"Kok berhenti di sini?" Aku menoleh ke arah Bagas yang tiba-tiba berhenti di depan café. Di depannya terpajang beberapa lampu dan bunga gantung yang indah, tatanannya rapi. Di dalam café sana beberapa pengunjung juga terlihat ramai, karena café ini di desain tembus pandang, jadi kami masih bisa melihat aktivitasnya meskipun tidak keseluruhannya. "Iya, aku biasanya kalau lagi nggak enak hati pasti datang ke cafe-café yang belum pernah aku kunjungi, tapi kalau café ini udah pernah sih, dan aku pingin ngajakin kamu ke sini biar nggak sedih lagi, soalnya café ini tuh bagus banget, salah satu favorit aku, recommended lah." Untuk hal apa Bagas melakukan semua ini buat aku? Bukankah kita hanya sebatas bos dan pegawai. "Buat apa, Mas? Mending anterin pulang aja ayo, aku nggak ada duit buat masu

