Suara desir angin mengiris malam, mengantar pedang yang meluncur tepat ke arahku. Kilauan senjata itu seperti kilat yang terpantul di mataku, mendekat dengan kecepatan yang membuat bulu kudukku berdiri. Detik-detik melambat, dan jantungku seperti berhenti sesaat, terperangkap dalam kepanikan yang seakan membeku di udara dingin. Tepat saat pedang itu nyaris menyentuh, Titik menerjang maju, tubuhnya berubah menjadi bayangan hitam pekat yang menghalau serangan, membuat pedang pria itu terpental dengan bunyi **dentang** nyaring. Pria itu terhuyung mundur, terkejut, namun dengan cepat ia menegakkan diri, menghunuskan pandangan penuh kebencian ke arah kami. Tiga sosok lain segera menyusul, mengepungku dari berbagai sisi. Aku menggenggam pusaka itu lebih erat, mencoba mengatur napas yang tersen

