Satu-satunya pelanggaran dalam catatan kriminal yang pernah Dyza lakukan semasa sekolah adalah datang terlambat, yang kemudian membuatnya menapakkan kaki di ruang konseling untuk pertama kali.
Bila Dyza ingat-ingat kembali, di kala itu ia sungguh berharap bisa berubah menjadi sosok invisible woman agar bisa melewati pos satpam tanpa ketahuan, sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi. Tapi siapa sangka, Tuhan menjawab doanya beberapa tahun kemudian, tepatnya pada detik ini saat malaikat penjemput berhasil menarik rohnya keluar.
Untuk sejenak Dyza merasa pusing. Pandangannya berpendar selama beberapa saat sampai akhirnya ia menyaksikan sendiri bagaimana tubuhnya yang tengah terlelap dibawa Zen ke kamar tidur. Apa yang dikatakan malaikat tadi benar, rupanya. Roh adalah inti kehidupan yang menyatu dengan jiwa sebagai satu kesatuan. Sebab kini tubuh fisik yang ditinggalkannya tampak kosong, seperti pakaian yang ditanggalkan.
Dyza selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan rumit yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sama sekali, semisal bagaimana repotnya manusia apabila rongga hidung mereka diciptakan menghadap ke atas--terutama ketika memasuki musim hujan dan saat terserang flu--atau memperkirakan jumlah emisi gas karbon dioksida yang bisa ditekan bila manusia di seluruh dunia kompak menahan napas selama satu detik. Namun ia sama sekali tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi roh.
Dyza memeluk kedua lengannya. Keadaan ini sedikit susah untuk dijelaskan. Bagaimana tubuhnya terasa ringan tanpa massa namun tetap utuh berpijak di lantai, bagaimana bayangannya tak terpatulkan pada cermin besar di ruang tengah tetapi wujudnya masih manpu teraba, semua terasa semu sekaligus nyata.
"Kau belum sepenuhnya menjadi arwah."
Seperti bisa menebak isi kepala Dyza, salah satu malaikat berujar.
"Sebagai roh yang masih 'hidup' dan memiliki tubuh, kau masih mempunyai kemampuan sensorik yang terbatas." Malaikat tersebut menilik Dyza dari ujung kaki hingga puncak kepala.
Ditatap demikian membuat Dyza merasa ada yang salah dengan dirinya. "Kenapa? Jangan bilang penampilanku kurang formal untuk persidangan dan kita harus mengulang proses tadi!" Dyza menepuk jidat. "Astaga! Aku baru ingat kalau blazer hitamku ada di pengeringan mesin cuci!"
"Blazer hitam?"
"Ya. Blazer hitam. Pakaian dinas Zen, kan, serba hitam." Dyza memiringkan kepalanya. "Atau harus baju terusan? Gamis?"
"Tidak ada yang mempermasalahkan penampilanmu." Ada rasa geli yang tak terungkapkan saat kedua malaikat tersebut melihat Dyza panik dan pusing sendiri. "Kami berbicara tentang wujud rohmu yang semipermeable."
"Oh, syukurlah. Aku benci memakai pakaian kusut dan aku yakin kalian tidak ada waktu menungguku menyetrika." Dyza mengelus d**a. "Tunggu, apa tadi? Roh semipermeable? Maaf tapi sepengetahuanku yang bersifat semipermeable itu cuma membran sel."
"Membran sel?"
"Ya. Selektif permeable, tepatnya."
"Kami selalu kagum pada manusia yang memiliki pengetahuan luas. Tapi yang kami maksud adalah konsep secara umum."
Salah satu di antara malaikat tersebut menunduk, membagi berkas-berkas cahayanya yang berkilauan--yang tampak seperti kunang-kunang versi mikro di mata Dyza. Dalam hati Dyza diam-diam mengagumi wajah rupawan sang malaikat. Kulitnya putih bersih sebening porselen serta baunya wangi semerbak.
"Dalam wujud semipermeable, kamu bisa merasakan dan menyentuh materi."
Dyza menautkan alis dan menunjuk cermin yang tidak memantulkan bayangannya. "Kalau begitu, kenapa aku tidak terlihat?"
"Roh adalah sebuah rambatan energi yang disebut manusia dengan istilah gelombang." Malaikat yang memberi penjelasan menjeda sebentar. "Dan frekuensinya berada di luar frekuensi yang bisa ditangkap indra manusia."
"Ah! Di luar gelombang cahaya tampak!"
"Benar. Hampir setara dengan gelombang mikro."
Gelombang mikro? Oke, masuk akal. Dyza membenarkan penjelasan sang malaikat, meski apa yang terjadi padanya ini sesungguhnya teramat jauh di luar logika. Ada geli, takjub, sekaligus takut yang berbaur dalam hatinya. Lucu sekali, sekarang ia tak ubahnya rambatan gelombang mikro. Kurang seperangkat stainless steel lagi wujudnya menjadi oven microwave.
Plaaak!
"Aduh, sakit!"
Dua malaikat yang berdiri di sisi kanan-kiri Dyza dibuat heran--wajahnya terlalu datar untuk disebut kaget--saat Dyza menepuk keras kedua pipinya.
"Uh, benar! Aku masih bisa merasakan sentuhan." Dyza mengusap pipinya sambil meringis pelan. "Tunggu! Apa ini artinya aku bisa terluka di sana?"
Keterangan "di sana" yang dimaksudkan Dyza tak lain adalah dunia Medieter alias alam peralihan yang akan dikunjunginya sesaat lagi.
"Ya. Maka tugas kami adalah memastikan keselamatanmu selama persidangan."
"Tapi kalau tubuhku mortal-ku di sini terluka secara fisik, apa aku di dunia Medieter nanti akan merasakannya?" Dyza menatap kedua malaikat di sebelahnya bergantian. "Bagaimana bila aku haus atau tiba-tiba ingin ke toilet?"
"Tubuh fisikmu untuk sementara tidak merespon rangsangan fisiologis seperti itu. Tentu bisa terluka bila mendapat tekanan dari luar, tapi tenang saja, itu tidak akan terasa sampai kau kembali nanti."
Dyza mendengus kecil. Hal tersebut terdengar seperti menunda rasa sakitnya saja. Namun ia enggan mengunjuk rasa lagi.
"Sekarang sudah waktunya, Dheryza Akselia."
Dua malaikat penjemput tersebut menggenggam tangan Dyza. Belum sempat Dyza menyarankan pada kedua Enn angel itu untuk memanggilnya dengan nama kecil saja, riak cahaya tiba-tiba melingkupi mereka. Sinarnya tidak menyilaukan seperti yang sebelumnya, namun cukup untuk menutupi pandangan. Terlihat seperti kabut cahaya berlapis-lapis yang diselingi partikel-partikel monoatomik berkilauan. Dyza bersumpah, pemandangan tersebut adalah visualisasi dari efek Tyndall yang paling indah sealam semesta. John Tyndall pasti merasa iri padanya.
Hanya dalam waktu yang sangat singkat dan dengan sistem penataan ruang yang tidak bisa dinalar, lansekap cahaya tersebut perlahan memudar, berganti menjadi sebuah hall yang sangat luas nan megah. Dyza dibuat terperangah seketika. Ruang tersebut tak ubahnya sebuah puri dengan arsitektur klasik. Dinding kokoh berlapis pualam hitam mengkilap, tiang-tiang penyangga yang menjulang tinggi hingga puncaknya tidak terlihat, ditambah dengan langit-langit ornamental perpaduan ilmu kontruksi dan seni. Menyaksikan itu membuat Dyza merasa terlempar ke dalam sejarah dan tengah berdiri di abad pertengahan Eropa, yang selama ini hanya bisa disaksikan replikasinya lewat layar kaca, juga versi cetaknya di buku kesenian.
"Terkejut?"
Dyza lantas menoleh pada Zen yang muncul dari pusaran udara.
"Zen! Kenapa baru tiba?!" Ada perasaan lega yang tersirat dalam nada suara Dyza, kontras dengan ekspresinya yang merengut.
"Aku mengurusmu dulu."
"Mengurusku?"
"Menyelimuti dan mengoleskan lotion anti-nyamuk pada tubuhmu. Kemarin kuperhatikan kamu melakukan itu sebelum tidur." Zen menghela napas. "Ya, kalian manusia bahkan bisa mati hanya karena gigitan nyamuk."
Bila saja situasi dan kondisi tidak demikian adanya, sudah pasti Dyza akan menjelaskan panjang-lebar pada Zen bagaimana virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti itu bisa meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah dan mengakibatkan terjadi kebocoran plasma.
"Tunggu! Kamu tidak menyentuh tubuhku sembarangan, 'kan!" Dyza memukul kecil lengan Zen. "Mentang-mentang aku tidak rasa!"
"Siapa yang menyentuhmu sembarangan! Aku cuma mengoleskan lotion anti-nyamuk itu pada tangan, kaki, dan wajahmu. Sumpah!"
"Kamu mengoleskannya pada wajahku juga?! Astaga, Zen! Kulit wajah itu sensitif!"
"Mana aku tahu! Kalau kututupi dengan selimut nanti kamu sesak napas!"
Dua malaikat penjemput yang mengantar Dyza tadi hanya menyaksikan pertikaian kecil itu tanpa suara. Benar-benar manusia-- dan makhluk setengah manusia--yang mudah terlupa dan lalai. Padahal persidangan sudah di depan mata.
Debat antara Zen dan Dyza pun terleraikan dengan sendirinya saat Luxa yang bertugas sebagai panitia persidangan mempersilakan bagi keduanya untuk melangkah ke tengah ruangan.
Dyza merapatkan diri pada Zen. Ketakutannya yang sempat sirna kembali menyeruak begitu beberapa pasang mata menatap penuh perhatian padanya. Sementara Zen di sebelahnya berjalan dengan tenang. Sudah pernah menghadapi situasi tersebut membuatnya lebih siap. Apalagi suasana kali ini sangat berbeda. Situasinya tidak dibuat semenyeramkan sidang pertamanya dulu.
"Zen ...." panggil Dyza sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruang tersebut memiliki kerangka bangunan setengah lingkaran, di mana kedua sisinya dipisahkan oleh satu tribun yang berada tepat di belakang podium. Kursi-kursi di kedua bagian tersebut disusun bertingkat hingga ada sekitar 7 tingkatan. Sisi sebelah kiri tampak lengang, hanya ada beberapa orang di sana. Sementara sisi sebelah kanan terisi kurang lebih seperempat bagian.
"Hm? Kenapa? Kamu takut?" Zen menggenggam tangan Dyza yang gemetar.
Dyza mengangguk singkat, masih dengan tatapan yang mengembara. "Mereka semua ini siapa?"
"Yang berdiri di podium adalah hakim tinggi, pilihan langsung dari para malaikat agung. Mereka yang berdiri di tribun tengah adalah jajaran dewan hakim yang akan memberi pertimbangan. Mereka bisa membela maupun menyudutkan posisimu." Zen berdeham. "Maksudku posisi kita," ralatnya cepat.
Dyza melirik Zen sekilas lalu menenguk ludah.
"Platform sebelah kiri adalah tempat para pengunjung sidang, termasuk para informan yang akan meliput. Karena ini adalah persidangan tertutup, mereka yang diberi wewenang untuk hadir hanyalah dari pihak pengarsipan negara. Adapun di platform sebelah kanan yang ramai itu adalah para Enn angel yang bertugas sebagai malaikat pengawas. Mereka yang akan memeriksa keterangan dari kita." Zen ikut melayangkan pandangan pada sisi kanan ruangan. Enn angel di sana mengambil wujud yang lebih manusiawi agar Dyza tidak terlalu syok. Sama seperti malaikat penjemput tadi yang setia berjaga di belakangnya.
"Semua malaikat memang tampan-tampan dan cantik-cantik." Dyza berceletuk.
"Kamu akan terkejut bila melihat sosok mereka yang sebenarnya."
"Oh, ya? Kenapa?"
"Sosok asli mereka jauh lebih mengangumkan."
Dyza masih penasaran dengan sosok asli malaikat yang dimaksud Zen. Namun Luxa yang mengantar mereka menuju kursi di depan mimbar menyela dengan memberi arahan untuk menempati kursi masing-masing.
Ada rasa takut yang merayap di hati Dyza ketika ia dengan sangat terpaksa melepaskan genggaman tangan Zen. Rasanya seperti waktu pertama kali ia masuk sekolah dan harus berpisah dengan mamanya. Meski kenyataannya, sang mama hanya menunggu di depan kelas. Demikian pula sekarang, saat kursinya dan kursi Zen hanya terpaut beberapa langkah.
Setelah sorang panitia sidang memberi laporan kepada dewan hakim, persiapan sidang segera dimulai. Jantung Dyza berdetak kencang bertalu-lalu, mengikuti ketukan palu yang diiringi suara berat moderador acara.
"SIDANG TERTUTUP DAN RAHASIA PERADILAN TINGGI DUNIA MEDIETER DENGAN RESMI DIBUKA."
*****
To be Continued