Tidak ada yang lebih menyeramkan dibanding mendengar satu per satu nama calon arwah yang disebutkan Death Notarie dengan disaksikan langsung oleh malaikat pencabut nyawa. Bahkan menggali kuburan untuk diri sendiri terdengar masih lebih menyenangkan. Setidaknya, begitulah penggambaran situasi yang tengah Dyza alami saat ini.
Dyza terus menahan napas tiap kali Kyra membacakan nama calon arwah yang dituliskannya pada mortascript. Ditambah dengan tatapan maut penuh intimidasi dari Arzel yang tak lain perwujudan dari istilah maut itu sendiri.
Uh! Dyza meringis dalam hati dan buru-buru menunduk saat tak sengaja bertemu mata dengan Arzel. Lelaki itu sebenarnya menyaingi ketampanan Zen--ya, namanya juga spesies malaikat. Berbeda dengan Zen yang warna kuliatnya eksotis, Arzek berkulit putih pucat, kontras dengan alis hitam pekat yang menukik serta kedua nertra gelap yang senantiasa menatap tajam dan lurus. Proporsi wajahnya pun tampak sempurna. Hanya saja aura kelam yang menguar tadi luar biasa mengguncang jiwa, padahal itu belum sosok aslinya. Konon, saking menakutkannya wujud malaikat kematian itu saat mencabut nyawa, semua makhkuk hidup yang berhadapan dengannya akan memohon untuk mati.
Arzel adalah seorang De angel, malaikat untuk urusan sehari-hari di dunia manusia. Oleh karena itu, berbeda dengan Enn angel dan Archangel, mereka bisa menyembunyikan cahaya serta energi mereka dan mengambil wujud manusia secara sempurna--kecuali dalam keadaan tertentu seperti ketika sedang tidak menyukai sesuatu.
Malaikat pada dasarnya memang memiliki kemampuan mengungkapkan emosi yang terbatas. Mereka tidak merasakan sedih, marah, kesal, maupun gembira. Kyra berkata bahwa sejauh ini Arzel hanya memberikan respon suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Dan hal yang dilakukan Dyza tadi--menyentuh bunga-bunga dari taman langit pemberiannya--masuk ke dalam kategori sesuatu yang tidak disukai Arzel. Terlebih Dyza dengan lancangnya menyebut Grim Reaper itu sebagai pembantu Kyra.
Sampai kapan dia akan menatapku seperti itu?! Dyza merutuk karena salah tingkah, kalau terus seperti ini ia tidak bisa konsentrasi menulis. Bukan salah tingkah yang manis nan malu-malu karena diperhatikan cowok ganteng. Oke, Arzel memang ganteng. Kelewat ganteng malah. Tapi ganteng-gateng serigala rasanya masih lebih mending dibanding ganteng-ganteng malaikat pencabut nyawa.
Dyza tidak sedang menghina malaikat, sungguh. Meminjam istilah Zen, atas nama Tuhan. Tetapi kecaman Arzel begitu menguras adrenalin. Bila saja Kyra tidak memohon agar malaikat itu memberi ampunan untuknya, mungkin Dyza benar-benar sudah meringkuk di depan pintu gerbang kematian sekarang. Dan bila bukan karena surat konfirmasi permohonan bantuan yang diberikan oleh kementerian, mereka berempat sudah pasti akan dilempar keluar dari lantai sembilan apartemen mewah tersebut.
"Erika Natasyah."
"Hah?! Erika siapa?!" Dyza langsung terkesiap begitu mendengar nama yang disebutkan Kyra. Inilah hal yang dikhawatirkannya sedari tadi. Dyza tidak siap dan tidak akan bisa siap mendengar nama seseorang yang dikenalinya dalam daftar catatan di mortacript tersebut. Bahkan untuk nama Azka yang tidak ingin diingat olehnya lagi. Tapi kalau Ryo, boleh-boleh saja.
"Erika Natasyah," ulang Kyra.
"Ah, syukurlah! Kupikir Erika Carissa! Dia temanku!" Dyza tanpa sadar berseru lega.
Zen di sebelah Dyza mendengus kecil lalu menepuk kepalanya. "Hei, kamu sadar baru saja menyusukuri kematian seseorang?"
"Bukan, bukan begitu! Aku bersyukur karena dia bukan Erika yang kukenal." Dyza mengibaskan tangannya di depan wajah. "Aku juga tidak berharap Erika yang satu itu meninggal. Tapi aku lega karena dia bukan Erika temanku!"
Kyra yang mendengar itu hanya tersenyum getir. Ia paham kekhawatiran Dyza. Sama seperti perasaannya hari-hari yang lalu saat harus menuliskan nama laki-laki ketua geng motor yang pernah menolongnya beberapa kali.
"Makanya dengarkan baik-baik!" Arzel yang tadinya diam memperhatikan kini angkat bicara. "Kalau kamu tidak bisa menggunakan telingamu itu dengan benar, duduk dan diam di sana. Biar kututup pendengaran dan penglihatanmu juga!" katanya menunjuk Reva dan Rava yang duduk diam pojok ruangan dengan kelopak mata terpejam involunter.
Arzel telah menutup pendengaran dan penglihatan mereka untuk mengamankan protokol kematian. Jangan tanyakan bagaimana. Bahkan Dyza yang mendapat nilai tertinggi pada mata kuliah Anatomi dan Fisiologi tidak bisa menjelaskan seperti apa mekanisme saraf kranial yang berperan mengatur pergerakan kelopak mata itu mengalami perubahan sifat menjadi saraf otonom yang bekerja di luar kehendak.
Demikian pula dengan sumbat tak kasat mata yang merintangi kedua cuping telinga Luxa kembar tersebut dari getaran udara. Tapi Dyza sudah cukup paham untuk tidak mengatakannya sebagai hal yang tidak masuk akal. Meminjam istilah Zen lagi, semua yang terjadi di luar akalnya sebagai manusia.
Arzel juga telah menutup akses kamar Kyra dengan penghalang kedap suara yang seribu kali lebih kuat dari barier yang bisa dibuat Luxa. Penyekat tersebut bahkan tidak bisa disadap para iblis dan pengikutnya.
Dyza kembali mengamati Reva dan Rava yang mulai saling ricuh. Dua saudara kembar tersebut tampaknya tidak bisa kalem barang sebentar saja.
"Rava! Kamu dengar suaraku, tidak?!"
"Suara batinmu kedengaran. Suara aslimu tidak. Kamu sendiri?"
"Sama! Suara batinmu saja yang kedengaran!"
"Astaganaga, Arzel benar-benar menutup pendengaran kita! k*****t!"
"Memang k*****t dia! Mentang-mentang ganteng! Eh, maksudku mentang-mentang malaikat pencabut nyawa!"
"Benar! Apa-apaan pula dengan mata kita! Apa dia pakai Lem Alteco sampai bisa merekat sempurna begini!"
"Kayaknya sih, Lem Korea!"
Dyza, Zen, dan Kyra hanya bisa meringis tertahan sambil mencuri pandang ke Arzel yang tetap memasang wajah datar.
"Btw, Arzel tidak dengar, kan?" Rava kembali berujar dengan suara lantang.
"Tidak, lah! Ini kan telepati. Kamu tidak mendengar suara asliku, kan?"
"Iya juga, sih! Tapi bukannya pendengaran kita yang memang ditutup?"
"Hah, benar juga! Gawat bisa-bisa Arzel--!
Perkataan Reva terpotong begitu saja saat Arzel melecutkan satu jarinya dan mengunci mulut dua saudara kembar tersebut hingga tidak bisa digerakkan lagi.
Dyza bergidik ngeri dan meringsut ke arah Zen. "Malaikat maut itu sensi amat! Kayak cewek PMS!" desisnya.
"Hussst! Dia bisa dengar, tahu!" Zen membungkam Dyza dengan telapak tangannya lalu memasang senyum manis pada Arzel yang menjatuhkan tatapan sinisnya pada mereka.
"Kamu bilang apa?!" Arzel berdiri dari duduknya.
"Arzel, sebaiknya kita tidak terlalu menanggapi kata-kata manusia. Ya?" Kyra menahan Arzel dan menariknya pelan untuk duduk kembali.
Dyza memperhatian Arzel yang beralih pada Kyra. Walau tidak begitu jelas, ada perubahan di wajah malaikat maut tersebut. Arzel terdiam cukup lama baru kemudian kembali duduk. "Ya, sudah! Selesaikan urusan kalian segera!" ujarnya menyilangkan kaki.
"Baik. Sekarang sisa profil para arwah yang sudah meninggal sejak tiga bulan yang lalu." Kyra kembali menyingkap mortascript miliknya.
Dyza buru-buru mencatat nama yang kembali disebutkan Kyra. Dalam hal ini ia yang mengambil alih sebab tulisan tangan Zen sebelas-dua belas dengan tulisan resep. Rebah dan bersambung--yang menguji ketajaman mata dan kesabaran untuk di baca. Tulisan Dyza sendiri tidak bisa dikategorikan bagus untuk saat ini, sebab tangannya terus bergetar karena gugup. Tekstur kertas yang diberi Kyra juga kasar dan berserat. Kertas tersebut adalah kertas khusus untuk pengiriman pesan rahasaia yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu, dalam hal ini hanya Zen dan Dyza.
"Selesai!" Dyza melakukan high-five dengan Zen dan Kyra, lalu segera mengambil posisi siap saat Arzel berdeham.
"Untuk kalian berdua." Arzel berdiri sembari menatap Zen dan Dyza bergantian. "Bila informasi dalam catatan tersebut sampai bocor, akan kuputuskan setiap urat nadi dalam tubuh kalian perlahan-lahan sampai kalian merasa hidup tidak kalian tidak lebih baik dari mati. Ingat baik-baik itu!"
Dyza menelan ludah dengan susah payah dan mengangguk terpatah mendengarnya.
"Atas nama Tuhan kami berjanji." Zen mengangkat tangannya.
Arzel hanya mengangguk kecil. "Dan kamu Kyra, jangan lalaikan tugas utamamu."
"Baik." Kyra menjawab mantap.
"Jadi, apa yang harus kita lalukan selanjutnya?"
Zen menoleh pada Dyza dan tersenyum tipis. Tampaknya anak manusia yang sudah resmi menjadi parner kerjanya itu mulai terbiasa.
"Kita fokus pada arwah yang telah meninggal dulu. Waktu mereka untuk bisa berangkat menuju terminal perbatasan pintu langit terbatas."
Dyza melenggut. "Lalu apa rencanamu?"
"Biar Kyra yang menjelaskan." Zen mempersilakan Kyra di sebelahnya.
"Pertama, kita akan mengunjungi Dinas Pencatatan statistik Dunia Medieter. Kalian bisa menemukan arwah yang belum melakukan pengisian formulir identitas di sana. Setelah itu baru pencarian bisa dilakukan." Kyra menatap Arzel yang memang sudah menunggu kata-katanya. "Boleh 'kan aku mengantar mereka? Tugasku di sini sudah selesai semua."
"Kalau aku bilang tidak boleh, kamu tidak akan pergi?"
"Tapi ...."
"Lihat?" Arzel mendengus. "Untuk apa kamu meminta izin kalau pada akhirnya kamu menyangsikan."
Kyra menunduk dan memainkan ujung dress-nya. "Aku tidak akan pergi kalau kamu tidak memberi izin, kok. "
"Kata siapa aku tidak memberimu izin. Kalau mau pergi tidak usah banyak tanya, pergi saja. Aku tidak akan ikut." Setelah berkata demikian Arzel menghilang begitu saja.
"Apa-apaan, sih dia! Nggak jelas banget! Kamu tahan bekerja dengannya, Kyra?" Dyza mengerutkan wajahnya dengan enek. "Apa katanya tadi? Tidak akan ikut? Siapa juga yang mengajaknya? Kepedean!"
Kyra yang baru ingin menyahut spontan menutup mulut begitu menatap ke arah Dyza. Demikian pula Zen yang meringis tertahan.
"Kenapa?" Mendapati respon yang tidak biasa dari Kyra dan Zen membuat Dyza memutar badan. "Ya, Tuhan! Ma-malaikat maut! Sejak kapan kamu disitu?"
"Apa katanya tadi. Tidak akan ikut. Siapa juga yang mengajaknya. Kepedean." Arzel mengulang perkataan Dyza hampir tanpa intonasi. "Sejak saat itu."
Dyza memejam erat saat Arzel berjalan melewatinya menuju Reva dan Rava yang masih dalam pengaruh kekuatannya.
"Astaga, Reva dan Rava! Bagaimana kita bisa lupa?" Kyra ikut menghampiri keduanya dan berdiri di sebelah Arzel.
Arzel menoleh sebentar pada Kyra yang menatapnya penuh harap lalu melakukan sedikit gerakan tangan yang diarahkan ada Reva dan Rava hingga keduanya bisa kembali seperti sedia kala.
"Kalian harus menutup mulut. Semua yang kalian lihat dan dengar di sini tidak boleh sampai diketahui orang lain. Bila tidak, penglihatan dan pendengaran kalian akan kucabut selamanya."
Reva dan Rava hanya mengangguk lemah dan mengambil posisi berselonjor di kursi dengan kaki terjuntai ke lantai.
"Kyra ... haus ...." pinta keduanya dengan manja.
"Ah, iya. Sebentar, aku siapkan minumannya. Kalian mau minum apa?"
"Aku mau air mineral yang ada manis-manisnya." Reva memelas.
Rava ikut menimpali. "Aku mau minum makanan bergizi."
"Korban iklan sekali!" Dyza mengumpat sedangkan Kyra hanya terkekeh.
Zen ikut tertawa. Hal baik di balik masalah yang harus dijalaninya ini adalah mereka--Kyra, Reva, Rava dan dirinya sendiri bisa kembali berkumpul lengkap seperti di asrama dulu.
"Kita harus bicara.
Suara Arzel menyentakkan Zen.
"Aku?" Tunjuk Zen pada dirinya.
"Menurutmu aku berbicara pada tiang lampu di sebelahmu?"
"Oke. Maaf. Ada apa?" Zen menghadap sepenuhnya pada Arzel.
"Aku tidak suka terlibat banyak urusan."
"Apa maksudmu?" Zen mengerutkan dahi.
"Ini hanya peringatan." Arzel melirik pada Dyza melalui sudut matanya. "Dia itu manusia."
"Lalu?"
"Menurutmu mengapa Luxa diberi ilmu pertahanan diri?"
"Karena ...." Zen tidak melanjutkan kata-katanya lagi begitu membaca ke arah mana maksud pembicaraan Arzel.
"Di alam peralihan ada banyak sesuatu yang ingin hidup dan butuh kehidupan."
Zen masih diam membisu saat Arzel menepuk bahunya.
"Dia entitas hidup. Kau membawa sesuatu yang mereka nantikan selama ini."
*****
To be Continued