Dyza pikir dunia Medieter adalah dunia abstrak layaknya serial film-film fantasi. Nyatanya, dimensi tersebut tidak jauh berbeda dengan penampakan dunia manusia. Kecuali kontruksi bangunannya yang bergaya klasik, seperti hall persidangan di Kantor Peradilan Tinggi kemarin.
Hakikatnya, dimensi kedua itu memang anti-matter dari dimensi manusia. Wujud segala materi di sana tetap sama, dengan energi yang berlawanan. Dyza belum paham terlalu jauh. Oleh karena itu, meski di luar protokol, ia berencana mempelajari sejarah dunia Medieter yang terlanjur membuatnya penasaran tersebut. Tapi nanti, setelah misinya yang sementara berlangsung ini selesai.
Dyza menerawang sambil berjalan. Sekarang pukul 3 dini hari di dunia manusia dan tubuh fisiknya tengah tidur pulas bersama Coco di tempat tidurnya. Bagaimana tidak? Semua kejadian yang dialaminya sepanjang hari sangat menguras energi. Mulai saat terbangun di pagi hari dan mencoba proyek astral pertamanya, berboncengan dengan Zen menuju kafe, berdebat dengan Reva dan Rava yang lebih memilih naik angkot ke apartemen Kyra ketimbang transportasi online untuk menghemat biaya, sampai saat ia harus berhadapan dengan Arzel dan menyalin berlembar-lembar catatan Kyra.
"Kamu baik-baik saja?"
Dyza menoleh pada Kyra yang berjalan di sebelahnya. Bahkan dengan alis saling bertaut sekalipun Luxa tersebut masih kelihatan cantik.
"Ya, sudah lumayan baik." Dyza mengulas senyum meski masih sedikit pusing.
Tidak seperti cara malaikat berpindah dimensi dengan transisi yang begitu "halus", teleportasi Luxa sangat jelas terasa. Dyza tidak bisa mengungkapkan bagimana detailnya. Rasanya seperti tersedot dalam sebuah vakum dan terputar-putar di dalamnya.
Dyza tidak pernah mengalami motion sickness baik perjalanan dengan transportasi darat, laut, maupun udara. Tapi di detik pertama ia menginjakkan kaki di dunia peralihan itu untuk kali kedua, ia merasa sangat pusing sampai tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Mabuk dimensi, kata Reva dan Rava. Walau Dyza tidak yakin ada istilah seperti itu.
Beruntung sekali Kyra memiliki ramuan yang bisa membantunya pulih dalam waktu singkat. Dyza sampai terkagum-kagum dengan onsetnya yang hanya dalam hitungan detik melalui rute pemberian per oral. Lebih hebat dari efek antagonis serotonin, dopamin, histamin, dan seluruh jenis obat anti-emetik yang Dyza ketahui. Antimo mah ketinggalan jauh.
Dyza sendiri baru tahu bila Kyra adalah seorang herbalist. Profesi yang tidak jauh beda dengan kuliahnya di jurusan farmasi. Pengetahuannya juga cukup luas. Kapan-kapan Dyza akan bertukar pikiran dengannya.
"Benar tidak apa-apa?" Zen ikut bertanya. Karena Dyza adalah makhluk mortal yang tidak bisa menemukan koordinat sendiri, gadis itu ikut berteleportasi dengan berpegangan padanya.
Dyza mengangguk. "Tapi kenapa kita tidak langsung berteleportasi ke dalam kantor Dinas Pencatatan Sipil saja? Kenapa harus berjalan kaki begini?"
"Luxa memang tidak terikat ruang dan bisa melakukan teleportasi, namun ada privasi ruang yang tidak boleh dilanggar." Zen menjelaskan. "Kamu tidak bisa sembarang berteleportasi. Beberapa tempat khususnya lembaga resmi dijaga ketat."
"Benar!" imbuh Reva dan Rava yang berjalan paling depan. "Kamu tidak bisa berteleportasi ke kamar mandi orang lain semaumu. Kami pernah coba itu."
"Dasar!" Zen mengetuk kepala Reva dan Rava lalu kembali pada Dyza. "Jangan jauh-jauh dariku, ya."
"Oh ... oke." Dyza membalas singkat. Sejak tadi Zen bersikap sangat protektif padanya, entah mengapa. Bahkan sebelum berteleportasi tadi Zen kelihatan sangat gugup. Apa Seeker itu meragukannya sebagai seorang rekan?
Mata Dyza yang terus diedarkan ke segala arah untuk membaca situasi membulat seketika begitu menemukan sosok hewan kecil yang menatapnya penuh pengharapan. Telinganya panjang seperti kelinci, namun bulunya lebih lebat dan berdiri tegak seperti tupai. Seperti spesies baru dari hasil persilangan dua hewan rodentia itu.
"Ah, makhluk apa itu? Lucu sekali!"
"Dyza, jangan!" Zen bergegas menarik Dyza. "Dia iblis parasit!"
"Iblis?! Bagaimana bisa?! dia imut sekali!"
"Iblis bahkan bisa berwujud wanita cantik!" Reva dan Rava menghentakkan kaki mengusir iblis kecil tersebut.
"Benar begitu, Kyra?" Belum terima, Dyza meminta pembenaran dari Kyra.
Kyra langsung mengiyakan. "Benar. Mereka adalah iblis parasit yang terlalu lemah untuk hidup di dunia manusia. Mereka bertahan hidup di dimensi peralihan dengan menjadi parasit pada roh dan arwah."
Ada rasa kecewa di hati Dyza melihat makhluk tersebut berlari menjauh. Sayang sekali, padahal mereka sangat menggemaskan.
"Bagaimanapun wujudnya, iblis tetaplah iblis, hati-hati!" Zen memperingatkan lalu kembali memandu perjalanan mereka.
Saat di persimpangan menuju gerbang kantor Dinas Pencatatan Statistik, Dyza mendengar sebuah bisikan memanggil namanya.
"Kenapa, Dyza?" tanya Kyra melihat Dyza bergeming.
"Seperti ada yang memanggil namaku."
"Pede amat!" Reva tertawa mengejek.
"Sepertinya kamu masih belum sadar betul!" Rava menimpali.
Zen dan Kyra berbalik dan tidak menjumpai siapa pun di belakang mereka. Bahkan zen yang mengaktifkan sensornya.
"Tidak ada siapa-siapa. Ayo, kita harus bergegas.
Dyza melenggut lalu bersiap melangkah lagi, tetapi bisikan itu terdengar kembali.
Ketika Zen, Reva, Rava, dan Kyra sibuk membahas teknis misi mereka selanjutnya, Dyza diam-diam memelankan langkah dan berbalik. Matanya yang semula menyipit untuk mempertegas bayangan di balik kabut hitam yang terbentuk kini membuka perlahan.
Dyza tergemap. Ada sesak dan rindu yang berpadu dalam hatinya. Perlahan air matanya menitik. Lalu, tanpa berpikir dua kali ia pun berlari pada dua sosok yang merentangkan tangan menyambutnya.
"Mama! Papa!"
*****
To be Continued