19. Menace

1988 Kata
Mortascript--buku catatan para Death Notarie--layak mendapat nominasi sebagai notasi paling menyeramkan sealam semesta. Mortascript memuat profil para calon arwah lengkap dengan kalkulasi usia mereka.       Para Death notarie menerima apocalypse berupa visiun tentang identitas para calon arwah dari Yang Maha Kuasa melalui kemampuan clairvoyance mereka. Lalu, dengan berdasar pada wahyu ilahi tersebut, Death Notarie akan melakukan kalkulasi usia untuk menentukan waktu kematian. Mortascript  terhubung langsung dengan malaikat pencabut nyawa sesuai dengan Death Notarie mereka masing-masing. Singkatnya, segala apa yang ditulis oleh Death Notarie dalam mortascript, akan otomatis diketahui oleh masing-masing malaikat pencabut nyawa rekannya.      Rava dan Reva sesekali memperhatikan Kyra yang sibuk menulis di buku catatannya. Satu hal yang mereka syukuri adalah mortascript hanya bisa dibaca oleh Death Notarie seorang. Sebab akan sangat mengerikan bagi keduanya bila mereka diberi kemampuan untuk membaca nota kematian tersebut dan menemukan namanya di sana.       Protokol perihal kematian memang sangat dijaga ketat. Seluruh inkripsi terkait topik tersebut berstatus "top secret" alias sangat rahasia. Sepantaran dengan kedudukan arsip militer negara dan dokumen-dokumen lembaga inteligen internasional di duna manusia. Ah, jangan lupakan resep rahasia ayam goreng KFC dan secret formula krabby patty milik Tuan Krab di Bikini Bottom.      "Ada apa?" Kyra mengalihkan perhatiannya pada Rava dan Reva yang kontan menggeleng.      "Tidak apa-apa. Bukumu ... cantik ya, ehehe." Reva berujar hati-hati.       "Terlalu cantik untuk ukuran mortascript," tegas Rava diiringi tawa hambar.      "Terima kasih." Kyra tersenyum hingga mata bulatnya melengkung sempurna lalu kembali menulis.      Reva dan Rava saling melirik lalu ikut tersenyum, walau kedua alisnya bertaut hingga ekspresinya menyerupai wajah pebasket Internasional yang populer di komik meme. Tapi mereka tidak berbohong soal mortascript Kyra. Di kelas Sastra Manusia dulu, Reva dan Rava mempelajari berbagai jenis kiasan. Salah satu yang tak kalah populer adalah kalimat "jangan menilai buku dari sampulnya", dan contoh paling nyata dari ungkapan tersebut adalah mortascript milik Kyra. Tidak ada satu orangpun yang menyangka buku bergaya vintage dengan hiasan pita itu berisi daftar nama calon arwah.      Ya, paling tidak Kyra  sudah tampak ceria, meski kantong matanya yang membengkak cukup mengindikasikan bahwa gadis tersebut menghabiskan waktunya semalam kemarin untuk menangis. Misi Reva dan Rava yang malam ini meluangkan waktu untuk mengajak Kyra nongkrong di kafe cukup sukses. Andai saja Zen tidak sedang menghadapi sesuatu yang maha penting dan ikut bergabung bersama mereka, pasti akan lebih seru.        Mereka berempat tinggal di asrama yang sama saat masih berstatus sebagai pelajar sampai sebelum mendapat surat tugas dan menjalankan peran sesuai profesinya masing-masing. Sejak dulu Zen telah menunjukkan bakatnya sebagai seorang Seeker. Dengan kemampuan sensoriknya yang tinggi, Zen menjadi juara bertahan dalam permaian petak umpet--yang mereka tiru dari manusia setelah membaca sebuah artikel di perpustakaan. Zen juga kerap kali membantu Rava dan Reva menemukan kaos kaki ataupun pakaian dalam mereka yang tercecer.        Adapun Kyra mulanya memiliki bakat alami sebagai seorang herbalist dengan kemampuan membuat herbarium yang mampu menyembuhkan berbagai jenis luka dan menghentikan pendarahan. Oleh karena kemampuan Kyra itu, Zen, Rava, dan Reva tidak pernah merasa khawatir apabila terluka di kelas pertahanan diri.       Bakat clairvoyance Kyra muncul setahun sebelum ia dan Zen diterima di jurusan pendidikan kematian, saat p*********n iblis terjadi di distrik mereka. p*********n tersebut tercatat sebagai agresi iblis paling besar sepanjang sejarah dunia Medieter.       Menurut cerita dari Kyra, saat itu ia terpisah dari Zen dan terpojok. Karena tidak mampu memberi perlawanan, ia hanya bisa berdoa dan menyerahkan keselamatannya pada Tuhan, hingga kemudian sesosok malaikat muncul menyelamatkannya. Kyra tidak ingat persis bagaimana kejadian tersebut dan sempat tidak sadarkan diri selama hampir tiga bulan. Begitu terbangun, tahu-tahu ia sudah memiliki "penglihatan" yang mengantarkannya menjadi seorang Death Notarie.       Rava dan Reva sendiri selain memiliki hubungan batin super kuat karena kodratnya sebagai saudara kembar, juga memiliki kemampuan linguistik dan keterampilan verbal yang membuat keduanya mampu menerjemahkan sekaligus berkomunikasi dengan hampir semua makhluk. Di luar tugas resminya sebagai informan, mereka juga kadang menerima pekerjaan lepas sebagai translator.       "17 tahun, 3 bulan, 7 hari, 4 jam, 9 menit, 21 detik." Kyra menutup buku catatannya lalu kemudian menyatukan kedua tangan di depan d**a dengan mata terpejam. "Tuhan, berilah kelapangan urusan untuk calon arwah ini."        "Aamin ...." Rava dan Reva serempak mengamini.      "Wah, baru 17 tahun. Dia masih muda." Reva berujar prihatin.      "Kematian tidak menunggu seseorang untuk tua." Rava mengedikkan bahu lalu beralih pada Kyra yang masih melafalkan doa. Kyra memang gemar mendoakan orang-orang. Beberapa saat yang lalu mereka baru saja mendoakan kelancaran persidangan untuk Zen dan manusia bernama Dyza yang bahkan belum pernah mereka temui.       "Kamu juga berdoa untuk para calon arwah yang kamu tulis?"        Pertanyaan Rava dibalas Kyra dengan anggukan.      "Kamu terlalu baik pada manusia, Kyra." Rava bersedekap. "Bukankah Arzel berkata mereka mati sesuai dengan perbuatannya di dunia?"        "Aku mengerti. Bagaimana hidup mereka berakhir nanti, akupun tidak tahu. Arzel merahasiakan itu." Kyra tersenyum sedih. "Tapi roh yang terlepas dari jasadnya adalah sebuah kesakitan luar biasa, bahkan untuk kematian yang paling ringan sekalipun. Karena itu Arzel yang selalu menyaksikan kematian tidak mampu untuk tersenyum."       Rava dan Reva kontan meringis mendengarnya. "Ngomong-ngomong persidangan Zen sepertinya sudah dimulai." Salah satu di antara mereka berujar untuk membelokkan topik pembicaraan.      Kyra melirik horolognya dan mengerutkan kening. "Astaga! Sudah lewat tengah malam!" pekiknya. Terbiasa bekerja sendirian di kamar apartemennya membuat Kyra terlampau semangat hingga lupa waktu.      "Tenang saja, masih ramai, kok. Nanti kami antar pulang." Rava dan Reva menyahut bersamaan.      "Bukan itu. Masalahnya sudah lewat jam 12 malam." Kyra bergegas merapikan barang-barangnya.      "Apa masalahnya jam 12 malam?" tanya Rava begitu menandaskan cappucino di gelasnya.      Reva mengiyakan lalu ikut membantu meminggirkan piring dan gelas bekas mereka. "Kamu ini seperti Cinderella saja, Kyra," candanya. "Ah, tidak. Kamu kan, putri Aurora."      Kyra tertawa kecil. Karena pernah mengalami koma selama beberapa bulan, orang-orang di distrik mereka menjulukinya demikian.      "Arzel biasanya datang jam begini." Penjelasan Kyra yang terjeda begitu seseorang menubruk lengannya hingga barang-barangnya jatuh berserakan.      "Hei, manusia! Lihat-lihat dong, kalau jalan!"      Reva langsung menyikut Rava yang dengan refleks berseru. Menyebut manusia dengan panggilan "manusia" tentu terdengar aneh. Beruntung laki-laki pelayan kafe yang tidak sengaja menabrak Kyra tidak terlihat tersinggung.      "Maaf, Nona. Saya tidak sengaja." Pelayan tersebut membungkuk dan ikut membantu Kyra mengambil barang-barangnya.      Kyra yang menengadah seketika bergeming. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya ketika bertemu mata dengan si pelayan. Seperti ia mengenali sorot mata sekelam malam tersebut. Mortascript sebagai barang yang pertama kali diamankan olehnya pun kembali jatuh hingga halamannya tersingkap.      Si pelayan memfokuskan tatapan pada mortascript Kyra. Ada guratan kecewa di wajahnya yang kemudian berganti menjadi seulas senyum.      "Sampai jumpa di lain waktu, Nona cantik." Si pelayan menyerahkan kembali buku tersebut pada Kyra kemudian berlalu.      Kyra masih mencerna kata-kata si pelayan saat Rava dan Reva membuatnya mengalihkan perhatian dan membantunya berdiri.        "Kamu tidak apa-apa?"      Kyra menggeleng kaku. Ia mengedarkan pandangan mencari-cari si pelayan, sampai sosok di ambang pintu membuatnya terkesiap.      "A-Arzel!"      "Astagadragon!" Rava dan Reva bergidik seketika. Walau Arzel mengambil wujud manusia, tetap saja auranya terpancar jelas. Bahkan lampu-lampu di kafe tersebut sempat meredup beberapa kali ketika ia melangkah masuk hingga beberapa pengunjung yang tersisa dibuat terkejut.      "Apa aku harus menerapkan jam malam untukmu, Kyra Edelline?! Sekarang sudah pukul berapa!"      Kyra mengigit bibir dan memejam erat begitu Arzel menatapnya sambil melipat tangan di depan d**a dengan dagu terangkat.      "Anu ... itu ...."      "Sudah! Jangan banyak alasan! Ayo, pulang sekarang!" Arzel mengalihkan perhatian pada Rava dan Reva. "Kalian berdua juga!"      "Buset, jantungku!" Reva mendesis lalu balas menatap Arzel takut-takut. "Iya, iya. Kami pulang kok, Arzel yang terhormat."       Rava dan Reva kemudian bergantian mengusap kepala Kyra dan pamit untuk pulang.      "Apa-apaan yang barusan itu!" Arzel menepuk-nepuk kepala Kyra pada bagian yang telah diusap oleh Rava dan Reva.       "Kami selalu seperti itu. Rava dan Reva sudah seperti saudara bagiku."      "Aku tidak bertanya."      "Ah, i-iya. Maaf aku bicara yang tidak perlu."      Arzel hanya mendengus lalu melangkah keluar kafe, diikuti Kyra di belakangnya. "Aku selalu saja salah di matanya." Kyra berbisik lirih, menatap punggung Arzel yang tegap dan terlihat kokoh. Saat Arzel tiba-tiba berhenti, ia pun turut menahan langkah. Arzel berbalik, lalu dengan sedikit gerakan kepala ia memberi isyarat pada Kyra untuk mengambil posisi di sebelahnya. "Ba-baik." "Jangan mendahuluiku juga, aku bukan bawahanmu." Kyra kembali terkesiap dan lekas menarik mundur kakinya yang setengah sentimeter melampaui kaki ujung sepatu Arzel.      Gadis ini memang sulit untuk dimarahi. Arzel mendengus pelan melihat tingkah Kyra. "Berdiri di sampingku. Kita jalan bersama." Ada perubahan intonasi yang cukup kentara dalam kalimat terakhir yang diucapkan Arzel.  Ia kemudian membelah angin malam yang dingin menusuk tulang lalu meneruskan langkah, diiringi Kyra yang diam seribu bahasa setelah menjawab dengan anggukan patuh. Satu hal yang tidak disadari Kyra adalah, malaikat tidak bisa jatuh sakit, apalagi untuk sekedar masuk angin. ***** "Jujur. Dia berkata jujur." Dyza menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya begitu malaikat pengawas menyerukan hasil pengusutannya. Walaupun pada kenyataannya ia tidak berbohong, tetap saja detak jantungnya berpacu hebat saat menjelaskan secara detail seluruh aktivitasnya pada hari di mana ia dengan tidak sengaja bertabrakan dengan Zen di pelataran fakultas. Mulai dari bangun pagi, menghapal bahasa latin di kelas Fitokimia, makan batagor di kantin, sampai pada cerita masa muda kakek Andrew yang membuatnya jatuh tertidur di malam harinya. Pertemuannya dengan Ryo di kantin dikecualikan Dyza. Nama laki-laki gila tersebut terlalu kotor untuk diutarakan di depan malaikat. "Pertanyaan selanjutnya." Dyza kembali tersentak begitu dewan hakim bersuara lagi. "Saudari Dheryza Akselia. Apa benar Anda tidak memiliki kekuatan khusus untuk melihat makhluk tak kasat mata?" Zen menoleh pada Dyza yang refleks menggeleng tegas.  "Tidak. Saya tidak memiliki kemampuan seperti itu. Bahkan sejujurnya, saya tidak percaya dengan keberadaan makhluk tak kasat mata. Bagaimana mungkin ada entitas hidup tanpa raga seperti itu?" Oke. Dyza mengatakan sesuatu yang salah. Ia mempertanyakan hakikat makhluk tak kasat mata di hadapan para makhluk tak kasat mata. Bahkan ia mulai merasa tidak enak pada malaikat pengawas  yang membenarkan jawabannya. "Pemikiran yang sangat rasional." seorang dewan hakim menatap Dyza tajam, tampak tidak memihak padanya. "Tipikal manusia pada umumnya." Satu orang lagi menimpali. "Kurasa itu cukup membuktikan bahwa dia benar-benar tidak mempercayai keberadaan kita. Dalam artian, dia benar-benar menganggap Seeker itu sebagai manusia." "Tapi bagaimana dia bisa melihat Seeker yang dalam wujud roh tersebut?" Tribun tengah menjadi riuh rendah. Para dewan hakim masing-masing memberikan pendapatnya terhadap masalah Dyza dan Zen. Dyza menoleh pada Zen. Dalam hati ia cukup tersentuh melihat bagaimana laki-laki itu terus melihat ke arahnya dan memberinya semangat sewaktu ia memaparkan keterangan tadi. Zen hanya tersenyum kecil pada Dyza. Berbeda dengan gadis tersebut, Zen justru merasa lega. Setidaknya dengan begini, baik dirinya maupun Dyza sendiri tidak bisa disalahkan. Kericuhan di tribun dewan hakim terhenti seketika saat hall megah tempat persidangan tersebut bergemuruh. Lantai bergetar, pajangan prasasti berisi aturan-aturan klasik dunia Medieter di dinding pun berguncang. "Gempa?!" Dyza memekik panik. "Zen, apa di dunia ini terjadi pergeseran lempeng tektonik juga?!" teriaknya pada Zen untuk mengimbangi deru yang menggema. Zen menggeleng. Sesungguhnya ia tidak tahu-menahu perihal lempeng tektonik yang dikatakan Dyza, sekaligus sebagai jawaban bahwa gempa tidak pernah terjadi di dunia Medieter. Dyza, Zen, dan seluruh penghuni ruangan tersebut terpegun seketika begitu sebuah cahaya berpendar terang tiba-tiba muncul di tengah-tengah ruang. Dyza menyipitkan matanya yang silau. Beruntung tubuh fisiknya tertinggal di dimensi manusia. Bila tidak, sudah dipastikan ia akan memakai alat bantu melihat setelah ini, atau mungkin donor mata. Ada sosok di balik cahaya tersebut yang tidak kentara. Seolah menyatu dengan sinar yang melingkupinya. Tidak, memang wujudnya yang terbuat dari cahaya. "Archangel." Malaikat pengawas di sebelah Dyza berujar lalu menundukkan kepala. Demikian pula dengan malaikat pengawas di platform kanan, jajaran dewan hakim, hakim tinggi, dan juga Zen yang bangkit dari duduknya. Tersisa Dyza yang kebingungan sendiri. "Dia adalah malaikat tertinggi. Pemimpin para malaikat." Zen berujar serak pada Dyza yang ikut berdiri memberi hormat dan meminta penjelasan darinya. "Malaikat tinggi?!" Suara Dyza tercekat di tenggorokan. Ia ikut melihat malaikat bercahaya tersebut menoleh sebentar ke arahnya lalu bergerak menuju podium. Tampak hakim tinggi membungkukkan badan. Ia menerima sebuah surat yang diserahkan sang malaikat. "Perintah dari Yang Maha Kuasa." Dengan gemetar sang hakim membuka suratnya. "Ini ...? Bagaimana bisa?" Sang malaikat tinggi tersenyum samar, pandangannya di arahkan pada Zen dan Dyza yang terpaku di depan kursinya masing-masing. "Kita tidak pernah tahu bagaimana Sang Pencipta merumuskan takdirnya. Hakim tinggi menarik napas pajang beberapa kali. Lalu, tanpa menunggu waktu lagi, ketua konferensi tersebut langsung membacakan keputusannya dan mengetuk palu sidang sebanyak tiga kali. ***** To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN