Langit sore ini tampak tidak bersahabat. Kilat cahaya berjuta-juta volt dari arus listrik di awan beberapa kali menyambar. Sesekali terselip guratan kasar di antaranya, membelah angkasa raya dengan pendaran menyilaukan.
Dyza mempercepat kelajuannya begitu awan hitam yang bergulung lambat di angkasa semakin tebal. Hujan akan segera membumi. Dalam hati Dyza merutuki diri. Padahal setiap malam ia memantau prediksi cuaca untuk memperingatkan kakeknya agar tidak keluar rumah di sembarang waktu, malah dirinya yang terlupa.
Hati Dyza sedikit melapang begitu membelokkan motornya dari jalan protokol menuju ke gerbang kompleksnya. Rumahnya berada di deretan blok pertama yang tak jauh dari jalan raya.
Dyza menghentikan motornya tepat di depan pagar. Ada tiga kunci dengan jalur pembukaan yang berbeda-beda di sana. Rumit memang, namun hal tersebut demi keselamatan kakeknya dan keamanan seluruh isi rumah.
Ponsel Dyza berdering tepat saat ia selesai membuka semua kuncian. Dari Erika.
"Halo, Dyza!"
"Ya? Kamu sudah sampai? Tidak ada apa-apa di jalan, 'kan?"
"Tidak." Dyza bisa menebak Erika menggeleng di seberang sana. "Tapi kamu harus tahu. Perempuan di sebelahku tadi tiba-tiba sakit maag. Lalu aku memberinya obat."
"Jangan bilang kamu salah memberikan obat lagi?!"
Singkat cerita, Erika yang jiwa sosialnya tinggi pernah menolong seorang junior dari jurusan sebelah yang mengeluhkan nyeri lambung karena gastritis. Sayang karena pengetahuan farmakologinya tidak mumpuni, Erika memberikan obat pereda nyeri golongan non-steroid yang efek sampingnya justru mengikis mukosa lambung. Dyza yang selalu menyetok obat dalam ranselnya segera memberi anti-acid sebegai penetral asam lambung dan meminta maaf untuk kekeliruan tersebut. Semoga niat baik Erika sudah terhitung pahala.
"Tidak. Kali ini kuberikan anti-acid tablet kunyah."
"Terus?"
"Dia muntah."
"Tidak masalah, setidaknya asam lambungnya yang berlebih ikut keluar."
"Dia muntah di celanaku."
Dyza bergidik geli. "Ya, Tuhan! Itu sih, namanya apa-apa!"
Erika bergumam tidak jelas. "Oh, iya. Aku ada informasi tentang laki-laki yang penguntitmu itu. "
Dyza yang sedang mendorong pagar refleks menahan gerakannya. "Kenapa? Kamu bertemu dengannya?!"
"Bukan." Erika menghela napas. "Aku rasa aku tahu siapa dia sebenarnya."
"Siapa?!"
"Dia itu pasti ... tukang sulap!"
Dyza mengurut dahi mendengar Erika bersorak yakin. Ia hanya bisa menggeleng pasrah begitu pembicaraan via telpon itu berakhir.Begitu memasuki halaman, hal pertama yang dilakukannya adalah berseru menyapa kakeknya dan Coco. Kakek Andrew sering kali tidak mendengarnya, tetapi Coco yang keluar masuk lewat jendela pasti akan menyambutnya. Tidak sopan saja rasanya menyebut Coco tanpa mendahulukan kakeknya itu.
"Kakek! Coco! Aku pulang!" Kedua netra Dyza yang menatap tak tentu arah tiba-tiba terkunci pada satu titik. Ponsel yang masih digenggamnya meluncur bebas menghantam permukaan berlapis beton.
"Ha-hai ... Dyza. Kamu sudah pulang rupanya," sapa Zen yang tersenyum canggung dengan Coco dalam pelukannya.
"Ka-kamu kan, penguntit yang tadi?!" Dyza berteriak tak percaya.
"Tunggu!" Zen menahan sebelah tangannya di depan d**a. "Jangan panik dulu. Kita bicara baik-baik, oke?"
Sayangnya Dyza tidak mengindahkan peringatan Zen. Ia terus saja berteriak.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku?! Tidak, bukan!" Dyza menggeleng beberapa kali. "Siapa kamu ini sebenarnya?!"
Merasa situasi kurang kondusif, Zen yang sudah memikirkan segala kemungkinan bersegera membuat barier dari aliran udara statis yang kedap suara agar pembicaraan mereka tidak terdengar orang lain.
"Coco!" Dyza berteriak lagi melihat Coco yang tertidur manja digendong Zen. "Kemarikan kucingku!"
"Tenang dulu, Dyza. Aku akan menjelaskan semuanya. Tolong, tenanglah!"
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang setelah ...." Dyza yang berniat mengambil Coco tiba-tiba menggantungkan ucapannya. Kedua netranya yang melebar bergetar. Langkahnya mundur perlahan hingga menabrak pagar.
"Dyza?" panggil Zen pelan tidak mengerti dengan tingkahnya.
"Ti-tidak mungkin ...." Tubuh Dyza meringsut hingga terduduk di tanah. Apa yang disaksikannya sekarang sungguh mustahil. Coco melayang-layang di udara pada pantulan kaca jendela. Seolah--bukan! Memang pada kenyatannya, laki-laki penguntit atau tukang sulap atau siapapun orang dihadapannya ini tidak memiliki bayangan. Apa mungkin dia hantu? Tapi bukankah hantu itu tidak ada?
"Ja-jangan mendekat!" Dyza yang terpojok di sisi pagar merogoh tasnya, mengeluarkan semprot cabai dan mengarahkannya pada Zen dengan tangan gemetar.
Zen berbalik pada kaca jendela dan menemukan penyebab gadis tersebut menjerit ketakukan. Ia lantas mengubah wujudnya menjadi kasat mata.
"Dyza, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu." Zen merendahkan posisinya, mencoba menggapai Dyza.
Dyza yang melihat tangan Zen terulur refleks menjerit histeris, alih-alih menyemprotkan gas air mata, ia melemparkan botol kaleng tersebut pada Zen.
"AAAH! PERGI KAMU! PERGIII!" Dyza mengeluarkan semua isi tasnya dan menimpuk Zen habis-habisan dengan barang-barangnya itu.
Sebuah buku catatan kecil melayang di udara, ujung tumpulnya menghantam dahi Zen.
"Uuuh!" Zen terhuyung ke belakang. Konsentrasinya yang pecah membuat barier udara yang melingkupi mereka ikut retak dan memudar perlahan.
Coco yang terbangun melompat dari pelukan Zen. Melihat Dyza yang masih histeris dan melontarkan barang-barangnya, kucing yang ketakutan tersebut berlari ke luar melalui pagar yang terbuka.
"Coco!" Zen meneriaki Coco dengan sebelah tangannya memegang dahinya yang berdenyut nyeri.
Dyza perlahan menghentikan lemparannya dan mengintip pada Zen yang panik.
"Kucingmu keluar ke jalan raya!" kata Zen kalang kabut.
"Coco? Astaga, Coco!" Dyza yang tersadar lekas mengejar Coco. Di belakangnya Zen ikut mengejar hingga aksi kejar-kejaran antara ketiganya pun terjadi.
"Coco!" Dyza memekik begitu sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan.
Dengan mempertimbangkan kecepatan relatif mobil, jaraknya dengan Coco, dan waktu yang diperlukan, kemungkinan menyelamatkan Coco sangat kecil. Tetapi dalam situasi terdesak seperti ini, sistem limbik sedang mendominasi kinerja otak Dyza.
Mengabaikan peringatan dan segala pertimbangan rasional dari otak kirinya, Dyza berlari ke tengah jalan. la menjatuhkan badannya dan mendekap Coco yang ketakukan. Perih dari luka lecet di lututnya yang bersinggungan dengan aspal tidak lagi terasa.
Waktunya yang tersisa sangat sempit, tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Tinggal menunggu beberapa saat sampai badan mobil menghempaskan mereka.
Maafkan aku, Coco!
Dyza merasa kehidupannya akan segera berakhir. Ia menutup mata dan memeluk Coco semakit erat.
Satu
Dua
Tiga
Empat?
Detik demi detik berlalu. Dyza membuka mata dan begitu terkejut melihat laki-laki penguntit tadi memasang badan melindunginya--juga Coco.
Dyza tercengang. Alur waktu di sekitarnya terasa terhenti. Rambutnya yang tertiup angin melayang lambat. Butiran air hujan yang mulai menitik pun tertahan di udara. Dyza mendapat nilai sempurna untuk mata kuliah Farmasi Fisika, ia paham betul fenomena tegangan permukaan air yang membuat tetesannya berbentuk bola sempurna. Tapi keadaan ini di luar nalarnya.
Dyza menatap Zen dengan mata berkaca. "Ka-mu ... si-a-pa?"
"Jangan banyak tanya dulu." Zen meraih tubuh Dyza yang mendekap Coco dan menghentakkan badan. Hanya dalam sepersekian detik setelahnya, mereka telah berpindah ke tepi jalan. Mobil yang melaju kencang tadi berhenti sesaat kemudian tancap gas lagi setelah memberi u*****n.
"Dasar pengemudi tidak tahu aturan! Bisa-bisanya mengebut di jalan raya!" Zen mendengus kesal lalu beralih pada Dyza yang menatapnya dengan tubuh gemetaran. "Kamu tidak apa-apa?"
Dyza tidak menjawab. Matanya memburam oleh hujan serta air matanya yang merebak ke permukaan.
"Coco?" Zen mengelus kepala Coco. "Kamu baik-baik saja?"
"Miaw ...." Coco mengeong lemah.
Zen menengadah, hujan makin deras namun Dyza masih bergeming. Ia menyapukan tangannya ke udara, membentuk barier pelindung kecil hingga air hujan tertahan dan tidak bisa membasahi mereka lagi. Zen lalu memegang kedua pundak Dyza.
"Aku tahu ini bukan waktu dan keadaan yang tepat, Dyza. Tapi kurasa aku harus memulai dengan memperkenalkan diri." Zen menarik napas sebentar. "Namaku Zennius Arsenio. Panggil aku Zen. Aku bukan penguntit atau apapun praduga dalam pikiranmu. Aku seorang Luxa."
"Lu ... xa ...?" ulang Dyza terpatah.
Zen mengangguk dengan senyum merekah. Ditatapnya Dyza lekat-lekat. "Apa kamu bersedia mendengar penjelasan dariku?"
Entah karena karena bulir-bulir air hujan yang tertahan di udara terlihat begitu menakjubkan, atau karena sorot mata Zen yang teduh dan hangat, Dyza kemudian mendapati dirinya mengangguk pelan.
*****
To be Continued