Suara lembut itu seperti belaian hangat yang menembus kegelapan di sekitarku, menenangkan tapi penuh kekuatan yang tak terbantahkan. Perlahan-lahan, kesadaranku mulai kembali, meski tubuhku terasa berat seperti tertimpa beban yang tak terlihat. Aku mencoba membuka mata, dan dalam remang-remang yang samar, kulihat sosok anggun yang berdiri di depanku. Jubahnya berwarna merah darah, dihiasi perhiasan emas berkilauan yang menyatu dengan kulitnya yang pucat, sementara matanya memancarkan ketegasan yang dalam dan menenangkan. “Kanjeng Ratu,” bisikku, tak percaya pada apa yang kulihat. Dia tersenyum tipis, penuh wibawa. “Kau telah melewati banyak cobaan, Raden Ayu. Tapi tugasmu belum selesai.” Jantungku berdegup cepat, memukul keras di dadaku. Napas masih berat dan tubuhku terasa lemah. “Apa

