Satria : Back at One

3311 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “One, you're like a dream come true Two, just wanna be with you Three, girl, It's plain to see That you're the only one for me, and Four, repeat steps one through three Five, make you fall in love with me If ever I believe my work is done Then I'll start back at one.” Suara merdu itu keluar dari bibir dan tenggorokan Satria. Laki-laki itu kini sedang berada di kamarnya, di atas ranjang dengan kaki bersila sementara pahanya memangku gitar kesayangan dia yang berwarna cokelar kayu mahoni tersebut. Selain karena Lima Hari udah lama gak perform jadi bikin dia kangen, sesungguhnya alasan yang lain juga karena dia sedang terngiang-ngiang lagu tersebut. Duh, siapa lagi, sih, emang yang bakal ngisi kepala Satria setiap lirik demi lirik yang terucap lewat katanya? Gak lain dan gak bukan, ya, kekasihnya sendiri. Kaila Ayunda. Gadis manis yang kini sudah bisa ia panggil dengan sebutan pacar semenjak satu minggu yang lalu itu rasanya gak mau keluar dari kepala Satria. Beruntung laki-laki tersebut gak keberatan sama sekali. Terlihat dari bagaimana bibirnya selalu melengkung tiap kali terbayang wajah cantik dan menawan milik Kaila Ayunda. “One, you're like a dream come true Two, just wanna be with you Three, girl—“ “Satria?” Tok tok tok. Suara ketukan pintu di depan kamarnya juga panggilan dari suara sang ibu membuat laki-laki itu berhenti bernyanyi. Punggungnya jadi menegak. “Bentar, Bu.” Satria udah mau bangkit dari duduknya, menimbulkan suara rusuh di atas ranjang karena ia terburu-buru tapi kemudian gerakannya terinterupsi oleh kalimat lanjutan yang ibunya. “Gak papa gak usah dibukain. Ibu cuman mau ngasih tahu, kamu bukannya ada janji mau ke rumah Kaila?” Ah, memang. Sejak dekat dengan Kaila bahkan sebelum keduanya berpacaran, Satria sudah mengenalkan gadis itu ke ibunya. Bukan tanpa alasan. Tapi dari dulu, dia memegang prinsip bahwa apa yang jadi pilihan ibunya adalah yang terbaik. Makanya dia bermaksud mempertemukan dua perempuan itu agar ibunya bisa memberi kesan dan izin. Setelah mengantungi hal-hal baik atas pertemuan Kaila dengan sang ibu, Satria langsung menyatakan perasaannya pada Kaila, yang ternyata mendapat respon positif dari gadis itu. Satria masih ingat bagaimana tangannya berkeringat kala dia meminta Kaila agar mau menjadi pacarnya. Dia masih ingat bagaimana nervousnya dia kala mendapati Kaila malah diam saja tak kunjung memberi jawaban. Tapi begitu Kaila tersenyum salah tingkah dan mengangguk sebagai pengganti kalimat iya, dia gak bisa menahan diri buat gak melemaskan pundaknya yang tegang sedari tadi. Belum lagi senyum yang langsung lebar bagaikan jalanan tol. Satria masih sangat mengagumi Kaila sebagaimana dulu dia pertama menemukan gadis itu di perpustakaan. Gak ada yang berubah, selain gimana cintanya semakin tumbuh makin mendalam saja. Satria membukakan pintu untuk ibunya. “Iya, kan?” ibunya langsung menodong pertanyaan lagi. “Jadi apa gak?” “Iya, jadi. Tapi aku belum mandi.” “Ya udah, gih, mandi.” “Ibu abis dichat sama Kaila?” Iya, ibunya Satria sama Kaila aja udah kontakan dan lebih sering chattingan dan teleponan dari pada sama Satrianya sendiri. Aneh gak, tuh? Kayak-kayak yang pacarnya Kaila, tuh, bukan Satria tapi ibunya. Bahkan Kaila lebih sering ke rumah untuk mengunjungi ibunya. Tapi gimanapun, Satria gak bisa menampik rasa senang karena ibunya menyukai perempuan yang ia pilih. Mengingat Kaila dan ibunya memang punya karakter yang hampir sama, agak maklum sih kalau keduanya emang bakal gampang deket dan berbaur satu sama lain. Klop banget. “Enggak, kok. Tapi kemarin ibu denger kamu teleponan sama Kaila di dapur katanya mau ke rumah dia.” “Ooh,” Satria mengangguk-angguk. “Iya. Ibu mau nitip sesuatu biar Satria beliin pas pulangnya?” “Eum, apa ya...” ibunya mikir. “Rujak manis aja boleh, deh?” “Di biasanya?” Sang ibu menoleh. “Dimana aja boleh. Kalau yang di langganan ibu, kan, gak searah sama rumahnya Kaila.” “Udah? Itu doang?” “Sama titip salam ke pacar kamu ya, Nak.” “Iya, Bu...” “Oke, udah. Itu aja.” Satria mengangguk. “Aku mandi dulu kalau gitu.” Sang ibu jadi ikutan mengangguk sambil mundur satu langkah. Tapi bahkan baru juga Satria hendak menutup lagi pintu kamarnya, terdengar kalimat ledekan dari sang ibu. “Mandinya cepetan, loh! Jangan kebanyakan nyanyi lagu Back at One mulu.” Satria hanya bisa mencibir. Ya gimana lagi? Namanya juga lagi jatuh cinta. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “One, you're like a dream come true Two, just wanna be with you Three, girl, It's plain to see That you're the only one for me, and Four, repeat steps one through three Five, make you fall in love with me If ever I believe my work is done Then I'll start back at one.”   Lagu itu kembali terputar kala Satria menghidupkan radio di dalam mobilnya. Kala ini, ada sang kekasih yang menemaninya di jok kursi samping. Kaila sedang bersenandung kecil mengikuti lirik lagu, membuat Satria melirik kecil sambil melengkungkan senyum. Kailanya yang manis. “Eum, Sat. Kamu besok ada ngisi seminar katanya, ya Eh iya, gak?” Satria mengangguk. “Iya, besok kan tanggal 12 an.” “Terus berangkatnya dapat akomodasi dari kampus atau gimana?” “Dari kampus, sih, alhamdulillah,”  Satria nyengir. “Lumayan hemat bensin.” “Nginep di hotel berarti?” “Kayaknya gitu. Tiga hari, ya, aku.” Kaila ber-oh ria dan manggu-manggut. “Kenapa?” tanya Satria kini menghentikan mobil karena di depan rmereka ada rambu lalu lintas jalan raya yang tengah menampilkan warna merah. “Mau ikut kamu?” “Ih, ya enggak, lah, ngaco.” Satria ketawa, tangan kirinya mengusap lembut, setengah mengacak poni perempuan itu. “Gak apa tahu kalau mau ikut. Kan gak cuman berdua doang sama aku. Nanti kamu tidur sama yang cewek-cewek.” Tapi Kaila tetap menggeleng. “Gak, ah.” “Yah, padahal udah seneng aku, tuh, kalau kamu mau ikut.” “Kenapa gitu?” Kaila menahan senyumnya. “Takut kangen, ya, Mas kalau gak ketemu aku dua hari?” “Gak, lah. Kan masih bisa video call kamu kalau kangen. Lagian cuman dua hari. Kira juga pernah jauhan pas dulu masih PDKT.” Ya, itu juga benar. Dulu pas jaman masih pendekatan, Satria pernah pergi ke luar kota—tepatnya ke Balikpapan—karena dikirim oleh pihak kampus karena ia mengikuti lomba tingkat nasional di bidang kepenulisan jurnal. Jadi kalau mau pisah lagi ap lagi cuman dua hari, jelas hal ini tak akan jadi masalah bagi keduanya. “Ih, dasar.” Satria tersenyum. “Kalau kamu sendiri gimana? Udah sampai mana proposalnya?” Nah, yang sedang dibahas sama Satria kali ini bukan proposal skripsi apa lagi proposal lamaran, melainkan karena proposal percobaan skripsi yang terdapat di mata kuliah Metode Penelitian. “Udah bab 2, kok.” “Aman, ya, berarti aku tinggal?” “Dih, kamu ngomongnya kayak selama ini yang ngerjain proposalku kamu doang.” Padahal ya emang bener. karena otaknya Satria di atas rata-rata sampai-sampai mata kuliahnya anak FMIPA apa lagi biologi yang terkenal pinter-pinter itu gak menolak ketika sang pacar menawarkan bantuan untuk menulis dan mengerjakan. “Oh, emang bukan?” Kaila meringis mendengar itu. Dia menyerongkan tubuh ke arah kanan untuk bersandar di pundak pacarnya yang lagi nyetir kemudian berkata disana. “Iya, iya. Makasih, ya, Mas Satria yang baik sekali seperti papi peri.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Perasaan dari tadi dimana-mana kita dengernya lagu ini mulu, ya, gak?” Kaila berkomentar kala keduanya memasuki warung makan yang dia pilih, tapi ada lagu yang diplay kencang banget, seolah kayak lagi ada panggung buat mantenan di pinggir jalan biasanya. Dan lagi yang dimainkan, lagi dan lagi, membunyikan lagu Back at One dari Brian M. “One, you're like a dream come true Two, just wanna be with you Three, girl, It's plain to see That you're the only one for me, and Four, repeat steps one through three Five, make you fall in love with me If ever I believe my work is done Then I'll start back at one.” Satria mengangguk. “Iya, di rumah tadi juga ini doang lagunya.” “Hahaha,” Kaila ketawa. “Berasa jadi soundtrack kita berdua, ya?” Satria ikut ketawa mendengar itu. Ada-ada aja emang pacarnya itu. “Kamu gak dititin ibu kamu buat beli sesuatukah?” “Astaga, iya.” “Tuh, pasti lupa.” Satria meringis. “Nanti, deh, ya, aku balikya beli sendiri aja.” “Emang titip apa?” “Rujak manis.” “Yang di biasanya?” “Gak juga, kata ibu beli dimana-mana gak apa yang penting rujak manis.” “Beli yang di perempatan di depan ini aja, Mas. Enak, kok. Aku juga mau satu, hehe.” “Oh, oke. Tunjukkin aja jalannya.” Omong-omong, Satria emang sering banget sengaja dipanggil ‘Mas” sama Kaila. Tanpa alasan, sih. Karena pengen aja, gitu katanya dulu. Tapi kalau Satria inget-inget, Kaila lebih sering panggil dia pakai mas kalau pas dia greget aja sama Satria. Greget pas diajak omong, atau pas keduanya debat, begitu-begitu. Padahal, andai aja Kaila tahu, Satria lebih suka dipanggil dengan mas dari pada tanpa embel-embel apapun. Entahlah, dia hanya candu mendengar panggilan itu keluar dari bibir sang pacar yang membuat Satria jadi senyum-senyum sendiri. “Aku pedes dikit, ya, Mas,” Satria mengangguk. “Kalau ada, ya.” “Ada, kok. Pasti ada. Itu kan langgananku.” “Ya emang kalau langganan kamu, orangnya gak bisa libur gitu, hm?” Kaila nyengir. “Tapi—eh di depan berhenti!” seru gadis cantik itu. “Itu di depan payung biru itu, kan, ada anak kecil ngantri—nah udah!” Kaila heboh sendiri padahal cuman nunjukkin dimana mobil pacarnya harus berhenti. “Aku aja yang turun,” kata Satria sambil membuka pintu. “Kamu tetep disini aja.” “Oh, oke deh!” Kaila menunggu di dalam mobil. Dia mengamati pacarnya yang lagi masang senyum manis banget ke ibu-ibu penjual rujak manis—mungkin karena efek kebanyakan baca buku psikologi, Satria tuh jadi lebih ramah gitu ke orang. Kaila jadi ikut senyum sendiri pas dia tahu pacarnya meninggalkan kembalian untuk sang penjual sebelum kemudian berdiri dan masuk mobil lagi. Kaila yang dari tadi asik ngevideo langsung nurunin hape begitu Satria masuk, karena dia tahu kalau ketahuan Satria dia ngevideo-video, pasti Satria bakal rese minta dihapus. Tipikal, sih. Atas apa yang baru saja dilihat Kaila dengan mata dan kamera Iphone 12-nya itu, yang mana gak bisa bohong Satria mampu membuat hatinya menghangat, Kaila jadi membuka suara. “Mas Sat.” “Hm?” Satria noleh. “Kenapa?” Tapi Kaila cuman menggeleng kecil sambil tersenyum. “Gak papa. Cuman mau ngasih tahu kamu ganteng banget hari ini.” Satria malah ketawa sambil meraup wajahnya gemas. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Beneran di cancel aja?” Satria ngelihatin pacarnya dengan dahi sedikit menukik, agak kaget sama perubahan jadwal mereka berdua dari tadi. “Aku besok udah mau ke luar kota, loh. Gak mau quality time aja sama aku?” tawar Satria gak tahu sampai kapan berhentinya. Pasalnya, dia tanya ini udah dari jaman kapan dan diulang-ulang mulu. Kaila menghela nafas, lagi. “Iya, gak papa. Ke rumah kamu aja kita sekarang.” Sebetulnya, rencana awal Satria ngajakin pacarnya keluar  dari tadi itu buat quality time. Makanya dia ke rumah Kaila buat jemput terus keduanya—niat awalnya—bakal hangout entah kemana. Tapi ternyata, rencana mereka gagal karena Kaila tiba-tiba bilang kangen sama ibunya, ibu Satria maksudnya, dan minta ke rumah Satria aja. Cowok itu, ya, gak keberatan, sih. Gimanapun dia emang seneng karena ibu dan pacarnya bisa seakrab itu. Tapi gimanapun juga, dia kan, pengen quality time sama Kaila. “Hm, ya udah, deh. Berarti ini pulang, ya?” Satria tanya seali lagi, Dari bibir Satria, juga sorot ekspresinya, dari tadi Satria gak kelihatan lagi marah. Lagi pula orang-orang yang suka bilang bahwa cowok itu suka sensitif, nyatanya sama Kaila juga gak pernah sama sekali barang satu kali. Begitu pula dengan saat ini. Tapi sebagai kekasih yang hampir hafal sama tingkah Satria kalau lagi bete, jelas Kaila juga merasakan bahwa Satria agak memprotes dengan pilihan dadakan Kaila tersebut. Jadi perempuan itu memilih untuk kembali mmebuka suara untuk membahasnya. “Ih, jangan ngambek dong tapi.” “Aku gak ngambek.” “Masa?” Kaila iseng mencolek pipi cowok itu. “Coba noleh sini terus senyum.” “Kai, aku gak marah.” “Bohong, ah. Gak mau senyum gitu.” Satria terlihat menghela nafas sebentar sebelum dia noleh dan memasang senyumnya semanis mungkin. “Nih, aku gak marah, kan?” Kaila jadi ketawa. Dia mencubit pipi laki-laki itu gemas. “Oke, aku percaya.” “Hm.” “Tapi sebenernya aku masih ngerasa bersalah, tahu. Kamu pasti maunya quality time berdua, kan, Mas?” “...ya enggak juga. Kalau kamu lebih suka di rumah sama ketemu ibu, ya, enggak apa-apa.” “...” “Sama akunya bisa kapan-kapan. We’ll have forever.” Kaila menyeringai senang mendengar itu. “Aduh, berat banget bawa-bawa forever.” Wajah baik-baik saja dari Satria tadi jadi kembali berubah datar. Kaila yang melihat perubahan itu jadi ngakak. Gak tahu, deh. Walaupun selama in mereka berdua—dari awal pedekate—Satria tahu gak banyak perbedaan karakter antara mereka berdua, tapi tetep aja kalau lagi berdua begini, apa lagi semenjak pacaran, Satria bisa melihat terdapat perbedaan yang sangat kentara di antara keduanya. Satria yang cenderung diam dan Kaila yang lebih cerewet. Kaila yang sabar dan Satria yang jarang banget bisa sabar. Tapi apapun itu, baik Satria maupun Kaila gak masalah. Keduanya mencintai satu sama lain. Artinya mereka gak cuman menerima kelebihan dari pasangannya, tapi juga sekaligus kekurangannya. Benar begitu, kan?  * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dulu, pas awal Satria ngenalin Kaila ke anak Lima Hari, tentu aja respon yang diterima adalah respon satu yang sama. Kaget. Siapa, sih, yang kaget kalau akhirnya laki-laki yang jomblo dari lahir itu berhasil punya status sebagai pacar seorang cewek? Bangga juga tentu ada. Anak Lima Hari sama-sama suportif orangnya. Gak cuman Satria doang kok yang selalu dikasih nasihat ini dan itu, tentang percintaan juga kehidupan. Tapi semuanya selalu bahu-membahu, bikin anak Lima Hari lebih percaya dan dekat sama mereka dari pada temen kelasnya. Kata Jefran dulu, yang mana anaknya emang udah banyak pengalaman selama pacaran sama cewek-cewek di masa lalunya—sekarang, sih, enggak soalnya dia juga udah punya pacar—katanya kalau awal pacaran emang t*i cokelat berubah jadi manis. Gimana, tuh, maksudnya? Kalau anak jaman sekarang nyebutnya, sih, bucin. Alias b***k cinta. Kayak apapun hal jelek yang dilakuin pacarnya selalu gak bikin kita jadi memandang minus. Karena cinta itu buta dan kita udah terlanjur buta karena cinta. Bahasa noraknya, ya, kayak gitu. Satria mau gak percaya waktu Jefran bilang kayak begitu. Karena dia emang gak pernah ngelihat ada bibit bucin dalam dirinya. Tapi semuanya patah kala kemudian Kaila bilang gini ke Satria di hari ke lima mereka pacaran. “Gak setiap hari ketemu, kan, gak papa. Pacaran bukan berarti tiap hari harus ketemu dan tiap detik harus ngechat, kan?” Karena kalimat itu meluncur dari bibir sang pacar, Satria jadi langsung sadar kalau dirinya juga udah ada di fase bucin yang sampai-sampai tiap hari minta ketemuan atau dia yang nyamperin Kaila saking dia ngerasa kangen tiap hari. Katain aja dia lebay, Satria gak peduli. Apa salahnya jadi orang yang jujur, kan? “Aduuuh, anak gadis ibu!” Ibunya berseru histeris kala membukakan pintu dan menemukan Kaila ada disana dengan tangan kanan membawa plastik hitam berisi rujak manis untuk mereka makan bersama setelah ni. “Ayo, masuk.” Satria bahkan gak disambut sama sekali sama ibunya. Dibiarkan disana melongo doang karena ibunya langsung heboh cerita ini dan itu ke Kaila, padahal juga baru masuk. “Iya, bener. Kamu kesini aja yang sering. Ibu seneng kalau kamu sering kesini.” "Hehe, iya, Ibu." '"Sini, deh, ibu kasih lihat. Kemarin, tuh, ibu abis beli anggrek--sini, pasti kamu suka, deh, warnanya. Nanti kalau--" Satria udah gak bisa mendengarkan kalimat selanjutnya karena sang ibu sudah membawa sang pacar buat ke taman untuk memamerkan tumbuhan yang baru dibeli kemarin itu. Satria hanya bisa menghela nafas. Niatnya buat quality time dengan Kaila udah betulan gak ada harapan karena... Well, bisa dilihat sendiri gimana ibunya sudah jadi pemilik pacarnya alih-alih dia sendiri.  Lalu gak lama setelah dia dudukan di atas sofa dengan tangan ngebuka toples, lagu dari iklan MTV di televisi terdengar. It's undeniable That we should be together It's unbelievable How I used to say, that I'd fall never The basis is need to know If you don't know just how I feel Then let me show you now that I'm, for real If all things in time, time will reveal Satria ketawa geli. Kenapa, deh, lagu ini muncul lagi dan lagi seolah sehari, tuh, udah sepuluh kali mungkin, ya? Apa jangan-jangan Tuhan ngode dia buat segera ngelamar seorang Kaila Ayunda di usia semuda ini? Belum juga Satria selesai dengan lamunannya, ibu udah balik dari taman dengan Kaila yang jalan di sampingnya. Keduanya melangkah serempak ke arah tempat Satria duduk diiringi ibunya yang berkomentar. "Aduh, kamu, nih, emang bucin banget, ya, sama Kaila? Dari pagi dengerinnya lagu ini mulu." sATRIA melirik Kaila yang terkekeh kecil. Gue cuman bisa geleng-geleng kepala. "Orang bukan aku yang sengaja nyari acara TV-nya." "Ah, ngeles aja. Atau kamu mau ngelamar anak gadis Ibu ini? Ya ga apa-apa, sih, ibu gak keberatan. Tapi emang kamu gak mau kerja dulu gitu?" Satria sama Kaila cuman saling lirik. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN