Jarum jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam saat Dyza menarik selimut untuk kakek Andrew yang sudah mengakhiri cerita masa mudanya dan terbuai dalam alam mimpi.
Setengah jam lagi! Dyza berseru dalam hati begitu melirik jam di nakas. Mendadak detak jantungnya menjadi tidak beraturan. Bunyi denting jarum jam tiap detik terasa nyata dan mengetuk-ngetuk di gendang telinganya.
Berbicara perihal "jam", ada satu hal lagi yang harus Dyza masukkan ke dalam "daftar pertanyaan khusus" untuk Zen. Tentang jam tangan aneh berikut kemampuannya menghentikan waktu, seperti yang dilakukan Luxa itu saat menyelamatkannya dari tabrakan mobil kemarin sore.
Dyza masih belum mampu merangkum keseluruhan informasi di luar nalar dari Zen, olehnya itu ia berinisiatif membuat list dari setiap pertanyaan acak yang timbul di benaknya. Tapi itu nanti, sekarang ia harus bergegas.
"Dyza pergi sebentar, ya, Kek!" Dyza mengecup kening kakeknya lalu beranjak mematikan lampu. Dyza merasa lucu dengan dirinya sendiri. Ia meminta izin untuk pergi seolah ia tahu di mana tujuannya. Oke, tujuannya mungkin sudah cukup jelas. Dunia Medieter. Tapi di mana gerangan letak geografis dunia Medieter itu? Bahkan negeri antah-berantah masih terdengar lebih familier.
Dyza menutup pintu kamar dari luar dengan pelan, hingga bunyi gesekan engselnya pun tak terdengar. Begitu menuju ruang tengah, ia mendapati Zen yang tertidur di sofa. Luxa tampan tersebut menginap di rumahnya sejak kemarin dalam wujud roh untuk menghindari berbagai prahara.
Walau kenyataannya, tidak demikian.
Zen dalam wujud rohnya masih bisa memberikan perlakuan terhadap benda--termasuk menyentuhnya. Dan ini menjadi awal semua perkara yang membuat rumahnya dicap berhantu hingga menjadi perbincangan hangat di kalangan anak-anak SD yang hobi bersepeda di sekeliling kompleks.
Sore tadi, Zen membantu Dyza membersihkan halaman sambil menceritakan tetang kesehariannya sebagai Luxa mulai dari di kelas Pendidikan Kematian hingga menjadi seorang Seeker. Karena terlalu asik bercerita, Zen tidak menyadari sekumpulan anak bersepeda yang sedang lewat. Kerumunan anak-anak itu pun ambyar seketika melihat sapu lidi yang bergerak-gerak sendiri.
Zen juga beberapa kali dengan spontan membantu kakek Andrew mengambil barang. Mulai dari gelas minum, perkakas kebun, hingga handuk di jemuran. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Dyza bersyukur akan penyakit demensia yang dialami kakeknya. Setidaknya delusi yang dialami kakek Andrew menghindarkannya dari serangan jantung melihat benda-benda tersebut beterbangan.
Dyza melangkah pelan menghampiri Zen dan mendekatkan jari telunjuknya pada hidung Seeker tersebut. "Dia benar bernapas!" tangan Dyza beralih pada dahi Zen yang tertutup rambut. "Suhu tubuhnya juga normal-normal saja."
Dyza mengamati wajah Zen yang tertidur lekat-lekat. Bila kemarin ia hampir mengalami gagal napas dengan segala hal di luar logika yang ditunjukkan laki-laki tersebut, sekarang ia justru penasaran--terutama tentang anatomi dan fisiologinya. Ingin rasanya Dyza mengidentifikasi seluruh organ tubuh Zen, melihat jaringannya di bawah mikroskop, membuat ekstraknya, lalu melakukan pengujian dengan berbagai reaksi sampai tahap analisis.
Oke. Itu mungkin terdengar agak psycho, tetapi kuriositas Dyza sangat tinggi. Rasanya seperti menemukan makhluk hidup spesies baru dan akan dianugerahi penghargaan nobel. Meski Zen mengakui dirinya sebagai makhluk setengah hidup.
Dyza mendekatkan telinganya pada d**a Zen, berusaha mendengar detak jantungnya. Matanya membulat seketika. Detak jantungnya tidak terasa!
Penasaran, Dyza makin lebih merapatkan tubuhnya. Tangannya meraba-raba d**a kiri Zen, berusaha mendapatkan denyut yang merambat di sana.
"Tidak ada." Dyza mendesis.
"Apanya yang tidak ada?"
"Hah!" Dyza terlonjak kaget begitu suara Zen menyadarkannya. Laki-laki itu rupanya sudah terbangun.
"Kamu sedang mencoba mendengar isi hatiku, ya?" Zen menguap kecil dan menggosok matanya.
Memang bisa mendengar isi hati dengan cara seperti itu? Dyza terkesiap. Meski demikian ia bersyukur, setidaknya Zen tidak menudingnya melakukan pelecehan.
"Ti-tidak!" jawab Dyza gelagapan. "Aku cuma penasaran dengan ... detak jantungmu. Ma-maksudku, secara anatomi!"
"Oh, itu." Zen meregangkan badan sebentar. "Kamu salah posisi. Letaknya di sini."
Zen menarik tangan Dyza dan meletekkan di d**a kanannya. "Bagaimana? Terasa, kan? Detak jantung kami memang sedikit lebih lambat."
Dyza mengangguk cepat lalu segera menarik tangannya dari sana. Dasar Zen. Selalu saja mengejutkannya.
"Jantung Luxa berada di sebelah kanan. Jadi, kalau kamu ingin melukainya, tusuk di sebelah kanan."
"Siapa juga yang ingin melukai orang!" Dyza mencebik. "Ini untuk ilmu pengetahuan, tahu!"
"Manusia memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi." Zen merapatkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Zen?" panggil Dyza pelan.
"Hm? Kenapa?"
"Apa aku akan mati?"
"Jelas tidak, Dyza." Zen kembali menegakkan punggung. "Rohmu hanya akan dibawa sementara."
"Sama saja!" Dyza menatap Zen dengan memelas.
"Itu bila roh dan tubuhmu benar-benar terpisah." Zen menepuk kepala Dyza. "Peradilan tinggi telah menjamin keselamatan saksi. Malaikat penjemput punya protokol sendiri untuk itu. Jadi jangan cemberut begitu." Walau itu terlihat menggemaskan.
"Apa itu semacam ... mati suri?" Dyza kembali bertanya.
Zen menggeleng. "Bukan. Mati suri dialami oleh orang yang telah dinyatakan meninggal secara klinis atau dengan tingkat kesadaran yang berada di titik nol, misalnya orang yang mengalami koma. Menurut panduan perlindungan saksi yang k****a, tubuh mortal-mu di dunia ini akan dipertahankan kondisinya agar tetap hidup. Kelihatan seperti tertidur pada umumnya. Kalau kamu bertanya bagaimana teknisnya, aku pun tidak tahu. Itu malaikat yang punya urusan."
"Kamu tidak berbohong padaku, 'kan?"
"Aku berkata atas nama Tuhan." Zen mengangkat sebelah tangannya. "Mati itu suatu urusan yang jauh lebih rumit, bukan sekedar melepas roh dari jasadnya. Kematian adalah jalan menuju kehidupan yang baru. Protokolnya sangat dijaga ketat."
Dyza kini larut dalam diam. Penjelasan dari Zen cukup menenangkan. Namun begitu, perasaannya masih terus bercampur aduk. Dyza pernah membaca beberapa literatur tentang lucid dream--ketika mempelajari tentang fisiologi tidur--yang terjadi pada tahan REM (Rapid Eye Movement). Mereka yang memiliki pengalaman lucid dream dan mampu menjelajahi mimpi secara sadar itu disebut Oneironaut. Ada pula fenomena lain semacam astral projection, sleep paralysis dan banyak lagi. Namun Dyza sama sekali tidak bisa memprediksi se-fiksi dan se-ilmiah apa keadaannya nanti.
"Zen ...."
"Kenapa lagi?"
"Kenapa waktunya harus tengah malam?"
"Karena pada waktu itu aktivitas kehidupan manusia tidak banyak. Semua dibuat dengan mempertimbangkan keadaan saksi. Agar sidang ini tidak mengacaukan kegiatanmu."
Dyza hanya mengangguk singkat. Tiba-tiba lampu padam. Ruang tengah tersebut menjadi gelap gulita. Tanpa sadar Dyza memeluk lengan Zen di sebelahnya.
"Mereka sudah tiba."
"Mereka ...."
"Malaikat penjemput." Zen berujar pelan bersamaan dengan munculnya cahaya yang menyilaukan. Dengan sigap Zen menyembunyikan Dyza di balik lengannya. Intensitas cahaya tersebut terlalu tinggi dan berpotensi merusak kornea dan pupil mata manusia. Dari luar, pemandangan rumah Dyza bahkan menyerupai mercusuar yang bersinar. Namun cahayanya hanya tampak untuk mereka yang dikehendaki.
Saat sinar tersebut meredup perlahan, Zen mengendurkan dekapannya. Dyza pun membuka mata perlahan. Bulu kuduknya meremang seketika begitu menyaksikan dua sosok dikelilingi berkas-berkas cahaya yang berdiri tak jauh di hadapannya. Wajah mereka putih bersih, tatapannya dalam, namun ekspresinya datar seolah tanpa emosi.
"Mereka Enn angel, malaikat dengan tugas-tugas khusus." jelas Zen pada Dyza yang masih termenung, menatap takjub pada dua sosok malaikat yang baru pertama kali disaksikan olehnya dengan mata kepala sendiri.
"Itu belum apa-apa dibanding wujud aslinya." Zen menepuk punggung Dyza begitu dua malaikat tersebut menghampirinya.
"Selamat malam, Dheryza Akselia. " Satu dari dua malaikat tersebut berujar kaku. "Atas perintah Tuhan, kami ditugaskan untuk mengantarkanmu ke Pengadilan Tinggi Dunia Medieter sebagai saksi dalam persidangan. Kami rasa, Zennius Arsenio telah banyak menjelaskan."
Zen hanya mengangguk kecil saat dua malaikat tersebut menatapnya.
"Tapi ... kalian akan mengembalikan rohku kembali, kan?" Dyza berkata takut-takut.
"Jangan berkata seperti roh itu bagian terpisah dari dirimu. kalian satu kesatuan."
"Kalau begitu berjanjilah padaku bahwa kalian tidak akan mencabut nyawaku." Suara Dyza mulai membias. Tangannya menggenggam erat tangan Zen.
"Sesungguhnya umur dan waktu kematian telah ditentukan jauh sebelum langit dan bumi tercipta. Kami ditugaskan untuk mengantarkanmu ke persidangan, bukan mencabut nyawamu. Ada yang bertugas khusus untuk itu." Ada sedikit perubahan kecil di wajah sang malaikat. "Protokolnya jauh berbeda."
"Apa yang akan kalian lakukan bila aku tidak ingin ikut? Apa kalian akan memaksaku?"
Zen langsung menoleh pada Dyza. Tidak menyangka ia akan bertanya demikian kepada malaikat penjemputnya.
"Semua kembali kepada putusan hakim. Kami tidak ada hak untuk itu. Tapi perlu untuk kau ketahui, masalah kematian adalah sesuatu yang sangat krusial dan melibatkan urusan tiga dimensi. Kementerian Tinggi diberi otoritas penuh untuk itu. Bila sekarang kami tidak memiliki hak untuk memaksamu, bisa jadi itu akan berlaku esok hari. Satu yang pasti, semua akan terus berlanjut."
"Ba-baik. Aku hanya bertanya saja. Aku akan ikut. Tapi bagaimana dengan tubuh fisikku di sini? Bagaimana kalian menjamin keselamatanku?"
"Hakikatnya, roh adalah inti kehidupan. Roh menyediakan energi bagi jantung untuk memompa darah. Oleh karena itu, tubuh yang ditinggal rohnya akan mati perlahan." Malaikat yang satu lagi mengulurkan tangan dan memberi Dyza sebuah kalung permata berwarna hijau zamrud berkilauan. "Kalung kehidupan ini akan menjadi penghubung untuk roh dan jiwamu."
"Paradise stone!" Zen yang spontan berseru lekas mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Ya. Kalung ini terbuat dari inti batuan dari surga paling tinggi. Materialnya bisa tembus sampai ke dimensi pertama. Ia akan menyertaimu dalam wujud fisik maunpun roh. Selama kalung ini tidak lepas, tubuh fisik dan rohmu akan terus terhubung."
Dyza menerima kalung tersebut dengan terkesima. Kilaunya sangat indah. Ia lalu mengenakan kalung tersebut dibantu oleh Zen.
"Waktunya sudah tiba." Sang malaikat mengulurkan tangannya pada Dyza.
Dyza menggigit bibir dan berbalik pada Zen. "Kamu akan terus bersamaku kan, Zen?"
Zen mengangguk dan lalu menggenggam erat tangan Dyza yang dingin. "Sampai semua ini berakhir."
Dengan satu tarikan napas panjang, Dyza kemudian menyambut uluran tangan sang malaikat. Butuh waktu beberapa saat hingga matanya yang tiba-tiba terasa berat terpejam sempurna.
Di detik selanjutnya, Dyza merasa tubuhnya mendadak sangat ringan, sebuah energi mendorongnya ke atas hingga ia merasa seperti sedang melayang di udara. Hal pertama yang Dyza rasakan ketika tersadar adalah udara dari pendingin ruangan yang perlahan menghilang, juga dengkuran halus dari tubuhnya yang tertidur di pelukan Zen.
*****
To be Continued