* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gue jelas masih inget percakapan antara gue dengan salah satu dosen wanita di Fakultas gue waktu itu, tepatnya di ruang dosen.
“Dafi, kamu yang daftar pertukaran mahasiswa satu minggu di Jember, kan?”
“Iya, Bu.”
“Udah dikasih info sama Pak Ahmad?’
“Soal apa, ya, Bu?”
“Kamu terpilih menjadi salah satunya.”
“Ini tolong kasihin ke beberapa mahasiswa lain yang terpilih juga. Suruh mereka kasih tanda tangan.”
“Siap.”
Awalnya, jelas gue seneng. Karena selain buat nambah pengalaman, gue emang demen kalau disuruh pertukaran pelajar begini. Jadi gue dapet ilmu gak cuman dari kampus ini doang tapi juga dari kampus lain.
Tapi ternyata, kabar gembira tentang gue yang lolos seleksi pertukaran pelajar itu sekaligus jadi kabar buruk bagi gue. Karena pas gue udah keluar dari ruangan Bu Titin dan ngelihat nama-nama anak yang bakal ikutan juga buat pertukaran pelajar di Jember selama satu minggu penuh tersebut, ada nama paling horor yang tertulis disana. Saking horornya, gue bahkan sampai melebarkan mata gak percaya. Saking horornya, gue sampai lebay banget dengan kucek-kucek mata memastikan kalau apa yang gue baca itu salah atau bener.
Sayangnya, sekeras apapun gue berdoa sama Tuhan bahwa gue mau itu cuman halusinasi, nyatanya semua udah terlanjur. Nama Metta Renjani benar-benar ada di sana, di surat undangan untuk para mahasiswa yang minggu depan bakal diberangkatkan ke Jember untuk tujuh hari penuh.
“What the f**k,” gue menggumam, mengumpat karena masih gak tahu harus respon kayak gimana.
Sebetulnya, gue bukan yang alergi atau gimana, kok, sama cewek itu, si Metta Renjadi. Hanya saja, karena penampilan dia macem penyanyi rock and roll yang suka pakai warna hitam di outfitnya juga senyum m**i—tapi bagi gue itu malah senyum psikopat—tentu sebisa mungkin gue gak ingin berhubungan lebih jauh dengan perempuan itu. Kenal sewajarnya saja selayaknya dua orang yang saling kenal, tapi kalau bisa, ya, jaga jarak.
Sayangnya, kayaknya Tuhan gak ngizinin gue buat melakukan apa yang sesuai dengan kehendaknya. Tuhan seolah lagi seneng ngejahilin gue dengan bikin mereka bakal ketemu setiap hari.
Wajah Metta Rinjani yang suka tersenyum tengil ke arah gue, sekaligus surat cinta, dan mineral water itu muncul di kepala sekali lagi.
Astaga, coba bilang sama gue. Gimana bisa gue jadi parno sama orang asing cuman karena dia kelakuannya aneh dan gue mendadak ngeri? Padahal cewek itu setan juga bukan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Karena tiga hari setelah kejadian pemberian amanah dari Bu Titin itu gue gak ada jadwal ketemuan sama anak Lima Hari, gue jadi gak bisa nitipin surat dari bu Titin ke Bang Jefran buat Metta. Buat anak yang lain, gue udah selesai nyebarin walau agak sedikit susah dan gue titipin lagi ke temennya temen gue. Bodo amat, lah. Lagian kenapa juga Bu Titin harus nyuruh gue? Padahal gue ini, kan, paling gak apal sama anak-anak sini tuh yang mana aja.
Sementara yang paling terakhir, alias yang belum gue kasihin suratnya, cuman buat Metta Rinjani doang. Kalau boleh jujur dan terkesan jahat—gue udah julid duluan—gur mikirnya bahwa gue males banget ketemu apa lagi nemuin dia duluan. Terserah orang mau bilangaapa, tapi gue beneran gak pengen mempererat silahturahmi apapun antara gue dan dia. Jadi mending ke Bang Jefran aja kan yang notabene-nya temen deket cewek itu sendirian.
Sayangnya, lagi dan lagi, gue malah dibikin ketemu sama Metta pas gue balik dari kelas dan mau pulang ke rumah. Posisinya, gue udah naik di atas motor, tapi mesinnya masih mati karena gue lagi asik balesin chat—bukan dari cewek, tapi dari anak-anak Lima Hari yang gabut banget bahas A sampai Z di grup.
Gue gak merasakan kehadiran seseorang yang hawanya negatif. Tapi kemudian gue hampir mengumpat kencang kala merasakan punggung gue ditepuk. Gak kenceng, sih, tapi tetep aja rasanya kayak jantung gue mau pindah ke tempat lain.
“Oi!”
Gue menoleh kaget, kemudian langsung mengenali siapa cewek dengan kemeja crop hitam merah, celana jeans hitam, boots tinggi, sementara anehnya, padahal ini lagi di kampus tapi Metta malah kacamataan hitam.
“Gue ngomong sama lo, loh, Dafi.”
Gue mengerjap, kemudian baru sadar kalau gue belum respon apa-apa. Gue berdeham singkat sebelum membuka suara. “Kenapa?”
“Apanya yang kenapa? Kenapa gue disini? Karena gue mau nyapa.”
Sejujurnya, gue masih punya stok buat jawebin kalimat Metta barusan. Tapi kemudian gue teringat sesuatu, kertas yang ia bawa kemana-mana, yang harusnya gue udah serahkan sejak tiga hari yang lalu tapi baru hari ini berkesampat.
“Eh, ini,” Dafi mengulurkan surat dengan kertas berwarna putih dan terlihat tulisan nama lengkap Chelsea yang terasa menyenangkan dan lidahnya. “Dari Bu Titin, sori baru gue kasihin.”
Awalnya, sih, cewek itu bengong dulu karena bingung. Doa bahkan udah suudzon dulu dengan mikir, “Perasaan gue gak nakal-nakal amat, tapi kenapa gue udah kena SP?”
Eh, ternyata bukan. Itulah teman-teman kisanak, sebelum ngejudge karakter orang, ada baiknya lo kenal dulu baik-baik apa maksud dan tujuannya. Tapi baru Metta mau bahas ini, dia lebih dulu langsung mengalihkan fokusnya pada hal yang lebih penting.
“Wait, Dafi,” katanya kala gue baru hendak berpamitan.
Mau gak mau, karena after all sebenarnya ini cewek gak ada salah apa-apa sama gue, gue memilih meladeninya. “Kenapa?”
“Jangan bilang lo...”
Ketika gue melirik ke arah surat yang dipegang Metta, gue langsung ngerti apa yang mau dia ucapin ke gue.
“Lo ikutan pertukaran mahassiwa juga?!” tebaknya dengah senyum lebar dan sorot mata cerah. Dan gue gak punya pilihan lain selain mengangguk, membenarkan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gak ngerti gimana ceritanya, tapi tahu-tahu bang Jefran nelpon gue dan nanyain apa bener gue empat hari lagi bakal ke Jember buat pertukaran mahasiswa dan bareng Metta juga? Kalau gue nebaknya, sih, cewek itu yang cerita-cerita.
Gue pun mengiyakan sebagai jawaban. Terus tahu-tahu, gak pakai aba-aba, bang Jefran malah ngasih nasihat panjang banget kayak rel kereta api. Suaranya terlihat gak bercanda, tapi gue bener-bener sampai diem, karena... tiba-tiba banget?
“Lo harus tahu. Metta walaupun kayak gitu, dia anaknya baik banget, Daf. Gue gak bakal capek buat ngomong kalau lo gak boleh seenaknya ngejudge dia berdasarkan penampilan dia doang. Tapi lo harus tahu karakter dia yang asli. Lo boleh pegang omongan gue kalau pulang dari sanan dan kalian udah deket selama satu minggu itu, gue jamin lo gak bakal gak jatuh cinta sama cara pikir dia. She has a good heart.”
Gue langsung diem sambil mikir, ini bang Jefran ngapain, sih?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Pas hari H, dimana gue sama yang lain berangkat hari Sabtu dan bakal pulang di hari Sabtu pula itu, gue udah packing barang penting dan bawa tas gak gede-gede amat. Ya, kan, niatnya emang mau belajar di kota orang, bukan mau hangout.
Karena gak terlalu tahu dan kenal sama orang-orang yang ikutan, juga karena gue bukan tipe manusia yang pinter beradaptasi sama orang baru, apa lagi kebanyakan dari kating angkatan bang Jefran, jadilah gue tadi cuman basa-basi dikit sebelum kemudian masuk ke bis lebih dulu.
Pas tadi gue dan yang lain dikasih briefing, juju aja, gue agak bingung karena cewek itu belum nongol padahal bis setengah jam lagi dateng. Ya gimanapun kalau udah kenal, apa lagi di antara yang lain, manusia yang paling familiar ya cuman dia doang. Makanya pas gak ada, gue nyariin.
Tapi pas udah duduk nyaman di bis, yang mana gue udah gak nyariin dan gak peduli-peduli amat, dia malah muncul dengan nafasnya yang tersengal saat panitia yang mana salah satu dosen muda sebagai pendamping pertukaran mahasiswa ini ngumumin bahwa bentar lagi kita harus berangkat dan semuanya harus duduk dengan tenang.
Karena dia naruh tasnya di deket kursi gue, jadinya gue terdiktrasi dong. Dia nyengir begitu gue noleh ke dia.
“Hai, Dafi. Gue duduk sini, ya.”
Tapi gue juga belum kasih izin apa-apa, dianya udah nyelonong duduk disana. Sepanjang perjalanan, telinga yang harusnya gue sumpel pakai headset karena gue niatnya mau dengerin lagu sambil tidur, jadi sedikit terganggu karena Metta gak kunjung berhenti cerita.
Iya, kan? Dia, nih, anaknya se-sok asik ini. Makanya gue bingung kenapa bang Jefran kalau nyombangin kamu berdua semangat banget.
Mulai dari Metta yang bagun kesiangan dan blah blah blah dan blah blah blah, kayaknya setiap detik yang terjadi dalam hidupnya, dia ceritain ke gue. Sampai dapet sekitar satu jam perjalanan, dia mulai menguap. Tangannya menutup mulut dia yang terbuka, tapi dia masih mencoba menyelesaikan cerita.
Dia noleh dan agaknya langsung sebel karena tahu gue tiduran sambil nempelin kepala ke kaca di samping gue.
“Heh, lo gak dengerin gue, ya?”
Gue diem aja. Tapi gue sama sekali gak tidur. Ngantuk, sih, dikit. Apa lagi nguapnya orang, tuh, suka nular.
“Alah, bilang aja lo males dengerin gue—“
Kalimat selanjutnya bener-bener gak gue dengerin dengan baik, tapi kalau dia mau tahu, gue bahkan ngecilin volume headset gue dari awal dia cerita ini dan itu. Bukan apa-apa, hanya saja gimanapun gue tahu cara menghargai perempuan. Ibu gue perempuan, begitu pula dengan adik gue.
Sayangnya, Metta masih cerewet dengan menuduh gue gak ngehargain dia dan blah blah blah. Mana sesekali bawa umur, kayak : lo tuh dua tahun di bawah gue. harusnya dengerin, dong, kalau gue cerita. Gitu dia bilang sambil mencebikkan bibir yang bikin gue bingung sendiri.
Jadi gue yang salah, nih?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sesampainya di rumah yang bakal jadi tempat menginap kami bersepuluh, masing-masing dari kami langsung makan bersama karena udah disediain makanan disana. Kemudian diperbolehkan istirahat bagi yang berkenan.
Jember ternyata panas banget, gak ada bedanya sama Jakarta. Yang ini bikin gue lebih pengen mandi dari pada tidur karena badan lengket semua. Sayangnya, baru juga gue keluar kamar karena kamar mandi cuman ada di luar dan cuman ada dua—satu punya cowok dan satu punya cewek—gue dikejutkan sama Metta yang ternyata lagi ada di depan pintu kamar anak cowok.
Gue melotot. “Lo ngapain?!”
Dia malah nyengir santai, kemudian menyerahkan kipas angin mini—gue gak tahu namanya apaan—warna kuning gambar minion ke arah gue. “Nih, gue sengaja beli dua,” dia menunjukkan punya dia yang gambarnya hello kitty—astaga, bahkan gue hampir ketawa karena gak nyangka cewek serba outfit item ini suka sama yang pink-pink. “Disini panas banget, gak ada AC. Lo pasti bakal gerah, deh.”
Gue belum sempet bilang makasih pas dia pergi gitu aja, meninggalkan gue yang kini tertunduk mengamati benda kuning di tangan gue, lalu menghela nafas.
Metta itu bener-bener. Ada-ada aja kelakuannya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Malemnya, malem banget setelah kami semua rapat buat acara besok, gue sama anak cowok yang lain memilih buat cosplay jadi tukang ronda dengan nongkrong di gazebo dengan, ada beberapa mas-mas juga yang ikut ngopi disana.
Kami semua baru balik di jam setengah satu tengah malam. Karena gue ngevape dulu baru masuk, jadilah gue masuk yang terakhir setelah yang lain balik duluan.
Di arah jalan pulang, gue ketemu 4 anak cewek yang cekikikan sambil ngegosipin artis Korea, mereka juga sempet nyapa gue sambil bilang, “duluan, ya.”
Di sisi lain pas ngelihat empat cewek itu, gue—tiba-tiba banget—jadi bingung, kenapa Metta gak ikutan yang lain? Kan ceweknya cuman lima. Apa cewek itu segitu magernya sampai gak mau ikut jalan-jalan?
Tapi ya udah gue kepikiran itu cuman sekelebat doang gak sampai yang gimana-gimana, beneran. Pas gue memasuki rumah, gue mendapati di depan rumah masih belum ada sandal-sandalnya para cewek, yang mana itu artinya mereka ternyata tadi gak langsung pulang dan gue gak tahu kemana, gak peduli juga.
Dengan bersenandung kecil—gue yakini kalau gue doang yang denger nyanyian gue—gue melangkahkan kaki ke arah kamar. Tapi gerakan gue terhenti karena mendengar sesuatu yang berisik di dapur. Mau gak mau gue ngecek dong walaupun agak ngeri juga karena katanya ini rumah udah lama gak ditempatin.
Tapi apa yang gue lihat di dapur malah jauh di luar ekspetasi gue,
Disana, di tempat cuci piring alias wastafel, Metta seorang diri lagi nyuci piring bekas makan malem kami semua tadi sebelum rapat. Padahal katanya, cuci piring bakalan dikerjain bareng-bareng sama anak cewek.
Gue gak tahu kenapa, apa ini berlebihan atau adakah alasan lain, tapi gue marah.
“Kenapa lo nyuci piring sendirian?”
Metta kelihatan agak kaget pas gue tiba-tiba negur gak pake salam gak pake apa. Tapi kemudian dia nyengir—kayak biasanya. “Ya gak papa. Kenapa emang?”
“Yang lain kemana?”
“Gak tahu.”
Malam itu, gue berakhir bantuin dia cuci piring yang banyaknya kayak di kafe-kafe karena beberapa orang tadi memang diundang untuk sekalian pengajian.
Tapi gue gak memiliki rasa penyesalan karena berujung tangan gue kena pecahan piring. Yang gue tahu, gue cuman ngerasa nyaman karena selama kegiatan cuci piring itu, gue banyak menemukan hal baru dari sosok Metta Renjani.
Bener kata bang Jefran, she’s not bad at all.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *