* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kapan, ya, terakhir Wildan ngechat cewek yang bukan dia anggap jadi temen doang? Setahun yang lalu, kah? Dua tahun yang lalu, kah? Gak, kurang lama dari sekedar tiga tahun yang lalu bahkan. Kini Wildan merasakan gimana sulitnya lagi menghadapi detak jantung hanya karena dia ngelihatin nomor yang udah dia simpan. Milik Kanya.
Dari tadi, dari sepuluh menit yang lalu tadi, Wildan cuman duduk di tepi ranjangnya dengan punggung tegak, kepala yang tertunduk, matanya fokus ngelihatin ruang obrolan yang belum ada obrolan sama sekali itu. Tadi, dia udahmeneympatkan untuk memuas-muaskan diri ngelihatin foto profil Kanya.
Perempuan itu memasang foto memakai seragam putih abu, dengan lengan baju yang pendek dan rok abunya yang panjang, sepatunya jenis pantofel, kemudian rambutnya diurai indah dengan bagian bawah yang keriting. Senyumnya melengkung manis. Wildan sampai ketularan senyum karena menatap foto itu.
Well, kapan coba Kanya kelihatan jelek?
Tapi, ada kalanya ngelihat foto itu, Wildan jadi agak insecure sendiri. Perempuan itu, sesuai kata Tiara keponakannya, memang bukan perempuan yang mudah beradaptasi. Tapi sesuai kata Tiara pula, bukan berarti kelemahan Kanya bikin cewek itu kena julukan cupu atau anti sosial. Yang ada, malahan Kanya terkenal dengan caranya sendiri. Namanya dikenal hmpir oleh semua guru dan semua siswa. Dia jadi panutan untuk adik-adik kelasnya karena prestasinya, diincar banyak laki-laki karena kecantikannya, disayangi guru karena kepiwaiannya di bidang akademik. Kalau misal Wildan gak keburu punya rasa tertarik ke cewek itu, pasti dia bakal ngecoblangin Kanya sama Dafi. Karena gimanapun, Kanya dan Dafi dalam sekali lihat aja emang cocok. Cakep dan bertalenta. Apalah Wildan yang kalau misal dia lahir agak telat alias jadi satu angkatan sama Kanya, pasti dia gak ada apa-apanya.
Ya, begitulah contoh ketidakpercayaandiri yang dialami Wildan, yang mana itu bikin dari tadi tangannya diem doang bukannya segera mengetik dan mengirim pesan.
Kemudian suara dering telepon dari ponselnya, membuat ruang obrolan antara dia dan Kanya jadi berganti layar menjadi nomor telepon dengan foto profil lain lagi, gadis imut yang memasang foto profil menggemaskan dengan pipi cubinya. Tiara.
“Halo?”
“Kaaaak, udah ngechat belum?!”
“Waalaikumsalam,” ralat Wildan.
Tiara meringis di seberang sana. “Eh, iya, maap. Lupa. Assalamualikum Kak Wil-ku yang ganteng.”
“Waalikumsalam, Tiara Bawel.”
“Udah ngechat Kak Kanya belum?”
“Belum.”
“Hah? Lama amat, sih! Ini udah jam delapan, tahu!”
“Ya... terus kenapa? Ngechat dia ada jamnya sendiri emang? Kayak jam besuk atau jam kerja, gitu?”
“Ih, ya gak gitu juga. Tapi ‘kan lebih cepat lebih baik. Kakak tahu, kan, menunda-nunda itu pekerjaan setan?”
“Iya, Tir. Tapi kan Kakak juga gak bisa serta-merta—“
“Setidaknya say hi dulu, kak. Masa yang kayak gini aja perlu aku kasih contoh dulu, sih? Makanya jangan kelamaan jomblo, dong!”
Wildan mendengus. Kenapa deh keluarganya semua, tuh, suka banget bawa-bawa statusnya? Padahal, kan, normal usia segini jomblo. Aneh.
“Iya, iya.”
“Iya, apanya?”
“Iya, abis ini kakak chat. Lagian kamu, nih, kenapa sih malah ngerecokin mulu? Suka-suka kakak dong mau kayak gimana.”
“Kakak, tuh, kayak kuda masalahnya!”
“Hah?”
“Kalau gak dipecut gak jalan.”
“Heh! Enak aja kamu bilang.”
Tiara ngakak. “Ya udah, deh. Aku bilangin ke Kak Kanya abis ini kak Wil bakal ngechat—“
“Loh, eh, Tiara! Ngapain bilang-bilang?!”
Wildan sampai melotot dibuatnya.
Tiara ini memang lucu dan imut, tapi gak polos-polos amat kan buat ngerti hal seperti apa yang boleh dishare dan yang mana yang gak boleh dishare? Heran Wildan, tuh, sama ponakannya yang satu ini.
“Tapi, kak...”
“Apa?”
“Sejujurnya, ya...”
“Apa?”
“Bentar, janji dulu jangan marah tapi!”
Mendengar itu, Wildan berdecak dibarengi firasatnya yang udah kerasa gak enak duluan. “Apa?”
“Janji dulu!”
“Iya, iya, janji. Apaan?!”
“Tadi kan Kak Kanya ke rumahku nganter novel, terus... terus aku sekalian ngasih tahu kak Kanya kalau kakak minta nomer dia dari tadi sore.”
“HAH?!”
“Iya, terus aku bilang mungkin nanti malem kak Kanya bakal dichat sama kak Wil.”
“Astaga, Tir...”
“Hehe. Maaf, ya, Kak. Aku kira ini bukan rahasia. Jadi ya gak papa dong aku ngasih tahu yang bersangkutan.”
“Ya, tapi kan—ah, udahlah, terserah kamu aja.”
“Ih, tadi kan udah janji gak bakal marah!”
“Lagian kamu, tuh, ya—“ Wildan memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. “Masa yang kayak ginian aja kakak harus ngasih tahu, sih?” ucapnya membalik kalimat sang ponakan tadi.
“...emang kenapa, sih?”
“Kakak jadi gak enak, dong, Tir. Yang bener aja, deh, kamu.”
“Kakak malu?”
“Ya iya!”
Waduh, Wildan jadi ngerasa dia jadi berubah kayak mode Satria karena dari tadi kalau ngomong ngegas mulu.
“Take a breath, Kak. Ayo pelan-pelan, tarik nafas, hembuskan,” ujar Tiara pelan-pelan dengan suara lirih. “Biar gak marah-marah. Ayo lakuin. Breath in.... breath out...”
Tapi cuman orang sinting dan gak ada kerjaan yang bakal mengikuti perintah adik keponakannya itu. Dan karena Wildan bukan menjadi salah satu bagian dari orang-orang sinting atau gak ada kerjaan, jadi yang dia lakukan adalah memasang wajah datar.
Ragu, dia bertanya. “Terus pas kamu kasih tahu Kanya, dia bilang kayak gimana?”
“Mau tahu?”
Wildan jadi deg-degan. Tapi dia mengiyakan dengan mencicit. Masih ragu.
“I...ya.”
“Mau aku jujur apa aku bohong?”
“Ya jujur, dong, Tir!”
“Aduh, jangan ngegas dibilangin! Nanti cepet keriput mampus! Makin kerasa jiwa-jiwa omnya, hahaha! Biar makin kelihatan beda umur kalau jalan sama kak Kanya, hahaha!”
“...”
“Oke, oke, serius. Dia tadi nanya terus, kayak hah sumpah? Hah sumpah, hah sumpah? Gitu-gitu mulu. Kayaknya kak Kanya beneran kaget kalau kakak minta nomernya ke aku.”
“Terus?”
“Terus kak Kanya blushing, Kak! Sumpah aku lihat pipinya merah gitu sama dia nahan senyum! Sumpah aku langsung syok kayak...”
Selanjutnya, kalimat Tiara udah gak ada yang masuk ke telinga Wildan. Karena kepalanya sudah dipenuhi kemungkinan yang mungkin terjadi tentang alasan Kanya salah tingkah. Bolehkah Wildan berharap sekarang agar jalannya dipermudah oleh Tuhan?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Wildan Gusti Ramadhan :
Kanya?
Akhirnya terkirim juga.
Padahal, ujung-ujungnya dia juga cuman ngirim satu kata doang yang dia kasih sebagai pembukaan. Tapi effortnya gak main-main. Wildan bahkan berkali-kali menghapus dan mengganti isi pesan yang hendak ia kirim karena gak yakin.
Hai. Delete.
Halo, Kanya. Delete.
Hai, ini gue, Wildan. Delete.
Kanya, lo lagi apa? Delete.
Gila, ya. Wildan ngerasa dia sampai kayak ngos-ngosan padahal cuman perihal sesepele kayak gini! Tapi mana terima yang kayak begini disebut sepele. Dia bahkan merasakan detak jantungnya kayak abis lari marathon keliling Jakarta.
Wildan awalnya sempet nebak kalau cewek itu bakalan ngasih balasan agak lama. Karena kata Jefran beberapa waktu yang lalu pas dia cerita soal mantan pacarnya yang dulu-dulu, cewek emang suka meninggikan harga diri. Contohnya, ya, lewat yang satu ini. Sengaja bales lama padahal lagi gak ngapa-ngapain.
Tapi ternyata dugaannya salah total, karena gak sampai lima menit, posisi duduk Wildan yang bahkan belum sempat berubah apa lagi berpindah itu menerima notifikasi baru. Pesan masuk dari Kanya. Wildan agak gemetar kala membuka pesan.
Sumpah. Tolong kasih tahu cowok itu bahwa dia bukan lagi anak lulsu SD yang baru tahu rasanya jatuh cinta kayak gimana. Gak seharusnya Wildan selebay ini. Tapi once again, mana bisa, sih!? Teriak Wildan sebel juga dirinya sendiri.
Kanya :
iya?
Wildan Gusti Ramadhan :
gue Wildan
Setelah kembali mengirim balasan, Wildan menepuk jidatnya sambil mengumpati diri sendiri. Ya elah, Wil, kan Kanya bisa tahu kalau yang ngechat ini lo tanpa harus lo kasih tahu? Orang nama dan foto profilnya udah menjelaskan segalanya!
Emang, ya, kalau lagi grogi, rasanya otak cuman buat pajangan, karena gak bisa dibuat mikir bersih.
Kanya :
iya, kak.
udah kelihatan dari foto profil hehe.
Wildan mendengus. Tuh kan! Apa dia bilang? Ini mah namanya mempermalukan diri sendiri di awal chattingan. Dia belum sampai mengetikkan balasan ketika Kanya kembali mengirimi pesan.
Kanya :
ada apa kak?
Ditanya begitu, Wildan makin kalang kabut. Ini dibales apa? Batinnya bingung. Masa dia bales kayak ala-ala Nathan Januar di novel yang ngomong, “masa yang kayak gini aja masih ditanya, sih? ya maksudnya gue pengen pdkt-in lo, lah.”
Gila. Itu bukan Wildan Gusti Ramadhan banget yang suka blak-blakan begitu.
Wildan Gusti Ramadhan :
pengen ngechat aja, ganggu gak?
hehe
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Tiga bulan kemudian.
Terhitung udah sembilan puluh hari sudah dilewati Wildan setelah pesan pertamanya ia kirim pada Kanya. Lama, ya? Emang. Wildan juga nyadar, kok. Tapi kayak apa yang Wildan bilang awal-awal dulu, dia gak pernah mau buru-buru pacara cuman karena males jomblo atau iri sama pasangan lain di sekitar sana.
Seperti apa kata ibunya dulu, ibunya mengharapkan Wildan punya pacar sekali aja, tapi yakin dan mantap buat ngelanjutin ke masa depan—tentunya jika Tuhan berkehendak.
Jadi itu pula yang dilakukan Wildan tiga bulan ini. Dia meyakinkan diri sendiri bahwa ia tak salah pilih, bahwa Kanya memang sudah memiliki hatinya sepenuhnya, bahwa Wildan sudah nyaman dan tidak akan pergi kemana-mana lagi.
Dulu, setelah pesan pertama Wildan terkirim, Wildan grogi setengah mati. Ia masih sangat clueless harus seperti apa mendekati perempuan seperti Kanya. Dia mencari cara terbaik untuk mendekati perempuan itu. Tapi tentu saja lama-kelamaan dia terbiasa dengan pesan masuk Kanya yang tampil di kolom notifikasi ponselnya.
Wildan Gusti Ramadhan :
kalau lo kosong, mau jalan sama gue gak weekend nanti?
Begitu dulu dia mengajak Kanya kelua berdua untuk yang pertama kalinya. Selayaknya kencan pertama, tempat yang dipilih Wildan gak jauh-jauh dari kafe. Bedanya, Wildan mati-matian cari tempat yang kemungkinan kecil punya banyak pengunjung. Bukan karena dia malu bawa Kanya—yang bener aja dia malu bawa cewek secantik Kanya—tapi karena Wildan males dicengin sama anak Lima Hari misal gak sengaja ketemu. Terutama Brian dan Jefran yang suka kelayapan kesana-kemari keliling Indonesia pas weekend.
Lalu kabar baiknya, kencan pertama itulah yang membawa mereka lebih dekat. Wildan jadi sering mengajak Kanya jalan-jalan di hari yang mana keduanya sama-sama kosong—dan itu juga butuh efford yang lumayan gede mengingat dia selalu neympet-nyempetin ngajak Kanya jalan padahal jadwal Lima Hari lagi padet-padetnya. Bahkan kalaupun gak jalan-jalan, misalnya dia disuruh ibunya buat beli apa, kek, yang tempatnya agak jauhan, Wildan selalu ngajak Kanya.
Jangan tanya, deh, Wildan dapet ide modus beginian dari siapa. Karena semuanya keluar sesuai instingnya aja.
Bener kata pepatah jawa yang Wildan pernah baca, bahwa witing tresna jalaran saka kulina, atau yang artinya cinta ada karena terbiasa.
Dulu, Wildan tahunya dia cuman teratarik. Karena senyumnya Kanya, karena cantiknya saat tertawa, juga bagaimana perempuan itu selalu tampak manis dan asik diajak mengobrol. Tapi lama kelamaan, dia merasa nyaman—yang mana nyamannya bukan sekedar nayman, tapi apa-apa, Wildan jadi melibatkan Kanya dalam segala hal.
Contohnya pas dia lagi dibikin pusing sama urusan Lima Hari yang gak kelar-kelar, dia larinya ke Kanya. Entah dia pergi ke rumah gadis itu—iya, dia bahkan udah kenalan sama mama dan papanya Kanya setelah dua minggu dekat—atau dia mengajak Kanya untuk ketemuan di suatu tempat yang jadi letak tengah di antara kampusnya dan rumah Kanya.
Sampai suatu hari, mungkin karena minggu itu dia lagi gabut dan jadinya hampir tiap hari dia nawarin buat jemput Kanya dari sekolahnya, ibu Wildan mulai curiga. Jadi pas anaknya balik di jam empat atau lima sore, sang ibu langsung menghadang pintu.
“Kamu udah punya pacar, ya?”
“Hah?”
“Jangan hah-heh hah-heh kamu, ya. Jujur, deh. Kamu udah punya pacar, kan?”
Ya karena Wildan juga gak punya alasan buat menyembunyikan hubungannya dengan Kanya yang sebenernya juga belum diresmikan ini, dia akhirnya memilih buat memberi tahu ke ibunya siapa perempuan yang kata sang ibu bikin Wildan keluar terus pas malem minggu.
“Kenapa gak dikenalin ke ibu, sih, Naaaak?” ibunya mengembalikan ponsel Wildan. “Padahal dari fotonya aja udah geulis banget. Kenalin ke ibu secepatnya!”
Akhirnya, karena dia pikir juga udah seharusnya Wildan memberikan kepastian pada Kanya yang udah sabar banget dia deketin tiga bulan tanpa ada hubungan yang jelas, dia memilih hari ini sebagai hari yang akan dia jadikan sejarah.
Walaupun cuman pacaran, tapi gimanapun ini kan pacar pertamanya. Wildan gak bisa biasa aja sama hari jadinya dengan Kanya. Makanya dia juga udah mempersiapkan semuanya sekaligus meminta Kanya agar mau ke rumah untuk berkenalan dengan ibunya.
Karena bagi Wildan—walaupun ia masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang jauh di depan sana—mengenalkan seorang perempuan ke ibunya, artinya Wildan sudah benar-benar mempercayai gadis itu untuk masuk ke dalam hidupnya. Artinya Wildan sudah siap menghadapi segala sesuatu, baik dan buruknya, bersama perempuan itu.
Kanya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Aku jemput aja, deh, ya?”
Oke, selain kedekatan mereka yang makin rekat padahal belum ada kejelasan, Wildan juga sudah lama membiasakan diri untuk menggunakan aku dan kamu sebagaimana Kanya memanggilnya selama ini. Lagi pula tak ada salahnya. Toh aku dan kamu memang lebih halus dan enak di dengar dari pada lo dan gue.
Saat ini, Wildan lagi nali sepatunya di depan rumah, dengan ponsel yang dia capit di antara telinga dan pundaknya. Dia udah memegang kunci mobil—yang akhirnya emang kepake juga sejak dia dekat sama Kanya yang jadi alasan kenapa dia udah bisa bawa mobil—dan siap berangkat.
Tapi niatnya jadi tertunda karena nerima telpon dari Kanya yang bilang kalau dia berangkat sendiri aja pakai ojek, dan sampai sekarang Kanya masih keras kepala.
“Gak usaaaah. Kayak setrika jalan, lah, Kakak jadinya.”
“Kenapa, sih? Yang setrika jalan, kan, aku.”
“Udah, deh. Aku ngojek aja.”
“Aku jemput.”
“A—“
“Aku jemput, Nya. Udah, jangan didebat.”
Walaupun emang beneran kayak setrika jalan karena dia berangkat dari rumahnya buat jemput Kanya di rumah gadis itu, terus balik lagi ke rumahnya lagi karena niatnya dia emang ngajakin Kanya ke rumah, tapi Wildan gak masalah. Lagian jarak rumah mereka juga gak sejauh itu yang bisa bikin Wildan capek di jalan.
“Ooooh ini perempuan yang bikin Wildan akhirnya make mobilnya,” ibu Wildan langsung tersenyum sumringah setelah tangannya dicium oleh Kanya. “Aduh, cantik banget. Pantesan Wildan akhirnya kecantol. Ibu dulu sempet suudzon kirain Wildan ini gak suka sama cewek.”
“Ibu!”
Wildan sampai membelalak kaget. Dia aja gak pernah tahu ibunya pernah mikir sejauh itu. Gila apa dia suka cowok juga?
“Tapi alhamdulillah, akhirnya ketemu kamu.”
Dalam pertemuan pertama, Wildan bisa melihat betapa ibunya menyukai sosok Kanya. Entah karena ibunya emang excited karena sang putra akhirnya menemukan tambatan hati, atau mungkin karena Kanya memang bisa menarik perhatian itu. Tapi, well, emang siapa sih yang gak jatuh hati sama Kanya?
Sehabis makan bersama, Kanya membantu ibunya untuk cuci piring. Bahkan melihat dari ruangan yang nyambung sama dapur, Wildan agaknya ngerasa dia, nih, jadi nyamuk antara pacarnya dan ibunya. Karena dari tadi yang ngobrol cuman mereka berdua, dia malah gak diajakin.
Sampai kemudian samar-samar, dia denger percakapan antara dua perempuan tersebut.
“Kamu udah pacaran berapa lama sama Wildan, Nak?”
“Hng... belum pacaran, Bu.”
“Hah? Loh? Yang bener kamu?”
Kanya menggeleng.
“Loh, itu anak gimana, sih? Udah dapet yang cakep begini, baik dan sopan pula, malah gak cepet-cepet dipacarin.”
“Gak papa, Bu. Mungkin Kak Wildan-nya juga belum siap.”
“Mana bisa kayak gitu! Ibu yang gak setuju kalau Wildan terus-terusan—“
“Gosipin aja teroooos!”
Akhirnya di tengah permainan di ponselnya, Wildan menginterupsi dengan berseru dari tempatnya duduk. Tanpa melirik apa lagi mengangkat kepala, dia tahu kedua perempuan yang lagi di dapur langsung noleh ke arahnya. Tapi Wildan pura-pura gak ngeh aja.
Beberapa menit kemudian kala ada tetangga yang datang ke rumah dan membuat ibu Wildan harus sibuk menerima tamu di ruang depan, Kanya menyusul duduk di samping Wildan dengan membawakan satu cangkir teh hangat.
“Dibuatin kamu?” Wildan langsung menghentikan game online-nya dan menaruh ponsel di atas meja.
Kanya menggeleng. “Dibuatin ibu kamu.”
“Ooh, kamu gak bikin?”
“Enggak.”
Wildan yang ngerasa ada atmosfer berbeda dari Kanya jadi menoleh buat mengamati gadis cantik yang sudah dekat dengannya tiga bulan belakangan ini.
“Kamu kenapa?”
“Hm? Aku kenapa? Gak papa, tuh.”
“Mau jadi pacarku, gak, Nya?”
Mata Kanya langsung membelalak kaget, sekaligus ngeri. Dia ngelihatin ruang tamu buat memastikan yang disana gak ada denger apa yang dibilang laki-laki di sampingnya. “Apa, sih, Kak!”
“Loh, aduh, kok aku dicubit, sih?” Wildan menghindar sambil ketawa geli melihat kelakuan Kanya yang salah tingkah. “Mau enggak?”
“Kamu nanya serius apa gak?”
“Ya serius, dong. Masa aku bercanda?”
“Kenapa tiba-tiba? Bikin kaget aja. Jangan-jangan gara-gara omongan Ibu tadi, ya? Kakak jadi gak enak sama aku?”
“Aduh, mana ada kayak gitu. Lagian ini gak tiba-tiba. Udah dipikirin dari lama, emang nunggu waktu kamu sama ibu udah kenal juga.”
“Jadi tanpa atau dengan ibu tadi nyindir—“
“Kakak bakal tetep bilang ini hari ini?”
Wildan mengangguk.
“Gak romantis banget. Gak ada bunga, gak ada makan malem.” canda Kanya. “Mana ngomongnya gak ada manis-manisnya.”
Wildan jadi menggaruk tengkuknya karena mendengar itu. “Iya, lupa. Maaf, deh. Aku ulang nanti malem aja berarti, ya? Nanti malem kita jalan—“
“Aku bercanda, Kaaaaaaak,” Kanya ketawa. “Ih, dibawa serius banget ini om-om.”
“Heh, bisa-bisanya,” Wildan mencubit pipi Kanya sampai perempuan itu memekik pelan. “Jadi gimana? Mau gak?”
“...”
“Mau, ya?”
Kanya mengangguk, hati Wildan langsung melambung tinggi.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *