"Mas Bagas? Kamu ngapain di sini?” Bukannya menjawab pertanyaanku, Bagas malah tersenyum dan langsung menghampiriku. Dia ikut duduk di samping Dara. “Kok kamu nggak kerja? Bolos ya?” Bagas menudingku penuh selidik. “Nggak ya, orang ini hari Minggu kok.” “Oh iya. Lupa aku.” Bagas menepuk keningnya lalu tertawa. Suasana jadi lebih baik setelah kedatangan Bagas, meskipun Dara masih saja jutek, setidaknya dengan kehadiran Bagas aku tidak terlalu merasakan auranya Dara yang kayak mau nelan orang hidup-hidup. Cafénya Bagas memang buka setiap hari, tapi setiap pegawai tetap di berikan jatah libur seminggu sekali, dan itu terserah pegawainya mau mengambil hari apa. Kebetulan aku sendiri mengambil jatah hari Minggu soalnya bertepatan sama libur kuliah. “Oh iya, kamu ke sini ada apa? Mau ketem

