Sentuhan dingin di bahuku membuatku tersentak. Meski mataku masih disilaukan oleh cahaya putih, instingku langsung memerintahkan untuk bergerak, melompat menjauh dari siapa pun yang berada di belakangku. Namun, cengkraman di bahuku begitu kuat, seolah ingin mengikatku pada tempatku berdiri. Suara bisikan itu terdengar jelas, bergema dalam keheningan ruangan yang kini dipenuhi bayangan aneh yang bergerak-gerak dalam cahaya. Aku memberanikan diri untuk membuka mata, dan kulihat sosok bayangan tadi berdiri tepat di depanku, meski tubuhnya kini tampak pecah-pecah, seperti kaca yang retak, menyisakan celah-celah gelap di sekujur tubuhnya. Cahaya dari pusaka di tanganku terus mengalir ke arahnya, menyelimuti sosoknya yang mengerikan. Meski terlihat kesakitan, ia tak henti-hentinya menyeringai,

