Setelah meninggalkan perayaan pernikahan, aku dan Bik Asih memasuki kamar Aiden. Sedangkan kamar pribadiku di tempati Mama dan Papa Mertua. Sangat nahas karena kami tidak nyaman satu sama lain. “Bik, apa tidak ada pakaian yang lain?” tanyaku pada Bik Asih yang tampak gembira melihatku memakai gaun merah berenda yang sangat terbuka. “Maaf, Non. Tidak ada pakaian lain.” Aku bisa melihat wanita paruh baya itu sedikit terkekeh. Tak berselang lama, lelaki tampan yang minus nyebelin masuk ke dalam kamar dengan ekspresi datar. Bik Asih yang baru selesai menyisir rambutku segera undur diri. “Jangan melihatku,” ujarku datar pada Aiden. Lelaki itu terlihat berusaha menyembunyikan dehamannya. Tanpa berlama-lama, ia memasuki kamar mandi dan terdengar gemericik air dari dalam. Aku memilih merebahk

