Aku menyukai seorang laki-laki bernama Kenan yang sudah menjadi teman sekelasku sejak 5 tahun yang lalu. Atau sejak aku dan keluargaku pindah rumah dan mulai bersekolah yang dekat dengan rumah baruku.
Awal pertemuanku dengannya adalah saat aku sedang mengagkuti barang pindahan dari truk ke dalam rumah, tak sengaja pandanganku bertemu dengannya yang sedang lewat dan meperhatikan keluargaku yang sedang sibuk hilir mudik.
Hanya sebatas itu, tidak ada percakapan apalagi tatap-tatapan romantis bak di sinetron yang direkam secara slowmotion. Aku bahkan tidak tahu pasti kapan perasaan itu diam-diam masuk kedalam hatiku, yang jelas kini perasaan itu semakin hari semakin bergejolak.
Saat ini dari balik jendela kelas aku sedang meperhatikannya yang sedang mengejar bola di tengah lapangan, kakinya terus menggiring bola kearah gawang lawan, sesekali dioper pada teman satu timnya. Bola terus digiring, setelah dekat dengan gawang dengan yakin dia menendang bola itu dengan keras “Yahhh, bola meleset” aku ikut kecewa dari balik jendela
Itulah kegiatan yang sering kulakukan, mengintipnya dari balik jendela secara diam-diam dan berusaha agar tidak satu orang pun yang tahu.
“Fa, Faiha, kamu lagi ngelihat apa” Hala meletakkan makanan yang baru dia beli dari kantin, kemudian ikut melihat arah pandangku
“Tidak ada, hanya melihat orang yang sedang main bola” monyomot sembarang makanan yang baru dibeli Hala.
“By the way, Nanti malam Kita jadi nginap di rumah Cyra” Tanya Sophia yang kini sudah memutar kursinya ke belakang agar bias berhadapan dengan Hala dan Cyra yang duduk di belakang kami.
“Jadi dong”
“Sudah pinjam buku di perpus” tanyaku ikut memutar badan
“Minggu ini kan giliran kalian berdua yang pinjam buku” balas Hala tak lupa memamerkan gigi gingsulnya yang selalu membuatnya terlihat lebih manis dan imut
Aku dan Sophia langsung memalingkan wajah berhadapan, sesaat kemuadi membuka mulut lebar tanpa suara saat teringat jadwal meminjam buku, kemudian nyegir pada Cyra dan Hala.
***
Aku dan Sophia segera menuju perpustakaan untuk mencari buku yang bisa dibaca untuk besok, dilapangan aku masih melihatnya mengejar lawan yang membawa bola. Sepanjang lorong menuju perpustakaan mataku takhenti-henti melihatnya.
Jarak perpustakaan dangan kelasku terpisah cukup jauh, perpustakaan berada di gedung yang bersamaan dengan rung Komputer dan UKS , setelah membuka sepatu aku dan sophia masuk ke dalam perpustakaan segera menuju buku bacaan, tepat setelah mendapatkan semua buku bel masuk berbunyi, kami segera ke bagian pustakawan untuk mengajukan peminjaman buku
Selesai kami langsung keluar perpustakaan “Kamu yakin Fa, Hala baca buku tebal ini” tanya Sophia memastikan buku yang telah kami pinjam, sembari memakai sepatu.
“Yakin, dua hari yang lalu aku melihat Hala baca buku ini”
“Aku ragu” menggaruk kepelanya yang ditutupi topi dengan bentuk sengaja dibuat miring
Aku hanya mengangkat bahu menanggapi pertkataan Sophia, saat memasang sepatu dari depan perpustakaan kulihat anak-anak yang tadi bermain bola sudah membubarkan diri, kembali ke kelas masing masing, aku tidak melihat Kenan, mungkin dia sudah ada di dalam kelas
Tapi ternyata perkiraanku salah, dilorong menuju kelas tepat di hadapanku, aku melihat Kenan dan Azka yang baru keluar dari toilet, sepertinya mereka sedang asik membicarakan pertandingan tadi, dari belakan aku dapat melihat dia yang sesekali melap kerinyatnya dengan ujung baju dan taklupa mengibas rambutnya yang sengaja dibuat basah.
Aktifitas pengintaianku berakhir setelah Kenan dan Azka menghilang dibalik tembok. Aku dan Sophia menyusul masuk kedalam kelas, sekilas aku melihat Kenan masih asih dengan rambutnya.
“Hala, kamu serius mau baca buku tebal ini” tanya Sophia yang masih tidak percaya “tumben-tumbenan, biasanya juga baca buku yang paling tipis”
Hala hanya nyengir kuda menanggapi perkataan Sophia
“Cyra, ini buku yang kamu maksut” memastikan buku yang akan dibaca Cyra
“Iya, itu”
“Ok....” merapikan buku yang telah dipinjam dan menyimpannya di laci
Waktu terus bergulir, Bu Gina Guru Matematika yang bertanggung jawab mengajar jam ini tidak kunjung muncul.
Seorang siswa kelas sebelah masuk, meminta ketua kelas untuk datang ke ruang guru, Kenan yang merupakan ketua kelas kami segera mengikuti siswa itu menuju ruang guru, sekembalinya dari sana dia membawa selembar kertas
“Teman-teman tolong minta perhatiannya sejenak” menenangkan ruangan kelas yang berisik “karena sekarang sedang ada rapat guru Bu Gina menitipkan beberapa soal untuk di kerjakan, nanti sepulang sekolah tugasnya akan dikumpulkan dan diserahkan” jelas Kenan panjang lebar
“yahhhhh” seru seluruh siswa kecewa karena mendapat tugas
Kenan tidak peduli mendengar seruan itu, dia mulai menyalin soal yang ada pada selembar kertas ke papan tulis. Setelah menyelesaikan tulisannya kenan kembali ke tempat duduknya untuk mengambil buku catatan kemudian menarik kursi kosong ke depan mejaku dan Sophia yang ada di bagian depan pojok kanan ruangan
“Aku duduk di sini ya” Ucap Kenan sebelum duduk di bangku yang dia bawa
Duduk di meja guru seharusnya lebih pas untuk mengawasi seluruh bagian ruangan, tapi ada pantangan tak tertulis yang sudah mendarah daging bagi siswa di daerah kami waktu itu, jika duduk di kursi guru maka nanti orang itu akan menjadi bodoh. Konyol memang tapi itulah yang terjadi. Karena hal konyol itu sekarang dia dan aku bisa satu meja, ah jangan lupa Sophia juga ada di sana
Sophia segera menganggukkan kepalanya, itu merupakan keuntungan besar baginya karena bisa mencontek jawaban sang juara kelas.
Sayangnya, itu berbanding terbalik denganku, jarak antara Aku dan Kenan yang terlalu dekat membuat jantungku berdenyut lebih kencang, biasanya jarak antara aku dan dia terpaut jauh terutama saat memperhatikannya diam-diam.
Jarak sedekat itu membuatku tidak bisa konsentrasi. Tapi anehnya meski gugup aku sesekali tetap mincuri pandang kearahnya, meperhatikannya yang sedang serius mengerjakan soal.
Dengan jarak sedekat itu aku bisa melihat dengan jelas wajahnya, sesekali air masih menetes dari rambutnya yang basah. Matanya bergerak serius mengikuti gerakan tangan, seakan ikut menghitung setiap jawaban.
Disaat sedang asik memperhatikan, tiba-tiba Kenan mengangkat kepala dan menatapku. Aku segera mengalihkan pandangan dan kembali fokus mengerjakan tugas, ahh !salah, bukan kembali fokus tapi pura-pura focus.
“Ai sudah selesai”
Ya !, dia memanggilku ‘Ai’ berbeda dengan orang lain yang biasanya memanggilku “Faiha” atau hanya nama depan saja “Fa”
“Belum” menggelengkan kepala, serius memperhatikan buku tidak berani bersitatap dengannya.
Setelah memastikan, Kenan kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, setelah merasa cukup dia kembali mengerjakan soal yang belum selesai.
Mungkin sekitar 80 menit berlalu beberapa murid sudah selesai, Kenan yang juga telah menyelesaikan soal meninggalkan tempat duduknya kemudian berjalan mengitari kelas menghampiri murid yang merasa kesulitan menjawab “Ada soal yang belum terjawab” tanya Kenan, yang sudah berdiri tepat disampingku
“Ini sudah mau selesai” jawabku kikuk karena dia terus memperhatikan catatanku, rasanya akan sangat malu jika salah satu jawabanku ada yang salah.
“Yang sudah selesai silahkan kumpulkan bukunya kedepan dan bisa langsung pulang, yang belum selesai saya tunggu 5 menit lagi”
“Mau lihat” Sophia menawarkan catatan yang merupakan copy paste dari jawaban Kenan
“Tidak, sudah mau selesai ko”
“Kami tunggu di luar ya” Cyra menepuk bahuku dari belakang
“Mmm”
Selesai aku langsung mengumpulkan tugas, kulihat kenan sedang merapikan bukunya bersiap untuk pulang, aku segera keluar menghampiri Sophia, Hala dan Cyra “Maaf lama” kami mulai berjalan menuju rumah masing-masing.