sick

1074 Kata
Edward menelusupkan jemarinya pada bagian bawah jaket Drystan dan membuat pemuda itu berjengit kaget ketika merasakan kulit dingin Edward menyentuh pinggangnya. Drystan berusaha mendorong d**a Edward, namun tenaga pria itu cukup kuat untuk mempertahankan posisi mereka tetap seperti itu. Drystan semakin bergidik ketika jemari Edward terus naik menjelajah kulit tubuhnya, membuat Drystan merasa geli dan merinding secara bersamaan. Ia yakin sekali pori-pori kulitnya timbul karena sentuhan pelan Edward. “Ed—hmmp….” Drystan meremat kemeja Edward sebagai bentuk protes, tetapi pria itu menghiraukannya dan terus melanjutkan pagutannya. Ketika Drystan akhirnya memukul d**a Edward, barulah pria itu melepaskan bibirnya. Drystan merosot jatuh dengan napas tersengal-sengal. Bibirnya memerah dan tampak bengkak dengan bekas saliva menetes di sekitar dagunya. Edward menarik pergelangan tangan Drystan, membantu pemuda itu untuk kembali berdiri. “K-Kau gila.” Dengus Drystan. Ia mengalihkan pandangannya ketika Edward terkekeh memandangi wajahnya. “Kau tidak tampak keberatan juga.” Katanya santai. Drystan melotot, sementara Edward hanya terbahak melihatnya. Apa-apaan itu? Mencium tanpa izin? “Ayo pulang.” Edward menggenggam telapak tangan Drystan dan menariknya, membuat Drystan sedikit oleng ketika menyadari tarikan itu. Ia tidak membantah lagi ketika Edward menggiringnya untuk kembali ke rumahnya. Drystan memang tidak biasa dengan hal-hal umum seperti berciuman, meski sebenarnya hal itu seharusnya bukan menjadi masalah besar untuknya. Tapi tidak, Drystan tidak bisa mengabaikan rasa melilit di perutnya sejak Edward menyentuh kulitnya. Ia tidak ingat pernah merasakan hal seperti itu. Rasanya benar-benar aneh. Bahkan ketika mereka telah kembali ke rumah dan Edward melepaskan genggamannya, rasa melilit di perut Drystan tak juga sirna. Drystan bahkan khawatir jika ia mengalami semacam keracunan atau apa, hingga ia memutuskan untuk berdiam diri di kamar mandi nyaris satu jam lamanya. Ia segera keluar ketika Edward menggedor-gedor pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar yang ia tempati, khawatir kalau-kalau Drystan terpeleset dan pingsan karena kepalanya terbentur atau semacamnya. Pria itu tampaknya sama sekali tak terganggu dengan ciuman yang ia lakukan di gang sebelumnya, dan Drystan merasa bodoh karena memikirkan kejadian itu seolah tengah memikirkan hutang Negara. Ia bahkan sudah mengerti jika hal-hal seperti itu adalah wajar dan dilakukan oleh semua orang—atau setidaknya itulah yang ia tahu. Hanya saja, kebetulan Drystan bukanlah sosok umum seperti yang lainnya. Mungkin, ia memikirkannya hanya karena ia tidak terbiasa? Drystan berusaha keras menanamkan pemikiran positif di kepalanya. “Kau bertingkah aneh, Drystan. Ada apa sebenarnya?” Drystan menggaruk tengkuknya dan menyengir sebagai balasan. “Tidak tahu, mungkin lelah.” “Berdiam diri di dalam kamar mandi nyaris satu jam tidak terhitung sebagai pelepas kepenatan, apalagi kalau kau di dalam kamar mandi tanpa melakukan apa-apa dan hanya berdiri diam seperti orang i***t. Sesuatu pasti tengah mengganggu pikiranmu, ‘kan?” Itu kau, sialan! Drystan ingin sekali meneriakkan hal itu tepat di wajah Edward, tapi tidak mungkin. Mengeluhkan perihal ciuman yang kemungkinan hanya iseng saja dilakukan Edward rasanya memalukan. Drystan tidak menyalahartikan apa-apa dari kejadian itu, dia hanya merasa aneh dengan sensasi di tubuhnya usai kejadian itu, dan Drystan benar-benar merasa risih. Rasanya konyol sekali risih dengan tubuh sendiri. Drystan mendorong Edward keluar. “Aku tidur dulu, kau urus saja tawananmu itu. Bye!” Blam! Pintu kamar ditutup dan segera dikunci oleh Drystan, meninggalkan Edward di depan pintu dengan wajah bingung. Sementara itu, Drystan bersandar pada pintu dan merosot jatuh. Entah mengapa, jantungnya berdegup lebih cepat dan rasa melilit di perutnya kembali menyerang. Drystan duduk sembari memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangan. “Sial, tolong berhenti perut sialan.” Serunya tertahan. Ѡ Drystan bangun dengan kepala berdenyut pusing. Ia duduk di pinggiran ranjang, ketika matanya menangkap bayangan dirinya sendiri pada cermin rias di dekat ranjang, ia tidak bisa untuk tidak terkejut melihat pantulan dirinya sendiri. Kulitnya yang sejak awal pucat tampak makin pucat, ada lingkaran hitam yang tercetak jelas di masing-masing bawah matanya, dan bibirnya benar-benar kering. Drystan merasakan hawa dingin yang tak biasa, membuatnya berjengit kaget ketika telapak kakinya tak sengaja menyentuh lantai. Drystan nyaris tak tidur semalam. Ia baru terlelap nyaris pagi, dan kemudian terbangun ketika alarm di ponselnya berbunyi. Ketika ia mematikan alarm dan berniat hendak memejamkan mata lagi, ia sudah tidak bisa kembali tidur. Seperti itulah Drystan, ia tidak akan bisa tidur lagi ketika sudah terbangun, bahkan meski seluruh tubuhnya terasa begitu lelah sekali pun. “Drystan kita harus seg—APA YANG TERJADI DENGANMU?” Edward menghambur mendekat, ia menangkup kedua pipi Drystan dan membuatnya mendongak. “Pusing.” Jawab Drystan pelan. Edward menunduk, dan menempelkan dahinya sendiri pada dahi Drystan. Sementara Edward memejamkan mata dan berusaha merasakan apakah tubuh Drystan panas, pemuda itu berusaha untuk beringsut mundur. Ayolah, Drystan tidak pernah tahu jika memeriksa kondisi seseorang harus dengan menempelkan dahi ke dahi. “Panas.” Desis Edward pelan. “Apa kau berendam di kamar mandi semalaman?” Drystan menggeleng. “’Kan kau sudah melihat sendiri kalau aku tidur.” Drystan menggaruk tengkuknya. “Um, sebenarnya aku tidak bisa tidur sih. Mungkin karena itu.” “Kau—“ Edward menghela napas. “Okay, sepertinya aku tidak bisa mengajakmu hari ini. Beristirahatlah, aku akan membuatkanmu sup dan kau harus segera minum obat, kurasa demammu akan segera reda setelah kau beristirahat.” Drystan mengamati penampilan Edward dan mengernyit. “Kau sudah rapi, ada urusan penting ‘kan? Kalau begitu kau pergi saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” “Kau yakin?” “Aku ya—hmp.” Drystan melotot dan menutup mulutnya. Buru-buru ia turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi ketika dirinya merasakan desakan mual dari dalam perutnya. “Aku tidak apa-apa, kau pergi saja.” Seru Drystan dari dalam kamar mandi. Edward menyusul Drystan ke kamar mandi dan membantunya dengan memijat tengkuk Drystan. Ketika pemuda itu selesai, Edward memapahnya ke atas ranjang dan menyelimutinya. Drystan memandangi Edward kesal. “Sudah kubilang kau bisa pergi.” Edward mengangkat bahu. “Kubuatkan sup sebentar.” Dan ia segera keluar dari kamar mengabaikan gerutuan Drystan. Drystan mengusap wajahnya kasar, ia bahkan merasa kulitnya terasa begitu kering. Semalam ia hanya meminum alkohol di bar sebelum kemudian Edward datang dan mengajaknya pulang. Ia bahkan tidak mengisi perutnya sama sekali sebelum mengonsumsi alkohol. Edward, alkohol, bar, pulang bersama— Drystan membekap wajahnya dengan bantal, secara tiba-tiba ingatan mengenai ciuman semalam menyeruak masuk. Ingatan yang benar-benar segar. Drystan bahkan masih ingat bagaimana rasanya. “Tidak, tidak, tidak!” serunya berkali-kali. Ayolah, ia bahkan sudah mengingatkan dirinya sendiri bahwa yang semalam itu tidak berarti apa-apa. Tapi sialan, sepertinya ingatan di kepalanya tidak bisa diajak kompromi. Ѡ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN