28. Departed

809 Kata
Sewaktu Zen berkata bahwa tumbuhan di dunia Medieter sangat terbatas, yang terlintas di pikiran Dyza adalah tanah gersang nan tandus dan sekian jenis tumbuhan thallophyta tingkat rendah--serupa lumut, jamur, atau mungkin ganggang--yang belum memiliki bagian-bagian lengkap seperti flora pada umumnya.   Kenyataannya, hutan di dunia peralihan tersebut tak kalah rimbun dengan hutan hujan tropis kebanggan Indonesia Raya, namun terlihat heterogen dan minim biodiversitas. Sejauh mata memandang, hanya tampak pohon kayu berbatang tebal dengan percabangan simfodial. Dahan rebahnya yang merayap di sepanjang tanah saling berkejar-kejaran dengan akar banir yang mencuat ke permukaan.      Sekilas tampak seperti pohon Ek raksasa tanpa daun sehelai pun. Ukuran batangnya luar biasa besar, mungkin memuat lima orang yang saling merentangkan tangan berkeliling. Tingginya pun tak terukur. Dyza bahkan sulit menemukan puncak pohon yang spesiesnya belum terdaftar dalam kunci determinasi tumbuhan tersebut karena tersembunyi di balik kabut awan kelabu di atas sana. Dyza sempat mengorek sedikit kulit kayu pohon tersebut, tekturnya keras namun elastis. Serat-seratnya rapat dan kokoh. Dyza jadi penasaran bagaimana pemampakan jaringannya di bawah pengamatan lensa mikroskop.       Desis tertahan dari Zen yang ujung jubahnya tersangkut pada salah satu ranting membuat lamunan Dyza buyar. Setelah berjongkok dan membantu Zen melepaskan kaitan juluran dahan tersebut dengan hati-hati, ia lekas mengedarkan pandangan untuk memindai situasi. Sesuai namanya, hutan gelap yang dimaksud Zen benar-benar gempita, hanya sedikit penerangan dari luar yang masuk, menampakkan bayangan samar dari pepohonan yang menyeramkan. Pupil mata Dyza sampai harus berdilatasi maksimal untuk berjalan melalui lilitan akar agar tidak tersandung.       Dyza menyipitkan mata begitu cahaya putih Arzel berpendar dari kejauhan. Ketika fokusnya teralih, sebuah akar yang terjulur mengambil kesempatan untuk mencekal kakinya.       "Hati-hati!" Zen refleks melingkarkan tangannya pada bahu Dyza.      Dyza pun menoleh pada Zen dan mendapati kedua pangkal hidung mereka yang hampir bertemu.      "Apa-apaan sih, pegang-pegang sembarang!" Dyza spontan mendorong Zen dan memundurkan tubuhnya. Nahas, Zen yang sedang berpijak pada salah satu dahan kehilangan keseimbangan sehingga mereka berdua sama-sama tergelincir.      Zen lekas melakukan teleportasi sebelum pelipis mereka beradu dengan sisi dahan yang tumpul. Sedetik kemudian, mereka pun mendarat dengan tidak sempurna di depan Arzel, Kyra, juga Reva dan Rava.      "Wow! Pose yang menarik!" Reva dan Rava bersiul heboh. Sementara Kyra hanya tersenyum malu-malu melihatnya. Arzel, tetap dengan wajah datarnya.      "Bisa tidak kamu beri aba-aba sebelum teleportasi!" Dyza langsung sewot dan berdiri setelah menghujani lengan Zen dengan cubitan kecil.       "Uh, dasar! Aku ini menyelamatkanmu, tahu!" Zen meringis. "Kamu mau benjol bertahun-tahun terbentur akar besar itu dua kali!"       Dyza mencebik namun kemudian berujar pelan. "Oke. Terima kasih."       Zen mendengus kecil. "Sama-sama."       "Mereka lucu." Kyra melirik Reva dan Reva lalu terkekeh bersama.       Zen berdeham lalu berdiri dan menepuk-nepuk jubahnya. "Sudahlah, ayo bergegas!" katanya untuk menghindari Reva dan Rava yang kembali merecokinya dengan siulan.       Arzel tanpa perlu diberitahu lekas melecutkan telapak tangannya, membuat bola-bola cahaya yang mengikuti mereka sepanjang jalan. Adapun Zen mengambil tempat di posisi paling depan dan memandu jalan dengan sensornya.        "Sebentar!" Zen yang mendeteksi sebuah gelombang memberi isyarat untuk berhenti. Ia memutar badan lalu menutup mata perlahan. Sebelah tangannya dibawa ke depan, sedang tangan yang satunya ditahan di pelipis.       "Duh, Zen! Bikin pose yang lebih keren, kek! Gayamu mirip Roy Kiyoshi pas lagi menerawang!" Reva dan Rava tergelak, namun langsung membungkam saat ditatap tajam oleh Arzel.       Zen hanya mendesis lalu kembali memusatkan konsentrasinya yang hampir pecah. "Ke arah sini!"        Baik Dyza, Arzel, Kyra, maupun Rava dan Rava langsung mengikuti Zen tanpa dikomando. Mereka berhenti tepat di depan sebuah pohon yang ukurannya sedikit lebih besar dibanding pohon-pohon yang lain.       "Si-siapa kalian?" tanya sesosok arwah di balik pohon yang tidak kelihatan karena penggung Zen menghalangi pandangan. Suaranya yang rendah dan gemetar membuat Dyza memberanikan diri untuk mengintip.       Zen menarik napas panjang. Ini adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu sebagai seorang Seeker.       "Perkenalkan, namaku Zennius Arsenio." Zen mengeluarkan kartu anggota Tim SSAR dari saku di balik jubahnya. "Seeker yang bertugas mengantarmu sampai ke terminal perbatasan pintu langit."       Dehaman kecil menutup perkenalan Zen. Ia masih sibuk menilai dirinya sendiri saat arwah tersebut keluar dari balik pohon dan langsung menjabat tangannya.       "Tuan Seeker! Syukurlah! Terima kasih!" Arwah tersebut membungkuk beberapa kali.       Dyza hanya mengamati tanpa mengucapkan sepatah kata, sampai arwah tersebut mengarahkan pandangan ke balik bahunya dengan kedua alis saling menyatu. Serta merta Dyza berbalik, mengikuti arah pandang sang arwah yang jatuh pada Kyra.       "Ka-kamu?!" Kyra lebih dahulu berseru. Lensa matanya yang bersinar indah karena pantulan bola-bola cahaya milik Arzel kian berkaca.       Sementara itu, Arzel yang langsung menyeruak ke depan ikut terpaku. Mimik pertama yang bisa Dyza identifikasi dari wajah malaikat maut tersebut yang selalu datar tanpa ekspresi.       "Kalian berdua saling mengenal?" pertanyaan Zen memecah keheningan yang tercipta, mewakili Dyza, Reva, dan Rava yang turur dilanda kebingungan.      Kyra mengangguk kaku lalu berujar dengan bibir bergetar. "Dia ... ketua geng motor yang pernah kucatat dalam mortascript milikku." ***** To be Continued    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN