Café di ujung jalan itu sudah mulai terisi beberapa pengunjung saat Sassy mengikuti langkah panjang Luke ,” Tempatnya nyaman ….” dihirupnya udara dalam dalam ,” Lapar.”
Luke tertawa melihat Sassy mengusap perutnya dengan tampang memelas ,” Ayo.’ Diraihnya tangan Sassy ,” Paman, Bibi …. meja biasa kosong ?”
“ Ahhhh ini dia. Bibi tidak sabar melihat seperti apa gadismu.” Bibi Yo tergopoh gopoh keluar dari balik counter , “ Aissssh manis sekali ….”
Sassy tergagap menerima pelukan hangat itu.
“ Sini …. ayo duduk dulu …. siapa namamu ?”
Sassy tersenyum “ Sassy …" sahutnya dan duduk di salah satu meja di teras belakang, menatap perempuan nyaris seusia neneknya itu duduk dihadapannya.
“ Senangnya bisa melihat anak keras kepala ini membawa gadisnya pada kami. Sassy … ceritakan bagaimana kalian ketemu dan sampai seperti ini ?”
“Dia teman kuliah Cinta dan Jane.” Luke menarik kursi disamping Sassy ,” Dan sekarang kerja di rumah sakit yang sama dengan Rei dan Reina.”
“ Sejauh mana kamu menyeli … ” Paman Yo menggantung pertanyaannya sambil menatap Luke.
“ Tenang Paman …. Mr Parno ini sudah menyelidiki aku, peraturannya sudah disepakati di depan" Sahut Sassy, tersenyum pada lelaki dengan pandangan teduh itu.
Luke tertawa, mengacak rambut Sassy dan menjentik dahinya ketika gadis itu meleletkan lidah. Matanya menangkap Paman dan Bibi Yo bertukar pandang sambil tersenyum ,” Apa Bi ? Paman ?”
Paman Yo menggeleng sambil tersenyum lebar ,” Paman siapkan dulu makanan kalian, Sassy mau minum apa ?”
“ Apa aja …. “
Bibi Yo berdiri ,” Bibi pilihkan ya …..” dipeluknya Luke ,” Tangkapan bagus nak ... jangan lepaskan.” bisiknya.
Luke menggaruk kepalanya ,” Bersiaplah ….”diangkatnya alis sambil tersenyum jahil pada Sassy.
“ Huh … tangkapan bagus, emangnya aku ikan ?”
Luke menahan diri untuk tidak menyentuh bibir yang cemberut itu ,” Bangga ?”
Sassy menjulurkan lidahnya ,” Bukan aku yang akan sering bersentuhan dengan mereka semua . Setelah pesta Cinta aku akan pulang.” Sassy tersenyum lebar ,” Tinggal jadi masalahmu.” Tersenyum saat minumannya tersaji.
“ Huh … jangan terlalu yakin.” Luke berkata pelan sebelum meneguk sedikit minumannya ,” mereka akan punya banyak alasan untuk menemuimu, apalagi menjelang Reina melahirkan.”
Sassy mengangkat bahu …. mengalihkan perhatian pada steak yang tersaji dihadapannya ,” Hmmm …. sedap.” dihirupnya aroma menggoda itu dalam dalam “ Mereka sudah tahu kita akan datang ?”
“ Mama pasti sudah memberitahu mereka.”
“ Apa peran kita tidak hanya didepan gadis gadis itu ? Kelihatannya mereka cukup dekat, apa bisa dibohongi dengan ‘status kita ?” bisik Sassy memberi tekakan pada kata status.
“ Aku sudah bilang jangan terlalu yakin dengan batasan keluargaku. Baik waktu maupun sasarannya. Kamu terlalu polos.”
“ Paman dan bibi Yo masih saudara ?” Sassy memasukkan seiris daging dan mengunyahnya nikmat.
“ Saudara tanpa hubungan darah.”
Sassy melirik sekilas, mengguman dengan mulut penuh.
“ Salah satu kalau tidak bisa dibilang satu satunya yang memperlakukan keluargaku dengan tulus tanpa embel embel.” Luke mengiris daging di piringnya ,” Lebih saudara daripada yang bertalian darah sekalipun.”
Sassy menghembuskan nafas ….. “ Keluarga adalah siapa yang selalu ada untukmu, tanpa perlu silsilah.” ujarnya pelan sebelum melanjutkan menikmati makanannya.
Luke menatap dalam gadis disampingnya, Sassy bukan hanya mengerti tapi merasakan … apa dia juga mengalaminya ? Tidak ada yang menunjukkan hal itu dari yang dia amati diam diam selama ini.
“ Gak dimakan ?” Sassy menunjuk makanan Luke yang nyaris tak tersentuh.
Luke tertawa melihat piring Sassy sudah nyaris bersih ,” Mau lagi ?”
Sassy mengiyakan sambil tersenyum malu malu ,” Yang seperti punyamu, kelihatan sausnya enak.”
Luke mendorong piringnya ,” Nih, aku pesankan yang lain nanti kamu coba juga. Paman ….. Lagsana satu.” teriaknya disambut acungan jempol Paman Yo ,” Makanlah …. kita berbagi ini, sebentar lagi berbagi lagsana.”
Sassy menatap sejenak dan memutuskan menuruti keinginannya ,” Makasih.” Diirisnya daging menjadi beberapa bagian kecil dan mendorong piring sedikit ke tengah ,” Kita berbagi.”
Luke menghela nafas, menahan rasa hangat yang memenuhi dadanya. Dia sering melihat gadis ini berbagi makanan dengan rekan kuliah atau rekan kerjanya dengan sama ringannya seperti saat ini ,” Kamu sering berbagi seperti ini ?”
Sassy mengangguk.
“Apa tidak berfikir bahwa diantara teman yang berbagi menganggap ini cukup intim ?”
Sassy tersedak, tergopoh meraih gelasnya.
Luke tersenyum mengusap ringan punggung Sassy ,” Pelan pelan.”
“ Maksudmu ?”
“ Gadis bodoh ….. berbagi semacam ini lebih sering dilakukan sepasang kekasih.”
“ Atau teman baik.” Sassy melebarkan matanya.
“ Kamu punya pacar ?”
Sassy menggeleng.
“ Sedang dekat dengan seorang laki laki ?”
Sassy kembali menggeleng.
Tangan Luke terulur mempermainkan rambut Sassy ,” Berapa umurmu gadis kecil ? Belum pernah pacaran ?”
Sassy cemberut dan membuang muka ,” Aku seumuran adikmu yang sebentar lagi menikah.”
Luke terkekeh ,” Ingat, selama jadi gadisku jangan berbagi seperti ini dengan lelaki lain. Aku sudah bilang diawal tidak akan mudah menjadi gadisku.” tegasnya saat Sassy hendak membantah.
Sassy meleletkan lidahnya.
“ Termasuk itu juga, bikin orang gemes tahu gak ?”
“ Duh Gusti …..” Sassy menepuk dahinya ,” Seharusnya abang ajak aja perempuan perempuan itu kencan satu persatu, mereka akan mundur teratur dengan sikapmu seperti ini.”
Luke mengangkat bahu ,” Percayalah, aku pernah punya beberapa … tapi tidak satupun diantara mereka yang bisa menyentuh makananku dan berbagi seperti ini.” disodorkannya sepotong daging ke mulut Sassy dengan garpunya.
Sassy mengunyah dan menelan makanannya ,” Terus, aku wajib tersanjung gitu ?”
Luke mendekatkan wajahnya ,” Gak perlu, cuma pahami saja … siapa tahu kamu akan menikmatinya nanti.”
Sassy menjauhkan kepalanya. Tubuhnya meremang dan kulitnya memanas ,” Gak harus sedekat itu juga kali Bang ….”
Luke menarik nafas dan bersandar, menggenggam garpu dengan erat untuk menahan tangannya terulur meraih gadis itu kedalam pelukannya.
“ Ini pesananmu.” Bibi Yo meletakkan pinggan panas ,” Sassy, minumnya nambah sayang ?”
Sassy menatap gelasnya yang nyaris kosong ,” Air mineral aja Bi ….”
Perempuan itu menatap dua orang yang nampak kikuk dihadapannya, mengulum senyum dan pergi ,” Kali ini Luke memakai rasanya.”
Paman Yo terkekeh ,” Pada gadis sepolos itu.”
“ Ada kedewasaan didalamnya.” Bibi Yo meminta karyawannya mengantarkan air mineral untuk Sassy ,” Aku melihat mereka hampir sama. Ada yang disembunyikan Luke dibalik sikap dinginnya, dan ada sesuatu dibalik keceriaan Sassy.” diusapnya sudut mata yang basah tanpa disadari ,” aku seperti melihat Luke versi lain beberapa tahun yang lalu.”
“ Lihat saja nanti …. kita doakan yang terbaik untuk mereka.” dipeluknya bahu istrinya. Luke sudah seperti anak mereka sendiri sejak lelaki kecil itu sering menyendiri di pojok dapur mereka untuk menyembunyikan kesedihan dan kemarahan dari keluarganya. Keinginanya untuk melindungi adik adiknya membuatnya mengabaikan dirinya sendiri selama bertahun tahun. Beberapa gadis yang sempat diLukecaninya tidak pernah lebih dari tiga bulan lebih berfungsi sebagai alibi bahwa dia memikirkan dirinya sendiri, bukan melulu adik adiknya.
“ Kali ini keluarganya sudah turun tangan, pada orang yang tepat.”
“ Jangan terlalu cepat puas, mereka berada dalam fase yang berbeda tentang sebuah hubungan.”
Bibi Yo meraih ponselnya yang berdering ,” Ya …. sudah terima video yang aku kirim ? Ah nggak … aku gak nangis.” tertawa dengan suara serak.