Luxa?
Dunia Medieter?
Alam peralihan?
Dimensi mortal dan immortal?
Tuhan, ini sungguh tidak lucu. Bahkan dengan seluruh akal sehat, pemikaran rasional dan logika yang dibangunnya sejak lahir, Dyza yang terbiasa berpikir rumit tidak sanggup untuk mengerti.
"Bisa dikatakan Luxa adalah pemimpin di dunia Medieter, sama seperti kalian para manusia yang berkuasa di muka bumi. Peranan Luxa cukup beragam, kalian menyebutnya sebagai profesi. Setiap profesi punya protokolnya masing-masing." Zen menarik napas mengakhiri penjelasannya. "Sampai di sini, kamu paham?"
Dyza menggeleng kaku.
"Bagian mana yang tidak kamu pahami?"
"Semuanya."
"Semuanya?" Zen yang telah menjelaskan panjang lebar tentang seluk beluk ketiga dimensi yang ada dan sejarah singkat tentang Luxa mengacak rambutnya frustrasi . "Katanya kamu mahasiswi terbaik se-angkatan, daya tangkapmu kenapa rendah begini?"
Dyza spontan berdiri lalu meringis, luka di lututnya baru terasa. Kadar adrenalin yang berangsur normal membuat saraf-saraf sensoriknya kembali berfungsi seperti sedia kala.
"Ini tidak ada hubungannya dengan nilaiku di kampus. Sesuatu yang kupelajari itu nyata dan terbukti secara ilmiah."
"Maaf tapi kami juga nyata. Lihat? Aku benar-benar ada, bukan?" Zen merentangkan kedua tangannya dan mengedikkan bahu.
"Iya juga, sih!" Dyza menghela napas kasar. "Masalahnya selama 20 tahun, 6 bulan, 17 hari aku hidup di dunia, baru kali ini aku mendengar yang disebut Luxa, dunia Medieter, dan semua hal tidak masuk akal yang kamu jelaskan barusan!"
Melihat Dyza yang kembali meringis membuat Zen mendengus. "Bicaramu seperti Kyra saja. Sini duduk, lukamu harus diobati." Tanpa terlihat tersinggung, Zen menarik Dyza hingga kembali duduk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang di d******i warna pastel tersebut. "Kamu punya kotak yang isinya ramuan ajaib untuk menyembuhkan itu?
"Maksudmu kotak obat?" Dyza mengamati Zen yang mencari-cari sesuatu di sekitar rak bukunya. Bila ini bukan keadaan mendesak yang mengharuskan mereka berdua berbicara di tempat aman, sudah tentu Dyza akan mendepak Zen dari kamar pribadinya. Ya, paling tidak Zen tidak kelihatan berbahaya--meski sepanjang hari sebelum kecelakaan yang nyaris terjadi tadi ia menyangsikan statusnya.
"Ya, maksudku itu!"
"Itu bukan ramuan ajaib. Obat adalah senyawa dengan mekanisme tertentu yang bisa menyebabkan perubahan fisiologi dalam tubuh dan memberikan efek terapi untuk mencegah, mengurangi, atau menyembuhkan gejala suatu penyakit."
"Itu ajaib namanya." Zen berbalik pada Dyza. "Hei, tidak usah berdiri! Tunjukkan saja di mana letaknya."
Seperti bukan dirinya, Dyza langsung terduduk kembali mengikuti perintah Zen dan menunjukkan letak first aid box di meja belajarnya.
Aku tidak sedang dihipnotis, kan? Dyza menepuk kedua pipinya lalu menggeleng. Ia tidak pernah termakan sugesti pikiran itu sebelumnya.
"Jangan khawatir, aku berpengalaman soal ini. Luxa juga sering terluka. Tapi kami menggunakan herbarium untuk menyembuhkannya."
Saat lamunan Dyza buyar, Zen sudah berjongkok di hadapannya dan membersihkan lukanya dengan kapas alkohol. Tidak biasanya Dyza membiarkan orang lain terutama laki-laki menyentuhnya, namun lagi-lagi ia menurut saja.
"Wah, ternyata benar darah manusia berbau besi."
"Tentu. Darah mengandung hemoglobin, protein yang terdiri atas zat besi untuk mengangkut oksigen. Hemoglobin juga memberi warna merah pada darah. Tunggu--!" Dyza spontan menahan tangan Zen. "Kamu bilang darah manusia? Apa itu artinya darah kalian berbeda?"
"Teknisnya, anatomi dan fisiologis kita berbeda." Zen mendongak, menatap sekilas pada Dyza. "Aku berdarah biru."
"Darah biru ... yang benar-benar warna biru?! Bukan ungkapan?!"
Zen tampak mencerna kata-kata Dyza. "Ya, biru yang benar-benar biru. Hampir seperti biru lagoon tapi lebih gelap lagi. Mau lihat?"
"Tidak! Tidak usah!" Dyza mencegah Zen yang ingin mengigit ujung jarinya. Ia bukan seorang hemophobia, tapi siapa yang tidak akan terkejut melihat darah yang berwarnah biru? Jantungnya sudah cukup mendapat kejutan untuk hari ini.
"Kamu tahu anatomi manusia juga?" Dyza kembali bertanya.
Zen menutup luka di lutut Dyza dengan plester bermotif Olaf lalu bangkit dan duduk di sebelahnya. "Tentu. Kami bertugas memperantarai dunia manusia dan dunia para malaikat serta iblis. Sedikit-banyak, kami harus memahami mereka."
"Jadi kalian juga belajar anatomi malaikat dan iblis?"
Zen menoleh ke arah Dyza sebentar lalu tertawa keras. "Makhluk di dimensi pertama tidak memiliki wujud, Dyza. Bagaimana mungkin kami mempelajari anatomi mereka! Astaga, lucu sekali!"
Dyza mencebik. Sebagai mahasiswi berotak encer yang selalu mendapat pujian dosen, kata-kata Zen seperti sebuah penghinaan baginya.
"Jangan merajuk begitu. Aku tidak ada niat menertawakanmu." Zen menegok wajah Dyza yang cemberut.
"Itu kamu ketawa!"
"Habis kamu lucu." Zen melanjutkan pejelasannya. "Kami mempelajari malaikat dan iblis di kelas umum, tapi hanya sebatas tugas mereka. Pengetahuan tentang dimensi pertama itu terbatas."
Dyza hanya mengangguk sebagai pengiyaaan. Diliriknya Zen yang tidak bersuara lagi.
Zen menghadap pada Dyza yang juga menyerongkan badan menghadapnya. Mereka berujar bersamaan.
"Anu ...."
"Duluan saja." Zen mengelus tengkuknya.
"Ah, a-anu ...." Dyza mengerjap beberapa kali, mendadak ia kehilangan kata. "Ngomong-ngomong yang kamu sebut Kyra tadi, siapa?"
Oke. Ini kedengaran kepo tapi Dyza tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menyambung obrolannya.
"Kyra?" Zen mengulas senyum. "Kyra adalah teman asramaku. Kami sudah seperti saudara.""Kalian tinggal di asrama?"
"Ya. Dunia Medieter terbagi menjadi beberapa distrik. Setiap distrik terdiri atas berbagai camp. Semua Luxa tinggal di asrama dalam camp-nya masing-masing." Zen tampak semangat kembali. "Aku, Kyra, dan dua orang sahabat kami lagi tinggal di asrama yang sama. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"
Dyza menggeleng. Sejujurnya beribu pertanyaan masih berputar di pikiran Dyza, hanya saja ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ibarat diberi penjelasan seputar reaksi inti, tanpa dibekali pengetahuan dasar tentang teori atom sebelumnya.
"Semua ini sungguh tidak masuk akal." Dyza mengetuk-ngetuk kepalanya hingga gerakannya terhenti karena ditahan oleh Zen.
"Jangan sakiti dirimu begitu." Zen menurunkan tangan Dyza. "Mungkin apa yang kamu dengar ini tidak masuk akal. Tapi yang tidak masuk akal belum tentu tidak mungkin terjadi, 'kan? Terkadang, akal pikiran kita yang tidak sampai."
Dyza terdiam. Kata-kata Zen seolah membuka pikirannya.
"Ada banyak keajaiban di luar nalar manusia, ada banyak hal-hal misterius yang belum bisa terpecahkan sampai sekarang, tapi itu benar terjadi." Zen berujar lagi.
"Benar!" Dyza tanpa sadar berseru. "Seperti misteri tentang arsitektur Piramida Giza, kontruksi Tembok Saksaywaman, juga pembangunan Candi Borobudur!"
"Ah, mungkin begitu. Aku tidak begitu paham soal sejarah dunia manusia." Zen meringis. "Tapi akan kutunjukkan salah satu contohnya. Seperti ini."
Zen mengambil posisi berdiri. Ia mengerling pada Dyza yang mengerutkan dahi sambil menatapnya heran. Dalam sekejap mata ia tiba-tiba menghilang di telan riak udara yang terbentuk.
"Ya, Tuhan!" Dyza terperangjat, ia bangkit dari duduknya. "Dia menghilang?!"
Seperti belum puas membuat Dyza terkejut, Zen mengetuk jendela kamar Dyza dari luar.
Dyza yang menoleh ke arah menjela menjerit begitu melihat Zen melambaikan tangan di sana. Detak jantungnya memburu. Hanya berselang beberapa detik sampai Zen kembali melakukan teleportasi dan menghilang dari sana.
"Ke-kemana dia?!"
Zen menepuk peundak Dyza dari belakang. "Di sini."
"Aaa!" Dyza berbalik dan memekik tertahan, khawatir kakek Andrew yang sedang menonton televisi mendengar teriakannya. Dyza mengusap matanya berulang kali. "A-apa yang ...."
"Teleportasi." Zen tersenyum penuh. Baru kali ini ia bisa menunjukkan kemampuannya di hadapan manusia dengan bebas. Dyza sudah tahu perihal dunia Medieter secara garis besar. Sepanjang ia tidak mempertanyakan lagi hakikatnya sebagai seorang Luxa, apa yang dilakukan Zen tidak digolongkan sebagai bentuk space contamination lagi.
"Ba-bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" Suara Dyza bergetar.
"Sangat mungkin dan memang bisa. Aku baru saja melakukakannnya." Zen menjeda dengan helaan napas. "Semua Luxa bisa melakukanya."
"Tapi ...." Dyza bergumam sambil meringsut ke tempat tidur dengan tubuh gemetar. Terlalu syok dengan kenyataan.
Zen ikut duduk di sebelah Dyza. "Bagian rasionalnya adalah, kami sebagai makhluk peralihan memiliki dualitas energi sebagai partikel--wujudku sekarang, dan sebagai gelombang--dalam bentuk roh. Pada dasarnya semua materi di dimensi mortal juga memiliki sifat ini. Hanya saja dalam bentuk sangat kecil, pada tingkatan atom."
Zen melihat Dyza yang semula bergeming menoleh padanya. Gadis itu sepertinya tertarik pada penjelasannya.
"Agar materi bisa melakukan perpindahan tanpa melewati lintasan ruang tertentu, dibutuhkan energi yang setara dengan energi untuk melawan semua komponen gaya sepanjang lintasan ruang tersebut. Dalam arti lain, tidak mungkin terjadi."
Dyza melihat Zen menyentuh batu pentarer di atas mejanya. "Boleh minta ini?
"Bo-boleh." jawab Dyza walau belum mengerti tujuan Zen. Batu pentarer untuk menimbang dengan neraca Ohaus itu juga jarang digunakannya lagi.
Zen kembali melakukan teleportasi dan berpindah ke sisi Dyza yang satunya.
"Oh, Tuhan! Bisa tidak kamu beri aba-aba dulu sebelum melakukan itu!" Dyza mengurut d**a.
Zen hanya menyengir lalu menunjukkan butiran kerikil halus di tangannya.
"Batu tadi?" Dyza menatap Zen dengan sebelah tangan menutup mulut.
"Ya. Batu itu hancur. Energinya tidak cukup untuk mengimbangi tekanan teleportasi." Zen meniup debu di tangannya lalu menggiringnya ke tempat sampah dengan arus angin kecil. "Satu-satunya yang bisa berpindah tempat tanpa medium perantara adalah ...."
"Gelombang!" Dyza menyambung. "Gelombang elektromagnetik! Teori mekanika kuantum!"
"Tepat sekali!"
"Kalian belajar tentang mekanika kuantum juga?"
"Ya. Kami juga belajar tentang teori relativitas,permodelan ruang, dan permodelan waktu."
"Keren!" Dyza memutar badan menghadap pada Zen. Rasa penasaran kini mengalahkan ketakutannya. "Tunggu. Bila kamu berwujud roh, kenapa kamu bisa terlihat olehku?"
"Terbalik. Harusnya aku yang menanyakan itu." Zen mendengus kecil. "Dari semua manusia yang ada, kenapa hanya kamu yang bisa melihatku dalam wujud roh?"
Dyza terdiam cukup lama. "Aku pun tidak mengerti."
"Untuk alasan itulah aku ada di sini dan juga di kampusmu pagi tadi." Zen melipat tangannya di depan d**a kemudian menceritakan perihal tugasnya sebagai Seeker dan masalah tentang kerusakan soul scanner miliknya.
"Sebentar!" Dyza mengurut pelipisnya. "Jadi tugasmu menjemput arwah yang melakukan panggilan ke alat pemindaimu itu?"
"Sederhananya begitu."
"Mirip-mirip sistem ojek online, berarti."
Zen mendelik pada Dyza, "Enak saja! Seeker ini pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa dan sangat diperhitungkan!"
"Jadi, aku yang tidak memiliki kemampuan magis apa-apa ini dituduh merusak soul scanner-mu itu?" Dyza berkacak pinggang. "Ini tidak adil!'
"Bukan dituduh, kamu dipanggil sebagai saksi."
"Status saksi bisa dinaikkan menjadi tersangka."
"Aku tidak memaksamu." Zen mendesah berat. "Aku hanya ingin minta tolong. Ini ... misi pertamaku."
"Misi pertama?" Dyza berhenti mengomel seketika.
Zen hanya tersenyum kecut sebagai jawaban.
Oke. Dyza merasa dilema. Di satu sisi ia merasa iba dan berhutang budi pada Zen yang telah menyelamatkan nyawanya dan nyawa Coco, namun di sisi lain egonya tetap mempertahankan diri.
"Kalau aku menolak, bagaimana?"
"Kementerian yang akan bertindak. Urusan kematian dan arwah sangat dijaga ketat." Zen berdiri dari duduknya dan menepuk pelan kepala Dyza. "Bagaimana pun, kamu akan menghadiri persidangan itu, bahkan bila kamu tidak setuju. Hanya saja, semua akan jauh lebih rumit. Metodenya mungkin berbeda."
"Berbeda?"
"Memenuhi undangan sidang dan dijemput paksa, tentu saja beda." Zen berbalik. "Sampai jumpa di persidangan, Dyza. Jangan khawatir. Kamu tidak salah. Aku yang berdiri di sembarang tempat saat itu."
"Zen, tunggu!" Dyza refleks menarik jubah Zen yang siap berteleportasi. "Bagaimana ... bagaimana caraku untuk hadir ke pengadilan itu?"
Baiklah, ini gila. Tapi setengah hati Dyza merasa takut. Ia sudah luar biasa syok hari ini. Setidaknya bila ada Zen, ia tidak harus melalui semua kebingungannya sendiri.
"Kamu mau? Benarkah?" Zen tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya, terbukti dari senyum manisnya yang terkembang. "Kamu cukup melakukan verifikasi kehadiran pada email terakhir yang kamu terima."
Dyza mengangguk pelan lalu membuka tablet pc-nya. Ia menenguk sebentar lalu melirik Zen.
"Ikuti kata hatimu."
Dyza memejamkan mata beberapa saat lalu menarik napas dalam-dalam. Perlahan pointer diarahkan pada kotak dialog verifikasi.
Beberapa saat berlalu sampai sebuah notifikasi terpampang di layar.
Attendance verification confirmed. The ministry representative will call you at the appointed departure time. Thank You.
"Zen, apa maksudnya perwakilan kementrerian yang akan menjemputku ini?" Dyza berbalik pada Zen yang juga menatap ke layar.
"Itu malaikat penjemput."
"Malaikat?!"
Zen membenarkan. "Ya. Hanya malaikat yang berwenang untuk melepaskan roh dari tubuhnya."
"Apa?! Melepas roh?!"
"Lalu, kamu pikir kamu akan menghadiri persidangan itu dengan tubuh mortal ini? Sudah kujelaskan, bukan? Dunia Medieter itu tidak bisa ditembus oleh materi."
"Itu artinya ....''
"Rohmu akan dicabut untuk sementara."
Mendengar penuturan Zen, lantai yang dipijak Dyza seolah runtuh. Tubuhnya terasa lemas. Detik itu juga Dyza merasa rohnya seakan terlepas, bahkan sebelum ia meninggalkan alam manusia.
*****
To be Continued