16. Deadline

1369 Kata
"Manusia itu sudah melakukakan verifikasi kehadiran!"      Rava berseru pada Reva yang sibuk berpose dalam berbagai gaya dan derajat kemiringan untuk sebuah jaket endorse. Seekor kucing "Orens" mantan preman jalanan yang sudah insaf duduk manis di hadapannya. Punggung si "Orens" yang penuh bekas luka cakar--sebagai bukti kerasnya kehidupan jalanan-- dijadikan sebagai tempat sandaran untuk ponselnya yang digunakan memotret. Karena terburu-buru, mereka--Rava dan Reva lupa membawa kamera digital. Sementara keadaan taman tempat mereka sekarang cukup ramai, tidak memungkinkan untuk berteleportasi kembali ke kamar kontrakannya.      Berhubung pemandangan sana cukup bagus untuk dijadikan background, Reva mengambil kesempatan untuk berfoto dan meminta bantuan si "Orens" dengan imbalan tulang ayam geprek bekas makan siang mereka.       "Benarkah?! Di luar dugaan! Kupikir akan sulit menjelaskan padanya, Zen memang hebat!" Reva meraih ponselnya dan menyodorkan kotak makan siangnya pada si kucing. "Makasi, Oyen. Nih, buruan makan. Kotaknya mau kubuang di tempat sampah. Baca doa dulu, woi! Keselek baru tahu rasa!"       Rava mengambil tempat duduk di sebelah Reva."Manusia yang satu itu sulit ditebak. Dia sudah melakukan verifikasi berkas kemarin malam."       "Namanya Dyza."      Rava hanya mengangkat bahu.       "Waktunya tengah malam nanti, kan? Sayang sekali persidangan itu tertutup. Kita tidak bisa meliput." Reva menyandarkan kepalanya pada pundak Rava. Dipandanginya batu dan busur yang beradu tanding di udara. Hari ini mereka meliput tawuran antar geng motor.       "Manusia memang makhluk yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka sering sekali berbuat ulah."       "Tidak semua." Reva memberi pembelaan dengan pandangan mengangkasa. "Apa tidak sebaiknya kita hentikan mereka? Bagaimana kalau kita membantu para polisi patroli itu?" Tunjuknya pada sekawanan polisi yang baru tiba.      "Tidak, biarkan saja. Jangan campuri urusan mereka."        "Oh! Oyen sudah seleasai makan!" Reva bangkit dan membersihkan bekas makanan si "Orens".      Kucing berwarna oranye yang spesiesnya paling tersohor tersebut mengelus-eluskan badannya pada kaki Reva sebagai ucapan terima kasih lalu menuju genangan air untuk minum.        "Sama-sama, Oyen. Sampai ketemu lagi, jangan bar-bar!" Reva melambai pada kucing tersebut lalu menuju tempat pembuangan sampah.       Tiba-tiba terdengar suara sirine ambulans dari kejauhan. Reva dan Rava saling berpandangan.      "Perasaanku tidak enak. Apa ada kematian?"        Rava berdiri. "Belum tentu. Mungkin ada yang terluka parah."      Argumen Rava terbantahkan begitu angin di sekitar mereka bertiup pelan. Suhu udara yang menurun tiba-tiba membuat bulu kuduk mereka meremang. Rava dan Reva menelan ludah dengan pahit. Pertanda tersebut adalah hawa kematian.      "Itu ... grim reaper," bisik Reva dengan gamang. "Sepertinya memang ada yang berpulang."      Rava mengangguk terpatah. "Sekian meter di hadapan mereka berdiri sosok dalam balutan pakaian serba hitam. Jubahnya yang panjang menyapu tanah. Aura gelap yang ia terpancar seolah menegaskan perannya sebagai pemutus kehidupan.      "Arzel!" Rava terkesiap begitu menilik baik-baik De angel--sebutan bagi para malaikat untuk urusan sehari-hari--itu. Ia lekas bersembunyi di balik semak-semak dan memberi isyarat pada Reva untuk mengikutinya.   "Arzel?" Reva turut mengintip. Arzel adalah nama malaikat maut tersebut. Bila ada Arzel, berarti kemungkinan besar ada Kyra--teman satu asrama mereka--di sana.      "Kyra!" kompak Rava dan Reva kompak berseru. Benar saja, seorang gadis cantik yang mereka kenali sebagai Kyra bersimpuh di depan Arzel.      Rava dan Reva menajamkan indra hingga sosok Kyra dan Arzel terlihat jelas.       "Kyra Edelline! Ini peringatan terakhir. Berdiri!" Tampak Arzel melipat tangannya di depan d**a. Sementara Kyra di hadapannya tetap diam di tempat.      "Harus berapa kali aku peringatkan padamu untuk tidak mencampuri urusan kematian manusia!"      Kyra masih belum bersuara. Kepalanya makin menunduk, bahunya berguncang tiap kali ia menarik napas pendek.      Keras kepala sekali. Arzel membatin. "Kalau kamu tidak ingin dia mati, kenapa kamu menuliskan namanya di buku catatanmu?"      "Karena itu tugasku." Kyra tersenggak dan menyeka air matanya diam-diam.      "Lalu bagian mana yang kamu sesalkan? Perkara umur itu urusan Sang Pencipta."      "Kamu tidak bilang dia akan mati seperti ini, hiks!"      Arzel menghela napas lalu menarik Kyra hingga berdiri.      "Manusia memilih jalannya sendiri untuk mati. Aku sudah banyak menyaksikan kematian. Sebagaimana mereka hidup, begitu pula akan mereka mati. Ketua geng motor itu tiap hari terlibat pertengkaran. Aku rasa kamu cukup mengerti mengapa hidupnya berakhir di sini."      "Tapi sebenarnya dia orang yang baik. Dia pernah menolongku beberapa kali. Aku ... belum sempat membalas jasanya."      "Apa sekarang kamu meragukan keadilan Yang Maha Kuasa?" Arzel menatap tajam dengan penuh intimidasi.      Kyra menghela napas panjang lalu menggeleng lemah.      "Kuperingatkan padamu sekali lagi. Jangan mengurusi sesuatu yang bukan tugasmu." Arzel melipat kedua tangan di depan d**a. "Dan hapus air mata itu. Aku tidak suka melihatnya."      "Maaf."      "Tidak ada yang memintamu untuk memohon maaf. Berhenti menangis sekarang. Aku benci air mata."      "Ke-kenapa?" Kyra yang spontan berujar menutup pertanyaannya dengan ringisan kecil.      Karena aku tidak tahu seperti apa rasanya menangis. "Karena itu terlalu manusiawi." Arzel berbalik. "Sekali lagi kuperingatan, ini kesempatan terakhir atau perjanjian kerja kita kuputuskan."      Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Arzel menghilang. Meninggalkan Kyra yang terduduk kembali sambil memeluk lutut. Kerumanan orang sudah mereda. Polisi telah mengamankan beberapa orang yang dicuragai sebagai provokator bentrokan.      Kyra memandang nanar pada lokasi TKP. Air matanya kembali meluruh. Untuk pertama kali dalam tugasnya sebagai seorang Death Notarie, ia menuliskan nama seorang manusia yang dikenalnya dengan baik. Meski hanya menjalankan protokol tugasnya, Kyra tidak bisa menampik rasa bersalah dalam dirinya. Apalagi orang tersebut pergi dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.      "Kyra!"      Kyra menoleh, mendapati Rava dan Reva yang berlari ke arahnya.      "Rava! Reva!" Kyra bangkit menyambut keduanya. Tangisnya pecah.      "Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu mengenal laki-laki yang Arzel cabut nyawanya itu?" Rava menuntun Kyra ke salah satu bangku taman.       Kyra memberi anggukan kecil sebagai jawaban. "Dia ketua geng motor yang pernah menyelamatkanku dari serangan para pembegal." Kyra mengusap pipinya yang basah. "Dia orang yang baik. Dia tidak menyakiti orang yang lemah. Dia juga hidup sederhana. Kami bertemu beberapa kali."      Rava dan Reva mendengarkan cerita Kyra dengan prihatin. Menyaksikan Kyra yang tersedu-sedu membuat keduanya ikut merasa sedih. Kyra adalah seorang Death Notarie. Satu di antara tugasnya adalah mengkalkulasi umur manusia dengan sangat detail, hingga satuan menit dan detik. Kyra juga bertugas mengarsipkan profil calon arwah mulai dari sembilan puluh sampai minimal tiga hari sebelum kematiannya.      "Tiga hari yang lalu aku berniat memberikannya hadiah sebagai ucapan terima kasih, tapi di saat yang sama aku menerima pesan untuk menuliskan namanya di buku catatanku." Kyra mendekap tas jinjing kecil dari butik ternama yang dibawanya. "Aku tidak sanggup menemuinya lagi," lanjutnya dan menangis lagi.      "Tenanglah, Kyra. Kita gantikan hadiah untuknya dalam bentuk doa, ya?" Rava dan Reva merangkul Kyra. Bersama dengan Zen, mereka sudah saling menganggap sebagai saudara. Pekerjaan yang terikat dengan kematian memang tidak mudah. Tekanannya sangat besar. Apalagi untuk Luxa yang berhati lembut seperti Kyra. Jangankan manusia, Kyra bahkan berduka untuk seekor kecoa yang mati penyok karena tidak sengaja terbawa di ransel Reva sewaktu berteleportasi kembali ke asrama setelah tur di dunia manusia. Wajar bila kementerian memberi mereka reward yang lebih tinggi.      "Kakak ...."      Sebuah suara lembut khas anak-anak membuat Kyra, Rava dan Reva berbalik. Seorang anak perempuan berumur sekitar 5 tahun menghampiri mereka dengan membawa setangkai bunga. Tanpa aba-aba, anak kecil tersebut memeluk Kyra.      "Ada paman yang menyuruhku memberi bunga ini untuk, Kakak. Katanya biar Kakak tidak sedih lagi. "      Kyra menatap bunga indah tersebut lalu mengangguk. Ia balas memeluk anak tersebut dan menerima bunga pemberiannya dengan senang hati.      "Astaga, bukankah ini bunga langka dari taman langit?!" Rava terkejut bukan main.      Kyra mengangguk. Seulas senyum terbit di bibirnya. Koleksi bunga langkanya bertambah lagi. Arzel sering kali memberinya bunga bila habis memarahinya.      "Dari Arzel?"      Satu anggukan dari Kyra membuat Reva dan Rava saling berpandangan.      "Malaikat maut itu punya hati juga!" Reva berujar tak percaya. "Kenapa tidak dia berikan sendiri? Apa dia jaga image?"      "Bukan. Arzel tidak bisa menyentuh bunga dalam waktu yang lama. Karena aura kematian yang dimilikinya sangat besar, bunga atau tumbuhan apapun yang disentuhnya akan menjadi layu." Kyra menghirup aroma bunganya sambil menutup mata.      "Kamu ... nyaman bekerja dengan Arzel?" Reva bertanya was-was.      "Ya." Kyra langsung menjawab. "Kenapa tidak?"      "Oh, tidak apa-apa. Syukurlah kalau kamu nyaman." Rava menyikut Reva lalu memasang senyum saat Kyra berbalik pada mereka.      Sementara itu, Arzel yang mengamati dari kejauhan menghela napas panjang.      "Dia sudah tersenyum lagi. Ah, merepotkan sekali." ***** To be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN