27

1286 Kata

Aku yang hendak pulang dikerumuni beberapa awak medis. Rasanya risi apalagi mereka berkali-kali memuji diriku yang katanya kuat karena bisa sembuh dalam waktu yang singkat. Aiden berpamitan dengan dokter langganannya, ia pun berpesan untuk tak membocorkan insiden keracunanku pada orangtuanya. Sesampainya di rumah, Bik Asih bersama beberapa pelayan sudah stand by di ruang tamu menyambut kedatangan kami. Aiden menuntunku penuh perhatian. Sikapnya sangat berbeda 180 derajat dari biasanya. “Lepaskan. Aku bisa berjalan sendiri,” ujarku sembari lepaskan genggamannya dari lenganku. “Oke. Hati-hati, kalau ada sesuatu langsung panggil aku.” Suamiku pasrah dan membiarkan aku kembali ke kamar sendirian. Dari pantulan kaca dari lift, kulihat dia menghampiri para pelayan yang berbaris rapi di ruang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN