PROCLAMATION
Dept of Medieterial Law Enforcement
Ministerial Decree No. XXX
Regarding issues of the seeker's soul scanner failure due to the unknown-massive energy of human
It has been decided
Article (1) :
Established DHERYZA AKSELIA as a human being to be a COMPANION to ZENNIUS ARSENIO as a seeker, in order to implement all the seeker's protocols during one work period until the soul scanner recovered
Article (2) :
This decision shall come into effect from the date of its issue and shall be regulated by the concerned authorities
The Praeses of Medieter World Ministry
*****
"Dengan ini, saudari Dheryza Akselia ditetapkan sebagai rekan kerja untuk mendampingi saudara Zennius Arsenio dalam menjalankan tugasnya sebagai Seeker selama masa kerja satu periode. Ketentuan lebih lanjut akan dijabarkan dalam surat keputusan."
*****
Hal pertama yang dirasakan Dyza ketika kedua kelopak matanya membuka adalah sensasi hangat dari sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka.
Melihat ke sekeliling kamar yang tampak begitu manusiawi--tanpa dinding pualam, lantai kaca, dan seluruh objek tak masuk akal yang disaksikannya di dunia Medieter--membuat Dyza sempat berharap apa yang telah dilaluinya hanyalah sebuah mimpi. Sampai kemudian teguran Zen di ambang pintu menghancurkan segalanya.
"Selamat pagi, rekan kerja."
"Rekan kerja?" Dyza menautkan kedua alisnya. "Tunggu! Sejak kapan kita kembali?"
"Sepertinya ingatanmu belum terangkai secara utuh." Zen menghela napas lalu menarik kursi di sebelah tempat tidur Dyza. "Ini, minum dulu. Aku buatkan teh hangat. Jangan khawatir, kakekmu sedang mengurus tamannya di luar. Tidak ada yang melihatku."
Dyza mengamati Zen yang menggunakan wujud fisik lalu menyeruput tehnya perlahan.
"Enak ...." Puji Dyza secara tidak sadar yang membuat Zen tersenyum bangga.
"Tentu. Di kelas herbiologi dulu kami belajar membuat ramuan dengan metode ekstraksi ini."
Dyza meneguk cepat teh di gelasnya lalu berbalik pada Zen. "Metode dekokta!" serunya sambil menjentikkan jari.
"Ah, benar! Dekokta!" Zen ikut menjetikkan jari lalu menepuk tangan Dyza yang terulur.
"Di dunia Medieter ada tumbuhan juga?"
"Tentu. Dunia kami tidak segersang itu." Zen menghela napas. "Tapi jumlah tumbuhan alami di sana sangat terbatas, jenisnya pun jauh berbeda dengan tumbuhan di dunia mortal."
"Ada kebun teh juga?"
"Tidak ada. Tanaman budidaya di sana hasil rekayasa genetika dari tanaman di dunia manusia. Hanya untuk keperluan pengobatan. Aku biasanya beli teh di Alfamart untuk kubawa pulang. Aku paling suka teh kemasan botol yang ada gambar ulat di iklannya itu."
Dyza terkekeh, sejurus kemudian tanda tanya besar kembali terlintas di benaknya. "Bisa begitu? Bukankah materi akan hancur bila berteleportasi?"
"Teleportasi di dunia manusia dan di dunia Medieter itu berbeda. Dimensi mortal dibatasi oleh aturan ruang. Ada tekanan udara, gravitasi, suhu, kelembaban, dan semua semua komponen energi yang lain. Materi yang berteleportasi di dunia mortal tentu akan hancur karena mengimbangi seluruh energi tersebut."
Dyza mengangguk paham.
"Itu tidak berlaku di dunia Medieter. Kami para Luxa juga bisa membuat medan semu yang tahan terhadap aturan ruang untuk materi dunia mortal agar bisa di bawa ke dunia Medieter. Tapi itu terbatas untuk benda mati dengan ukuran tertentu. Makhluk hidup sekecil serangga pun tidak bisa, demikian pula benda berukuran besar."
"Kalau buku bisa?"
"Catatan kecil mungkin bisa."
Jawaban Zen membuat Dyza semringah. Ia kembali meneguk teh buatan Zen sampai habis setengah. Padahal baru semalaman ia meninggalkan tubuh mortal-nya, kerongkongannya terasa sudah sedemikian kering.
Tak lama berselang, satu per satu memori tentang persidangan di hall megah beberapa saat lalu terlintas di benak Dyza. Bagaimana malaikat agung yang disebut archangel itu tersenyum padanya sebelum menghilang, keputusan hakim tinggi, surat perjanjian kotrak, sampai protokol untuknya sebagai rekan kerja Zen.
Pada intinya, ia diharuskan membantu Zen untuk melaksanakan tugasnya sebagai Seeker yang bekerja pada Kementerian Perhubungan Dunia Medieter dalam divisi patroli tim SSAR alias Soul Search and Rescue. Protokol untuk Dyza sama seperti protokol yang berlaku untuk Zen--mencari arwah, membantunya melakukan verifikasi berkas dan mendapat sertifikat pemberangkatan, kemudian mengantarkannya ke terminal perbatasan pintu langit.
Dyza sendiri belum paham bagaimana Standard Operating Prosedure untuk tugasnya itu. Berhubung selama kurang lebih tiga tahun ia bergabung dalam Tim Bantuan Farmasi sebagai relawan yang ikut pembantu anggota Badan Penanggulangan Bencana untuk mencari dan menyelamatkan korban musibah, Dyza pikir teknisnya sama. Hanya saja subjek pencarian dan penyelamatannya kali ini dalam bentuk arwah--roh makhluk hidup yang sudah mati.
Tentu saja setengah belahan otak Dyza masih enggan mengakui kejadian tersebut sebagai sebuah fakta, namun semua hal yang terjadi padanya sangat nyata. Dyza lebih ingin disebut mengalami delusi dibanding meragukan fungsi kelima indranya. Lagipula, siapa yang butuh logika ketika berhadapan dengan malaikat?
"Kamu sudah ingat?" Suara Zen menyentakkan Dyza dari lamunannya.
"Sepertinya begitu. Aku ...," Dyza menepuk dirinya kemudian mengalihkan arah telunjukkan pada Zen, "dan kamu, harus bekerja sama."
Zen tersenyum lebar, tidak menyangka Dyza yang kemarin-kemarin sangat susah diberi pengertian bisa menjadi koperatif seperti ini. "Aku tahu kamu mungkin masih bingung dengan tugas ini. Akan kuberi tahu rinciannya nanti. Kamu ada kegiatan hari ini?"
"Hari ini hari minggu. Kegiatanku cuma membaca jurnal. Kenapa?"
"Membaca jurnal? Bukannya kemarin kamu bilang ujianmu sudah berakhir dan sisa pengurusan nilai?"
"Membaca jurnal itu hobiku." Dyza menyahut singkat sedang Zen yang mendengarnya hanya meringis.
"Kalau begitu bersiap-siaplah. Kita harus menemui seseorang."
"Siapa?"
"Teman lamaku. Mereka informan."
"Mereka? Ada banyak orang, kah? Aku tidak senang bertemu dengan banyak orang." Dyza meneguk tehnya sampai habis dan bersedekap.
"Cuma dua orang. Jangan khawatir, mereka sudah lama tinggal di dimensi ini dan lebih paham hal-hal yang bersifat duniawi."
"Oke. Sekarang tolong keluar. Aku mau mandi dan ganti baju. Jangan mengintip! Aku bisa melihatmu dalam wujud roh!" Dyza berkacak pinggang. "Jangan lupa berganti mode juga. Kakekku bisa jantungan melihatmu nanti."
"Iya, iya. Pemikiranmu jauh sekali." Zen hanya menggeleng sebentar lalu memutar badan. Baru sebelah kakinya yang melewati garis pintu, Dyza tiba-tiba memekik.
"Astaga! Aku baru sadar!"
"Kenapa?" Zen berbalik panik.
"Bagaimana bila sebelum ini ada Luxa dalam wujud roh yang mengintipku mandi!"
"Itu tidak mungkin!"
"Kenapa tidak?!" Dyza memicingkan matanya. "Malaikat pengawas bilang satu-satunya Luxa yang bisa terlihat olehku itu hanya kamu."
"Lalu?"
"Berarti ada banyak Luxa lain yang bertebaran di muka bumi yang tidak terlihat olehku!" Dyza bergidik ngeri.
"Ya, Tuhan! Makhlukmu yang satu ini benar-benar!" Zen berusaha sebisa mungkin tidak menarik hidung Dyza yang terlihat begitu menggemaskan di matanya. "Memang benar banyak Luxa lain selain aku. Tapi kami bekerja sesuai protokol. Tidak ada Luxa yang sedemikian kurang kerjaan sampai mengintip orang mandi. Lagipula, pelanggaran yang kami lakukan tercatat sebagai dosa juga."
"Bisa saja kalian khilaf!"
"Itu tidak akan terjadi."
"Masa?" Dyza mencibir. "Kenapa?"
"Sebab setiap kesalahan yang kami lakukan langsung mendapat ganjaran saat itu juga. Tidak menunggu waktu sampai hari pembalasan tiba, tidak seperti aturan untuk manusia."
"Kenapa seperti itu?"
"Karena Tuhan menyayangi manusia dan memberi mereka kesempatan untuk bertobat."
"Apa itu artinya Tuhan tidak menyayangi kalian?"
Pertanyaan dari Dyza seharusnya membuat Zen tersinggung, namun wajahnya yang tanpa prasangka dan penuh keingintahuan malah membuatnya tertawa.
"Sang Pencipta itu Maha Penyayang, Dyza. Tentu Tuhan menyayangi kami. Bila tidak, tidak mungkin kami diberi kesempatan hidup untuk kedua kali ini."
Mata Zen yang berkaca membuat Dyza enggan bertanya lebih jauh.
"Oh iya, untung aku tidak lupa. Jangan lepaskan kalung itu saat mandi."
"Hah?" Dyza spontan menunduk dan menyentuh kalung yang diberikan oleh malaikat penjaga kemarin. Ia bahkan melupakan permata indah yang mungkin bernilai kuadtriliunan rupiah per gramnya itu. Ini bukan pleonasme, tapi berapa harga yang bisa dipatok untuk batu mulia dari surga? Bahkan mungkin nominal mata uang terbesar di dunia ini tidak akan mampu menandingi nilainya.
"Kenapa? Aku kan, tidak dalam wujud roh. Aku menyatu dengan tubuhku." Mata Dyza menyipit. "Kamu tidak berpikir aku akan menjualnya, 'kan?!"
"Tidak." Zen mendengus setengah tertawa. "Ini karena malaikat yang berpesan seperti begitu. Kalung itu tidak boleh hilang, apalagi jatuh di tangan yang tidak tepat."
"Secara tidak langsung, kamu berkata ada yang ... mengincar kalung ini?"
Zen melenggut kecil, berusaha terlihat santai. "Untuk segala sesuatu yang berharga, pasti ada menginginkannya. Tapi tenang saja, selama kalung itu melekat di tubuhmu, tidak akan ada yang bisa merebutnya."
"Uh, oke. Tidak akan kulepas." Dyza berirkar.
"Nice human."
Dyza yang sibuk bergaya di depan cermin dengan kalungnya menoleh pada Zen. "Ah, ngomong-ngomong malaikat penjemput itu bilang aku bisa mengendalikan wujudku dengan kalung ini. Betul begitu, Zen?"
"Betul. Caranya mudah. Pejamkan mata, fokuskan pikiran, feel the energy and free."
Dyza segera mempraktekkan instruksi dari Zen. Benar saja. Begitu mencapai titik fokus, tubuhnya terasa ringan lalu hanya dengan seperti itu rohnya pun terdorong keluar.
Zen bersegera meraih tubuh fisik Dyza yang langsung jatuh terkulai dan hampir terbentur sudut meja. "Hei! Lihat-lihat situasi juga, dong!" serunya pada roh Dyza yang bergeming tidak percaya karena berhasil melakukan proyeksi astral--mengeluarkan roh dari tubuh dengan kemampuannya sendiri.
"Astral projection! Tidak kusangka itu benar-benar bisa terjadi."
"Itu karena kekuatan paradise stone, bukan sejenis teori yang kamu katakan itu." Zen meluruskan.
Dyza berbalik dan menemukan tubuhnya dalam dekapan Zen.
"Lain kali jangan sembarangan keluar dari tubuhmu. Perhatikan lingkungan sekitar juga!"
Dyza hanya menyengir. "Bagaimana aku masuk kembali?"
"Langsung masuk saja. Kusarankan ambil ancang-ancang sedikit, tapi jangan terlalu besar. Nanti tubuhmu--ADUH!"
Belum selesai Zen berujar, Dyza sudah meloncat menerjang tubuh fisiknya hingga ia terbangun dalam keadaan tersentak dan kepalanya terantuk pada dagu Seeker yang telah menjadi rekan kerjanya tersebut.
"Benar-benar! Aku bilang jangan ambil ancang-ancang yang terlalu besar, malah loncat sembarangan!"
Dyza menggosok ubun-ubunnya sambil meringis. "Di film-film biasanya seperti itu."
"Itu contoh yang tidak benar, jangan ditiru!"
"Iya deh, iya! Maaf." Menyadari posisi mereka yang sangat dekat hingga ia bisa merasakan deru napas Zen, Dyza pun berdiri dan mengambil posisi berbaring di tempat tidur.
"Katanya mau mandi, kenapa tiduran lagi!"
"Sebentar! Aku mau coba astral projection lagi. Seru juga ternyata!"
Zen hanya bisa menggelengkan kepala melihat Dyza berulang kali keluar masuk tubuhnya dengan girang. Tampaknya ia sudah meracuni pemikiran anak manusia yang sangat rasional tersebut.
"Berhenti."
Dyza menatap Zen yang mencegahnya memasuki tubuhnya yang terbaring.
"Kenapa?"
"Bagi manusia, ada batasan untuk mengeluarkan roh dari tubuh." Zen membasahi bibirnya. "Maksimal sembilan kali."
"Aku baru melakukannya lima kali."
"Keluar dan masuknya dihitung terpisah."
"Apa?!" Dyza dalam wujud rohnya memekik histeris. "Tapi dengan ini aku sudah melakukannya sebanyak sembilan kali! Jadi bagaimana aku bisa masuk ke tubuhku lagi?! Kata malaikat penjemput, aku bisa mati kalau di dunia mortal ini aku terlalu lama berada di luar tubuh!"
"Baguslah. Agar kamu bisa menjadi rekan kerjaku selamanya." Zen mengedikkan bahu lalu keluar dari kamar sambil menahan tawanya yang kemudiah pecah di ruang tengah.
"ZEEEN!!!
Dyza yang mengejar Zen mematung seketika begitu sampai di ruang tengah. Demikian pula Zen yang berdiri membelakanginya. Keduanya menjatuhkan tatapan pada satu subjek yang sama.
"KA-KAKEK ANDREW?!"
*****
To be Continued