelaskan, masa laluntya, perjuangan, pengorbanan, jasa, dan masih banyak lagi. Setiap kelompok 1 pahlawan, di kumpulkan minggu depan” jelas Bu Ratna panjang lebar
“Bu, kelompoknya tidak bisa di ganti lagi?” seorang sisiwa protes karena tidak puas dengan hasil pembagian kelompok
“Kelompok harus sesuai dengan angka yang dipilih tidak bisa di ubah-ubah lagi, ingat setiap siswa harus ikut andil dalam pengerjaan tugas, jika ada yang tidak ikut mengerjakan, kalian bisa melaporkannnya kepada saya”
“Bu, ditulis di kertas apa dan berapa banyak ?”
“tulis di kertas portofolio minimal 5 lembar, jelas!, ada pertanyaan lagi?”
Tidak ada yang menjawab
“Baik, kalau tidak ada yang ingin bertanya lagi, kalian bisa diskusikan sekarang siapa pahlawan yang akan kalian korek sejarahnya” pamit Bu Ratna meninggalkan kelas
Kenan yang sudah terbiasa memimpin mulai angkat bicara “Ada yang ingin mengajukan nama pahlawan”
Hening, seling melirik satu sama lain, tidak ada yang mau angkat bicara
“Ai?” aku yang sedang asik bermain dengan pulpen terkejut ketika Kenan memanggil namaku
“Ada saran” lanjutnya
Berfikir sejenak “Sudirman ?”jawabku sembari meminta pendapat yang lain “kalau Jendral Sudirman bagai mana”
“Bisa jelaskan alasannya kenapa kita harus menulis paper Jendral Sudirman
“selain menjadi panglima besar tentara Nasional Indonesia pertama, beliau juga memiliki jasa yang sangat besar saat melawan penjajah dan kita juga bisa mengaplikasikan perjuangan Jendral Sudirman pada masa lalu dengan masa sekarang yang mana terdapat banyak nama jalan dengan nama Sudirman, ada patung Sudirman dari sana kita bisa mengambil makna dari berdirinya patung itu dan yang lainnya” jelasku panjang lebar untuk meyakinkan mereka
“Aku setuju dengan ide Faiha” Sasa menanggapi
“Iya itu menarik, jadi kita bisa mengambil dua sudut pandang yang berbeda” Kenan ikut menyetujui “ Azka, Budi bagai mana menurut kalian”
“Aku setuju”jawab azka
“Aku ikut aja” balas Budi
“Ok, semua setuju ya” kemudian Kenan mulai membagi tugas masing-masing. Apa saja yang mau dikerjakan. Jadwal kumpul untuk diskusi dan sebagainnya
“Dan untuk menulis di kertas portofolio sebaiknya yang tulisannya bagus” tambah Kenan
“ Faiha saja, dari kita berlima sepertinya tulisan Faiha lebih bagu” Sasa memberi saran
“Gimana Ai, mau” tanya Kenan
Aku mengangguk menyetujua
“Jadi dua hari ini kita mengumpulkan bahan dulu, cari dan baca buku mengenai Jendral Sudirman, berikan kesimpulan dari buku yang kalian baca, di hari ke tiga kita akan diskusikan” ucap kenan sebelum menutup sesi diskusi kami
Di kelompok sebelah aku melihat Cyra yang juga sudah siap untuk pulang, sedangkan Hala dan Sophia sudah pulang terlebih dahulu
“Fa, mau langsung pulang” Tanya Cyra mendekatiku
“Mau keperpus dulu, cari bahan”
“Ikut” Nuha pengapit tanganku “Tapi kita ke toilet dulu ya dari tadi udah kebelet”
Aku mengikuti Nuha yang sudah keluar terlebih dahulu, aku menunggu Nuha di luar toilet, tidak berapa lama Nuha keluar
“Ah...lega bangat”
“Jangan lebay deh ” ucapku melihat tingkah Nuha “yuk, nanti perpus keburu tutup”
Sesampai di perpus, kami langsung mencari buku di bagian sejaran, di ujung rak aku melihat Kenan yang sedang memilih-milih buku
“Belum pulang” sapa Kenan saat melihat kami
“Mau cari bahan dulu” mulai ikut mencari buku di setipa rak
Aku dan Cyra mencari buku di rak yang lebih dekat agar jauh dari Kenan, mulai membolak bali beberapa buku, mencari tema yang sesuai dengan bagianku tapi belum menemukannya juga, dari pengeras suara aku mendengar penjaga pustaka sudah mengumumkan akan tutup
Saat aku sedang bingung karena belum menemukan buku, secara mengejutkan Kenan berdiri di sampingku dan menyodorkan tiga buku
“Didalamnya ada bahan yang kamu butuhkan, sudah ku pastikan” Mengulurkan buku-buku itudi hadapanku
“A...,terimakasih” meraih buku yang disodorkan kenan dengan canggung
“Mau balik sekarang, sebentar lagi perpus tutup”
“Sebentar lagi, Cyra masih mencari buku” balasku menunjuk Cyra yang masih sibuk mencari buku
“O....., aku balik dulan ya”
“Iya”
Mataku mengikutinya yang berjalan menuju ke tempat peminjaman, melihat senyuman yang dia tunjukkan membuat hatiku bergetar seakan senyuman itu ditujukan padaku.
Pengumuman perpustakaan akan segera tutup kembali terdengar, aku menghampiti Nuha yang masih serius mencari “belum ketemu juga”
“Belum” memperhatikan sekitar, menyadari haya kami berdua yang masih ada di dalam perpus “lanjut besok Saja deh, sudah mau tutup”