bc

Someone In My Heart

book_age16+
5
IKUTI
1K
BACA
drama
sweet
bxg
city
highschool
first love
secrets
school
expirenced
naive
like
intro-logo
Uraian

Namaku Faiha

Gadis biasa yang ingin bercerita sebuah kisah.

Kisah ini tentangku, tentang seorang gadis remaja yang baru berkenalan dengan cinta.

Meski sudah berkenalan, bukan berarti aku tahu bagaimana cara mengatasinya.

Aku pikir asal bisa melihat orang yang disuakai itu sudah cukup.

Melihatnya dari kejauhan, memperhatikannya, mengaguminya, itu sudah cukup, itu sudah membuat hatiku bahagia.

Meski pada akhirnya aku sadar itu semua tidak cukup.

Di awal masa Sekolah Menengah pertama, aku menyukai seorang lelaki bernama Kenan, Dia sudah menjadi teman sekelasku sejak lima Tahun yang lalu hingga kini aku sudah duduk di tingkat Sekolah Menengak Akhir aku masih manaruh perasaan padanya. Aku tidak tahu pasti kapan perasaan itu diam-diam menyusup ke dalam hatiku, yang aku pasti kini rasa itu semakin hari semakin bergejolak.

Senyumku tak henti mengembang setiap melihatnya tersenyum. Mata ini seakan setiap detiknya hanya tertuju pada sosok itu. Tidah teralihakan. Ah....., tapi itu hanya kulakukan secara diam-diam , tidak boleh ada yang tahu tentang perasaan ini, termasuk dirinya. Menatapnya dari kejauhan saja sudah cukup untukku saat itu.

Hingga suatu ketika sahabatku Cyra mengatakan padaku dan dua sahabatku yang lain Hala dan Sophia bahwa dia menyukai Kenan, leleki yang kusukai. Sejak saat itu aku mencoba untuk menghapus perasaan itu meski sangat sulit. Namun masalah lain muncul saat Hala tak sengaja menemukan secarik kertas yang berisi tentang perasaanku pada Kenan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bertemu Lagi
Dikeramaian pernahkah kamu merasa kosong, hampa, atau hening seketika. Hiruk pikuk disekitarmu berlahan menghilang dari pandangan, suara musik meriah yang sedang diputar berlahan menghilang dari pendengaran. Pernahkah kamu merasakannya? Itulah yang kurasakan saat ini Aku yang sedang berada di tengah keramaian, ditengah pesta pernikahan yang tidak mungkin sepi akan orang-orang. Namun itulah yang kurasakan saat ini, bak cerita dongeng yang mengistilahkan “dunia milik berdua”. Upsss, jangan salah, saat ini bukan dunia milik berdua yang aku rasakan, melainkan kegelisahan yang ingin segera kabur dari keadaan ini, segera menghilang dari suasana hati yang tak menentu. Hal ini terjadi saat aku sedang memperhatikan sekitar, melihat suasana pesta yang sangat meriah, tak sengaja pandanganku menemukan sosok yang membuat rasa itu datang lagi, menelusup pelan-pelan ke segenggam daging yang bersemayam di dadaku. Debaran itu bereaksi lagi saat melihat sosok itu tertawa menanggapi percakapan lawan bicaranya. Kuperhatikan dengan seksama, “Dia masih terlihat sama seperti dulu” benakku semakin memperhatikannya. Aku langsung mengalihkan pandangan saat dia menolehkan wajahnya kearahku. Seakan tertangkap basah kegelisahan mulai kurasakan, apa lagi saat kusadari dirinya mulai mendekat ke arahku. Saat itulah aku merasa seketika keramaian menjadi sunyi, berlahan-lahan tamu yang berada disekitarku menghilang, semua hiruk pikuk itu lenyap. Tak pandang bulu, sang ratu dan pangeran hari itu pun menghilang. hanya sosoknya yang terlihat dalam pandanganku, sosok yang selalu kuhindari hampir Enam tahun ini. Lihatlah dia sedang berjalan ke arahku Apa yang harus kulakukan? Kabur ? Itu tidak mungkin. Ditengah pesta pernikahan sahabatku tidak mungkin aku pergi begitu saja, jadi apa yang harus aku lakukan? Akankah kini saatnya aku menghadapinya? Haruskah sekarang? Tidak ada pilihan lain, mungkin memang inilah saatnya. Kuperbaiki posisi berdiriku dan berusaha menghindari tatapannya. “Hai, Ai, lama tidak bertemu” itulah yang dia katakan saat lelaki itu berdiri tepat dihadapanku. Aku hanya diam terpaku tidak bereaksi sedikitpun. Semuanya terasa kosong bahkan pikiranku, Untuk menjawab sapaannyapun aku tak bisa. Lidahku ikut-ikutan menolak untuk di gerakkan, jangankan untuk menggerakkan lidah, membuka mulut saja rasanya sangat sulit. Pikiranku melayang jauh kebelakang saat mendengar ucapannya. Sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu, hanya dia yang memanggilku dengan sebutan “Ai”. Kenangan lama itu kembali meluap dalam pikiranku , masa remaja dimana seorang gadis sedang belajar memahami apa itu cinta yang selalu membuat hatinya berdebar. Perasaan itu berkembang diakhir masa Sekolah Menengah Pertamaku. Masih terlalu dini untuk mengetahui tentang perasaan saat itu. “Faiha!” aku tersadar saat Sophia yang sedang menggendong balita usia kisaran 8 bulan menepuk bahuku yang hanya terdiam di depan sosok itu. Sophia adalah salah satu sahabatku dari kecil, dia tahu hubunganku dengan sosok di depanku ini. Mungkin karena itu dia menghampiriku segera. Dia memperhatikanku sebentar kemudian menyapa sosok yang kini sedang memegang tangan anaknya, berusaha bergurau dengan balita itu. “ Hai, terimakasih sudah datang, kamu sudah makan?” Sapa Sophia “Sudah” “kalau masih lapar makan lagi juga tidak apa-apa” canda sophia berusaha untuk bergurau Sosok itu tersenyum menanggapi Setelah menyapa sosok itu Sophia kembali melihatku “Faiha, tolong gendong Kia sebentar, Nuha memanggilku kedalam” menyerahkan anaknya kepadaku “Tolong ya” pergi meninggalkan kami berdua ditambah dengan Kia sekarang. Aku menggendong Kia di depan, dengan posisi membelakangiku, tangan kanan kujadikan sebagai dudukan untuk Kia, sedangkan tangan kiriku merangkul tubuhnya agar tidak maju ke depan, kugerakkan naik turun tanganku agar dia tidak menangis karena ditinggal Ibunya. “Kelihatannya sudah cocok” ucapnya sambil mencubit gemas pipi Kia yang ada di gendonganku Rasanya bulu kudukku berdiri mendengar perkataan itu, seperti habis melihat hantu saja, entah perasaan apa yang menelusup masuk saat mendengar perkataan itu. Kuperhatikan wajahnya yang tampak biasa saja setelah membuat dadaku terasa sesek karena menahan perasaan ini agar tidak meluap. “Sudah punya calon di kota” sambungnya kemudian masih asik bercanda dengan Kia. Kali ini tidak hanya dadaku yang sesak, aku juga seakan lupa bagai mana cara bernapas. “Hahaha” tawa kia seakan mengejek tingkahku yang masih seperti anak remaja. “Belum” jawabku kemudian setelah berhasil menormalkan suasana hatiku “Mmmm” jawabnya menganggukkan kepala berkali-kali “Ken…!” Teriak teman bicaranya tadi sebelum menghampiriku Dia menoleh kebelakang melihat sumber suara, kemudian kembali menatapku sembari tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi “Senang bisa dekat seperti ini lagi” ucapanya terhenti seperti memikirkan sesuatu “Sampai jumpa lagi” ujarnya kemudian meninggalkanku Aku langsung terduduk setelah dia pergi meninggalkanku, rasanya sangat ingin berteriak setelah pertemuan singkat tadi, tapi itu tidak mungkin aku lakukan di keramaian ini. Dari kejauhan kulihat Sophia baru keluar dari rumah. Dia tampak bergegas menghampiriku. Matanya sempat melirik sosok itu yang sudah kembali bersama teman-temannya. “Bicara apa saja tadi” tanya Sophia setelah sampai di hadapanku, sembari meraih Kia dari pangkuanku “Tidak ada, hanya menayakan kabar” “Mmmm” tampak tidak berniat melanjutkan topik itu lagi, tapi aku yakin dia pasti sangat penasaran saat ini. “Yuk ke dalam, yang lain sudah ada disana” Aku mengikuti langkah Sophia, menerobos kerumunan tamu. Memasuki rumah, tepat di pintu kedua Sophia membuka pintu dan masuk ke dalam disusul olehku. Disana sudah ada teman-temanku yang lain yaitu Cyra sang tuan rumah sekaligus pengantin hari ini, kemudian Hala yang senyumannya masih sama seperti dulu gigi gingsulnya masih takmau sembunyi, selalu terlihat disetiap senyumannya. Kemudian Sitomboy Sophia yang kini sudah membopong seorang anak. Cyra memanyunkan mulutnya pura-pura cemberut saat aku sudah menutup pintu “Datang manyapaku kemudian langsung berlari ketengah pesta, seperti orang lain saja, kau masih menganggapku teman atau tidak sih” Rajuk Cyra Aku langsung maju menghampiri, kemudian duduk tepat di depannya “Hemmmm” kuularkan tangan mendekapnya dalam pelukanku “Tentu saja kau adalah Sahabat terbaikku, aku hanya ingin melihat dari tempat itu kamu yang akan memulai hidup baru, anggap saja seperti megawasi momplai pria agar nanti tidak menyakiti tamanku ini” Cyra tersenyum mendengarnya “Aku dengar tadi—“ perkataan Hala terhenti saat Sophia menendang kakinya pelan. Cyra tersenyum karena tahu apa yang ingin di katakan Hala “Tadi kamu bertemu dengannya” Cyra akhirnya mengungkapkan perkataan yang tak bisa di tanyakan Hala dan Sophia dari tadi, karena itu adalah topik terlarang bagi kami. “Apa yang kalian bicarakan” tanya Hala kemudian “Tidak ada” “Tidak mungkin, kulihat kalin cukup lama ngobrol” Sophia tidak percaya “Hanya menayakan kabar” “Tidak mungkin, cerita dong” desak Hala semakin penasaran “Suamimu mana, kenapa kamu bisa ada disini” tanyaku pada Cyra berusaha mengalihkan pembicaraan “Ehhh, malah ganti topik, ayo dong cerita, jangan main rahasia-rahasiaan gini” Hala masih tidak mau menyerah “Tidak ada rahasia ko La, tadi memang Cuma nanya kabar aja, tidak lebih, kalau masih tidak percaya tanya saja sana sama orangnya langsung” Hala mengerutkan dahinya meyelidik “Serius La” tekanku meyakinkannya Terlihat kekecewaan diwajahnya, “Sayang bangat, itukan kesempatan langka, biasanyakan kamu langsung kabur kalau melihat dia” menurunkan bahunya lesu yang tadi sempat bersemangat Kami kemudian bercerita banyak hal, kehidupan Sophia setelah memiliki anak, rencana Cyra selanjutnya setelah menikah, Hala yang akan segera menyusul Cyra, dan tentu saja aku yang masih sendiri sampai sekarang. Selesai dari pesta Cyra aku langsung pulang kerumah, kudapati Uma sedang duduk di teras memperkatikan orang-orang yang berlalu lalang. “Lagi ngapain Ma” tanyaku pada Uma dan ikut duduk di sampingnya “Liatin orang lewat, siapa tau diantara mereka ada jodohmu” “Maaa!” “Mau sampai kapan seperti ini terus, teman sebayamu sudah banyak yang nikah, tidak bosan menghadiri pesta mereka terus, Uma saja bosan melihat Anak orang duduk di pelaminan, Uma juga pengen melihat anak Uma duduk disana” “Iya, nanti juga datang waktunya Maaa” jawabku yang bosan dengan topik pembicaraan ini, aku menyesal telah memutuskan duduk disini, seharusnya aku tadi langsung masuk ke dalam rumah. “Kapan” “Nanti” “Nanti?, kapan itu?” “Kalau sudah ketemu jodohnya Ma” jawabku malas, berdiri meninggalkan Uma untuk menghindari pembicaraan yang satu ini Aku langsung masuk kekamar, meraih handuk kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai aku mematut diri di depan cermin. Teringat pertemuan singkat dengannya “Hahhhh” menghembuskan nafas berat Kurebahkan badanku sebentar, menunggu datangnya waktu sholat magrib. Kutatap langit-langit kamarku lambat-lambat, berlahan bayangan masa itu muncul dipikiranku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook