27. Check Out

1279 Kata
"Ini pasti lab komputer paling mewah di dunia!"      Adalah kalimat pertama yang diucapkan Dyza begitu memasuki ruangan dengan layar touch-screen transparan yang melayang di udara kosong. Berderet sekian banjar dari kiri ke kanan. Persis seperti tata ruang laboratorium komputer di sekolahnya dulu, tetapi tanpa kabel di lantai yang saling melilit tak karuan dan berpotensi membuat para siswa tersandung. Jangan lupakan terminal listrik yang masing-masing stop kontaknya terisi sketer cabang tiga dari colokan laptop, ponsel, dan powerbank milik siswa-siswi yang sangat pandai memanfaatkan fasilitas sekolah.       Awalnya Dyza berpikir akan bergelut dalam ruang yang disesaki lemari dengan rak dan laci penuh berkas. Namun berbanding terbalik dengan bangunannya yang terkesan klasik, interior kantor tersebut ternyata jauh modern. Bahkan mungkin lebih canggih dari kantor sipil di dunia manusia.       "Zen! Di sini!" Dyza berseru begitu melihat nomor bilik yang diberikan sang petugas di salah satu layar yang ada.      Zen di ujung ruangan lekas berteleportasi hingga dalam sekejap mata berada di sebelah Dyza. Koordinatnya sedikit kurang tepat, sebab posisi Zen terlalu dekat hingga Dyza harus mengerjap berulang kali karena pusaran udara yang menghembus menerpa wajahnya.      "Ah, maaf. " Zen merapikan rambut Dyza yang berantakan terlebih dahulu baru kemudian menghadap pada layar di hadapannya.      Saat ini mereka hanya berdua. Ruang pangkalan data yang tempat mereka berada sekarang sangat rahasia dan hanya bisa diakses oleh satu orang dengan surat pengantar resmi, dalam hal ini surat konfirmasi dari kementerian milik Zen. Sangat beruntung Kyra bisa melobi sang petugas kenalannya sehingga Dyza sebagai rekan Zen yang disebutkan dalam blanko tersebut diberi izin untuk ikut masuk. Ada kemungkinan pula petugas tersebut segan pada Arzel--malaikat maut yang katanya ada urusan sendiri tetapi tetap berjaga di sebelah mereka--karena membuat Kyra memohon-mohon.      Dyza meneguk sebentar begitu Zen mengetikkan kode akses pada monitor tersebut. Waktu mereka tidak banyak. Hanya sampai konograf Zen berputar tiga kali. Dan bila Dyza perhatikan, ini sudah hampir putaran pertama.      Access code confirmed      Opening the data bank      "Aku akan membuka profil arwah yang belum melakukan konfirmasi mulai dari tiga bulan yang lalu, kita cocokkan dengan catatan dari Kyra."      Sebuah hologram database yang muncul membuat Dyza terperangan dan mundur beberapa langkah. Sungguh, tempat tersebut memiliki dualisme yang bertolak belakang namun sama mencegangkannya. Di luar tampak klasik, penuh nuansa magi persis kuil-kuil Yunani Kuno. Sementara di dalam terlihat begitu elusif dan modern, ibarat basis intelijen masa depan.      "Apa data di sini spesifik untuk mortascript Kyra saja?" tanya Dyza masih dengan tatapan penuh kekaguman.      "Tidak. Ada sangat banyak death notarie di dunia ini. Regionku hanya satu dari beratus ribu region. Paling tidak satu pangkalan data memuat puluhan morstacript yang berbeda.      "Oh, ya ampun! Itu terlalu banyak, Zen. Waktunya tidak cukup. Tapi mencari profil dan mengecek status mereka satu per satu juga tidak memungkinkan." Dyza mendesah berat. Keadaan ini di luar perhitungan. Mereka tidak tahu menahu perihal ruang pangkalan data yang hanya bisa diakses sekali oleh orang yang sama, juga durasi waktunya yang akan menutup sistem secara otomatis tiap tiga kali putaran konograf.      "Ayo, lobus frontalis, berpikirlah!" Dyza mengetuk-ngetuk pelipisnya.      Lobus frontalis itu apa? Zen bertanya dalam hati sambil memperhatikan Dyza. Gadis itu memang memiliki kebiasaan memukul-mukul kepalanya, bahkan terbawa sampai sekarang saat ia berwujud roh. Entah itu benar berhubungan dengan fungsi otak atau tidak.      "Ah, aku ada ide! Kita gunakan tanggal kematian mereka untuk menyortir data!" Dyza berseru dan membuka kertas salinan dari Kyra. "Sewaktu mencatat tadi, kuperhatikan ada banyak waktu kematian yang berjarak mingguan. Kita gunakan rentang tanggal tersebut untuk menghemat waktu."      Mata Dyza yang terbiasa mengolah angka langsung menjelajah tiap lembar catatannya. Tak sampai lima menit, pembagian waktu yang dilakukannya telah rampung. "Cerdas sekali!" Zen bergumam.       Kedua sudut bibir Dyza sedikit tertarik ke atas mendengar penuturan tersebut. Tapi sekarang bukan waktunya tersanjung. Ia lekas menyebutkan rentang waktu yang pertama untuk diset dalam box launcher kotak percarian.      Ketika Zen menyetel rentang waktu yang dimaksud, ada sekitar puluhan nama yang muncul. Namun, tidak satupun dari mereka yang tercatat dalam salinan mortascript Kyra. Itu berarti arwah yang belum melakukan konfirmasi dalam rentang waktu tersebut berada di region lain yang bukan tanggungjawab Zen.      Secara keseluruhan, ada total lima rentang waktu yang dibuat Dyza. Sampai rentang waktu keempat, tidak ada satupun nama dalam salinan catatan mereka yang cocok. Tentu, Zen dan Dyza berharap tidak ada nama yang cocok sampai akhir. Karena dengan begitu, mereka bisa fokus memantau calon-calon arwah yang akan meninggal tiga bulan dari sekarang untuk mengantisipasi.      Tapi sesuatu memang tidak ada yang instan. Sebab di rentang waktu kelima, untuk kematian yang terjadi kurang lebih seminggu yang lalu, ada satu nama dalam catatan Kyra yang juga terpampang di monitor.      "Ini dia!"      Zen menyentuh sebuah tombol di layar untuk membuka profil arwah tersebut. Ada sedikit keluhan di hatinya menyaksikan daftar prestasi dosa sang arwah yang lumayan banyak. Kebanyakan perkelahian fisik.      "Oh, sial!" Zen menyisir rambutnya ke atas begitu melihat koordinat terakhir sang arwah targetnya.       Dyza yang bersyukur karena berhasil menemukan profil arwah tanpa kehabisan waktu langsung menengok. "Kenapa Zen?"      "Lokasi terakhir arwah ini di hutan gelap."      "Tidak masalah. Kita bisa bawa penerangan ke sana, bukan? "      "Masalahnya bukan itu."      "Lalu?"      "Hutan gelap itu kawasan tanpa hukum wilayah. Bila di daerah dengan teritorial di bawah perlindungan kementerian saja iblis bisa menyusup, bagaimana dengan di sana?"      Dyza tergemap. Untuk permasalahan kali ini, lobus frontalisnya buntu dan tidak bisa memberi solusi.      "Zen, waktunya sudah hampir habis!" Dyza memekik tertahan begitu melihat putaran konograf Zen.       Ruang pusat data tersebut akan menghancurkan makhluk apapun di dalamnya bila menyalahi waktu yang telah ditetapkan. Dyza tidak paham bagaimana detail "menghancurkan" yang dimaksud, tapi jelas ia tidak ingin menjadikan dirinya--dan juga Zen--sebagai bahan percobaan. Meski kemungkinan besar kisah mereka itu akan dimuat dalam sejarah, menjadi membelajaran bagi orang-orang di masa depan, dan terhitung sebagai amal jariyah.       Zen lekas meraih tangan Dyza dan berteleportasi keluar. Di depan ruangan,  Kyra yang sudah berulang kali berjalan mondar-mandir dengan gelisah, juga Reva dan Rava yang air mukanya tidak bisa disebut santai, langsung menyambut keduanya.        "Kami dapat satu arwah!" kata Zen setengah berbisik. Profil arwah yang tersesat adalah protokol seorang Seeker yang harus dijaga.       "Di mana koordinatnya?" Arzel menyapukan tangannya membentuk barier agar suara mereka tidak terdengar.       Zen menghembuskan napas berat. "Hutan gelap."      "Hutan gelap?!" kompak Reva dan Rava terkesiap. "Itu kan masuk zona merah!"      "Bukan masalah. " Arzel bangkit dari duduknya yang senantiasa menyilangkan kaki.      "Arzel, kamu ingin ke mana?" Kyra bertanya pelan, tidak ingin pertanyaannya membuat Arzel tersinggung atau dalam artian lain,  "tidak suka".      "Hutan gelap." Arzel menyahut singkat.      "Hutan gelap?!"      "Karena aku terlanjur di sini dan mendengar pembicaraan kalian, tentu aku akan dipanggil sebagai saksi bila kalian bertindak ceroboh di sana." Arzel menatap sekilas dengan tatapan dinginnya. "Dasar kalian merepotkan!"      Hanya dengan kalimat tersebut, Arzel kemudian menghilang menjadi keping-keping berkilauan.      Kyra memandang titik-titik bercahaya itu sambil tersenyum kecil. Arzel selalu saja bertindak demikian. Padahal tidak ada yang memintanya tinggal dan mendengarkan hasil pencarian Zen dan Dyza.      "Malaikat maut itu tidak berbohong, 'kan? Dia benar akan menemani kita ke hutan gelap." Reva dan Rava saling pandang dengan penuh sangsi. Pasalnya, hutan gelap itu daerah yang rawan dan horolog mereka menunjukkan high alert time. Di dunia manusia pasti sedang memasuki fase tergelap alias waktu sebelum subuh saat ini.      "Kalian pernah mendengar malaikat berbohong?" Zen menarik napas lalu meraih tangan Dyza. Sebelah matanya dikedipkan pada Kyra yang tampak segan menyanggah Reva dan Rava. "Ayo, bisa ribet kalau grim raeper itu dibuat menunggu lama."      Belum sempat mengutarakan sepatah kata, Dyza merasa tubuhnya yang sangat belum siap tertarik ke dalam suatu titik dan berteleportasi.      Oke. Satu catatan bagi Dyza adalah ia harus membiasakan diri dengan teknik lintas ruang tersebut. ***** To be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN