Brian : Physical Touch

3369 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Kemudian setelah malam itu selesai  hanya dengan saat gue pulangin Nindya ke rumahnya, gue kembali menjalankan misi di keesokan harinya. Karena pas itu weekend, jadi gue nge-DM dia jam setengah enam dengan bilang kalau gue mau ngajakin dia jogging di komplek dia aja, biar gak jauh-jauh. Tapi kayaknya dia belum bangun karena DM gue gak kunjung dia tanggepin. Tapi bood amat. Gue gas aja buat tetep berangkat. Gimanapun hasilnya—walaupun kalau gue jadi Nindya bakal kesel banget tiba-tiba diganggu orang aisng pagi-pagi—gue bakal nomer satuin usaha dulu. Lagi pula, gue udah mengantongi izin dari bokap dan nyokapnya kemarin malam. Maksudnya, karena gue tahu orang tua cewek itu menerima kehadiran gue sebagai pacar barunya Nindya, maka gue percaya diri aja kalau gue bakal diizinin ngajak anaknya jogging pagi-pagi. Lalu tebakan gue bener. Kala gue udah parkir di depan rumah cewek itu, gue disambut oleh parkir dan salah satu pembantu yang lagi beli sayur di gerobak yang bertengger di depan rumah. “Maaf, dengan siapa, ya, Mas?” tanya satpam tersebut. Gue baru juga mau jawab pas ternyata bokapnya Nindya udah teriak dari kursinya yang emang dia lagi nongkrong disitu dengan segelas minuman hangat yang masih berasap serta koran di tangan. Gue juga baru menyadari keberadaannya disana. Sedetik kemudian, nyokapnya Nindya juga ikutan keluar membawa satu gelas entah berisi minuman apa di tangannya. “Kasih masuk, Pak Arman. Dia mantu saya!” teriak bokapnya Nindya yang bikin gue cengengesan malu. Aduh, mulus banget, yak, jalan gue buat deketin anaknya mereka? Setelah gue dipersilahkan masuk, gue tentu gak langsung mencari Nindya, Gue bercengkerama dengan kedua orang tuanya layaknya kami udah kenal lama. Segelas teh hangat hadir di depan gue pula bebetapa menit berikutnya yang diantar oleh salah satu pembantu yang berbeda. Kalau gue lihat-lihat, rumah Nindya ini bukan termasuk rumah mewah yang gede banget, tapi setahu gue, Nindya anak orang kaya—banget. Mungkin cara mereka kelihatan sederhana adalah dengan gak bangun ruamh magrong-magrong kayak orang lain. Gue jelas gak lupa gimana kemarin gue dan bokapnya Nindya yang cerita kalau bokap gue dan doi sama-sama suka koleksi mobil tua. Satu mobil tua aja harganya udah selangit dan bokapnya Nindya koleksi banyak. Udah jelas, kan, kalau rumah sederhana ini hanya topeng dari hartanya keluarga Nindya yang gak terhitung berapa banyaknya? “Ooh, jadi kamu mau ngajakin Nindya jogging?” “Iya, Om. Kalau boleh juga, sih, itu.” Bokap Nindya ketawa. “Ya boleh, toh, Le. Tapi masalahnya Nindya belum bangun. Kamu gak ngabarin dia dulu emang pas mau kesini?” “Udah, sih, Om,” bohong gue. “Tapi tadi pagi.” lanjut gue setengah jujur. “Ma, tolong bangunin anaknya, Ma. Kasihan kalau Brian jadi nunggu lama.” “Iya, Mama bangunin. Tunggu sebentar, ya, Brian.” Gue mengangguki nyokapnya Nindya dengan tersenyum seraya mengucap terimakasih. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Yang gak pernah sama seklai gue ekspektasiin adalah gue gak jadi jogging berdua sama Nindya, tapi berempat sama bokap-nyokapnya. Gue justru gak masalah sama itu. Ini salah satu cara gue makin deket sama Nindya walaupun muka cantik cewek itu masih butek banget karena gak terima dibangunin pagi-pagi buat jogging. Tadi setelah orang tuanya sepakat ikut, kami berempat akhirnya lari kecil ke arah taman tempat kami bakalan mulai jogging. Tapi Nindya lebih banyak jalannya. Ketara banget dia masih emosi karena tiba-tiba ada gue muncul di rumahnya pagi-pagi. Gue cuman terkekeh doang. Setelah memastikan kalau jarak gue dan Nindya agak jauh dari orang tua cewek itu yang berada di depan sana, gue membuka obrolan. “Makanya, kalau ada orang DM, tuh, dibaca.” Dia ngelirik gue males. “Lo DM jam berapa? Gue masih tidur.” “Jangan begadang makanya.” Dia gak merespon. “Lo masih ngantuk?” “Menurut lo? Gue baru tidur jam setengah dua.” Nindya tiba-tiba berlari kecil menjauh dari gue, tentu aja itu bikin gue ikutan menambah kecepatan lari dan menyamakan langkah dengannya. Kali ini gue gak mencoba membuka percakapan lagi. Gue biarin kita diem-dieman sampai bermenit-menit kemudian. Lalu suara dia menyapa gendang telinga gue. “Lo kenapa tiba-tiba ada di rumah gue?” “Mau ngajak lo jogging. Isn’t it obvious?” “Kenapa tiba-tiba.” ulangnya sambil menekankan tiap kata. “Hng,” gue pura-pura mikir sebelum mengedikkan bahu. “Pengen aja. Salah gue ngajakin pacar buat jogging?” “Siapa yang lo maksud pacar?” Gue mengangkat satu alis, menyeringai kecil. “Elo, kan?” Nindya langsung berhenti jogging. Dia berdiri di samping gue yang ikutan berhenti. Kedua tangannya langsung berkacak pinggang menatap ke arah gue dengan sorot wajah gak terima. “Pacar lo bilang—“ “Sssst!” tegur gue sok panik sambil ngelirik ke arah depan. “Jangan kenceng-kenceng. Lo mau orang tua lo jadi curiga kalau kita boongin mereka?” “Astaga, gue baru sadar lo manfaatin gue atas permintaan tolong gue kemarin.” “Karena di dunia ini gak ada yang free, Nindya.” Dia mendengkus. Kami lanjut jalan. Literally jalan sampai kita ketinggalan jauh sama bokap-nyokapnya Nindya. Sampai satu steengah putaran taman, gue gak ngelihat tanda Nindya kecapekan. I guess dia rajin olahraga, atau ngegym, karena selain nafasnya yang masih stabil, gue bisa tahu itu dari bentuk badannya yang terbentuk indah. “Mau beli es krim?” tawar gue kala gak sengaja melirik ke arah samping dimana ada tukang jualan es krim di seberang taman. Dia menoleh ke arah tempat gue ngelihat, lalu menggeleng dan ngelihatin gue. “Beli air mineral aja. Seret.” Gue mengangguk mengiyakan. Kita jalan ke supermarket terdekat setelah Nindya mengabari orang tuanya bahwa dia mau cari minum. “Nin,” panggil gue di antara kesibukannya neglihatin anak kecil rebutan beli balon Squidward. “Hm? Eh bentar.” Gue ikut berhenti, sempat menarik lengannya agar minggir karena segorombolan bocah SMP atau SMA—entahlah—mau lewat. Fokus gue terdistraksi kala Nindya mengangkat kedua tangannya di belakang kepala, menyatukan rambut-rambutnya dan merapikan ikatannya yang tadi memang sempat berantakan. Leher gadis itu langsung terpampang nyata di depan mata gue. Nindya terlihat lebih cantik dua kali lipat kalau lagi begini. Gue bahkan gak berkedip ngelihatin dia kalau aja Nindya gak membuat lamunan gue terpecah. “Kenapa?” dia noleh ngelihatin gue. “Lo mau ngomong apa tadi?” Gue ikutan ngerapiin poninya. “Bukan apa-apa. Cuman nyuruh jangan kaget aja kalau mulai sekarang gue makin sering muncul di depan lo.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah hari itu, tentu aja gue menepati omongan gue yang bilang kalau gue lebih sering muncul di depan mata dia. Gue laki-laki sejati dan lelaki sejati gak pernah ingkar janji. Karena omongan gue bisa dipegang, jadilah guw beneran sesering itu nemuin dia. Entah ke rumahnya, atau ngajakin dia ke kantin bareng, dan kalau kita lagi di satu kelas yang sama, maka gue akan duduk di sebelahnya. Annoying, kalau kata Nindya dulu pas awal-awal nemplokin dia mulu. But look a us now. Sekarang cewek itu juga terbiasa kalau ada gue yang sengaja nyemperin dia. Bahkan setelah kedekatan kami yang kurang lebih udah berjalan dua minggu, dia sering ngechat duluan atau nyamper duluan buat ngajak makan bareng. Such a good process, i know. Gue juga bersyukur karena apa yang gue lakuin selama ini, usaha-usaha buat ngeluluhin hatinya, udah mulai kelihatan hilal kalau dia mulai ngerasa nyaman sama gue. Kemudian di saat kami sudah dekat satu bulan lebih empat hari, kalau gue gak salah hitung, gue ngajakin dia ke Bromo berdua. And there we went. Gue menciumnya disana, tepat saat matahari hendak naik menuju langit dengan warna orang yang bersinar menunjukkan indahnya kuasa Tuhan, di antara keramaian khalayak orang yang fokus memfoto, gue hanya memfokuskan diri untuk mencium bibir gadis itu lembut. Selembut hatinya gue yang terasa meringan karena sebelum gue menciumnya... ...dia udah mengiyakan permintaan gue untuk jadi pacarnya. She said yes. And from there on, WE’RE OFFICIALLY BEING A COUPLE. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Ini bulan kedua setelah kami berdua—gue, Natama Brian ini, dengan seorang Nindya Putrianne—resmi jadian. Terhitung cepet banget sampai gue agak kaget pas nemuin sekarang udah tanggal 14 lagi padahal rasanya kayak baru kemarin gue nembak dia di Bromo. Jadwalnya, hari ini gue lagi gak ada acara mau nagpa-ngapain sama Nindya. For sure, karena urusan Lima Hari tentu gak bisa dibiarin gitu aja sekalipun gue lagi kangen buat kangen-kangenan sama pacar gue itu. Tapi gimanapun, gue juga gak mau menomorduakan karir gue yang lagi gemilang, juga tanpa menomorduakan pacar gue. Imbang aja gitu maksud gue. Toh yang lagi kasmaran di Lima Hari bukan gue doang yang jadi satu-satunya. Kayaknya yang lain juga lagi pada kesemsem sama cewek—walaupun Wildan belum ngaku tapi gue yakin cowok itu udah ada gebetan. “Gimana, gimana? Fokus yok bisa yok.” Jefran bertepuk tangan, mencoba untuk membuat yang lain fokus dan lanjut diskusi. “Ayo, dong, Sat. Biasanya lo paling semangat kalau beginian.” Satria berdecak mendengar gue bilang gitu. Dia menendang tungkai kaki gue, menyuruh gue untuk diam yang mana itu malah bikin yang lain tergelak. Bangke, padahal kaki gue beneran sakit gara-gara ditendang. “Jangan gitu, dong, Bri,” Jefran bilang ke gue sambil nahan ngakak. “Bawa aja ceweknya kesini pasti semangah, dah, tuh, ini Bapak.” “Telpon, telpon!” Wildan ikut-ikutan. “Atau DM, suruh ngasih Satria amunisi biar gak lesu mulu gara-gara dikerjain Pak Erwin.” Emang kalau disuruh ledek-ledekan satu sama lain, anak Lima Hari jagonya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Gue kesana, ya?” Suara pacar gue yang cantik sedunia ini mengisi indera pendengaran gue. Sambil berdiri dari kursi dan ngomong tanpa suara buat pamitan ke yang lain untuk angkat telepon, gue menjawab perempuan di seberang sana. “Kesana kemana?” “Ke studio lo.” Gue mengernyit. “Ngapain?” “Gak tahu. Gabut di rumah.” Gue mengangkat pergelangan tangan untuk melihat pukul berapa disana. Lalu karena menemukan jarum jam menunjuk pada angkat setengah lima, gue langsung berujar. “Abis ini aja gue kesana. Setengah jam lagi kelar, kok, ini.” “Ck.” Decakannya membuat gue terkekeh gemas. “Sabar, Sayang. Lagian kemarin bukannya abis beli buku terjemahan, ya? Baca itu, kan, gak gabut.” “Pengen keluar rumah.” “Iya, tunggu gue kelar aja berarti.” “Ya udah. Cepetan.” “Misal ngaret, kayaknya maksimal ngaret setengah jam, ya. Gue usahain—“ “Tuh, kan. Gue aja yang kesana kenapa, sih?” “...” “Gue pengen ketemu.” Oh, astaga. Harusnya gue udah bisa nebak kenapa dia aneh banget sampai maksa pengen ke studio cuman karena gabut. Bukannya cewek gue gak pernah sama sekali nyamperin gue. Sering malah. Biasanya pas Lima Hari latihan, dia malah kayak jadi manajernya anak-anak karena sering ngikut kemana-mana—yang sejujurnya gue paksa buat ikutan. Tapi yang gue bahas adalah betapa jarangnya dia ngungkapin rasa sayang. Well, dari awal gue emang gak ngarep dia bakal bisa clingy dan manja ke gue. Karena itu sangat bukan cewek gue. Nindya selama ini ngungkapin rasa sayangnya bukan lewat bilang i love you atau cium-cium.    Love languagenya dia bukan disana. Tapi gimana caranya dia ada pas gue butuhin, dia yang marah kalau gue sedih tapi gue gak mau cerita-cerita, intinya she will be there. Jadi kebayang, kan, gimana kagetnya gue pas dia bisa ngungkapin rasa kangennya walaupun gak blak-blakan bilang i miss you tapi “gue pengen ketemu”? Gue melengkungkan senyum. Kalau aja dia ada di depan mata gue, Natama Brian yang love languagenya physical touch ini gak bakal bisa diem aja di tempat. Udah abis kali itu anak sama gue. “Kangen, ya?” ledek gue. Dia diam sesaat sebelum berkata. “Bacot.’ Gue malah ngakak. “Iya, iya. I miss you too. Tunggu abang jemput adek disana, ya?” “Brian, geli!” Tawa gue meledak kencang. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  Gue hafal banget jam-jam dan hari apa aja yang posisi rumahnya Nindya bakal sepi. Selain karena keseringan kesana jadi apal, gue juga selalu memanfaatkan kesempatan dengan baik. Nindya jarang mau kalau diajak ke kosan gue. Katanya capek dimodusin mulu. Gue cuman bisa ketawa pas dengan polosnya dia bilang gitu. Ya enggak salah juga, sih. Balik lagi, love language gue, nih, physical touch. Gak modus pas ketemu Nindya, tuh, hampir gak mungkin rasanya. Kalau ketemu pasti nemplok. Itu gue banget. Maka karena dia jarang mau ke kos gue, gue yang ke rumah dia. Biasanya gak peduli hari apa. Asal gue ada waktu, dia ada waktu, gue pasti nyamperin. With or without ngapa-ngapain. Lagian gue sayang Nindya apa adanya, kali. Bukan berarti isi kepala gue cuman hal yang iya-iya doang. Well, walaupun yang begituan juga termasuk. Emang cowok mana, sih, yang gak gemes kalau punya cewek kayak Nindya? Gue aja bawaannya pengen makan dia mulu kalau lagi berduaan. Tapi satu hal yang gue syukuri adalah gue selalu berhasil kontrol nafsu setiap kali posisi kita berdua udah gak karu-karuan dan hampir make love.  Selama ini, gue sama dia paling mentok cuman pemanasan doang tapi gak sampai inti. Aman, lah. Padahal kalau ngomongin hal plus-plus itu, Nindya bilang dia gak keberatan. Toh gak munafik, kami berdua udah sama-sama gak polos sejak lama. She’s ain’t virgin anymore, gue juga. Jadi gak ada masalah kalau kami mau ngelakuin itu. Tapi gue malah yang belum siap nyentuh dia. Umur hubungan kami masih seumur jagung. Gue gak mau dia mikir gue macarin dia cuman buat begituan. I love her more than that. “Bentaaaaar!’ Suara teriakan Nindya dari dalam rumah diiringi langkah mendekat agak lari kecil buat membukakan pintu bikin gue ikut teriak juga dari luar. “Gak usah lari-lari nanti jatoh!” Pintu terbuka, menampilkan pacarnya Natama Brian dengan tanktop hitam dan celana tarining panjang. Rambutnya digulung asal, menampilkan bagian rambut bagian dalam yang dicat berwarna silver yang bikin dia kelihatan makin seksi. Tapi gue berdecak. Lalu mendorongnya balik badan dan membawa kedua pundak dia untuk lurus jalan ke depan. Satu tangan gue menutup pintu di belakang tubuh, lalu kayak posisi anak kecil yang main kereta-keretaan, gue dorong dia ke arah ruang tengah. “Udah dibilangin kalau bukain pintu jangan pakai tanktop doang.” “Kan bukain pintu buat elo.” Gue mengangkat satu alis tinggi-tinggi mendengar itu, lalu menyeringai kecil. “Apa terus maksudnya? Sengaja?” Dia memutar bola mata sambil mendorong wajah gue yang mendekat hendak meraih bibirnya. “Bukan, p*****t. Maksud gue lo udah biasa lihat beginian. Jadi gue pikir it’s okay. Mau minum apa?” “Gak usah, nanti gue ambil sendiri.” Dia manggut-manggut tapi kini lagi bikin minuman buat dia sediri. Her favorite soda gembira racikan sendiri. Gue menyandarkan tubuh bagian depan gue di belakang tubuhnya, memeluk erat pinggang dia, sambil menciumi pundaknya dari arah belakang. “Mana, nih, yang tadi bilang kangen?” “Siapa pula yang bilang kangen.” “Gii pingin kitimi,” ledek gue mengulang kalimatnya di telpon tadi. “Atau amnesia?” Dia mendesis geli kala gue sengaja menggigit cuping telinganya. Dia langsung balik badan dan mendorong d**a gue mundur selangkah. Dasar ceweknya Brian. Paling gak bisa peka kalau gue lagi pengen nempel-nempel. “Gue belum mandi. Jangan nemplok kayak cicak.” “Demi Tuhan, dari pagi?” Dia mengangguk dan meringis. “Makanya.” “Mana sini cium. Masa belum mandi beneran?” kata gue setengah modus sambil kembali mendekatkan wajah ke arah lehernya, tapi lagi dan lagi didorong. “Nooooo,” katanya. “Hih, sumpah si Physical Touch, nih, emang ya.” “Makanya, dong, Mbak. Pacarnya disenengin sini.” Dia memutar bola matanya jengah, mengangkat botol s**u kental manis yang tadi dia isikan ke gelasnya lalu kini dia siap menambahkan sirup. “Ke kamar sana.” Mata gue berkilat jahil. “Ngapain ke kamar?” “Lo mandi dulu sana maksudnya.” “Terus?” Dia menggigit bibir bawahnya. “Nanti gue nyusul.” “Nyusul apa?” Duh, Tuhan. Cewek gue kenapa lucu banget gue pengen karungin terus culik dia biar sama gue terus! “Nyusul mandi.” “Good girl,” gue mencuri satu kecupan di bibirnya. Eh, gak ding. Sedikit lumatan sebelum menjauh. Gue mengangguk setuju kemudian. “Gue tunggu di bath up.” “Hmm.” Dan, ya. Lo pada tahu apa yang bakal terjadi kalau gue dan Nindya Putrianne ada di satu bath up, di dalam air, berdua, kulit bertemu kulit, disempurnakan dengan rasa rindu yang membuncah karena lama gak quality time berdua. Keep my head under the water, pride buried in my chest Not counting all the minutes, the seconds, not holdin' my breath Now sinkin' from the surface, swimmin' in my lungs Losin' all my vision, religion, I'm holdin' my tongue So why, why? Don't we get a little high, high? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN