* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gue masih seratus persen inget—yah, mana mungkin juga deh gue bisa ngelupain suatu hal yang jadi awal gimana bisa sekarang gue menyandang status jadi pacarnya seorang Nindya Putrianne.
“Gue minta tolong.” katanya sembari menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata ragu ke arah gue.
Aduh, Nin, gimana gue aja yang gigit? Jangan elo.
“Iya, apa?”
“Gue mau ketemu orang abis ini di kafe gue.”
“Oke, terus?”
Dia malah kembali mengigiti bibir bawahnya, terlihat ragu, sebelum kemudian dia menatap gue dengan tatapan memohon. “Bisa minta tolong akting biar kita kayak orang pacaran?”
Masih inget seratus persen gimana kagetnya gue pas denger ini.
Percakapan dan permintaan tolong yang keluar dari bibir Nindya waktu itu bikin gue flashback sama salah satu adegan sinetron pasaran yang gue kira cuman ada di tivi dan drama dengan skenario yang dibuat manusia.
Tapi siapa yang sangka sih bila seorang gue—seorang Natama Brian bakal dapet percakapan macem ini juga di kehidupan nyata. Gue sempet melongo bentar saking kaget dan gak percayanya. Gue mau nanya, apa dia ngeprank gue atau sesuatu yang lain karena itu kedengeran aneh.
Tapi kemudian dia segera menambah kalimatnya, mungkin karena respon gue bikin dia mikir kalau gue gak mau membantunya.
“Tapi kalau misal lo gak bisa atau gak mau, gue bisa ngerti. Gak papa, gue bisa—“ tambahnya cepat yang kemudian segera gue potong.
“Emang gue udah ada ngasih jawaban ke elo?” sela gue sambil terkekeh geli. “Belum, kan? Dan jawaban gue adalah, oke. Gue ngeokein permintaan lo.”
Dia kelihatan balik kaget. Well, Nin, harusnya yang kaget, ya, gue dong.
“Beneran?”
“Iya, lah. Kenapa emang?”
“Siapa tahu... lo keberatan?”
“Kenapa harus keberatan?” Gue nanya sambil ngangkat alis, biar kelihatan ganteng gitu.
“Karena lo... punya pacar? Atau gebetan?”
Gue gak bisa nahan diri buat ngacak rambut dia. Gemes. Gue gemes banget. Kalau aja cewek ini udah resmi jadi cewek gue, pasti udah gue ciumin dari tadi. Salah siapa gemes banget?
“Apa gue kelihatan kayak cowok yang udah ada pawang?”
Dia diem doang, gak jawab. Jadi gue ngelanjutin.
“Kalau gue ada pawang, gue gak bakal cari perhatian mulu ke elo dari kemarin. Iya, gak?”
Kini dia makin melebarkan mata. Paham, sih, kalau dia pasti kaget banget sama kalimat gue barusan. Tapi bodo amat. Setidaknya lewat kejujuran gue yang satu itu, dia jadi bisa paham kalau gue udah bakal memulai sesuatu yang udahgue tunggu-tunggu dari hari-hari sebelumnya.
Yaitu misi untuk mengambil hari Nindya Putrianne.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah percakapan itu, tentu aja perjalanan tetep berlanjut. Sesuai rencana gue buat nganterin dia ke kafe dengan salah satu permintaannya agar gue mau akting jadi pacarnya, ketika di mobil, gue langsung menanyakan maksud di balik keinginan Nindya.
Selain beneran penasaran, gue pikir gue ada hak, dong, buat nanya apa lagi posisinya gue, tuh, jadi YSB alias pihak yang bersangkutan.
Gue kira dia bakal belibet buat nyeritainnya karena mungkin ini salah satu aib atau apa, deh, gak ngerti. Tapi ternyata, di luar dugaan gue, dia mau-mau aja cerita langsung dan lengkap, gak pakai gue paksa dulu, tentang alasan kenapa dia minta gue begini.
Dan juga, kenapa harus gue, kan?
Nindya cerita, bahwa alasannya adalah karena di kafenya dia akan bertemu sekalian makan malam—yang padahal jam makan malam udah dari beberapa jam yang lalu banget—dengan orang tuanya juga tamu undangan orang tuanya.
Nah, singkat cerita, kata Nindya, yang diundang sama bokap-nyokapnya ini adalah orang tua dari mantannya. Yang mana si mantan dia sendiri juga dateng. Terus gak nanggung-nanggung, mengingat orang tuanya dan orang tua mantannya emang berteman dari SMA, mereka sering banget nyuruh Nindya buat balikan sama si mantan—yang mana ditolak mentah-mentah sama Nindya karena dia paling gak bisa kalau disuruh maafin cowok yang pernah berkhianat.
Gue manggut-manggut saat dia bercerita. Sedikit seringai gembira muncul begitu aja di ujung bibir gue karena seneng.
Ya begitu, Nin, bagus. Jangan mau balikan sama mantan. Mending sama yang di sebelah lo ini aja. Gue maksudnya.
“Emang nyokap sama bokap lo gak tahu kalau mantan lo, nih, selingkuh?”
“Tahu. Mereka gue kasih tahu pas hari H gue putus sama Enrico.”
“Tapi?”
“Ya gak tapi-tapian, sih. To be honest nyokap sama bokap gak maksa gue buat balikan yang maksa banget gitu, kok. Tapi sometimes mereka kayak menyayangkan aja kalau gue putus, gitu.”
“Jadi yang paling ngebet kalian balikan itu mantan lo dan orang tuanya?”
Nindya mengangguk atas pertanyaan gue. “Right, begitu.”
“Rese juga. Kenapa harus maksa-maksa orang, coba? Punya hak juga gak.”
“That’s why gue minta lo bantuin gue. Karena ini satu-satunya cara biar gue gak dicall mulu sama mereka buat ‘pemaksaan buat balikan’ berkedok dinner bareng ini.”
“Tapi kalau gue boleh tahu, emangnya kenapa harus minta tolong ke gue? Lo gak mungkin gak ada kenalan cowok lain, entah temen atau cowok... like gebetan?”
“Bukan gak ada temen cowok, ya—“
“Means gak ada gebetan juga saat ini?” tanya gue segera memotong karena sejujurnya pertanyaan ini sangat amat penting dari pada yang lain.
Dia mendengus, gue menahan senyum geli. Asli, she’s way sexier everytime she do that—kayak pas lagi ngedengus, muter bola mata, melipat kedua tangan di depan d**a, atau hal-hal lain yang posturnya nunjukkin kalau dia jengah. She’s way sexier, as freak.
“Gak ada.”
“Syukurlah,” gumam gue tapi gue yakin dia denger juga. Dia hanya pura-pura gak denger gue bilang gitu. “Terus pertanyaan gue yang tadi? Kenapa gue?”
“Karena gue baru kepikirannya tadi, kemarin-kemarin belum.”
“Dan?” tuntut gue biar dia mau jelasin lebih lanjut.
Dia tiba-tiba ngalihin muka ke arah kaca mobil di sampingnya sembari menjawab. “Dan gue kepikirannya pas ngelihat muka lo.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah gue memarkirkan mobil di depan kafe dia—yang gue tebak setelah ini gue bakal ke tempat ini buat cari perhatian sekalian modus untuk menjalankan misi—gue mematikan mobil lalu noleh ke arah dia yang meraih tas kecilnya yang dia taruh di atas dashboard.
“Nin,”
Dia noleh.
Gue meringis. “Look,” gue melirik ke arah baju gue. “Gak papa gue cuman pakai kaos biasa begini?”
“Gak papa, anjir. Selama lo gak telanjang.”
“Tapi ketemu nyokap dan bokap lo yang bawa tamu. Beneran gak papa?”
Dia menghela nafas.
Yang gue gak tahu, dia bisa sesantai itu saat kemudian memajukan diri dan tangannya bergerak ke atas—sial, jemari lentiknya merapikan rambut gue. Tiba-tiba banget. Kebayang gak lo pada kalau jadi gue?
Gue bahkan sampai gak berkedip karena kaget, juga seneng dan bawa perasaan sendiri.
“Done. Lo gak jelek, jadi gak usah insecure.”
Gue mengulas senyum kecil setelah dia menurunkan tangannya dan menatap gue tanpa kelihatan geter sama sekali. Bisa-bisanya di antara gue sama dia, malah yang cewek yang bikin cowoknya baper. Kebalik, Nindya. Kebalik!
Sebagai cowok yang gue akuin pinter modus, tentu aja gue kemudian ikutan bales ngerapiin rambutnya yang padahal udah rapi. Gue hanya mengusap rambutnya beberapa kali. Jangan tanya rasanya kayak apa karena damn, gue bisa ngerasain betapa halusnya setiap helai rambut gadis cantik ini.
“Oke, you also done,” lapor gue kemudian membuka kunci mobil. “Ayo turun.”
Gue meraih tangannya untuk gue gandeng. Dia noleh ke arah gue, yang mana gue pura-pura gak tahu aja jadi gue langsung bawa dia masuk. Sekalipun gue deket sama banyak cewek selama ini—tapi tentu bukan niat gue jadi playboy karena gue hanya mendekati perempuan yang emang punya peluang jadi pacar yang baik—gue akuin tanga Nindya beneran fit well di tangan gue.
Tangan kami bertaut, gue bahkan sempat mengusap punggung tangannya dengan jempol gue saking terlenanya pas gue ngerasain betapa halus dan indah tangan dan jemari Nindya. Well, gue jadi memikirkan gimana rasanya kalau gue bisa melabuhkan bibir di atas punggung tangan perempuan cantik ini?
Sembari jalan, muka gue kelihatan biasa aja. Tapi, muka doang yang bisa aja kelihatan santai di depan Nindya sambil gandengan begini, yang seharusnya Nindya tahu, gue lagi grogi tapi kali ini bukan grogi karena gue gandengan sama dia—kalau khusus yang itu, bukan grogi namanya. Gue kelewat seneng.
Tapi rasa gugup yang gue rasain pas itu adalah bayangan gue ketemu sama orang tua Nindya. Mana harus akting lagi. Selama ini gue, kan, pinternya di bermain musik, bukan bermain peran. Ada sedikit ketakutan karena harus ngebohongin orang tua apa lagi notabene-nya mereka calon mertua gue. Hehe, oke, percaya diri aja dulu, ya, kan?
Gue makin mantep buat bertekad macarin Nindya yang versi beneran, gak cuman bohongan kayak gini biar dosa gue gak numpuk –numpuk amat. Setidaknya hari ini doang gue bohong dengan ngaku pacarnya Nindya padahal bukan—atau at least belum. Gak lama setelah ini, gue yakin kita bakal beneran pacaran—asal misi gue berjalan dengan lancar dan berhasil.
Selain alasan tersebut, grogi gue yang lainnya adalh... ehem, oke ini bakal agak memalukan tapi gue beneran berharap semoga cowok yang jadi mantanya Nindya—yang kalau gue gak salah inget tadi saat disebut cewek di sebelah gue ini dengan sebuatn Enrico—gak lebih cakep dari gue.
Kalau masaah attitude dan duit, gue berani bertaruh gue bisa diandelin, tapi kalau ternyata dia cakepnya macem Leonardo D’Ca--
“Brian,” Nindya mendesis sambil menyenggol siku gue, membuyarkan lamunan dan gundah gulana yang gue rasakan. “Fokus. We’ll start in threee...” Nindya tiba-tiba menghitung, bikin gue ngadep depan dan baru sadar langkah dari tempat parkir mobil dan pintu kafe ini udah cuman tinggal tiga langakh.
“Two,” lanjutnya.
Gue menarik senyum ke arahnya, menyatakan kalau gue siap.
“One.”
Drama dimulai.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
I still remember the third of December, me in your sweater
You said it looked better on me than it did you
Only if you knew how much I liked you
But I watch your eyes as she
Walks by
What a sight for sore eyes
Brighter than the blue sky
She's got you mesmerized while I die
Lagu dari Conan Gray yang lagi terkenal karena aplikasi bernama Tik Tok dengan judul Heather itu menyambut indera pendengaran gue kala gue dan pacar bohongan gue—well s**t i hope it’s just being real soon to call her as my girlfriend—memasuki kafe.
Tanpa diberi tahu, gue bahkan bisa menabak dimana meja orang tua Nndya karena sejak awal kedatangan kami, sudah ada lima pasang mata yang menatap kami. Dan salah satu dari lima orang itu memiliki garis wajah dan mata yang mirip sekali dengan Nindya, gue tebak itu adalah bokap Nindya.
Asli, mukanya mirip banget soalnya. Bedanya bokapnya cowok, Nindya ini cewek.
Ketika langkah kami berhenti di dekat meja, gue langsung memberikan senyum tersopan. Nindya langsung memperkenalkan gue usai mencium pipi ibunya.
“Halo Om, Tante,” Nindya menyapa orang tua dari mantannya dan berbincang mengenai kabar masing-masing masih sambil berdiri.
Sementara gue, mata gue masih fokus banget ngelihatin si Enrico. Gue memicingkan mata karena mukanya agak familiar. Sumpah, gue kayaknya kenal tapi dimana dan siapa? Gue berusaha mengingat-ingat. Apa lagi tatapan kaku Enrico saat matanya bersibobrok sama gue bikin gue bener-bener kebayang satu momen dimana gue pernah juga dapet ekspresi sama dari seseorang dulu pas—
Freak.
Gue langsung inget.
Enrico. Enrico Bagaskara. I know him.
Gue menahan bibir gue biar gak menyerinagi lebar dan bikin yang lain curiga karena—sialan, gue pengen ketawa. Enrico yang gue lihat kali ini emang beda sama Enrico yang pernah satu kelas sama gue di SMP dulu. Kini dia berrambut klimis dengan penampilan rapi bak orang mau ke kantor dibanding mau ngafe. Beda banget sama dulu dimana dia di kelas hampir gak pernah kelihatan cakep karena selain dia jarang mandi, seragamnya juga gak pernah rapi.
Gue pernah nakal juga pas masih remaja, of course. Itu normal. Tapi Enrico ini beda dari yang lain.
Dulu di SMP, dia terkenal nakal. Nakalnya masih standard, gue pun juga bukan nakal yang gimana-gimana. Tapi kita beda circle. Dia punya circle sendiri, gue pun juga. Yang pengen gue ketawain saat ini adalah sampai detik ini, gue masih menyimpan video menjijikkan dia di laptop gue dengan folder berjudul “Junior High School”.
Kemampuan fotografi gue buat menciptakan foto yang berkualitas itu gue manfaatkan dari SMP buat moto-moto aib temen-temen gue. Kebayakan, sih, temen kelas yang mana didominasi sama muka Enrico.
Enrico yang lagi tidur sambil mangap di kelas, Enrico yang lagi ngiler di atas tasnya yang dia jadiin bantal pas tidur di kelas, video Enrico lagi ngorok, lagi ngupil, lagi diketawain sekelas karena presentasi, bahkan yang paling parah adalah...
Gue dapet video dari kakak kelas dulu yang mergokin Enrico lagi ‘ngocok’ di toilet sekolah. Parah banget gak, tuh? Bahkan dulu sampai gempar dan Enrico bolos seminggu lebih karena gak punya muka sejak videonya kesebar di kalangan siswa. Untung gak nyampe ke guru.
Sumpah, demi apapun. Kenapa bisa Nindya Putrianne dapat cowok macem Enrico sementara gue yakin artis sekelas Herjunot Ali aja mungkin bisa kecantol sama dia?
Wake up, wake up, wake up
It's Monday morning and we've only got a thousand of them left
Well, I know it feels pointless and you don't have any money
But we're all just gonna try our f*****g best
Well, my generation wanna f**k Barack Obama
Living in a sauna with legal marijuana
Teriakan suara Matt Healy dari 1975 dengan judul People itu bikin gue tersentak dikit. Kaget, bor. Tahu-tahu, gue udah digenggam sama Nindya dan kami duduk di samping orang tua cewek itu.
Waduh, gue ketinggalan percakapan sampai mana, nih?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Singkat cerita, malam itu gue memperkenalkan dengan baik diri gue di depan yang lain. Gue bisa menemukan ruat Enrico dan orang tuanya yang langsung kicep dengan ekspresi berubah kaku kala Nindya dnegan raut bangganya memperkenalkan gue sebagai pacarnya. Gak tanggung-tanggung, Nindya tiba-tiba jelasin juga kalau gue adalah salah satu anggota dari Lima Hari sekaligus penulis lagu yang mana membuat Mamanya Nindya ternyata langsung terperangah dan berkomentar.
“Makanya, pas denger suaranya tadi kok mama kayak familiar. Ternyata Lima Hari!” ujarnya masih dengan mata berbinar menatap gue. “Cakep mukanya. Kayak suaranya juga.”
Gue menyeringai senang karena gak ada kendala apapun hari ini. Insecurity yang tadi melanda gue sebelum masuk kafe aja udah hilang menguap entah kemana dibawa angin. Kalau gue gak salah ambil kesimpulan, malam ini berjalan lebih dari ekspetasi gue dari awal.
Papa Nindya, walaupun kelihatan gak nyaman dengan kedatangan gue dan terlihat gak enak ke tamu undangannya atas kehadiran gue, lama-lama juga bisa nyambung ngobrol sama gue karena bokapnya Nindya ini doyan koleksi mobil tua—kayak bokap gue. Nyokapnya Nindya yang demen sama Lima Hari karena katanya bikin dia flashback sama jaman galau pas di SMA tentu aja juga kelihatan baik-baik aja sama fakta kalau Nindya udah punya pacar baru—walaupun boongan—dan itu gue.
Sementara tiga tamu undangan yang berada di meja itu, kelihatan udah kebelet pergi dari sana. Enrico, mungkin cowok itu ketakutan gue bongkar aibnya di depan Nindya, sementara orang tua dia kayaknya gak nyaman karena kehilangan harapan buat Nindya dan anak ke dua mereka itu bisa balikan.
Setelah makan malam itu, gue nganterin balik Nindya. Sebenernya cewek itu udah nolak karena alesannya gak enak ngerepotin. Padahal, ya, siapa sih yang malah gak seneng kalau direpotin sama cewek yang ditaksir?
Seolah takdir berpihak sama gue, bokapnya Nindya bilang ke cewek itu buat balik sama gue aja karena gak enak kalau Nindya malah balik sama bokap-nyokapnya padahal ke kafe bareng gue.
Kemudian pas di mobil di perjalanan pulang, gue gak bisa lagi menahan rasa kepo yang dari tadi udah nahan pengen dikeluarin.
“Nin, lo pacaran sama Enrico dari kapan? Lama?”
“Enggak, sih. Kayaknya enam bulan yang lalu baru putus. Kalau gak salah itung.”
“Lah? Pacarannya berapa bulan doang?”
Dia mendesis tiba-tiba. “Sebulan setengah.”
“Kenapa putus? Kayak gak niat pacaran aja cuman pacaran sebulan setengah.”
“Gak cocok aja udahan.”
“More spesific?”
“Kepo.”
Gue mendengkus. Ngarep apa sih gue kalau mau ngepoin ini cewek? Udah pasti malah langsung ditabok pakai kalimat pedesnya kayak begini. Tapi bukan Natama Brian, dong kalau gak bisa menuntaskan rasa penasarannya. Jadi gue tetep mancing.
"Kalau boleh nebak, lo gak pedekate lama, ya, sama dia."
Nindya noleh. "Kenapa lo nebak begitu?"
Gue mengedikkan bahu. "Kan cuman nebak. Lo belum paham gimana dia pas lo jadian. Terus ternyata kalian gak cocok, tapi lo mencoba buat ngasih kesempatan siapa tahu the things will work out but--"
"Accourate."
Gue balik noleh. Alis gue terangkat satu. "Bener?"
"Lo cenayang?"
"Bukan. Tapi gue kenal Enrico. Dia sekelas sama gue pas SMA jadi gue kenal dia gimana. Kalau boleh ngomong rada gak sopan, maka gue bakal bilang kalau lo sama Enrico eamng gak ada cocok-cocoknya."
Kemudian karena itulah, Nindya langsung cerita tentang alasan putusnya karena Enrico yang manja dan kekanakan sampai Nindya risih. Mereka sebetulnya juga gak pernah jadian, hanya saja udah sayang-sayangan jadi orang pada mikir mereka pacaran. Dan kayak biasanya, Nindya gak mencoba memperbaiki gosip miring tentang dia.
Brian sendiri gak menceritakan tentang aib Enrico yang dia punya. Dia gak sejahat itu juga, sih, buat ngejelekin orang yang gak ada salah ke dia apa lagi sekalipun kayak gitu, Enrico pernah ngasih contekan pas ujian Seni Budaya dulu di SMP.
Semuanya berawal dari tukar cerita di malam ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *