Aku,Cyra, Sophia dan Hala

1521 Kata
Sore ini sebelum kerumah Cyra, aku terlebih dahulu membersihkan rumah seperti perintah Uma, menyapu rumah dan mencuci piring bakas makan siang. Ibu sedang berada di belakang rumah mencabuti rumput pengganggu yang tumbuh di sekitar sayur yang selama ini Uma tanam. Saat membangun rumah Uma memang menyisakan beberapa bidang tanah untuk ditanami sayuran dan yang lainnya dan kini selain sayuran di belakang rumah juga ada rempah-rempah dan empat pohon mangga hasil cangkokan. Adikku Bintang, yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar ada di ruang tengah sedang menonton Film kartun kesukaannya. “Faiha, kamu sudah sapu rumah dan cuci piring” Teriak Uma dari belakang rumah “Udah Ma” “Sebelum pergi, jangan lupa angkat jemuran dulu ya” “Iya” Tepat pukul 5, Aku mengangkat jemuran dan melipat baju di depan teras sembari menunggu Hala dan Sophia. saat menunggu, sesekali aku memperhatikan rumah Kenan yang ada di seberang jalan berharap bisa melihatnya sebelum menginap di rumah Cyra. Karena kemungkinan besok aku tidak akan bisa melihatnya. Ahh! Sepertinya Aku belum memberi tahu kalian jika rumahku dan rumah Kenan Berhadapan jarak dua rumah ke kanan, sehingga setiap hari bias di pastikan aku bisa melihatnya, meski sedang libur sekolah. Pintu rumah itu terbuka, dari balik pintu muncul sosok Kenan dari sana. Aku langsung menundukkan kepala, tapi mataku tetap tertuju padanya. Memperhatikanya yang sedang memakai sepatu kemudian merapikan rambutnya dengan jari di depan kaca jendela. Terlihat dari teras rumahku Azka menghampiri Kenan dan tak lama kemudian meninggalkan rumah. Sepertinya mereka akan ikut berpartisipasi dalam pertandingan bola yang akan digelar nanti. Sebenarnya aku sangat ingin melihatnya bertanding. Tapi hari ini adalah jadwal quality time kami berempat, ditambah Sophia dan Cyra tidak terlalu menyukai pertandingan bola. akhirnya aku hanya bisa berharap agar dia dan timnya memenangkan pertandingan. “Lagi ngelihatin apa” Sophia mengagetkanku yang tiba-tiba sudah ada didepanku “Hala mana” tak menjawab pertanyaan Sophia “Tuh” menunjuk Hala yang baru datang, “Langsung jalan aja yuk” Aku segera berlari ke dalam rumah meletakkan baju yang sudah kulipat serta berpamitan pada Uma “Ma, Faiha pergi dulu ya” “Iya, Baik-baik di sana, jangan sampai merepotkan orangtua Cyra” balas Uma tetap asik mencabuti rumput “Iya Ma, Faiha jalan ya, Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” terdengar sayup Ku raih tas bawaanku, kemudian mengeluarkan sepeda dari teras, kami bertiga mulai mengayuh sepeda menuju rumah Cyra yang berbeda kampung dengan kami bertiga. *** “Assalmualaikum” Ucap kami bertiga sesampainya di rumah Cyra Terdengan sahutan salam samar-samar dari dalam rumah. Tak berselang lama muncul Cyra yang sedang memegang spons cuci piring yang masih berbusa. “ Kalian sudah samapi, silahkan masuk – silahkan masuk , langsung kekamar aja ya, nanti aku nyusul “ memamerkan spons yang ada di tangannya “Sebentar lagi selesai” “Wawak Mana” Tanyaku menanyakan orang tua Cyra “Sehabis Asar tadi Mama pergi ke rumah Bi Ila, mau bantu-bantu buat pengajian nanti malam” “Ohhh, kalau gitu kami langsung masuk ya” ucap Sophia “Iya langsung masuk aja” “Nggak butuh bantuankan” Timpal Hala “Kalau mau bantu sih aku akan senang bangat” “Tapi akau malas, gimana dong” “Bilang aja emang nggak niat bantu, ngga usah sok-sokan nawarin jasa” balas Cyra berlalu meninggalkan kami Dikamar kami langsung meletakkan tas di samping lemari Cyra, Kukeluarkan buku yang sudah kami pinjam tadi siang dan membagikannya pada Hala dan Sophia. Sembari menunggu Cyra, kami mulai mencari tempat ternyaman untuk membaca buku Benar saja, sebelum aku selesai membaca selembar buku, Cyra sudah masuk kamar. Pertanda bahwa kegiatan mencuci piringnya tadi sudah selesai. Tak lupa di tangan kiri kanan Cyra ada beberapa cemilan untuk menemani kami malam ini. Cemilan itu dia letakkan di meja yang sebelumnya sudah ada teko dan beberapa cangkir di sana. “Kalian bertiga sudah mandi” Tanya Cyra setelah merebahkan badannya di kasur tepat di sebelahku “Kamu piker dengan wajah penuh polesan bedak gini belum mandi, pisang goreng kali yang bedakan dulu baru mandi” itu suara Hala “Kamu pasti belum madih, gih sana, sebentarl agi Magrib” ku dorong badan Cyra agar menjauh dariku Dengan malas akhirnya Cyra mengambil handuk dan masuk kamar mandi, kami bertiga melanjutkan baca buku sembari menunggu Adzan maghrib. Selapas sholat, kami lanjut mambaca buku, sesekali mencomot cemilan yang sudah Cyra sediakan tadi. “Eh…eh…eh…” Seru Hala menarik perhatian kami bertiga padanya “ Aku dengar Azka dan Sasa sudah jadian ya” sepertinya Hala sudah bosan dengan buku tebal di tangannya Inilah sebenarnya tujuan kami sering menginap di rumah satu sama lain, pertama untuk mempererat hubungan kami, kedua meminimalisir pertengkaran, dan yang paling penti menggibah orang lain tanpa takut di ketahui Aku, Sophia dan Cyra kompak menutup buku kemudian memposisikan badan agar membuat lingkaran. “Iya, aku dengar kemaren Azka nembak Sasa tapi katanya belum dijawab sih” timpal Sophia “Kamu bisanya ngurusin hubungan orang lain La, hubunganmu dan Ammar bagaimana, masih berantem, belum baikan juga” Bisikku pada Hala meski Sophia dan Cyra tetap mendengarnya “Benar nih, kalian berdua masih belum baikan” Timpal Cyra Hala menggelengkan kepalanya “Malas ah bahas Ammar, yang lain aja, Ganti topik” “Yee...! gimana sih, mau sampai kapan berantemnya” Tanyaku “Masalahnya, dia tidak suka kalau aku main dengan kalian, bukankah sedari awal kita memang sudah bersama, masa aku harus menjauhi kalian hanya gara-gara dia” “Sebelumnya kalian sudah pernah mendiskusikan masalah ini belum, tanpa ada emosi” Sophia menambahi “Atau kamu ingin kami turun tangan untuk menjelaskannya pada Ammar, biar lebih jelas” Hala menggeleng “kami ini sahabatmu, akan selalu mendukung apa yang terbaik untukmu, kami tidak mau jadi penghalang hubungan kalian, kamu memang bias tetap bersama kami, tapi kamu juga harus ada waktu dengar Ammar, kamu tidak harus selalu bersama kami, kitakan sudah sepakat dengan hal itu” jelasku pada Hala “ Iya aku tau, tapi Ammar..” ucapan Hala langsung dipotong oleh Cyra “La, bicarakan baik-baik, nanti Ammar juga akan mengerti, dan kamu juga harus bisa meyakinkannya kalau kamu juga ada waktu untuk dia” “Iya, senin besok aku akan coba bicara lagi pada Ammar” “Benar ya, senin masalah kamu dan Ammar sudah selesai, kalau tidak, aku yang akan bicara dengan Ammar” ucapku menguatkan perkataan Cyra “Iya,iya” “Eh, Fa, kamu yakin mau bicara sama Ammar, bukankah kalau dekat sama cowok kamu bawaannya itu gelisah terus, pendiam bangat lagi, nggak bisa berkutik kalau sudah di depan cowok” Sophia menggodaku setelah mendengar ucapanku tadi. “Kan ada kalian” Elakku menggaruk kepala “Dasar” mendorongku sambil menggeleng kepala “Eh tapi ingat La, kalau Ammar memang benar-benar tidak suka kamu bermain dengan kami, atau melarang untuk berteman dengan kami, saranku sih memang lebih baik kalian pisah saja, baru juga pacaran udah seenaknya ngelarang kamu, posesif bangat” Sophia ikut menimpali . Hala mengangguk menanggapi setiap yang kami ucapkan, topik kembali berganti, sambil makan buah yang tadi di bawa Cyra. kami terus berbicara beberapa topik, kusadari Cyra beberapa kali sempat terdiam seperti ingin mengatakan sesuatu tapi terlihat ragu. “Mau ngomong apa Cy” tanyaku akhirnya karena Cyra tidak kunjung buka suara “Mmm” memperhatikan kami satu persatu “Nggak ada, kapan-kapan aja aku ceritain” “Yakin !, ko main rahasia-rahasiaan sih” “Nggak rahasia ko, nanti juga akan aku ceritakan, tapi nggak hari ini” “ Yasudah, kalau mau bicra bilang aja sama kita-kita, ok” Cyra tersenyum melihat tanggapan teman-temannya yang mengerti dirinya. Tapi keputusan itu adalah hal yang paling kusesalkan hingga sekarang. Andai saja Cyra mangatakannya hari itu. Setidaknya aku tidak secanggung ini jika bertemu dengannya. Setidaknya mungkin aku dan si dia bisa berteman. Pintu kamar Cyra terbuka, kemudian muncul ibu Cyra dari balik pintu “Kalian belum tidur,ini sudah jam 12” Tegur ibu Cyra, itu pertanda bahwa kami harus tidur “Iya Ma, ini kami tidur” mencari posisi tidur masing-masing “langsung tidur ya, Mama nggak mau dengar kalian masih berisik” “Iya Ma, Wak” jawab kami kompak Setelah Mama Cyra pergi,kami benar-benar bersiap-siap untuk tidur. Kami tidak mau di introgasi selama dua jam lagi seperti dulu. Beberapa menit kemudian Cyra dan Hala sudah tertidur, sedangkan aku dan Sophia masih berusaha untuk berlabuh ke alam mimpi “Belum tidur Fa” “Nggak bias tidur” “Sama, aku juga” lama kami terdiam, tetap berusaha untuk tidur Sophia kembali berbisik padaku “Faiha, kamu ada naksir sama cowok nggak sih” tanya sophia tiba-tiba “Ko, tiba-tiba nanya masalah cowok” “Aku penasaran saja” “Tidak ada ko, belum” “Kamu yakin, jangan-jangan kamu....” “Pikirannya jangan ngaco deh, sudah sana tidur, nanti ketahuan sama Wawak” Sophia tidak menjawab, namun dia kini sudah memposisikan badan agar lebih nyaman untuk tidur. Sedangkan aku hanya dapat menghela napas setelah mendengar pertanyaan Sophia. Bukan aku tidak ingin menceritakan tentang perasaanku, hanya saja rasanya aku belum siap dan tidak tau seperti apa cara mengatakannya pada meraka. Aku juga merasa sedikit takut. Oleh sebab itu aku sudah memutuskan untuk meyimpan perasaan ini sendiri
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN