22. Grim Reaper

863 Kata
Kyra tengah merampungkan catatan ketika bel pintu apartemennya berdering. Ada gurat kebingungan di wajahnya. Sejauh ini tidak ada yang pernah bertamu karena segan pada Arzel. Arzel sendiri tidak pernah membunyikan bel. Malaikat maut itu akan muncul tiba-tiba--kebiasaan yang membuat Kyra sport jantung tiap hari di periode awal ia menjalankan profesinya sebagai Death notarie. Dan lagi, Arzel baru pergi beberapa saat yang lalu. Siapa gerangan yang mengunjunginya?      Dengan mendekap kedua lengannya, Kyra berjalan menuju pintu. Arzel selalu memperingatkan untuk tidak keluar terlalu jauh tanpa teman karena ada banyak bahaya yang mengintai, baik oleh manusia berhati bilis maupun oleh iblis berwujud manusia.      Selama di dunia mortal ini Kyra tidak pernah berteman dengan manusia yang benar-benar bisa dikategorikan sebagai hubungan pertemanan, paling hanya menyapa atau tersenyum pada seseorang yang ditemuinya. Ketua geng motor yang berpulang kemarin adalah manusia pertama yang berbicara banyak padanya. Setelah menyelamatkannya dari kawanan begal, ketua geng motor tersebut menemani Kyra pulang. Sepanjang jalan mereka bertukar cakap cukup banyak, meski tidak lebih dari sekedar ucapan terima kasih Kyra dan peringatan dari laki-laki bertato tersebut untuk berhati-hati. Sebagai balas budi, Kyra ingin memberikan hadiah sekaligus menjadikannya teman manusianya yang pertama, namun takdir Tuhan berkata lain.       Mungkinkah iblis? Kyra terkesiap. Siapa lagi yang berani menentang malaikat selain iblis? Sejak pulang dari kafe kemarin perasaannya memang tidak enak.       Kyra merapalkan berbagai doa dan memasang medan perlindungan diri sebelum membuka pintu. Matanya yang membulat untuk menajamkan fokus seketika berbinar melihat siapa yang berada di balik pintu.        "Zen!"      "Selamat sore, Princess Kyra." Zen tertawa kecil dan merentangkan tangannya menyambut Kyra.         "Zen, kamu kapan tiba?" Kyra membalas pelukan Zen.       "Kemarin." Zen mengusap kepala Kyra. "Bagaimana keadaanmu? Reva dan Rava bilang kamu sedang bersedih."        "Sekarang tidak lagi, kok." Kyra menoleh dan mendapati Reva, Rava, dan satu orang perempuan berjalan menghampiri mereka.       "Reva! Rava! Kalian juga datang?" Kyra bersorak kecil lalu beralih pada perempuan di sebelah Rava. "Ah, kamu pasti Dyza, kan?"       Dyza yang terpaku menatap sosok Kyra hanya mengangguk kikuk. Zen pernah bercerita tentang Kyra tapi ia tidak menyangka sosoknya secantik bidadari. Ia terpaku begitu Kyra tersenyum padanya, mata bulat yang kini membentuk lengkungan panjang itu seolah bisa menguapkan seluruh lelah dan penatnya seharian ini.   "Perkenalkan, namaku Kyra. Kyra Edelline. Senang bertemu denganmu." Kyra menatap gembira pada Dyza. Sejak dulu ia menginginkan teman perempuan. "Kenapa? Ada sesuatu di wajahku, ya?" tanyanya melihat Dyza terus memperhatikan wajahnya.       Dyza menggeleng lalu menyikut Zen. "Kamu bilang kita akan menemui asisten malaikat pencabut nyawa!" bisiknya.       "Kyra adalah asisten malaikat pencabut nyawa." Reva berceletuk.       "Hah?!" Dyza berbalik pada Kyra, "Kamu asisten malaikat pencabut nyawa itu?!"       Anggukan dari Kyra membuat Dyza membulatkan mata.       "Asisten malaikat pencabut nyawa kok, bisa secantik ini? Tadi kupikir bidadari!"       Zen, Reva, dan Rava kompak tertawa sementara Kyra hanya menunduk tersipu.       "Kamu orang kesejuta yang berkata begitu," seloroh Reva dan Rava.      "Sudah, sudah. Ayo, masuk!" Kyra membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan masuk.       "Dia tidak ada, kan?" Kyra terkekeh, ia tahu betul siapa yang dimaksud oleh Reva dan Rava.  "Tidak. Arzel baru saja pergi." Dyza baru ingin mempertanyakan siapa gerangan sosok Arzel saat suara Reva dan Rava menyela. Mereka mengitari apartemen Kyra dengan girang. "Wah, Kyra! Kamarmu luas sekali!"  seru kedua saudara kembar tersebut. Kampungan sekali. Kentara banget mereka anak kosan.  Dyza berdecak dalam hati namun ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apartemen Kyra memang luas dengan desain interior yang didominasi warna-warna lembut. Beberapa tamanan hias yang  ditata rapi di beberapa titik makin menambah estetika ruangan tersebut.       "Kalian bisa tinggal lama kalau mau," sahut Kyra membenahi barang-barangnya di atas meja.         Reva menghempaskan tubuhnya di sofa. "Itu tidak mungkin, Kyra. Kami tidak berani datang ke sini kalau saja Zen tidak punya surat konfirmasi dari kementerian untuk meminta bantuan dalam menjalankan tugasnya."      "Oh, ya?" Kyra meng hampiri Zen dan membaca surat yang dimaksud. "Surat apa ini?" “Ini surat yang diberikan kementerian. Kami--aku dan Dyza, diperkenankan untuk meminta bantuan pada para pengurus kematian dan profesi yang terkait dengan itu dalam menjalankan protokol  tugas kami.”      Sementara Zen menjelaskan perihal surat konfirmasinya, Dyza berjalan ke ruang di dekat jendela yang hanya berbatas sekat dan mengamati bunga-bunga yang tertata rapi di sana.       "Ini bunga jenis apa?" Dyza terkesima melihat keindahan bunga tersebut. Warna kelopaknya putih bersih, tetapi bila diperhatikan lebih detail, ada gurat-gurat berwarna pink bercahaya di sela-selanya. Batangnya bening, berisi cairan dengan kristal-kristal kecil berkilauan.      "Jangan sentuh itu!"      Dyza menoleh dan mendapati seorang laki-laki dengan kaos dan celana jeans berwarna hitam senada.      "Kamu siapa?"       "Aku bilang jangan sentuh!"       "Apa, sih! Main larang sembarangan! Bukan kamar kamu, juga! Kamu pembantunya Kyra, ya?!" Dyza berusaha menampik tangan laki-laki yang mencengkram pergelangan tangannya itu.      "Astaga! Arzel!"      Dyza memutar kepalanya dan mendapati Kyra, Zen, Reva, dan Rava menatapnya dengan gamang. Bukan, bukan padanya. Tetapi kepada laki-laki di sebelahnya.      Jadi dia Arzel? Dyza yang membantin terbeliak seketika begitu pergelangan tangannya memucat. Pembuluh darahnya yang tadi terlihat samar kini mencuat ke permukaan.      "Hei, manusia. Jangan pernah menyentuh bunga itu atau kulemparkan rohmu ke gerbang kematian."      "Ka-kamu sebenarnya siapa ...?" Dyza bergidik ngeri.      "Dia malaikat pencabut nyawa."      Bisikan lirih dari Rava membuat kaki Dyza melemas seketika. ***** To be Continued  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN