29. Spectre

1681 Kata
Sedari dulu, ada sebuah konspirasi yang seringkali berputar di kepala Dyza. Teori-teori yang kemudian berakhir pada beberapa pertanyaan tak berujung, yang kemudian ia putuskan sebagai sesuatu yang tidak mungkin untuk terjadi. Termasuk di antaranya tentang hantu, arwah, dan roh yang sebelum ini ia sangsikan keberadaannya.      Eksisensi Zen, Kyra, Arzel, juga Reva dan Rava memanglah jauh di luar nalar. Namun perlahan Dyza bisa membuka pikiran dan hatinya untuk menerima kehadiran mereka sebagai sesuatu yang bukan mustahil. Terlebih, tidak satupun hal terkait makhluk tak kasat mata itu yang menyalahi kaidah-kaidah ilmiah yang dipegang teguh seorang penggemar sains sepertinya.       Hal yang sama harusnya berlaku pula untuk arwah yang sedang berstatus sebagai lost soul alias jiwa yang tersesat--yang sedang ia dan Zen tangani--saat ini. Bila ia mampu untuk menerima keberadaan Arzel yang notabenenya seorang malaikat, juga Zen, Kyra, Reva serta Rava sebagai Luxa yang eksistensi bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, menerima kehadiran sang arwah tersebut harusnya mudah saja baginya. Namun kenyataan tidak demikian, ada sesuatu yang terus mengusik hati Dyza semenjak arwah tersebut duduk bersama mereka dan menuturkan masalah pemberangkatannya yang tertunda. Fakta bahwa dia--si arwah pernah menjalani kehidupan sebagai manusia, sama sepertinya.       "Kamu masih ingat semuanya, Ryan?" Kyra adalah orang pertama yang bersuara saat Ryan--arwah ketua geng motor yang ia kenali--tersebut mengakhiri penjelasannya.       "Waktu kematiannya belum lama, Kyra." Zen menjawab begitu menangkap raut wajah tidak mengerti yang ditunjukkan Ryan. "Untuk arwah yang meninggal kurang dari seminggu, memori tentang kehidupannya masih utuh. Lebih dari itu, ingatannya akan makin melemah sampai benar-benar hilang."       "Be-begitukah, Tuan Seeker?"      "Ya. Beruntung sekali kami bisa menemukanmu segera. Tahap paling sulit bagi para Seeker adalah membantu para arwah menyelesaikan verifikasi berkasnya, sebab sebagian besar arwah tidak ingat akan masalah hidup yang membuatnya tertahan," terang Zen. "Ngomong-ngomong panggil Zen saja."      "Benar," imbuh Reva. "Tidak usah terlalu formal. Panggil kami sesuai nama kami saja. Ini bukan kerajaan Siliwangi. Kita anaknya santuy, kok!" Rava melenggut membenarkan. "Kecuali dia," bisiknya menunjuk Arzel. "Jangan macam-macam. Nanti nyawamu dicabut dua kali."      Ryan menoleh pada Arzel dan membungkukkan tubuh. Ia masih gentar menatap malaikat maut yang memisahkan roh dan jasadnya tersebut, walau detail prosesnya tidak diingatnya lagi karena ingatannya ditangguhkan sampai di langit ketujuh nanti untuk melindungi protokol kematian. Intinya, ada trauma tersendiri baginya melihat grim reaper itu.       "Maaf, Tuan malaikat yang terhormat."       "Arzel."       "Baik, Tuan Arzel."       "Arzel, kataku!"       "Ba-baik. Ma-maaf, Arzel."      Arzel tidak menjawab dan mengarahkan tatapan pada Reva dan Rava. "Dan kalian berdua. Berhenti berbicara sembarangan atau roh kalian kutahan sementara."      "Buseeet, dah! Main tahan roh kayak pinjaman kredit tahan BPKB saja!"       Ryan yang mendengar perseteruan kecil itu mengulas senyum lalu kembali menghadap Zen. "Aku yang seharusnya bersyukur dan berterima kasih. Pertama kali tiba di sini, aku benar-benar bingung sampai akhirnya tersesat di hutan ini. Dua orang yang mengantarku ke kemari tidak berbicara banyak. Kupikir mereka tidak terlalu menyukaiku." Ryan mengelus tengkuknya. "Mereka hanya terus berusaha menyadarkanku bahwa aku sudah ... mati."      Deg! Mendengar kata "mati" membuat Dyza semakin tergemap. Bibirnya menjadi makin keluh untuk berbicara. Adapun Zen justru merasa iba. Ductor--Luxa yang bertugas untuk membawa arwah ke alam peralihan bersikap sesuai dengan cara kematian arwah. Bila kematiannya dengan jalan yang baik, mereka akan bersahabat. Demikian pula sebaliknya. Tapi setidaknya mereka masih berusaha menyadarkan Ryan agar tidak mengalami soul traumatic, alih-alih mendiamkannya sepanjang jalan.      "Kamu tidak mati, Ryan. Tidak ada roh yang mati." Kyra menepuk pelan pundak Ryan. "Kamu hanya berpindah alam untuk kehidupan yang baru."       Ryan melipat bibir, bahunya sedikit berguncang. "Terima kasih, hmm ... Kyra?"      Kyra mengulas senyum dan mengangguk. "Ya. Tidak apa-apa, panggil Kyra saja."       Ryan menyambung. "Aku sungguh tidak menyangka kamu adalah seorang asisten malaikat pencabut nyawa. Pertama kali melihatmu tersenyum sambil membagikan makanan pada anak-anak jalanan, aku pikir kamu seorang peri."       "Uwu, sangat menyentuh." Reva dan Rava kompak menggosok bagian bawah hidungnya. "Tapi tolong julukannya diganti. Kasihan Kyra kami, nanti disangka teman satu arisannya Mimi Peri."       Kyra hanya terkekeh kecil menanggapi guyonan keduanya. Kapan-kapan ia harus menemui Mimi Peri yang dimaksud dan meminta maaf. Meski ia tidak yakin peri juga melakukan arisan seperti manusia.        "Terima kasih juga karena telah menolongku berulang kali. Aku tahu kamu orang yang baik. Kamu tidak melukai orang lemah. Hanya saja, bertengkar dan membuat perkara itu bukan hal yang benar."       "Aku mengerti." Ryan memejam erat. "Hari itu aku berjanji pada ibuku bahwa ini adalah tawuran terakhir yang kulakukan sebelum melepas posisi ketua geng. Tapi ketika aku pikir semua sudah selesai, sebuah busur menusuk dadaku dan semua terjadi begitu cepat. Lalu ketika aku terbangun, aku sudah bukan makhluk hidup lagi."      "Sudahlah, Bro!" Reva dan Rava mengambil tempat di sisi Ryan. "Kamu harus ikhlas agar bisa mendapat tiket menuju terminal perbatas pintu langit."        "Ya, terima kasih." Ryan mengerjap berulang kali. "Aku hanya merasa belum siap."       "Maaf ...," Kyra bergumam lirih.       "Jangan meminta maaf, Kyra." Arzel berdiri mendahului Ryan yang baru ingin membuka mulut. "Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, tapi mungkin kamu tidak ingat. Aku tidak menunggu kesiapan siapapun untuk bisa mencabut rohnya." Arzel melirik Kyra. "Demikian pula Kyra yang tidak menunggu siapapun siap untuk menuliskan namanya di mortascript. Yang Maha Kuasa sudah menakdirkan itu. Kalian--manusia, harusnya selalu bersiap diri."      Penuturan Arzel membuat Dyza mendadak disergap ketakutannya sendiri. Membayangkan suatu saat nanti dirinya berada dalam keadaan yang sama, sebagai seorang arwah yang bukan hanya meninggalkan tubuh fisik--seperti yang ia lakukan sekarang, tetapi juga meninggalkan dunia dan semua urusannya.       Dengan tangan bergetar, Dyza lalu mencengkram erat liontun kalung penghubung yang melingkar di lehernya. Peringatan Zen yang semula ia anggap remeh mulai sekarang akan didengarnya baik-baik. Sungguh, bahkan memikirkan dirinya menjadi roh yang terpisah selamanya dari tubuh mortal-nya saja sudah sangat menyeramkan.       "Semua makhluk yang bernyawa akan merasakan mati." Arzel kembali berujar melihat gelagat Dyza, reaksi yang sudah sering ia temui dari para manusia yang akan dijemput olehnya. "Kalau kamu takut mati, maka jangan meminta untuk diberikan nyawa. Agar aku tidak perlu repot-repot melepasnya lagi."      Kyra menoleh. Dengan clairvoyance-nya, Death Notarie tersebut bisa merasakan kegelisahan yang dipancarkan kedua netra Dyza.      "Mati itu hanya sebuah terminologi untuk keadaan di mana tubuh berhenti melakukan respon fisiologis. Bukan begitu, Dyza?"      Dyza mengangkat kepala dan membuat gerakan depresor membentuk sebuah anggukan kecil.       "Roh adalah energi kehidupan yang memberi kemampuan bagi makhluk hidup untuk bisa hidup sesuai hakikatnya. Roh yang menyediakan energi bagi jantung untuk berdetak lalu meneruskan daya hidupnya ke otak dan ke seluruh organ," terang Kyra. "Ketika tiba masanya nanti, roh akan dipisahkan dari tubuhnya. Berakhirnya kehidupan roh dalam raga itu lah yang disebut dengan istilah mati."       Dyza mencermati setiap kata-kata Kyra.       "Tubuh fisik sebagai bentuk materi yang tidak kekal perlahan akan hancur. Tetapi tidak demikian dengan roh yang merupakan energi."       "Hukum Pertama Termodinamika!" Dyza berseru tertahan. Lagi-lagi, teori untuk hal di luar nalar tersebut sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dipahaminya. Hukum Pertama Termodinamika telah menyatakan kekekalan energi. Bahwasanya, energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi dapat diubah menjadi bentuk energi lain. Kyra benar, pada dasarnya seseorang tidaklah mati, rohnya hanya berpindah alam.      "Kamu lebih paham soal itu. Intinya, kematian adalah sesuatu yang pasti. Bukan untuk dihindari dan ditakuti, tetapi untuk dipersiapkan." Kyra mengulas senyum.       "Jadi roh sebagai energi itu akan kekal selamanya?"      "Tidak ada yang kekal kecuali Sang Pencipta." Arzel memutar badan. "Pada akhirnya nanti, semua makhluk akan binasa. Pada saat hari kiamat tiba."      "Kamu ... juga?" tanya Dyza ragu pada malaikat maut tersebut.     Arzel mendengus kecil sembari melipat tangan di depan d**a. "Kamu mengharapkan kematianku?"       "Bukan!" Dyza menyergah cepat dan menoleh pada Kyra. "Maaf, Kyra. Aku tidak bermaksud mengharapkan Arzel untuk mati."      "Eh? Oh i-iya. Ha-harusnya kamu mengatakan itu pada Arzel langsung." Kyra tergagap dan langsung menundukkan wajah begitu Arzel menatapnya.      "Kenapa kamu malah meminta maaf pada Kyra?" Reva yang kurang pandai membaca situasi malah ikut bertanya.       "Habis aku yakin Kyra lebih mengkhawatirkan Arzel dibanding Arzel mengkhawatirkan dirinya sendiri." jawaban dari Dyza lantas membuat Kyra makin menunduk.       "Aku memang tidak pernah mengkhawatirkan apapun." Arzel bangkit lalu menghampiri Kyra. "Ayo, pulang."   Zen ikut berdiri. "Kita juga harus kembal,." katanya pada Dyza lalu melihat ke arah horolognya yang terbuka. "Hari ini kamu harus menghadiri seminar, bukan?"      "Oh, iya! Benar juga!" Dyza menepuk jidat. "Lalu bagaimana dengan Ryan?"       Reva dan Rava di sebelah Ryan kembali merangkul arwah tersebut. "Untuk sementara Ryan bisa ikut dengan kami. Tenang saja, kami informan yang lebih tanggap dari tim investigasi."      "Investigasi kepolisian?"        "Investigasi selebriti."      Dyza merengut sambil menoleh pada Ryan yang wajahnya sangat-sangat pucat. Arwah itu tampak menerawang sambil menyentuh tanda hitam yang melingkar menyerupai gelang di tangan kirinya. Sebuah segel yang membuatnya tidak bisa melalui tahap verifikasi berkas.       "Bila masalahmu nanti selesai, segel itu akan hilang. Percayalah." Zen menepuk kedua pundak Ryan.       "Andai kamu manusia, mungkin bisa disamarkan pakai BB cream." Reva dan Rava berkelakar. "      Zen mengetuk kepala dua kembar tersebut lalu kembali menatap Ryan.      "Kunci adalah ikhlasan. Kamu harus ikhlas melepas hidupmu sebelumnya."       "Ya, dua orang yang mengantarku ke mari juga berkata demikian." Mata Ryan kian berkaca. "Aku hanya memiliki satu keinginan untuk kuwujudkan sebelum benar-benar pergi."        Zen dan Dyza bertukar pandang. Kyra dan Arzel juga langsung memberi perhatian pada Ryan. Bahkan Reva dan Rava menutup mulut.      "Apa itu?"      "Sebelum ini ayah dan ibuku tidak pernah melihatku sebagai seorang anak. Mereka hanya menyayangi dan membanggakan kakakku yang kuliah kedokteran dan berprestasi." Setitik air mata jatuh ke pipi Ryan. "Mereka memaksaku kuliah di jurusan yang mereka pilihkan. Aku benar-benar merasa tertekan hingga akhirnya memilih bergabung dalam kawanan geng motor yang lebih menghargai keberadaanku."      Hening yang cukup lama diisi oleh suara isakan Ryan.       "Meski begitu, aku sama sekali tidak membenci orang tuaku. Aku tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka membiayai kuliahku, walau aku butuh waktu lama untuk menyelesaikannya." Ryan menyapu air matanya. "Ada sebuah surat di laci kamarku. Tolong sampaikan surat itu pada ayah dan ibuku."      "Surat?" Kyra bertanya dengan suara parau karena ikut menangis.       "Ya. Ini tahun terakhir bagi angkatanku untuk bisa menyelesaikan kuliah sebelum drop out." Ryan menghirup napas panjang lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyum sendu. "Surat itu adalah undangan untuk menghadiri wisudaku pekan depan." ***** To be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN