Sassy menghirup udara basah bercampur kabut, memuaskan dirinya menikmati udara segar. Sedikit keringat membasahi dahinya, mengurangi dinginnya udara. Lebih dari satu jam ia berlari kecil mengelilingi jalan pedesaan … melihat aktivitas pagi pekerja pertanian dan peternakan.
“ Dari mana jam segini sudah diluar ?”
Sassy memalingkan wajahnya, tersenyum pada Jerry dan Luke yang duduk diatas punggung kuda.
“ Jalan jalan aja … “
“ Mau ikut ?” tawar Jerry ,” Kita mau ke atas sana.” ditunjuknya bukit kecil.
“ Eh mmmm “
“ Ayolah ….. “ tiba tiba Jane sudah muncul dan melompat ke belakang punggung Jerry ,” Kamu bisa ikut abang.”
Sassy mengusap tengkuknya, memandang ngeri pada kuda hitam yang berukuran besar itu.
Luke mendengus geli dan melompat turun ,” naiklah, kaki kirimu disini.” tertawa kecil, dipegangnya pinggang Sassy membantunya naik ke punggung kuda.
“ Wow ….” Sassy berseru lirih dan duduk dengan wajah tegang.
Jerry dan Jane tertawa melihat raut wajah Sassy berubah lebih tegang lagi saat Luke bergerak naik dan duduk dibelakang punggungnya ,” Ayo.” Jane memeluk piinggang Jerry.
“ Belum pernah naik kuda ?” Luke membiarkan kudanya berderap pelan sampai bahu Sassy tidak terlalu kaku ,” Santai aja.”
“ Pernah, tapi gak sebesar ini.” ditahannya nafas ketika surai hitam itu berkibar semakin keras.
Luke tak dapat menahan tawanya ,” Segini aja nyalinya sopir bis antar kota ?”
Sassy memutar wajahnya, mencoba menatap Luke sambil cemberut ,” Hanya faktor kebiasaan.”
“ Percaya ….. “ Luke memacu kudanya, tertawa saat gadis itu tak sadar mencengkeram lengan kirinya ,” Bersandarlah, dan nikmati.”
Sassy menarik nafas panjang, sedikit bergidik ketika suara dalam itu sangat dekat dengan telinganya. Diaturnya nafas sambil berharap ketegangannya lebih dikarenakan karena kuda dan bukan sosok dibalik punggungnya.
“ Wow ….. boleh ikut kesana ?” Sassy menatap takjub pada hamparan bunga aneka warna dan para pekerja yang tengah memetik dengan hati hati. Diraihnya ponsel dari saku jaket dan mengambil beberapa foto.
“ Selfie ?”
Jane tertawa menatap Luke ,” Sassy ? Gak akan …. kalau gak terpaksa.”
“ Bukannya para gadis seusia kalian senang selfie kemudian mempostingnya di media sosial ?”
Jane menggeleng ,” Dia suka fotografi, akunnya penuh dengan foto. Tapi bukan foto dirinya.” Jane mengeluarkan ponselnya, menunjukkan akun Sassy.
Aku tahu ….. jawab Luke dalam hati. Ditatapnya sekali lagi gadis yang sudah berinteraksi dengan para pekerjanya, ditariknya nafas dan mengambil langkah ke arah lain.
Matahari sudah bersinar hangat meneragi teras depan rumah tua yang masih sangat terawat itu. Cinta dan kedua orang tuanya menghentikan pembicaraan ringannya ketika melihat empat sosok yang mendekat ,” Ada apa ini ?” Papa Cinta meletakkan cangkir kopinya saat melihat Jane dan Jerry cekikikan.
Jane tertawa sambil duduk ,” Kamu melewatkan ekspresi Sassy.” diterimanya segelas juice jeruk dari tangan Cinta.
Sassy menghembuskan nafas, duduk dilantai sambil menangkap sebutir apel yang dilemparkan Reina padanya ,,” Bahagia sekali dia ….” Sassy menggerutu pada apel ditangannya.
Luke menatapnya geli ,” Penakut.” Diitepuknya lembut ujung kepala Sassy saat melintas didekatnya dan berlalu kedalam.
Sassy mencibir dan mengacungkan tinju kecilnya ke punggung Luke. Tidak menyadari beberapa orang disekelilingnya bertukar pandang.
“ Bersihkan diri kalian, dan kita sarapan di teras belakang.” Mama Cinta memberi aba aba dan beranjak ke dalam.
“ Ada apa ?” Reina dan Cinta segera mengerumuni Jane, Menatap jahil pada Sassy yang memilih meninggalkan mereka untuk membersihkan diri.
“ Duduklah.” Cinta menggeser kursi, memberikan tempat bagi Sassy yang sudah nampak segar dengan rambut lembabnya.
“ Simpan senyummu. Aku tidak harus berkuda setiap hari.”
“ Berkuda ha …?” Cinta menatap sahabatnya dalam dalam ,” Kamu pikir aku tertarik pada ketakutanmu naik kuda ? Kalau kamu mau tinggal disini sebulan saja, aku yakin kamu sudah bisa mengalahkan aku.”
“ Lalu ?”
“ Jujurlah, mana yang membuatmu ketakutan, naik kuda atau naik kuda dengan abang memelukmu sepanjang pagi ?” tergelak melihat Sassy membuka mulutnya tanpa sanggup berkata kata.
“ Seriously …. Cinta !”
“ Hei …. kamu sudah janji.”
Sassy menghela nafas panjang ,” Lalu abangmu ?”
“ I have no choice.” Luke menarik kursi disamping Sassy ,” Biasakan dirimu, kita pasangan sekarang.” dituangnya air minum dan meneguknya perlahan.
Cinta bertepuk tangan ,” Aku sudah memilihkan yang terbaik untuk membantumu mengenyahkan perempuan perempuan itu. Jangan kacaukan acaraku dengan membuat keributan atau pergi begitu saja.” ditepuknya bahu Sassy ,” Kamu tidak perlu ragu untuk menekan balik orang yang merendahkanmu, itu satu satunya yang mereka pelajari dengan baik. Aku percaya pada kemampuanmu, tapi tidak pada abangku …. jangan pernah jauh dari dia biar tidak bikin ribut, kalau perlu jewer saja dia.”
Sassy melebarkan matanya, menatap lelaki yang duduk disampingnya sambil cemberut. Berdecak geli sambil menggelengkan kepala, tertawa ketika Luke menjentik dahinya ,” Aww ….aku gak bilang apa apa.”
“ Senyum jahilmu mengatakan banyak hal.” tegas Luke , “ Hati hati aja selama jadi Gadisku, aku bukan pasangan yang mudah.”
Sassy memutar bola matanya ,” Takuuuut.” ditampiknya tangan yang mengacak rambutnya gemas.
“ Jalani baik baik …. kami berharap hubungan kalian berlanjut.” Mama Cinta membuat tanda petik dengan tangannya saat memberi tekanan pada kata hubungan.
Hampir seluruh penghuni meja makan serempak mengucapkan Aamiin.
Luke dan Sassy bertukar pandang, sepakat memilih untuk diam dan meraih piring. Mereka sudah sama sama memperkirakan hal itu, tapi tetap saja ucapan itu membuat jengah