21. Novice

1500 Kata
Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan berpasang-pasangan. Laki-laki dengan perempuan, kanan dengan kiri, positif dengan negatif, matter dengan anti-matter, juga kabar baik dan kabar buruk.       Dyza bisa memberikan contoh bagaimana perbedaan genosom antara laki-laki dan perempuan, resultan gaya yang memberi arah berlawanan kanan dan kiri, muatan yang menghasilkan nilai positif dan negatif, juga energi sub-atomik materi dan anti-materi, tetapi kali ini ia akan memberi contoh untuk permisalan yang terakhir yang tidak dalam konsep ilmu pengetahuan, kabar baik dan kabar buruk.        Kabar baiknya adalah kakek Andrew yang menjumpai Zen di ruang tengah sama sekali tidak terkejut apalagi curiga, bahkan menyambut Zen dengan beramah-tamah. Adapun kabar buruknya--yang membuat Dyza pusing setengah hidup--adalah alasan kakeknya itu menerima kehadiran Zen, yang tak lain karena menganggap Luxa tersebut sebagai calon penghuni baru yang ingin menyewa salah satu kamar di lantai atas rumah mereka.         Dyza tahu kakek Andrew sangat menekankan padanya untuk mencari teman, tapi ia tidak menyangka kakeknya itu bertindak terlalu jauh bahkan sampai memasang papan di depan rumah--yang segera ditanggalkannya dengan bantuan Zen. Namun mendebat kakek Andrew bukan pilihan yang bijak, sebab diberitahu hari ini, kemungkinan besar kakeknya itu akan lupa keesokan hari.        Pada akhirnya, Dyza mengalah dan berjanji akan mencari penghuni baru untuk kamar-kamar lain di rumahnya sebagai ganti karena telah mencopot reklame tersebut. Tentu saja hanya sekedar janji yang tidak niat direalisasikan. Sungguh, bahkan dalam keadaan krisis moneter sekalipun Dyza tidak ingin memberiarkan sembarangan orang menempati rumah warisan orang tuanya itu. Cukup Zen saja.         "Zeeen! Berhenti! Itu lampu merah!"        Dyza mengeratkan pegangannya pada jaket Zen begitu Seeker yang mengendarai motornya itu mengerem mendadak. Jiwanya yang sejak dari persimpangan jalan protokol di depan kompleks mengawang-awang terasa kembali lagi. Kalau seperti ini, tanpa menggunakan kalung pemberian dari Enn angel sekalipun Dyza bisa melepas rohnya dari tubuh dengan mudah.          Setelah makan siang dengan Kakek Andrew tadi, Dyza dan Zen meminta izin untuk keluar sebentar. Semua berjalan lancar, bahkan kakek Andrew terlihat senang. Terlebih Zen telah lebih dulu mengenalkan dirinya sebagai teman kampus Dyza. Sekarang mereka tengah menuju ke sebuah kafe di pusat kota.         Oke, sepertinya Dyza harus meralat. Semua berjalan lancar hanya sampai di depan gerbang kompleks. Sebab cara Zen berkendara berpotensi membuat orang terkena serangan jantung. Dyza harus memastikan Zen tidak pernah membonceng kakeknya.          Sebenarnya Dyza tidak meragukan kemampun Zen dalam mengendarai motor, apalagi kakinya yang panjang sangat mudah menapak ke tanah dan tidak memungkinkan mereka untuk jatuh. Hanya saja Zen tidak paham aturan lalu lintas yang memungkinkan mereka berakhir di dua tempat. Rumah sakit atau kantor polisi. Atau rumah sakit kepolisian yang disesaki oleh korban maupun pelaku kriminal dan lakalantas, tempat Dyza magang dulu. Ditambah lagi Zen tidak punya surat izin mengemudi. Dyza tentu bukan orang bodoh yang ingin melanggar aturan membawa kendaraan. Akan tetapi Zen terlalu macho untuk membonceng di belakangnya.         "Aturan lalu lintas di dimensi ini ribet sekali!" Zen menggerutu begitu memarkirkan motor di depan kafe yang mereka tuju. Di sebelahnya Dyza mengatur napas sambil memegang lutut. Sungguh,  dibonceng oleh Zen lebih menguras adrenalin dibanding naik roller coaster.        "Pelindung kepala ini juga berat sekali!" sungut Zen lagi lalu melepas helm. Di dunia Medieter,  mereka juga menggunakan kendaraan seperti motor, mobil, dan kereta untuk memindahkan barang dalam jumlah banyak dan bervolume besar. Tetapi hukumnya tidak seketat aturan di dunia manusia.        Dyza yang mengikuti Zen berhenti di depan pintu kafe. "Zen, kenapa lokasinya harus di sini, sih?"         Zen berbalik. "Ini tempat pilihan temanku, aku hanya ikut saja. Kami biasa berkumpul di sini. Kenapa?"       "Eh-oh, tidak! Tidak apa-apa!" Dyza mengibaskan tangannya berulang kali, meski perasaannya begitu was-was. Kafe tersebut tempat nongkrong Ryo dan kawan-kawannya, dan Dyza masih emosi dengan segala tabiat laki-laki bunglon tersebut.         "Jangan bohong. Beritahu aku, ada masalah apa?" Zen berdiri tepat di depan Dyza dan mendesaknya.         "Mmm ... pengunjung kafe ini Luxa atau manusia?" Dyza memilih pertanyaan lain yang memang membuatnya pensaran juga.       "Aku pikir apa!" Zen tertawa kecil. "Tenang saja, selain aku dan dua orang temanku, pengunjung di sini manusia semua."      Dyza hanya mengangguk singkat dan menurut saat Zen menariknya ke salah satu meja di pojok ruangan. Dua orang laki-laki berparas identik tampak menunggu di sana.       "Zen! Kenapa lama sekali!"       Seorang di antara saudara kembar menyambut Zen,  sedang saudaranya yang satu langsung menyapa Dyza.       "Oh, kamu pasti Dyza, 'kan? Dheryza Akselia!" Dyza merapatkan tubuhnya pada Zen. "Mereka tahu aku, Zen?" "Tentu kami tahu! Lagipula statusmu sedang viral di dunia Medieter." "Dan sangat kontroversial, seperti Lucinta Luna." "Enak saja!" Dyza mengerutkan sebelah wajahnya mendengar jawaban dua saudara kembar tersebut. "Jangan tersinggung dulu, yang kami maksud itu statusmu sekarang.  Lucinta Luna cuma contoh. Tenang saja, masih cantikan kamu kemana-mana, kok! Dan yang paling penting, lebih jelas!" "Jelas apanya?" Zen ikut penasaran. "Jelas "itu"nya" "Aku tidak mengerti." Zen mendengus lalu menarik kursi untuknya dan Dyza. "Lansung saja, seperti yang sudah kalian tahu, ini Dyza." "Halo, Dyza! Nice to meet you! Ternyata kamu lebih cantik daripada yang di foto, padahal kupikir itu karena hasil editan di Xiuxiu atau BeautyPlus." Dyza hanya meringis melihat bagaimana Luxa yang pertama kali menyapanya itu kembali berkelakar. "Perkenalkan namaku Reva." Dyza melihat Luxa bernama Reva tersebut menunjuk suadaranya yang tampak antipati. "Dan ini saudara kembarku, Rava. Karena kami tidak ingat kehidupan kami sebelumnya, kami tidak tahu siapa yang lahir lebih dulu." "Halo, Reva. Halo, Rava." Dyza tersenyum kecil. "Kalian pasti Upin dan Ipin versi dunia Medieter." Rava yang semula tidak bicara banyak kini bergumam, "Dan kamu Kak Ros yang garang." "Hah? kalian tahu Upin dan Ipin? Apa saluran MNC tv sampai ke dunia Medieter juga?" Dyza yang hanya bergurau terkejut saat Rava membalasnya. Reva dan Rava tertawa berbarengan. "Tidak, lah! Kami sudah lama tinggal di dunia manusia, makanya kami tahu. " Reva menunjuk Rava. "Aku dan Rava selalu menonton Upin dan Ipin juga. Rava suka Jarjit. Aku suka Cikgu Melati sama Hideko!" "Hideko ... temannya Kak Ros?" "Benar! Kamu suka Upin-Ipin, juga?" Dyza mengangguk kecil. "Aku lumayan suka film animasi dan kartun. Lagipula, tayangan tv sekarang banyak yang kurang bermutu," jawabnya. "Bukannya kamu manusia yang hobi belajar? Kamu menonton tv juga?" Kali ini Rava yang bertanya. "Aku biasa belajar sambil menonton." "Kamu suka Pada Zaman Dahulu juga, tidak?" Lagi, Dyza membalas dengan anggukan. "Ya, itu mengingatkanku pada cerita papa waktu kecil dulu." Zen hanya bisa melongo melihat Reva, Rava dan Dyza sibuk bercengkrama mengabaikan kehadirannya. Bahkan Rava yang selalu anti terhadap manusia terlihat mulai akrab dengan Dyza. "Kalian ini bicara apa, sih?!" Zen mengetuk meja. "Oh, maaf Zen! Ini pembicaraan internal sesama sobat Les' Copaque ehehe." Reva dan Rava menyengir. "Baik. Sekarang kita fokus untuk membahas masalah kalian." Dyza menggeser kursinya dan berbisik di telinga Zen. "Mereka tahu hasil persidangan kita, Zen? Bukannya ini rahasia?" "Tentu saja rahasia." Dyza terkesiap begitu Rava bersuara. "Tapi rahasia Zen, rahasia kami juga. Lagipula rumor tentang persidangan fenomenal kalian itu sudah tersebar sejak awal." Reva menunjukkan beberapa artikel di laptopnya. "Fenomenal?" "Tentu. Ini sidang pertama sepanjang sejarah yang dihadiri manusia hidup." "Memang manusia yang mati pernah menghadiri sidang juga?" "Manusia yang mati tidak lagi disebut manusia." Rava mendengus kecil. "Sebut mereka arwah." "Kalau manusia yang mati tidak lagi disebut manusia,  maka tidak usah menyebut manusia yang hidup dengan sebutan manusia hidup, cukup manusia saja." Dyza memutar matanya tak ingin kalah. "Itu hiperbola." Reva dan Rava meringis berbarengan. "Oke, oke. Dasar manusia. Biar urusannya gampang, kamu yang benar, deh." "Memang aku benar." Zen menghela napas. "Beberapa arwah yang melakukan pelanggaran juga diadili dan dihukum." Ia lalu beralih pada Reva dan Rava. "Bukankah sidang kami tertutup? Protokol perlindungan saksi bagaimana?" "Tenang saja,  Zen. Protokol persidangan tetap tidak bisa dilanggar. Identitas kalian dijaga ketat oleh kementerian. Malaikat pengawas memberi peringatan tegas untuk itu. Para wartawan hanya menggunakan kata ganti "seeker tersebut" atau "manusia itu" untuk menyebut kalian. Zen mengangguk-angguk. Di persidangannya yang pertama memang banyak wartawan yang datang meliput. Mustahil isu tidak menyebar. "Btw, tentang tugas kalian, kami bisa membantu mencari tahu masalah hidup para arwah yang belum terselesaikan di dunia." Rava menyahut. Dyza menyimak baik-baik penuturan tersebut. Di rumah tadi Zen sudah menjelaskan garis besar tugas mereka. "Tapi sebelum itu kita harus mengetahui identitas mereka dan menemukan posisinya. Lebih baik lagi bila kita membuntutinya sebelum hari H."Reva menimpali. "Hari H itu ...?" Dyza mengerutkan kening, ragu-ragu untuk meneruskan. "Hari kematian." Rava membalas dengan santai. "Benar!" Reva berseru.  "Kita hanya perlu mengawasi saja, tanpa mencampuri bagaimana dia mati." "Zen bisa menemukan posisi arwah dengan sensornya. Tapi, bagaimana kita mengetahui identitas arwah itu? Maksudku, bagaimana cara kita mengetahui siapa yang akan ... mati?" Dyza memelankan suara di akhir kalimatnya. "Pertanyaan yang bagus." Reva dan Rava mengulas senyum. "Ternyata benar bahwa kamu manusia yang cerdas." Zen mengamini pernyataan Reva dan Rava. Beruntung sekali Dyza tipe pemikir cepat yang bisa paham dengan sekali penjelasan. "Kita akan menemui satu-satunya orang yang memiliki catatan hitam profil para calon arwah di region ini."       "Ada yang punya catatan seperti itu?" Dyza memutar badan pada Zen. "Siapa?" tanyanya penasaran      "Asisten malaikat pencabut nyawa.       Dyza mengerjap beberapa kali dengan mulut terbuka. Asisten malaikat pencabut nyawa? Dia tidak salah dengar, 'kan?       Pembenaran dari Reva dan Rava membuat Dyza serasa ingin memuntahkan kembali brownis pisang yang baru melintas di pangkal kerongkongannya. Bila asisten laboratorium saja sudah sedemikian sensitif dan kejam bagai dementor yang menyerap kebahagiaan, bagaimana dengan asisten malaikat pencabut nyawa yang akan mereka temui itu? ***** To be Continued  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN