Sebelum memulai pelajaran, kenan membangikan buku tugas Matematika saptu kemarin, satu-persatu dia memanggil nama teman-teman untuk mengambil Buku mereka, setelah lama menunggu ternyata namaku di panggil terakhir
“Faiha” Kenan mengulurkan buku milikku agar segera di ambil
Aku maju untuk menerima buku itu
“Bagaimana hasilnya” tanya kenan saat aku menerima buku, segera kubuka bukuku, mengintip hasil yang kudapatkan, aku tersenyum melihat hasilnya karena tidak akan malu untuk menjawab pertanyyaan kenan “semuanya benar” senyumku mengembang
Kulihat kenan tersenyum mendengarnya, jantungku yang sedari tadi berdetak tidak beraturan kini semakin kacau melihat senyumnya. Kalua sudah meyukai seseorang memang seperti ini jadinya sering barhalusinasi berlebihan, Kenan memang sangat perhatian pada teman sekelasnya. Seharusnya aku menanggapinya biasa saja, tapi jantungku tidak mau menuruti pikiranku
Bu Gina masuk ke dalam kelas, kemudian memulai materi selanjutnya, pembelajaran berjalan dengan lancar hingga bel istirahat berbunyi
Setelah Bu Gina meninggalkan kelas, aku langsung membalikkan badan menghadap Hala “Sana bicara sama Ammar”
“Iya,iya, baru juga istirahat” protes Hala mengerutkan bibirnya
Hala beranjak dari duduknya, kemudian melangkahkan kaki menuju kelas sebelah, kelas Ammar
“Ikutin yuk” ajak Sophia yang sepertinya sangat penasaran
“Jangan, ganggu Hala menyelesaikan masalahnya” jawabku
“Tapi aku penasaran bangat ini, tidak ada niat ikut campur ko, Cyra lihat Hala yuk”
“Nggak ah” Tolah Cyra
“Ayo dong” Sophia tidak menyerah membujuk Cyra “Ayo dong” menarik-narik lengan baju Cyra
“Kita lihat dari jauh saja ya” Akhirnya cyra luluh juga,meski masih terliat jelas jika Cyra terlihat malas
Sophia mengangguk menyetujui “Faiha nggak mau ikut” tanya sophia memastikan
“Nggak, kalin saja”
Setelah kepergian Sophia dan Cyra aku mengedarkan pandangan kelapangan mencari sosok Kenan, mencari di tengah lapangan diantara pemain yang sedang mengejar bola, Kenan masih tidak terlihat, aku malah menemukannya sedang meperhatikan orang-orang yang sedang bermain di lapangan, “tidak seperti biasanya”. Kuperbaiki posisi dudukku agar bisa lebih santai memperhatikannya
Melihatnya saja dari kejauhan sudah membuatku senang, senyumku terus mengembang setiap melihat reaksinya saat menonton petandingan. Aku juga ikut kecewa ketika melihatnya kecewa karena bola tidak masuk gawang lawan. Lucu memang, tapi seperti itulah aku dulu
Saat sedang asik memperhatikan Kenan aku melihat Hala dan Ammar berjalan menuju kantin
Aku langsung keluar kelas mencari Sophia dan Cyra, dari kejauhan aku melihat sophia dan Cyra tertawa gembira seperti merayakan sesuatu “Faiha...” teriak Sophia saat melihatku di depan kelas, mereka berdua berlari kecil menghampiriku
“Bagaimana” tanyaku saat mereka berdua sampai di dekatku
“Humm” jawab Sophia memalingkan wajahnya “Tadi diajakin nggak mau” Sophia memajukan bibirnya
“Tadi aku melihat Hala dan Ammar jalan mersama, mereka sudah baikan” mengabaikan sikap Sophia
Cyra tersenyum, menganggukkan kepalanya
“Tadi Hala keren bangat” sophia mengacungkan jempolnya “Aku pasti akan menyesal Jiak tidak meliat adegan tadi” dengan sendirinya Shophia mulai membeberkan tantang kejadian tadi
“Jadi pensaran, kasih tau dong tadi bagaimana”
“Kasih tau nggak ya...”
Sophia masuk kedalam kelas diikuta aku dan Cyra dari belakang, sophia mulai bercerita “Awalnya, Tadi saat Hala datang, Ammar sedikit terkejut, awalnya Ammar memang tidak perduli dengan perkataan Hala sampi Hala mengungkapkan kata pamungkasnya “Umurku baru 17 tahun, masa dimana kita bisa menikpati masa remaja bersama teman, jangan hanya kerena sebuah hubungan antara aku dan kamu hubunganku dengan yang lain terputus, hidup ini bukan hanya sekedar antara aku dan kamu tapi masih ada orang-orang yang akan menemani masa-masa itu. Kalua kamu masih tetap dengan perinsipmu yang melarang aku bermain dengan teman-temanku lebih baik hubungan ini kita sudahi saja”
“Kurang lebih seperti itu yang dikatakan Hala, aku juga bingung dari mana dia mendapatkan kata kata aneh itu” sambung Sophia
“Terus, terus, tidak mungkin hanya dengan kata-kata absurt itu Ammar langsung mengajak Hala jalan” tanyaku semakin penasaran
“Sabar dong” perotes Sophia, mulai melanjutkan ceritanya “kemudan Hala melanjutkan kalimatnya seperti ini”, “kamu mungkin bingung dengan ucapanku, aku sendiri juga bingung, tapi inti dari ucapanku tadi adalah kalau kau tetap melarangku berteman denga Faiha, Cyra dan Sophi lebih baik kita putus saja”
“Disitu Ammar hanya terdiam mendengar perkataan Hala, kemudina setelah Hala mengatakan “jadi bagai mana, keputusannya ada padamu, mau lanjut atau hubungan kita selesai” setelah itu Ammar baru buka mulut “aku tau, aku salah, seenaknya melarangmu bermain dengan teman-tamanmu, maaf”
“Jadi?” tanyaku memastikan
“Jadi mereka baikan deh, terus Ammar ngajak Hala makan dikantin” Senyum Sophia semangin mengembang menceritakan hasil tontonannya tadi
“Syukurlah”
cyra menyenggol lenganku memberi isyarat untuk melihat Hala dan Ammar yang sedang berjalan ke arah Kami
“Hai” sapa kami bertiga serempak saat Hala dan Ammar sudah sampai di depan pintu kelas.
Hala hanya tersenyum malu menyuruh kami untuk diam “Makasih ya” Hala menunjuk makanan yang ada ditangannya setelah memastikan kami diam
“Yasudah, aku pergi dulu ya” Ammar melihat kami sejenak kemudian mengangkat tangan pertanda dia juga pamit kepada kami, kemudian berlalu meninggalkan kami
“Cieeeee, yang baikan lagi” aku mulai menggoda Ria
“Gitu kan enak liatnya, adem” sambung Cyra
“Kata-katamu tadi keren bangat, nyontek dari mana, dari buku tebal kemaren ya” Sophia tak mau kalah ikut menggoda Hala
“Ko tau” melirik sophia menyelidik “pada nguping ya, ihhhh malu tau” Mendorong lengan sophia pelan “ aku juga bingung tadi kenpa bisa ngomong aneh seperti itu”
“Tapi keren ko, yakin nggak nyontek dari buku” Sophia masih tidak percaya
“Enak aja”
“Selamat ya udah baikan, jangan lupa teraktirannya, selametan gitu ” kami terus menggoda Hala