Dafi : Age Gap

2941 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Kemana yang lain? Kenapa lo doang yang nyuci piring? Malem-malem pula.” Terhitung gue udah tiga kali nanya ke Metta tanpa jawaban yang memuaskan. Dia kelihatan mengalihkan pembicaraan setiap kali gue minta dia jawab yang bener—gak terkesan nutup-nutupin, well, kalau emang gue gak salah tebak. Kali ini, untuk yang ke tiga kalinya, dia hendak pura-pura mengambil piring kotor di depan. Terlihat dari caranya balik badan sambil pamitan. Tapi sayang sekali, karena gue lebih gercep dari pada cewek yang mana dua tahun lebih tua dari gue itu. “Metta. Gue nanya dari tadi.” “Rrrr, bentar mau—“ “Jawab aja kenapa, sih?” Dia langsung diem, tapi mukanya masih menunjukkan sorot sok cuek seolah kalimat gue yang kali ini terdengar tegas dan gak suka dengan jawabannya gak terlalu berpengaruh ke dia. Tapi dari caranya meneguk ludah aja gue tahu dia udah ngerasa dipojokkin.  “Metta.” “Mereka lagi keluar, Dafi,” dia menghela nafas. “Gue bukannya ada masalah apa gimana. Tapi gue lagi nganggur gak ada kerjaan, jadi mending dikerjain sekarang, kan?” “Dan sendirian? Sementara yang lain jalan-jalan?” Metta menghela nafas. “Trust me. Gue fine all the way.” “I’m sure about that. Lo bukan tipe orang yang peduli sama urusan orang, yang penting lo-nya—“ “I care about you.” Gue mendengus mendengar itu. Bahkan di tengah-tengah gue lagi nasehatin dia aja dia masih bisa ngegombalin gue? “Serius, Metta.” Dan juga, entah sejak kapan gue jadi gak membiasakan lidah buat manggil dia tanpa embel-embel kakak seperti yang seharusnya dilakukan oleh adik tingkat kepada kakak tingkatnya. Mungkin juga karena bawaan. Karena dari awal kenal Metta Rinjani, gue udah kebiasaan manggil dia begitu even gue udah tahu dia dua angkatan di atas gue. “Terus poinnya lo ngomong sekarang kayak gimana? Percuma lo mau ngomong panjang lebar. Cucian piring juga udah pada beres. Telat tahu, gak?” “At least lo harus bisa ambil kesimpulan.” “Bahwa gue gak boleh cuci piring sendirian padahal yang lain lagi main?” Gue mendengkus lagi. Metta ini umur doang yang udah tua, tapi otaknya cetek banget ngalahin anak TK. “Oke, itu salah satunya,” jelas gue. “Tapi bukan itu satu-satunya. Lo harus berani bilang enggak pas direpotin orang kalau lo emang gak mau. Dan yang kedua, prioritasin kenyamanan lo sendiri.” “...” “Paham, gak?” tanya gue agak nyolot karena dia malah bengong doang kayak anak ayam. Dia mengangguk-anggukkan kepala. Lalu entah kerasukan apa, gue mengangkat tangan untuk memberinya tepukan dua kali di puncak kepalanya. “Good girl.” Setelah itu meninggalkan Metta di dapur yang terakhir gue lihat, pipinya memerah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Masih di malam yang sama, gue gak bisa tidur. Bukan karena Metta, ya. Please otak lo jangan mikir kejauhan. Tapi karena gue pas udah ngantuk tadi dan sempet ketiduran lima menit doang, diganggu sama telepon berdering milik temen sekamar gue—bikin gue kaget dan kebangun, yang mana setelahnya gak bisa tidur tanpa alasan. Setelahnya, gue memilih buat buka hape. Emang kegiatan apa lagi, sih, yang bakal dilakuin anak jaman milenial kalau lagi gabut selain main hape? Pas gue scroll-scroll beberapa status Whats App dari temen-temen gue, yang gue pilih yang paling tengah milik kontak yang gue kasih nama Bang Jefran. Gue membukanya, lalu mendapati status Whats Appnya adalah video dia ngegenjreng di kamarnya yang gelap tapi gak gulita alias masih ada samar-samar cahaya yang memperlihatkan senar gitar dan bagaimana jemarinya bergerak dengan lincah. Gue mendekatkan speaker ponsel ke telinga demi meraih suara yang ada di status WA-nya, karena gue gak mungkin kerasin volume sementara temen sekamar gue udah pada tidur semua. She got her own thing That's why I love her Miss Independent Won't you come and spend a little time? She got her own thing That's why I love her Miss Independent Ooh the way we shine, Miss Independent   Sepenggal lirik yang gak gue dengerin sampai habis itu bikin gue terkekeh geli sama kelakuan Bang Jefran. Kabar terakhir yang gue dapat pas nongkrong sama anak Lima Hari di studio, sih, katanya dia emang lagi naksir cewek dan belum ada kemajuan sampai saat ini. Perintilan cerita gimana susahnya Bang Jefran ngejar cewek itu bikin gue paham kenapa dia nyanyiin lagu ini. Karena sekilas cerita dari abang gue yang satu itu, ceweknya bang Jefran—calon cewek maksud gue, itu pun kalau jadi jadian—adala tipe cewek yang sebelas dua belas sama Metta. Kelihatan sangar maksudnya. Dan lagu milik Ne-Yo yang berjudul Miss Independent jelas cocok untuk dua perempuan tersebut : Metta dan ceweknya bang Jefran. Gue geleng-geleng kepala. Kalau gue pikir-pikir, kenapa bang Jefran gak sama Metta aja? Mereka deket, temen baik, dan kalau keduanya jadian juga kelihatan cocok-cocok aja, mana dua-duanya punya banyak kesamaan, juga kalau gak salah inget, bang Jefran juga pernah bilang dia sempet tergiur sama Metta. Karena gak butuh jawaban dari pertanyaan gue sendiri, kini gue memilih buat mengetikkan balasan disana untuk Bang Jefran. Dafi : waduh bisa galau juga nih   Gak lama, balasan langsung datang bikin gue agak wah karena biasanya bang Jefran nih susah dan lama banget kalau disuruh bales chat orang.   Jefran Lee Samuel : aku juga manusia kak   Dafi : cari yang lain kayak biasanya aja bisa kan? biasanya juga gitu lo kalau satu gak dapet, ya satunya   Jefran Lee Samuel : gak mau ah yang sekarang lebih nantangin heh by the way gimana hari lo disana?   Gue ngakak baca chatnya terakhir.   Dafi : bang plis bahasa lo gak ada yang lebih norak?   Jefran Lee Samuel : lah nanya serius gue udah deketan belom sama temen gue   Dafi : temen lo siapa   Gue sengaja pura-pura gak tahu. Lagian kenapa juga, sih, belakangan tiap kali ada kesempatan ngobrol sama bang Jefran, pasti ada aja persoalan Metta yang dibahas. Jefran, nih, kayak tukang promosiin Metta gitu, loh. Ngerti gak, sih, lo?   Jefran Lee Samuel : gak usah pura-pua b**o ya dap amnesia beneran mampus   Dafi : galak bgt buset pms neng? gak gimana-gimana bang cuman ya udah ngobrol   Jefran Lee Samuel : terus menurut lo anaknya kayak gimana?   Dafi : gak gimana-gimana bang   Jefran Lee Samuel : demi apapun ya lo kalau jawab gak gimana-gimana lagi gue jorokin ke segitiga bermuda   Dafi : wkwkw ya abisnya gimana beneran gak gimana-gimana yang gimana kok   Jefran Lee Samuel : bahasa lo   Dafi : dia asik diajak ngobrol selebihnya gue gak tahu ban   Jefran Lee Samuel : belum tau aja bukan gak tau   Dafi : ya ya ya terserah   Setelah itu, gak ada balasan lagi dari bang Jefran, entah dia kemana gue juga gak peduli. Yang pasti setelah itu, gue bangkir dari kasur. Niatnya, sih, mau ke kamar mandi buat buang air kecil karena angin yang menerpa melalui jendela bikin kulit gue merinding dengan bulu kuduk berdiri saking dinginnya. Cuaca yang kayak begitu emang gampang banget bikin orang jadi pipisan. Tapi kala ngelewatin kamarnya anak cewek yang lagi terbuka setengah pintunya itu, gue mendapati Metta ada di atas ranjang, tidur menyamping dengan kedua tangan terlipat di bawah pipinya. Nafasnya naik turun dengan tenang, sepertinya benar-benar sudah terlelap. Gue gak tahu anak cewek yang lain kemana karena dari tadi gue juga belum ketemu mereka selain pas ngeronda. Yang pasti, saat ini di kamar anak cewek gue yakini gak ada siapa-siapa. Demi Tuhan bukan maksud gue buat ngintip apa lagi berbuat m***m. Karena satu hal yang bikin gue memberanikan diri nyelonong masuk ke dalam adalah karena kaki dan tubuh Metta gak tertutupi selimut. Gue yang di kamar tadi dengan posisi nyaman padahal udah pake selimut aja masih kedinginan, apa lagi itu cewek? Jadi gue memilih mengambil selimut yang terlipat rapi di dekat kaki Metta, kemudian melebarkan kain tersebut dan menyelimuti Metta. Apa lo semua kaget pas gue ngelakuin ini? Well, gue juga kaget sama perlakuan diri sendiri. Gue mikir kayak, hah kenapa ini gak terlihat kayak gue banget? Masuk kamar orang-orang secara diem-diem cuman buat nyelimutin kaki dan lengan seorang cewek? Itu sama sekali belum kejadian. Makanya pas setelah gue nutup pintu kamar Metta, gue langsung diem buat ngelamun. Dafi, lo pasti udah gila.   there's somethin' about Kind of woman that can do for herself I look at her and it makes me proud There's somethin' about her There's somethin' oh so sexy about Kind of woman that don't even need my help She said she got it, she got it, no doubt There's something about her   * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Menghabiskan hari di kota orang dengan berpayung judul pertukaran mahasiswa, tentu aja membuat gue punya banyak pengalaman dan relasi disini dan disana. Gue suka sama sesuatu yang bisa meningkatkan skill diri sendiri, apa lagi skill kepemimpinan yang mana gak semua orang bisa ngelakuin itu dengan baik. Ini udah hari ke lima, artinya tinggal dua hari lagi gue dan yang lainnya bakal balik ke kota kami, juga kampus kami. Kemudian, para panitita kembali merencanakan ini dan itu buat next project setelah kepulangan kami. Gue sampai berkali-kali geleng-geleng kepala saking keselnya. Gimana bisa yang ini aja belum selesai, belum juga sibuk nyicil tugas kuliah yang belum sempet dikerjain, dan sekarang masih sempet buat ngingetin buat next project. Ya elah, Bu. Pulang juga belum. Kemudian selama lima hari disini, gue juga belajar banyak. Gak hanya dengan materi dan relasi, tapi juga banyak belajar dari Metta. Iya, Metta yang itu. Metta Rinjani temennya bang Jefran. Karena kedekatan kami mulai hari pertama, gue sama dia juga jadi banyak ngorbol. Bahkan kemana-mana jadi bareng berdua—yang mana dia selalu jadi orang pertama yang bilang mau bareng sama gue, dan gue berujung mengiyakan aja karea gue gak punya alasan buat menolak. Gue gak tahu senempel apa gue sama Metta selama di Jember, yang pasti kami berdua sampai sering dicie-ciein dan dicurigain sebenernya kita emang pacaran. Gila gak, tuh? Lambe turah dari mana coba? Beda lagi dengan lima hari belakangan yang proyeknya serius banget, kali ini lebih ke seru-seruan aja, gak bakal jadi beban lagi kayak yang kemarin-marin sampai-sampai semua anak lembur dua malam berturut-turut. Pagi ini, sejujurnya jadwal gue buat ikut joging bareng sama yang lain keliling sini-sini aja masih lengkap dengan identitas yang gak boleh ketinggalan, yakni lanyard. Sebenernya rencana ini udah disepakati mulai kemarin sore, sayangnya gue lalai. Pagi ini, gue malah terbangun dengan badan demam tapi gue ngerasa kedinginan. Gue berdecak karena gue tahu gue lagi sakit, terasa dari kepala yang pusing macem dipalu. Gue bingung mau gimana, tapi gue inget di dalam rumah ada yang nyimpen obat di atas kulkas, kalau Ryan gak salah inget. Makanya, mau gak mau gue harus nguatin diri buat berdiri. Tapi sayangnya, belum sampai melangkah, tubuh gue terhuyung, untungnya jatuhnya ke kasur empuk. Jadi gue gak sekakitan atau apa.  “Sial,” gumam gue menggerutu. Gue gak tahu harus gimana, apa lagi gue tebak ini rumah lagi sepi.  Semuanya udah berangkat jogging dari lima belas menit yang lalu. Hingga kemudian gue mendengar pintu kamar yang diketuk cepat disusul suara Metta yang terdengar nyaring. “Woi, Dafi. Gue buka, ya?” Gue belum memberinya izin, tapi dia udah nyelonong masuk dan membelalak. Gak tahu kenapa. “Astaga, muka lo pucet banget!” “Iya?” gue tanya samar-samar, “Suara gue juga lagi gak health.” “Lo sejak kapan, deh, sakit? Kok gak ada ngasih tahu siapa gitu.” “Lo ngapain?” “Gue?” dia nanya. “Mau ambilin lo obat—bentar.” jawabny agak terdengar panik. “Bukan. Lo ngapain disini? Bukannya harusnya lo jogging, ya?” “Oh, itu...” dia menata bantal gue lalu memaksa pundak gue biar tiduran di atasnya. “Gue gak ikut. Tadinya mau ikut, sih. Lo gak lihat gue udah siap outfit jogging begini?” Gue mengamati pakaiannya yang emang mencerminkan mau olaraga banget.  “Terus kenapa gak jadi?” “Ya lo pikir?” dia nanya restoris dengan muka agak nyolot. “Tadi gue nyariin lo di barisan dan gak ada. Gue nebaknya lo kesiangan bangun. Tapi ternyaa lo sakit. Untung gue gak jadi ikut yang lain, kan, tadi?  Gue cuman diem aja. Memandanginya yang kini terlihat menggigit bibir bawah, matanya terlihat betulan kahwatir, sementara tangannya mengobok isi laci di nakas gue. “Lo gak punya obat disini—oh, ini ada. Minum paracetamol dulu oke? Biar pusing lo agak ngilang.” Gue mengangguk nurut aja. Lagian gue beneran pusing. Kepala gue sakit. “Bisa minum langsung atau dihancurin dulu?” “Langsung aja gue bisa.” “Oke, nih.” Gue menerima obat yang udah siap gue konsumsi dari tangannya. Dia mengambil segelas air yang ada di atas nakas ke gue lalu mengulurkannya ke gue, yang emang air dan gelasnya disediain terus setiap malem kayak di tivi-tivi. Gue melihatnya fokus memastikan gue menelan obat. Sementara kala gue menghabiskan air mineral di gelas, mata gue melirik ke arahnya. Astaga, tolong kasih tahu gue kenapa gue ngerasa deg-degan mengetahui kalau dia sekhawatir ini hanya karena demam tinggi? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * The best thing about tonight's that we're not fighting It couldn't be that we have been this way before I know you don't think that I am trying I know you're wearing thin down to the core But hold your breath Because tonight will be the night that I will fall for you Over again Don't make me change my mind Or I won't live to see another day I swear its true Because a girl like you is impossible to find You're impossible to find This is not what I intended I always swore to you I'd never fall apart You always thought that I was stronger I may have failed But I have loved you from the start * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Gue gak tahu sejak kapan lagu Fall For You milik             Secondhand Serenade itu mengisi gendang telinga dan alam pikir gue berkali-kali. Tapi satu hal yang pasti, setiap kali lagu itu terdengar, kembali wajah Metta Rinjani yang mengisi kepala gue. Berkali-kali, berulang-ulang, selalu seperti itu. Ini bahkan sudah satu minggu setelah kepulangan kami dari Jember. Walaupun kami masih sering bercengkerama, tapi gue gak bisa menampik kalau setiap hal yang dia lakuin jadi hal yang menarik buat mata gue. Caranya berbicara dan menertawakan jokes receh gue, setiap hal yang bikin dia cerita menggebu apa lagi ngomongin soal hal yang bikin dia bete hari itu, semuanya. Ada suatu malam yang bikin gue kepikiran. Kemana perginya Dafi yang dulu, yang mai-matian bilang kalau dia ilfeel sama cewek macem Metta? Kenapa yang ada sekarang adalah Dafi yang tiap hari cari cara biar bisa nemuin cewek itu di kampus atau bahkan di luar kampus? Kedekatan antara drummer Lima Hari dan cewek antah-berantah, begitu orang-orang menyebutnya di akun lambe turah kampus, bikin gosip emang makin gempar. Banyak komentar positif dan negatif yang gue terima. Salah satunya yang paling gue ingat adalah temen gue yang bilang, kenapa gue mau sama yang lebih tua? Mana kelihatannya kita berdua beda karakter banget. Gue gak menjawab pertanyaan itu. Hanya saja isi kepala gue meneriakkan kalimat yang sama sebagai jawaban. Bahwa age is just a number and forever will be a number. Apa hubungan antara angka dengan kisah cinta seseorang? Yang gue tahu, gue mau Metta. Gue menyukai gadis itu and f**k with our age-gap, i don’t care. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN