"Mama! Papa!"
Dyza berlari menuju sosok orang tuanya dengan air mata berlinang. Delapan tahun tidak melihat mereka kecuali dalam mimpi membuatnya tidak ingin mendengarkan alasan apapun, termasuk peringatan dari Kyra.
Dyza membentangkan tangan, berniat menyambut tangan mama dan papanya yang terulur, namun hatinya tiba-tiba meragu. Ada sesuatu yang tidak ia kenali dari sosok yang sangat ia rindukan tersebut. Sorot mata mereka terlihat redam, tanpa cinta. Dyza memperlambat langkahnya hingga berhenti tepat beberapa meter di depan keduanya.
"Mama? Papa?" Suara Dyza bergetar, napasnya yang memburu membuatnya kesulitan untuk berbicara banyak. Praduganya makin besar mana kala kedua orang tuanya itu mengulas senyum. Sama persis dengan senyum mama dan papanya, bahkan garis wajah yang terbentuk dari gerak ekspresif itu sangat identik. Tapi lagi-lagi, senyuman itu tidak sampai ke mata, apalagi untuk sampai ke hati.
"Kemarilah, Dyza sayang." Ujar sang mama dengan suara serak.
"Bukan! Kalian bukan orang tuaku!" Dyza baru saja ingin berbalik dan mengambil langkah seribu, tetapi wujud mama dan papanya itu tahu-tau sudah berada di hadapannya. Mereka menghadang jalan dan mengekang tubuh Dyza.
Dyza nyaris pingsan begitu sosok orang tuanya tiba-tiba menjelma menjadi dua orang laki-laki yang mengerikan. Bola matanya hitam dengan lensa merah menyala, kulit wajahnya retak tak berpola. Taring tajam mencuat dari mulut mereka yang menyeringai lebar, seperti siap melahapnya.
"AAA ...!!! Tolong!!!" Dyza memaksa dirinya berteriak, namun suaranya teredam.
Sementara itu Zen, Reva, Rava, dan Kyra yang terhalang oleh barier tak kasat mata menjadi panik. Barier tersebut sangat kuat dan tidak bisa dihancurkan bahkan dengan kekuatan yang digabungkan oleh Zen, Reva, dan Rava.
"Sekali lagi!" Zen mengerahkan seluruh energinya pada lapisan penghalang tersebut, namun nihil. Hanya retak kecil yang terbentuk, juga memar di telapak tangannya yang mulai berdenyut nyeri.
"Sial! Ini pasti ulah iblis!" Zen berseru gusar. Beberapa iblis bangsawan dengan kekuatan besar memang bisa menyamarkan energi sehingga keberadaanya tidak terdeteksi. Padahal Dyza sudah mengatakan sesuatu yang mencurigakan tadi. Harusnya ia lebih peka.
"Barier ini tidak memiliki celah!" Kyra yang memusatkan pikiran untuk menemukan satu pun titik koordinat di dalam pelindung tersebut menghela napas, berusaha menahan getar dalam suaranya yang membias. "Ya, Tuhan! Kita harus bagaimana?"
Bersamaan dengan itu, muncul cahaya terang yang menyilaukan mata, kontras dengan aura kelam nan mematikan yang menguar. Cahaya tersebut berhasil menghancurkan barier pertahanan yang dibuat sang iblis dan sekali tebasan.
Zen, Kyra, Reva, serta Rava refleks menunduk dan melindungi matanya dari silau dengan telapak tangan, juga dari udara bertekanan tinggi yang terbentuk.
"Itu Arzel!" Kyra memekik senang.
"Arzel?" Reva dan Rava menegakkan duduknya dan memutar kepala menghadap pada Kyra menunjukkan wajah penuh pengharapan. Di dunia ini, mungkin hanya Kyra seorang yang bahagia dengan kehadiran malaikat maut tersebut.
Arzel melirik sekilas pada Kyra, memastikan keadaannya. Ini bukan semacam rasa khawatir atau apapun istilah yang mewakili afeksi sebagai bentuk kepedulian. Arzel hanya menjalankan protokol tugasnya untuk memastikan keamanan Death Notarie yang bekerja dengannya.
Setelah memastikan situasi, Arzel lekas menatap tajam pada dua iblis yang menyeringai angkuh.
"Huh, malaikat! Mahkluk pesuruh!" kedua iblis tersebut berujar merendahkan.
"Dan kalian, para iblis. Makhluk pembangkang." Arzel menarik sabit besar yang tersemat di balik punggungnya.
"Oh, sang maut rupanya."
Gurat samar yang terlukis di dahi dua iblis tersebut cukup sulit untuk didefinisikan maksudnya, antara terkejut sekaligus terkesima. Apapun itu, Arzel tidak menganggapnya sebagai suatu gangguan. Namun seulas seringai licik disertai penekanan terhadap perannya membuat ia tidak ingin berlama-lama menghadapi makhluk terkutuk tersebut.
"Ciptaan yang paling menyedihkan." Satu di antara dua iblis tersebut tertawa mengejek. "Hidup untuk menyaksikan kematian, apa bagusnya? Keberadaanmu bahkan tidak lebih diinginkan dari kami."
Iblis yang satu lagi ikut berkelakar. "Setidaknya masih ada makhluk yang menerima perjanjian dengan iblis dibanding malaikat maut sepertimu."
"Ada banyak hal yang keliru dari pemahaman kalian. Tapi aku tidak cukup baik hati untuk meluruskannya. Dan lagi, aku tidak suka berbasa-basi." Selepas berkata demikian Arzel langsung melesat dengan kecepatan cahaya. Sabitnya menghunus tepat ke arah jantung sang iblis.
Zen memanfaatkan kelengahan iblis tersebut untuk berteleportasi dan menyelamatkan Dyza.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zen sembari menyandarkan Dyza yang pucat pasi di bahunya. Posisinya sekarang sudah cukup jauh dari Arzel dan dua iblis yang sedang bertarung.
"Ya ...." Dyza menjawab singkat dengan anggukan kecil, masih terlihat syok.
Terdengar jerit penuh kesakitan dari dua iblis yang telah dibakar habis oleh Arzel dengan cahayanya. Dyza terpaku di tempat. Matanya terbeliak menyaksikan bagaimana nyala api dari sang iblis hilang ditelan oleh cahaya api putih Arzel.
"Api membakar api? Zen, ini mustahil, bukan?"
"Mustahil hanya untuk sesuatu yang yang tidak terjadi, Dyza."
"Lalu bagaimana bisa?"
Zen menunduk, menatap Dyza yang meski jelas terlihat kepayahan, masih tetap penuh rasa ingin tahu.
Ah, dasar manusia. Zen membantin, ada perasaan lega diiringi ucapan syukur melihat rekannya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Malaikat diciptakan dari cahaya, iblis diciptakan dari api." Seperti paham bagaimana rasa penasaran yang makin menggeluti kepala Dyza, Zen memulai penjelasannya. "Pengetahuan tentang dimensi pertama sangat terbatas dan dibatasi. Tapi pada intinya, cahaya dan api adalah sebuah bentuk energi, masing-masing memancarkan sinar dengan bentuk dan kekuatan yang berbeda.
Dyza terlarut dalam penjelasan Zen, rasa takutnya perlahan tersamarkan. Sementara Zen tetap bertutur dengan pandangan tak lepas dari Arzel yang bertarung.
"Arzel sebagai malaikat memancarkan cahaya putih, mereka memiliki kemampuan membentuk api putih dari cahaya itu. Sedangkan sinar dari nyala api iblis berwarna merah."
Dyza menengok ke arah Zen. Posisi Zen yang lebih tinggi membuatnya harus sedikit mendongak. "Dan cahaya putih memiliki energi yang lebih besar dibanding cahaya merah."
"Cerdas." Zen menepuk pelan kepala Dyza. "Api putih memiliki suhu ebih tinggi daripada api merah Iblis. Energi dari cahaya putih tersebut jauh lebih panas, karena itu Arzel bisa membakar mereka."
Dyza mengangguk, iris matanya ikut berpendar membiaskan dua jenis cahaya dari sumber berbeda yang saling beradu. Tidak berlangsung lama, sebab sang iblis lebih dulu rebah. Sayang sebelum benar-benar terbakar habis, salah satu iblis tersebut mengerahkan sisa tenaganya untuk melontarkan pijaran api.
"Zen! Dyza! Awas!" Reva dan Rava yang berada di belakang Zen dan Dyza meneriaki.
Zen yang sigap, bersicepat membuat medan penghalang dengan sebelah tangan meraih tubuh Dyza agar tidak keluar dari zona perlindungannya. Ada kerutan dalam yang tercipta di antara kedua alisnya begitu lidah api yang menyala-nyala itu berbelok melewati mereka. Perasaan lega yang bahkan belum sempat memenuhi hati Zen berganti menjadi kekhawatiran begitu menyadari serangan tersebut bukan di arahkan pada dirinya juga Dyza. Melainkan pada Kyra yang terpaku di tempat.
"Kyra, menyingkir dari sana!" Reva dan Rava sebisa mungkin menghalau serangan tersebut dengan membuat riak udara, namun kelajuannya terlalu tinggi. Gelombang yang mereka ciptakan tidak cukup untuk menahan momentumnya.
Kyra sudah tahu bahwasanya serangan tersebut ditujukan padanya sajak rasa kebas merambati kedua kakinya, tepat saat pijar yang membela udara tersebut melewati Zen. Merasa tidak bisa menghindar, Kyra lekas menyelimuti dirinya dengan dinding pelindung yang membentuk sebuah lingkaran transparan. Namun semua di luar perkiraan. Api yang menyala tersebut berhasil membakar permukaan dinding pelindungnya dan menerobos masuk. Kyra memilih menyentakkan dirinya ke samping. Lidah api yang menyeruak hanya berhasil menyabet lengannya sebelum pecah menjadi percikan-percikan kecil.
Sebagai kosekuensi, Kyra sudah bersiap dengan permukaan apapun di bawah sana yang akan menyambutnya, tetapi tubuhnya tiba-tiba tertahan. Lebih tepatnya ditahan oleh seseorang. Begitu membuka mata, tahu-tahu ia sudah berada di pangkuan Arzel.
"Kyra! Kamu tidak apa-apa?" Orang pertama yang menanyakan keadaan Kyra adalah Dyza yang ikut berteleportasi bersama Zen. Disusul Reva dan Rava yang tak kalah panik.
Belum lagi Kyra menjawab, Dyza kembali memekik, "Astaga! Lenganmu!"
Seluruh perhatian langsung tertuju pada luka gores di lengan Kyra cukup dalam, tak terkecuali Arzel.
"Kamu butuh herbarium? Aku bisa berteleportasi untuk mengambilnya di apartemenmu," tawar Zen sambil meringis khawatir.
"Tidak usah. Biar aku saja." Arzel menyela lalu mengarahkan telapak tangannya pada luka Kyra.
Dyza mengamati itu dengan seksama. Terbersit niat di hatinya untuk bertanya bagaimana malaikat tersebut dengan mudah membuat luka Kyra menutup sempurna sampai hampir tidak berbekas dengan menggunakan elemen cahayanya. Daya regenerasi yang luar biasa. Kalau luka sedalam itu saja bisa disembuhkan dengan cepat, apalagi hanya untuk sebuah kerutan. Pantas semua malaikat tampak rupawan.
"Jangan bertanya macam-macam dulu." Bisikan Zen di telinga Dyza membuatnya melengos. Seeker tersebut seperti sudah paham betul kebiasaannya.
"Lamban sekali gerakanmu, seperti siput saja. Merepotkan sekali." Arzel menyahut dingin, tetapi sangat berkebalikan dari caranya membantu Kyra berdiri yang penuh kehati-hatian.
Kyra menatap Arzel yang juga menatapnya lurus-lurus, sedetik kemudian pandanganya dibawa ke sembarang arah. Arzel selalu seperti ini. Sulit ditebak kehendaknya.
"Mana ada siput secantik Kyra!" cerocos Reva dan Rava secara tak sadar yang membuat Zen mendelik padanya.
"Terima kasih, Arzel," tutur Kyra pelan. "Terima kasih telah membantu kami."
"Tidak usah berterima kasih. Aku hanya kebetulan lewat." Arzel menilik tajam dari sudut matanya. "Kalian bahkan mengganggu jalanku."
"Oh-oh, ya?" Kyra menggeleng cepat. "Ma-maksudku, iya. Kalau begitu maafkan kami."
Zen berbalik pada Arzel yang tetap memasang wajah tanpa ekspresinya. "Kamu ada urusan apa?"
"Bukan urusan kalian."
"Oke." Zen mengangkat bahu. Mengesalkan memang, tapi ia cukup paham sikap Arzel, alih-alih ingin memasukkan kata-katanya di hati. Lagipula, Zen merasa berhutang budi pada malaikat maut tersebut. Bukan hanya untuk insiden barusan, tetapi karena telah menjaga dan menjamin hidup Kyra setelah mereka hidup terpisah.
"Tapi tentang iblis tadi, bukankah wilayah ini di bawah perlindungan kementerian? Mereka tergolong iblis kelas tinggi. Penyamarannya sangat baik, energi mereka pun tidak terdeteksi." Zen melirik Dyza. "Padahal Dyza sudah memberi tahu."
Dyza mencibir. "Huh, baru sehari jadi asistenmu, sensorku sudah lebih peka!" katanya pongah.
"Sombong sekali!" Zen berdecak. "Untuk bangun saja kamu menyetel alarm sampai sepuluh kali. Itupun dengan jeda tiap lima menit. Dan ujung-ujungnya, aku yang bangunkan juga!"
Arzel mengamati Zen dan Dyza yang bercengkrama akrab. Ia berdeham sebelum memulai kata-katanya. "Itu pelanggaran teritorial. Aku sudah menghubungi malaikat pengawas."
Dyza ber-oh ria. Zen telah menjelaskan padanya soal teritorial wilayah dan region. "Ngomong-ngomong, sabit itu tidak berat dibawa kemana-mana?" Dyza menunjuk sabit di balik punggung Arzel.
"Kenapa? Mau coba bawa?"
"Cuma bertanya, kok!" Dyza tertawa hambar begitu menyadari kesalahan dalam pertanyaannya saat Zen, Reva, dan Rava kompak terbatuk-batuk. Sungguh sebuah kode bodoh yang begitu kentara.
"Oh, bukankan ini gelangmu, Kyra?"
Kyra terperangah saat Reva menyerahkan serpihan permata berwarna merah muda padanya. Kyra pikir Reva hanya ingin mengalihkan perhatian, ternyata benar, gelang manis pemberian dari Arzel yang senantiasa melingkar di pergelangan tangannya putus dan mestikanya berceceran di tanah.
"Ah, gelangku ...." Kyra memberengut sedih dan menatapnya Arzel takut-takut. Malaikat maut itu pasti marah karena ia tidak menjaga baik-baik gelang pemberiannya.
Kyra memejam erat saat Arzel melayangkan tangannya di udara. Arzel mungkin akan menampar atau bahkan memukulnya karena ceroboh. Tapi tak disangka, tangan malaikat maut tersebut justru berakhir mengelus rambutnya.
"Ada kotoran." Arzel berkata singkat lalu berbalik. "Ayo. Kenapa kalian tinggal berdiam diri di situ?"
Zen berpikir sebentar. "Tunggu, Arzel. Aku tidak bermaksud meragukanmu. Tapi, Ayo ke mana?" "Dinas
Pencatatan Statistik."
"Hah?!"
"Dinas Pencatatan Statistik," ulang Arzek tegas. "Apa kalian semua kena azab sampai tidak bisa mendengar dengan baik?!"
"Kamu mau ikut ke sana?" Dyza bertanya terus-terang, mewakili yang lain.
"Siapa yang ikut!" Arzel menyergah. "Aku memang ada urusan di sana.""Urusan apa?" Reva dan Rava
ikut kepo.
"Bertanya sekali lagi kucabut roh kalian!" Arzel mengambil beberapa langkah dan berjalan mendahului.
Kyra segera mensejajarkan posisinya dengan Arzel. "Aku harus berjalan di sebelahmu, kan?" katanya dengan menerbitkan seulas senyum.
Arzel terdiam beberapa lama lalu mengangguk singkat. "Soal gelang itu, akan kuberikan yang baru. Jangan memasang wajah seperti tadi lagi. Aku tidak suka."
Selepas berkata demikian Arzel membelah jalan dengan cahayanya, menyapu bersih semua iblis parasit lemah yang ikut menonton insiden tersebut untuk mengambil kesempatan. Sesekali diliriknya Kyra yang sibuk berbincang dengan Dyza seputar diskon besar-besaran di sebuah perusahaan ritel fashion dan lifestyle.
Kenapa lagi-lagi aku menemukan jejak iblis padanya?
*****
To be Continued