26. Black Fire

1297 Kata
Bila sebelumnya otak kiri--dengan kemampuan berpikir rasional yang menjalankan fungsi logika dan komputasi matematika--dan otak kanan--pusat intuisi dengan kemampuan visual, spasial, dan imajinasi--di kepala Dyza sering kali bersitegang untuk sesuatu di luar nalar yang terjadi, maka sekarang kedua hemisfer yang dihubungkan oleh jembatan corpus callosum itu tampaknya sudah sepakat melakukan rekonsiliasi.      Seperti saat ini ketika Arzel memberikan pembelaan diri untuk dua iblis yang telah dibakar habis olehnya, Dyza menyimak dengan baik dan penuh ketertarikan, persis seperti waktu pertama kali ia mendapat materi genetika dan pewarisan sifat di bangku kelas sembilan sekolah menegah pertamanya. Malaikat maut itu berkata bahwa dirinya tidak mencabut roh sang iblis, yang mana menurut Kyra adalah pelanggaran protokol kematian, tetapi "hanya membakarnya saja". Meski Dyza tidak yakin ada perbedaan signifikan antara membakar habis sang target--hingga menjadi abu--dengan mencabut rohnya.     Secara teknis, Dyza cukup paham. Salah satu prosedur analisis dalam praktikum kimia adalah uji nyala api, dimana warna nyala suatu senyawa bergantung pada kemampuan emisi alias pemancaran cahaya dari unsur pembentuknya masing-masing. Seperti yang telah dijelaskan Zen sebelumnya, malaikat dan iblis diciptakan dari dua unsur yang berbeda. Mereka memiliki energi yang berbeda, dengan tingkat emisi cahaya yang berbeda pula. Cahaya putih bisa menghasilkan api putih, api milik Arzel yang merupakan tingkatan api dunia yang paling panas. Api tersebut terdapat inti matahari oleh reaksi fusi. Jauh berbeda dengan energi dan suhu dari api merah milik iblis.      Dyza tidak tahu lebih jauh bagaimana unsur cahaya dan unsur api dalam penciptaan malaikat dan iblis tersebut, sebab Arzel menjawab pertanyaannya dengan sebuah tawaran yang begitu menggetarkan jiwa dan raga. Oh bukan, dalam hal ini hanya jiwa. Dyza lupa tubuh fisiknya sedang terlelap cantik di dimensi mortal.      "Sesungguhnya urusan penciptaan makhluk ada di tangan Sang Pencipta. Bila kamu sedemikian penasaran, kenapa tidak bertanya langsung kepada Tuhan? Aku bisa mengantarkanmu menghadap-Nya sekarang juga."       Dyza mengerucutkan bibir dan bersungut dalam hati. Mengantar mungkin bisa, tapi tidak dengan membawanya kembali. Sungguh malaikat maut yang picik.      "Jadi mereka masih hidup? Kyra masih menanyakan hakikat dua iblis yang menyerang mereka tadi.      "Kyra!" Arzel berdecak. "Jangan bilang kamu mengkhawatirkan iblis yang sudah melukaimu!"      "Bukan bgitu." Kyra menggigit bibirnya. "Aku bersyukur mereka lenyap. Tapi, aku juga khawatir kamu melanggar protokol--"      "Aku sudah bilang, aku tidak melanggar protokolku, Kyra Edelline." Arzel memotong cepat dan memutar bahu Kyra tepat menghadap padanya. "Iblis memiliki memiliki ekstensi sampai akhir masa. Mereka tidak mati, hanya berubah menjadi sesuatu yang sangat lemah. Mereka mengingkari aturan dengan membahayakan manusia dan Luxa. Kami--malaikat, memiliki hak untuk melakukan itu."       Mendengar penuturan Arzel lantas membuat Kyra menghembuskan napas yang ditahannya sedari tadi. Sementara itu, rasa ingin tahu kembali membuat Dyza yang berdiri di sebelahnya tergelitik untuk bertanya.   "Iblis juga masuk ke dunia peralihan?"      "Ya. Mereka memasuki semua tempat untuk mengacaukan manusia dan semua hal yang berhubungan dengan manusia, termasuk dunia peralihan." Kali ini Zen yang menjawab. Arzel tidak suka diberi pertanyaan beruntun sementara Dyza manusia yang ingin tahu detail. Untuk mencegah malaikat maut itu kalap dan melemparkan mereka semua ke pintu gerbang kematian--kecuali Kyra tentunya, Zen memilih turun tangan. "Iblis biasanya menyerang Luxa dengan profesi yang berhubungan erat dengan arwah manusia, misalnya Seeker sepertiku."       Terselip sedikit keragu-raguan dalam kalimat terakhir Zen. Dipandanginya Dyza yang larut dalam pikirannya sendiri. Secara tidak langsung, ia mengatakan bahwa profesinya--yang saat ini mengikutsertakan peranan gadis tersebut--adalah sesuatu yang berbahaya. Beruntung Reva segera menyambung pembicaraan.       "Benar sekali! Sejatinya iblis tidak memiliki masalah dengan para Luxa, mereka hanya mengincar manusia. Tetapi karena Luxa sedikit-banyak berhubungan dengan manusia, kami pun tidak luput dari serangannya. Zen pernah beberapa kali menghadapi iblis, bahkan sebelum resmi menjadi anggota tim SSAR." Reva menjelaskan. "Tapi aku lumayan menyukai manusia, sih. Mereka cerdas dan kreatif. "      "Mewakili nama besar umat manusia, aku berterima kasih." Dyza tersenyum bangga.      "Dasar bucin manusia! Rava menyikut Reva dan menatap Dyza sambil melipat tangannya dengan congkak. "Mungkin harus kuluruskan. Sebagai kesimpulan, kalian-para manusia itu sebenarnya berhutang budi pada kami."       Dyza mendengus tak kalah pongah. "Terbalik. Justru kalian yang berhutang budi pada manusia. Bila kami tidak ada, kalian akan jadi pengangguran dan terlunta-lunta, 'kan?"      "Wah! Iya, benar juga!"      Pengakuan spontan dari Reva dan Rava membuat Dyza mesem-mesem penuh kemenangan.      "Tapi bukankah tidak ada manusia di alam peralihan ini?" Pertanyaan Dyza selanjutnya ditujukan langsung untuk Zen.      "Sekedar mengingatkan, kamu itu manusia." Rava kembali berceletuk.      Dyza meringis. "Maksudku selain aku, Reva Madagara!"      "Sayangnya, aku adalah Rava Madagara."      "Fine!" Dyza mengangkat bahu dengan cuek. "Kamu selalu bilang berbicara denganmu sama saja berbicara dengan Reva. Jadi anggap saja yang tadi itu kutujukan untuk Reva, tetapi lewat dirimu. Sesederhana itu."     Satu lagi pembantahan Dyza yang berhasil membungkam Rava dan Reva.      "Manusia memang tidak ada, tapi arwah manusia ada." Zen segera menukas sebelum perdebatan Dyza dan duo-kembar Reva dan Rava berujung ricuh. Dibanding Rava, Reva memang lebih kompromi dan menyukai manusia. Tapi dia jelas akan memihak suadara kembarnya.      "Iblis juga mengincar arwah?"      "Bahkan bila bisa menembus langit ketujuh, mereka juga akan mengincar roh suci yang akan ditiupkan ke dalam janin untuk menjadi manusia."       "Kenapa begitu? Kenapa iblis sangat membenci manusia?" Dyza mengernyit tidak terima. "Kayak ada yang pinjam uang padanya saja!"      Zen terkekeh sebentar sebelum menjawab. "Itu sedikit susah dijelaskan."      "Tidak apa-apa. Jelaskan saja. Aku cepat mengerti, kok."      "Perihal eksistensi." Arzel mengambil alih. "Karena suatu kejadian pada masa di mana waktu belum ditetapkan, iblis yang diusir dari surga membuat ikrar dan berjanji akan menyesatkan manusia, bahkan sampai arwah mereka sekalipun."      "Iblis bisa menyesatkan arwah?"      "Ya. Roh jahat adalah arwah manusia yang menjadi pengikut iblis. Juga arwah penasaran yang putus asa dengan nasibnya." Kyra berujar dengan mata sendu.      "Untuk apa iblis melakukan itu?"      "Mencari pengikut." Arzel menutup mata sembari melanjutkan. "Tepatnya mencari teman di neraka nanti."    "Bukannya iblis memang tinggal di nereka?"      "Tidak, sampai pintu nereka di buka saat hari di mana ia harus dibuka. Teritorial utama iblis ada di dimensi pertama. Mereka juga membuat wilayah kekuasaan di dunia peralihan dan di dunia manusia."      "Kalian tahu teritorial iblis?"      Sedikit gerak menunduk dari Arzel membuat Dyza kembali bertanya. "Lalu kenapa kalian tidak menyerangnya saja? Cahaya kalian kan lebih kuat!"      "Kami tidak punyak hak untuk itu. Setiap ciptaan punya alasan untuk tercipta. Bahkan untuk iblis sekalipun."      Dyza berseru penuh sangsi, "Dan tujuannya adalah untuk menyesatkan manusia?"      "Untuk menguji, lebih tepatnya." Arzel menjeda dengan sebuah helaan napas. "Lagipula Sang Pencipta sudah menciptakan balasan yang adil untuk mereka yang membangkang seperti iblis dan pengikutnya. Kurasa kalian semua sudah tahu."      "Neraka jahannam." Kyra, Zen, Reva dan Rava meringis tertahan sambil menutup mata.      "Ya. Itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali." Arzel kembali menyambung. "Neraka paling dasar yang gelap, pekat, tanpa cahaya sedikit pun. Dipenuhi kobaran api hitam yang dinyalakan selama beribu-ribu tahun lamanya."      "Api hitam?! Aku tidak salah dengar?"      "Ya. api hitam. Api terpanas yang hanya terdapat di nereka. Api yang menyerap energi dengan sempurna sehingga tidak satupun berkas cahaya bisa terpantulkan dan terlihat."      "Radiasi benda hitam ...." Dyza bergumam sendiri. Apa yang dikatakan Arzel benar adanya, hukum Planck dan konstanta Bolltzmann menjabarkan sifat radiasi benda hitam seperti demikian.      "Bahan bakar neraka tersebut adalah iblis dan ...." Arzel menjeda kemudian menjatuhkan tatapannya pada Dyza. "Manusia."      Dyza tercekat seketika. Obrolan mereka kemudian terhenti ketika gerbang tinggi lagi kokoh terlihat jelas di depan mata. Saat jarak menahan mereka untuk berjalan lebih jauh lagi, Arzel yang berjalan paling depan memberi isyarat untuk berhenti.      Dua orang penjaga dengan tergopoh menghampiri mereka dan memberi hormat pada Arzel. Zen lalu menjelaskan perihal kedatangan mereka dengan menunjukkan surat konfirmasi yang dibawanya, dibantu oleh Kyra sebagai seorang Death Notarie.       Gerbang kemudian terbuka, menampakkan bagunan seluas gedung walikota dengan arsitektur abad pertengahan yang kental. Dan Dyza yang masih syok mendengar penjelasan Arzel semakin tidak mampu mengkondisikan mulutnya agar tidak terbuka lebar saat menyaksikannya.. ***** To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN