12. Incredible

1699 Kata
Bila ada konflik yang lebih dahsyat dari perang dunia kedua, Dyza yakin itu adalah perang urat saraf dalam kepalanya. Benar-benar "perang saraf" secara harfiah, sebab seluruh neuron dalam otaknya sekarang sedang berunjuk rasa, mempertahankan masing-masing fungsinya untuk menjelaskan situasi yang terjadi. Jika perang dunia merupakan perang antar dua aliasi milieter--negara sekutu dan negara poros, maka perang saraf ini adalah perang antar dua hemisfer, otak kanan dan kiri. Mosi debat yang diusung adalah status laki-laki penguntit Dyza yang tidak terekam kamera.      Lobus frontal di sisi kanan mengimajinasikan laki-laki yang ditemui Dyza di lobi itu sebagai mahkluk tak kasat mata sekelas jin atau dari golongan perhantuan. Namun lobus frontal di sisi kiri sebagai pusat akal sehat dan pemikiran rasional menolak, keputusannya jatuh pada kemungkinan Dyza mengalami halusinasi karena banyak tekanan beberapa hari belakangan. Sayangnya kemungkinan itu kemudian terbantahkan oleh lobus temporal yang memiliki kemampuan daya ingat visual dan pendengaran. Belum lagi protes dari talamus dan hipokampus yang merasa diragukan peranannya.      Maka, di sinilah Dyza yang dibuat pusing sendiri. Dyza tidak menyangsikan fungsi satu pun indra dan segenap komponen dalam otaknya. Ia benar melihat, berbicara, bahkan sempat melakukan kontak fisik dengan laki-laki penguntit tersebut. Namun bagaimana wujudnya tidak tertangkap oleh lensa kamera? Rekaman tersebut bisa saja hasil editan kelas tinggi, tapi teknologi digital macam apa yang visualisasinya bahkan lebih halus dari special effect serial box office sekelas Marvel dan DC?      "Dyza ...." Erika menguncang bahu Dyza.      Dyza menatap Erika, tidak menemukan satu kata pun yang tepat sebagai penjelasan.      "Apa kamu ... indigo?" Erika berbisik di telinga Dyza. "Jangan-jangan selama ini kamu bekerja sama dengan arwah gentayangan di fakultas ini saat ujian, makanya nilaimu selalu sempurna begitu! Berhenti Dyza, bersekutu dengan arwah itu termasyuk syirik, dosa yang tidak terampuni!"      Sungguh, rasanya Dyza ingin mencekik Erika bila saja gadis itu tidak memasang wajah polos tanpa dosa. Haruskah ia menjelaskan bagaimana ia me-manage waktu setengah mati dan seringkali tidur kurang dari 4 jam dalam sehari untuk belajar?      "Memang di fakultas ini ada arwah gentayangan, hah?!" Dyza mencubit lengan Erika.      "Di Laboratorium Analisis Kimia benar ada, kok!" Erika tartawa kecil.       Dyza mendesis. "Kalau begitu, mana dia? Panggil ke sini! Biar kami tanding mengerjakan soal dan lihat siapa yang lebih unggul!"      "Bukan soal siapa yang lebih pintar." Erika memicingkan mata. "Kamu bisa meminta bantuan yang lain darinya."       "Bantuan apa?!"       "Misalnya kamu menyuruhnya membuka buku atau melihat kunci jawaban di laptop dosen!"       "Kenapa tidak sekalian aku menyuruhnya merasuki ketua jurusan lalu kita semua diberi bebas final?!"      "Ide bagus!" Erika tergelak sementara Dyza tidak berhenti menarik pipinya dengan gemas. Meski memiliki jalan pikiran yang berlawanan, sikap tulus yang ditunjukkan Erika membuat Dyza nyaman berteman dengannya.        Brak!      Baik Dyza maupun Erika terkesiap begitu seseorang menggebrak meja di hadapannya.       "Heh, cewek gila! Apa yang kamu lakukan?! Sekarang semua orang sedang membicarakanmu!"       Dyza menatap lurus pada dua orang perempuan yang menatapnya tidak suka. Ucapannya jelas bukan sebuah simpati.     "Kamu mencemari nama baik angkatan kita!"      Lihat? Ujung-ujungnya mereka mengajukan keberatan juga.        "Dyza tidak gila!" Erika membantah, tidak suka melihat Dyza ditunjuk-tunjuk.      "Lalu? Dia bicara sendiri seperti itu untuk apa?" Satu orang lagi menghampiri meja Dyza dan Erika. "Untuk cari sensasi?!"      "Untuk ... latihan drama!"       Dyza menoleh cepat pada Erika. Pembelaan darinya sungguh tidak masuk akal dan berpotensi menambah bahan celaan orang-orang. Namun begitu, Dyza tetap mengapresiasi.       "Latihan drama? Dasar ratu drama!"      Dyza merapikan rambutnya ke belakang dengan tenang. Memberi kesempatan pada orang-orang tersebut untuk mengutarakan semua celaannya, agar nanti bisa sekalian diluruskan. Dyza sangat malas meladeni mereka satu-satu.      Dua orang yang pertama kali menghampiri Dyza dan Erika berbisik dengan frekuensi yang masih terlampau tinggi untuk dikategorikan sebagai suatu bisikan.       "Jangan-jangan dia menjadi gila karena terlalu pintar!"       Terlalu pintar, katanya. Wow, Dyza merasa tersanjung!       "Benar! Bukannya orang-orang yang terlalu pintar bisa menjadi gila? Memprihatinkan sekali, dia jadi delusional seperti kakeknya."        "Sudah?" Dyza menyampirkan ranselnya lalu melipat tangan di depan d**a. "Dengar baik-baik karena aku malas mengulang penjelasan."        Erika terhenyak saat Dyza menepuk pundaknya dan maju beberapa langkah.         "Pertama, aku bertindak mengatasnamakan diriku sendiri, jadi jangan membawa-bawa nama angkatan."  Dyza meraih catatan yang dipegang tiga orang teman angkatannya tersebut. Catatan itu adalah salinan dari catatan yang ia bagikan atas permintaan ketua angkatannya sebagai bahan ujian bersama.       "Satu lagi. Jangan pernah belajar dari catatan orang yang kalian sebut gila. Itu jauh lebih memprihatinkan."        Dyza merobek kertas copy-an tersebut dan melemparkannya ke tong sampah. Lalu dengan tenang,  ia meninggalkan ruang kelas bersama Erika. *****  "Jadi dia benar bukan anak indigo?" Rava lekas menutup mulut dengan sebelah tangan setelah Reva dan Zen melotot ke arahnya.      "Jangan berisik! Manusia yang lain bisa curiga!"      "Aku bilang juga apa!" Rava menenguk cappucino-nya dahulu, "Jadi, bagaimana dia bisa melihatmu?"      Zen menggeleng. "Entahlah. Apa mungkin ini sejenis indigo spesifik untuk Luxa?"      "Tidak mungkin!" jawab Rava dan Reva serempak.       Reva menepuk punda Zen. "Maaf menolak hipotesismu, Zen. Tapi yang seperti itu hampir mustahil."      "Benar. Pada dasarnya indigo itu kemampuan melihat arwah. Meski bisa berwujud roh dan tidak terlihat, secara teknis kita bukan arwah." Rava mendukung saudara kembarnya.       Zen memijat pelipisnya yang berdenyut sembari mendesah panjang. "Gadis itu benar-benar sulit dimengerti. Aku datang dengan niat baik dan dia menudingku penipu."      "Setidaknya kamu berteleportasi pada saat yang tepat dan tidak melakukan space contamination." Reva menghibur Zen dan menggeser sepiring roti bakar untuknya. "Makan lah, ini sudah kami foto."       "Foto? Untuk apa?"      "Instastory. Kafe ini mengadakan giveaway untuk promosi. Gratis kopi tiap satu kiriman."      "Kalian benar-benar sudah seperti manusia." Zen meraih sepotong roti dengan taburan coklat terbanyak.    "Ini hanya adaptasi, Bro. Kami bekerja di dunia manusia, kami harus paham gaya hidup dan cara mereka bertahan hidup."      Reva merangkul Zen di pundak kiri sedang Rava melakukan hal yang sama di pundak kanannya.      "Kita cukup terkenal, lho! Pengikut kita sudah hampir sepuluh ribu!"      "Pengikut?!" Zen melotot. Ia mengedikkan bahu melepas rangkulan Reva dan Rava lalu menatap keduanya dengan tatapan tajam. "Kalian berdua jangan menyesatkan manusia dengen sekte-sekte baru!"      Reva dan Rava saling berpandangan sejenak lalu terbahak bersama.      "Ini hanya pengikut untuk i********:, Zen! Bukan urusan agama! Tenang saja, manusia itu tidak menyembah kami." Reva terkikik geli.      "Benar. Kami juga tahu diri untuk meminta disembah. Lagipula, untuk apa menyembah sesama ciptaan Tuhan?" Rava meringis di sela tawanya. "Ya, meski kenyataan masih ada manusia yang melakukan hal menyedihkan itu."       Zen tetap bersedekap, belum sepenuhnya mengerti. "Lalu, untuk apa hampir sepuluh ribu manusia itu menjadi pengikut kalian?"      "Untuk memperoleh informasi atau hiburan." Reva mengeluarkan ponselnya lalu membuka i********:.  "Kita ambil contoh manusia bernama Dheryza Akselia itu."       "Panggil dia Dyza. Dia lebih suka dipanggil begitu."      "Kalian sepertinya sudah berkenalan dengan baik." celetuk Rava yang kembali memesan makanan untuk dibawa pulang. Mumpung ada Zen si Seeker kaya raya jurangan batu permata. Tentu saja ia memesan dua porsi, untuk Reva juga. Bukan hanya indra, perasaan mereka juga terhubung. Kalau Reva kelaparan, dia juga yang akan mati.      Zen tidak meladeni Rava dan fokus melihat profil Dyza yang ditunjukkan Reva.      "Lihat? Dia mengikuti akun-akun ini untuk memperoleh informasi." Reva berdecak kagum melihat akun official yang diikuti manusia--yang kata Zen lebih senang dipanggil Dyza--itu. Kebanyakan akun tentang ilmu pengetahuan dan kedokteran.      "Kamu tahu, Zen? Kepribadian seseorang bisa dilihat dari akun-akun yang diikutinya di media sosial. Sudah kubilang, 'kan? Dia manusia yang berilmu."      Zen mengamini.      "Zen, ini bill-nya." Rava menyodorkan kertas bill pada Zen.      "Memang makanan yang kita pesan sebanyak ini?"       "Aku bungkus makanan untuk makan malam. Dua porsi."      "Kenapa dua?"      "Untuk Reva juga. Percuma kalau aku sendiri yang kenyang. Kalau dia lapar, aku akan lapar lagi."      Zen berpikir sebentar. "Bukannya kalau kamu kenyang, Reva juga ikut kenyang?"      "Sayangnya tidak begitu. Kami pernah coba tapi gagal." Rava mendengus kecil. "Waktu itu aku kami benar-benar krisis. Kami mengatur strategi untuk bertahan hidup. Aku yang makan, Reva yang minum. Tapi pada akhirnya kita sama-sama kelaparan dan kehausan."      "Kasihan." Zen menggeleng prihatin, dalam hati ia merasa iba juga pada dua saudara kembar malang tersebut. "Kalau begitu pesan banyak-banyak saja. Aku yang bayar semua. Pesan untuk persediaan satu minggu, deh!"      "Aku menghargai niat baikmu, Zen. Tapi makanan ini tidak awet, satu-dua hari jadi jamuran. Bagus kalau yang tumbuh jamur Enoki seperti yang dijual di Indomaret, yang ada malah jamur hitam parasit."      "Benar! Baunya busuk! Rasanya tidak enak!" Reva menimpali dengan wajah seperti ingin muntah.      Zen berbalik pada Reva. "Kamu pernah coba?!"      "Khilaf, ehehe ...."      "Begitulah kalau pengetahuan herbiologi kurang!" Rava berdecak, "Padahal waktu itu sudah kuingatkan lewat telepati!"    "Kalian beli magic warmer saja! Hito pernah memesan alat itu untuk mengawetkan buras! Aku pesankan, mau?" usul Zen. Astaga aku lupa! Hito kan titip buras kemarin! lanjutnya dalam hati teringat buras yang dipesan Hito. Rekan kerjanya itu bahkan sudah memberinya batu bacan sebagai alat tukar.      "Sekali lagi terima kasih, Zen. Tapi kami tidak bisa menerimanya. Alat itu tegangannya cukup besar. Token listrik kami sudah hampir habis. Dispenser saja tidak pernah kami nyalakan." Rava mengaduk gelas minumnya yang tinggal setengah, "Tetangga kami seorang Shin, dia memiliki kemampuan pyrokinesis. Kami sering meminta bantuannya untuk memanaskan teko bila ingin membuat teh atau kopi."      "Astagadragon!"      Pekikan Reva yang masih memantau profil Dyza membuat Zen dan Rava mengalihkan perhatian.      "Zen, pembicaraanmu dengan Dyza tadi ada yang rekam dan disebar ke i********:! Dia menandai akun milik Dyza!"      Zen hanya bisa tercengang menyaksikan video yang diperlihatkan Reva.      "Untungnya Zen tidak terekam dalam video itu!" Rava berkomentar.      "Justru itu masalahnya! Kamu pikir manusia berbicara sendiri seperti ini kelihatan normal? Top coment di postingan ini isinya hujatan semua! Dia pasti kesusahan."       "Benar!" Zen berdiri dan menguyar rambutnya ke atas. "Kalau begini, sama saja aku melakukan space contamination secara tidak langsung. Dyza pasti mempertanyakan hakikat diriku sebenarnya. Bisa gawat kalau malaikat pengawas tahu!"       Reva menatap Zen dengan cemas.  "Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"      "Aku akan menunjukkan siapa diriku sebenarnya sebelum ketahuan malaikat pengawas."       "Itu kan sama saja melanggar protokol!" cegah Rava.      "Tidak. Lain cerita bila dia paham dan tidak mempertanyakan siapa diriku."      "Bagaimana bila dia tidak ingin mendengar penjelasanmu lagi?" Satu dari dua saudara kembar tersebut kembali bertanya.      Zen menarik napas dalam-dalam, "Maka akan kubuat dia mendengarkanku kali ini." ***** To be Continued  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN