13. Pay a Visit

1652 Kata
Ini mungkin akan menjadi hal paling mustahil yang dilakukan Dyza selama hidupnya. Mengelilingi lima blok gedung di fakultas untuk mencari si laki-laki penguntit misterius--yang ia khawatirkan keberadaannya beberapa saat yang lalu. Bahkan dengan sangat bodohnya, Dyza berharap laki-laki itu menampakan diri sekarang. Mau bagaimana lagi, kunci utama dalam kasus ini ada pada dirinya.      "Laki-laki tinggi dengan hoodie hitam selutut dan lumayan tampan."      Rasanya Dyza ingin membenturkan kepalanya ke sepanjang koridor mendengar Erika terus mengulang ciri-ciri lelaki penguntit tersebut sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah jarum jam. Bahkan beberapa kali ia memutar badan.      "Dyza, tadi kamu bilang dia tampan, kan? Tampan itu relatif. Setampan apa dia? Lebih tampan dari Pak Arya?"      Oke, jangan salah paham dulu. Ciri terakhir yang Dyza jelaskan pada Erika murni sebuah pandangan objektif. Ini sedikit memalukan memang, tapi apa lagi kata yang tepat untuk interpretasi dari wajah dengan struktur rahang yang kokoh, alis hitam panjang alami yang tak kalah cetar dengan buatan para make up artist, hitung mancung, lengkungan mata nyaris sempurna, dan volume bibir yang eksotis?      "Lebih tampan dia atau Pak Arya?" ulang Erika lagi.      "Rika, please! Jangan bandingkan seorang penguntit dengan seorang dekan, kelasnya jauh beda!" Dyza berkacak pinggang, dekan fakultasnya memang diidolakan banyak mahasiswa, termasuk dirinya sendiri. Selain gagah dan penuh pesona, dekannya itu penuh segudang prestasi di usianya yang masih terbilang muda.      Erika hanya bisa menghela napas lalu kembali meneruskan pencarian. Dyza sesekali melirik padanya yang tidak tampak keberatan, malah kelihatan menikmati aksi pencarian mereka. Erika juga tidak mempertanyakan lebih jauh masalah penguntit misterius yang Dyza yakini benar-benar ada--walau bukti rekaman jelas-jelas menyatakan tidak. Loyalitas Erika memang patut diacungi jempol. Bila ini kampusnya adalah Hogwarts, sudah tentu the sorting hat akan menempatkannya pada asrama Hufflepuff.      Setelah hampir dua jam berkeliling tanpa arah dan tujuan, Dyza akhirnya menyerah dan mengikhlaskan hati untuk menjadi trending topik pembicaraan orang-orang di dunia maya. Ditambah lagi tiga hari ke depan libur akhir pekan.      Dyza menuju parkiran dengan langkah gontai. Beruntung sekali fakultasnya mulai sepi. Setidaknya tatapan sinis dan gunjingan orang-orang yang berpotensi meningkatkan tekanan dalam pembuluh darahnya sudah tidak se-intens tadi.       Erika sendiri sudah pulang lebih dahulu menggunakan jasa angkutan umum kampus. Dyza selalu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang agar tidak berdesak-desakan dengan penumpang lain yang berpotensi menularkan segala virus, bakteri, dan bau badan mereka, tetapi Erika menolak karena tujuan mereka yang berlawanan arah. Padahal motor kesayangan Dyza irit BBM. Bahan bakar yang digunakannya pun memiliki nilai oktan tinggi dan tidak menggunakan zat pewarna. Reaksi pembakaran di dalam mesinnya berlangsung sempurna, tanpa zat buangan karbon monoksida yang beracun dan mencemari udara.      Dyza menyalakan mesin motornya dengan tenang. Sudah seharusnya manusia mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.       Manusia diciptakan dengan akal pikiran untuk menjadi khalifah yang memimpin kehidupan di muka bumi. Tapi pada kenyatannya, dari seluruh makhluk hidup yang tercipta, justru manusialah paling sering berbuat kerusakan. Dyza jadi merasa malu pada ganggang hijau--yang meski statusnya digantungkan antara kingdom bakteri dan kingdom protista--tetap bisa menyumbangkan molekul-molekul oksigen untuk kehidupan bumi.      "Selamat sore, Dyza."       Dyza tersentak dan menoleh pada pemiliki motor yang terparkir di sebelah motornya.      "Kak Ryo?!"      "Ya?"      Dyza merengut. "Aku tidak menyapa!"      Ryo hanya terkekeh lalu menyandarkan kepala pada kemudi motornya dan menatap Dyza lekat-lekat.      Dyza mengorbitkan bola matanya sekian derajat. Ia baru akan tancap gas meninggalkan Ryo saat laki-laki itu menarik kunci motornya.      "Apa-apaan, sih, Kak! Kembalikan!"      "Ambil sendiri kalau bisa." Ryo mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu memindahkan kunci tersebut ke tangan yang satunya.      Dyza bersegera turun dari motornya dan mengeluarkan sebuah botol semprot dari dalam ranselnya. "Berikan atau kusemprotkan gas air mata ini!" kecamnya.      Ryo hanya bergeming sebentar kemudian tertawa. Ia memasukkan kunci motor Dyza ke dalam saku celananya lalu mempersilakan Dyza merogohnya sendiri.      "Kenapa diam?" Ryo terkekeh melihat Dyza menatapnya risi. "Makan malam denganku dulu, baru kukembalikan."      "Jangan harap!" Dyza sudah siap menekan push rod botol semprotnya saat Ryo kembali berujar.      "Jangan kasar begitu, Dyza sayang. Kalau ada yang rekam bagaimana? Kamu bisa viral lagi, lho." Ryo menarik kedua ujung bibirnya. "Seperti yang aku lakukan tadi."      "Jadi yang merekam video itu, Kakak?!" Dyza membulatkan mata. Ia terlalu fokus dengan si laki-laki penguntit hingga mengabaikan pelaku yang merekam dan menyebarkan videonya pada Notix. Tentu, siapa lagi stalker kurang kerjaan yang sering mengekorinya bila bukan manusia terkutuk di hadapannya ini.      Ryo menjawab dengan anggukan kecil.      "Kak Ryo ada masalah apa denganku, sih?!" Dyza tidak sadar berteriak. Emosinya benar-benar tersulut melihat Ryo dengan tenangnya membenarkan.       "Aku tidak punya masalah denganmu, Dyza. Aku hanya punya hati." Ryo menepuk-nepuk dadanya. "Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku adalah satu-satunya orang yang menerimamu apa adanya."      Dyza mengerutkan kening dan mundur selangkah begitu Ryo berdiri.      "Kamu tahu? Kamu sangat cantik sebagai gadis normal. Pasti banyak laki-laki lain yang menyukaimu juga. Aku harus mengurangi saingan." Ryo menyeringai tipis. "Lagipula di mana letak salahku? Aku hanya menyebarkan fakta. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kamu berbicara seorang diri."      Sekarang Dyza terhenyak. Kalimat terakhir yang dikatakan Ryo berhasil membungkamnya.      "Tapi tenang saja, aku malah makin tertarik." Ryo mengulurkan tangan. "Bagaimana, Dyza? Makam malam denganku, oke?"      Dyza menampik tangan Ryo lalu tanpa apa-apa menerjang ke arahnya.      "Hei! Apa yang kamu laku--!"       Perkataan Ryo terpotong saat Dyza merogoh saku celananya dengan tetap mengunci pandangan mereka.   "Aku hanya mengambil kunci motorku. Kak Ryo tidak usah kaget begitu."      Dyza menuju motornya, menyalakan mesin, lalu meninggalkan Ryo yang masih terpaku di tempat dengan tangan menapak di d**a.      Sial! Gadis itu benar-benar menarik! ***** Tidak ada yang spesial dari teleportasi, setidaknya begitu menurut Zen--yang hampir menghabiskan separuh hidupnya dengan melakukan perjalanan lintas ruang tersebut. Rasanya seperti seluruh bagian terkecil tubuh tertarik, terhisap dalam pusaran yang bergelung dalam kekosongan tidak jelas, lalu dalam waktu yang sangat singkat hingga bahkan hampir tidak terasa, keseluruhan wujud telah berpindah pada titik koordinat yang dituju. Hanya seperti itu.      Zen mendarat sempurna pada halaman berumput yang tertata rapi. Di sekelilingnya ada bunga hias beragam jenis, sebagian lagi berada pada green house kecil di sudut halaman. Sekilas tampak seperti ruang herbiologi di kelas umum Zen dulu.      "Kyra pasti menyukai tempat ini!" Zen mengedarkan padangan dengan penuh kekaguman. Halaman tersebut adalah bagian dari rumah Dyza. Belajar dengan kejadian kemarin, Zen berniat menemui gadis itu di tempat yang tidak ramai. Dan menurut saran dari Reva--ahli informasi dunia manusia, cara terbaik adalah dengan berkunjung ke rumahnya. Zen merasa bercukup berhutang pada Reva dan Rava. Mereka sangat membantu dalam kasus ini. Maka dari itu Zen tidak segan membalas kebaikan mereka dengan mentraktir makan yang baginya tak seberapa.      "Bisa tidak mereka memilih koordinat yang lebih bagus!" Zen mengomel dan omelannya kembali ditujukan pada duo kembar Reva dan Rava yang memilihkan untuknya titik pangkalan teleportasi. Pasalnya, Zen jadi menginjak rumput dan membuatnya tertekuk. Sedikit berlebihan memang, tapi tanaman adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling bersahaja.       Dalam wujud roh, Zen memiliki kemampuan untuk menjadi permeable maupun semipermeable terhadap materi. Permeable berarti dapat ditembus oleh materi. Dalam artian, pada wujud tersebut seorang Luxa tidak terlihat keberadaannya dan bisa leluasa bergerak tanpa terhalang oleh benda maupun makhluk hidup. Adapun pada wujud semipermeable, seorang Luxa tidak dapat dilihat keberadaannya, tetapi dapat menyentuh maupun merasakan materi maupun makhluk hidup.       Meski rawan space contamination yang melanggar batasan waktu ketiga, Zen memilih menggunakan opsi pertama untuk menemui Dyza agar gadis itu tidak histeris lagi melihatnya tembus pandang. Dengan catatan ia harus teliti dan hati-hati. Akan sangat mengejutkan bila secara tidak sengaja ia menabrak orang lain atau menjatuhkan benda tiba-tiba.      Sayup-sayup Zen mendengar melodi yang melantun indah dari dalam rumah. Zen mengintip ke melalui celah jendela dan menemukan seorang pria tua duduk di ruang tamu memainkan biola dengan begitu piawai.       "Itu pasti kakek Dyza." Zen berujar pelan, ia sudah mengantongi identitas Dyza sebelumnya.      "Miaw ...!"      Zen terkesiap begitu mendengar suara meongan kecil di belakangnya. Seekor kucing gemuk berbulu coklat lebat dengan mata hijau bersinar menatap ke arahnya.      "Astaga, lucu sekali! Kamu pasti Coco kucing peliharaannya, Dyza, 'kan? Kamu bisa melihatku, hm?"      Seolah mengerti, kucing tersebut mengeong kembali. "Miaw ...!"      Zen melihat ke sekeliling terlebih dahulu baru kemudian berjongkok dan meraihnya. "Nah, Coco. Jangan berisik, oke?"      "Miaw ...!"      Zen tertawa kecil. "Kamu tidak mengerti, ya? Ah, andai ada Rava dan Ravi. Mereka itu translator. Kamu bebas curhat padanya. Aku yakin tuanmu itu sebenarnya tidak mengerti apa yang kamu katakan."      "Miaw ...! Miaw ...! Miaw ...! "      Uh, apa kucing ini marah karena aku menghina tuannya? Zen mengelus kepala kucing bernama Coco tersebut. Dugaannya kemudian terbantahkan saat Coco turun dari dekapannya dan mengguling-gulingkan badan di dekat sebuah mangkuk plastik kosong. Di sebelahnya ada beberapa makanan kucing kemasan kaleng yang belum terbuka.       "Kamu lapar rupanya!" Zen menghampiri Coco dan mengamati makanan kalengan di sana satu per satu. Ada ikan mackarel, ikan salmon dan juga ikan tuna.      "Bahkan kucing pun makanannya beragam dan banyak rasa!" Zen berdecak antara terkejut dan kagum. Sebagai Luxa yang makanannya itu-itu saja, Zen merasa ternistakan.      Saat Zen ingin membuka kait penutup salah satu kaleng, Coco bangun dan menggulirkan satu kaleng ke dekat kakinya.      "Kamu ingin makan yang ikan salmon ini?"      "Miaw ...!"       "Miaw tidak atau miaw iya?"      Coco tampak berpikir sebentar lalu mengeong kecil. "Miaw ...!"      "Sekali miaw semua, deh!" Zen tertawa sendiri lalu membuka kaleng pilihan Coco.      Zen membelai Coco yang makan dengan lahap, mendengar dengkuran halusnya membuat Zen merasa nyaman. Terlihat begitu hidup.      Zen memang tidak bisa menebak seperti apa kehidupannya sebelum ini. Apakah ia berhasil hidup menjadi manusia atau tidak. Atau mungkin ia sempat hidup tapi dalam waktu yang sangat singkat. Zen tidak akan pernah tahu.      Satu yang pasti, Zen telah menemukan jawaban mengapa ia menolak golden ticket menuju surga dan mengambil keputusan untuk menjadi seorang Luxa. Ia menginginkan kehidupan.      "Hidup itu menyenangkan ya, Coco?" Zen meraih Coco ke pangkuannya lalu menengadah. Pandangannya terus terkunci pada langit yang tampak pekat sampai suara berdecit gerbang yang perlahan terbuka membuatnya tersadar.      "Kakek! Coco! Aku pulang!" ***** To be Continued    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN