* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
It cuts me deep
And it cuts me wide
This gut rock feeling
I get inside
And I blame you
But it's really me
Can't rid myself
Of jealousy
Sambil mengganti tayangan televisi yang menyajikan lagu-lagu dari barat, Gea mencebik kesal.
“Alah boong banget.”
Gue ngakak ngelihat cewek gue merengut sambil makan nasi gorengnya.
“Sumpah, Babe. Kenapa gue harus boong coba?”
“Gak percaya gue, gak percaya.” kekeuhnya.
Gue makin ngakak lagi.
Jadi ceritanya, hari ini—kayak biasa-biasanya aja, gue lagi di apartemennya Gea. Ngapain? Ya gak ngapa-ngapain. Emang harus ada alasan kalau mau ngapelin cewek sendiri? Apalagi apartemen kita ada di satu tower dan beda dua lantai doang. Tinggal naik lift terus turun, udah, nyampe.
Hal yang satu itu jelas sangat dan amat gue syukuri. Karena di tengah padatnya jawal Lima Hari saat ini, gue gak perlu nyetir jauh-jauh cuman buat nuntasin kangen ketemu pacar kayak yang dilakuin anak Lima Hari lainnya—ya buat yang punya pacar maksud gue, kayak Brian dan Satria.
Karena sekalipun gue padet seharian penuh kayak pagi kuliah, sore latihan, malam ngisi panggung, sepulang dari sana gue bisa langsung nemuin Gea dengan berhenti di lantai empat belas, bukan di lantai enam belas tempat apartemen gue berada.
Apa gue bilang? Tuhan, tuh, sayang banget sama gue. Tahu aja kalau yang bisa bikin mood gue naik cuman Gea doang.
Ini masih jam dua siang setelah gue dan Gea balik dari kampus di pukul dua belas tengah siang tadi. Niatnya, sih, karena udah selesai makan siang di kantin berdua—eh gak, ding, bertiga sama Dafi—gue disuruh nemenin nyonya ini buat cari fake nails di mall.
Tapi mood Gea tiba-tiba anjlok pas tadi ada mantan yang nyapa gue di parkiran mall—yang sejujurnya gak bisa disebut mantan juga, sih, karena gak pernah jadian.
Intinya begitu, deh.
Jadi baru banget nih gue markirin mobil di basement, baru turun dan mau ngerangkul pundaknya Gea, eh mantan gue yang namanya Maharani nongol dan senyum sumringah. Yah maklum, sih, ya, siapa yang gak seneng ketemu mantan temen FWB yang secakep gue?
Niatnya abis nyapa, gue mau langsung pamitan ke Maharani, tapi itu cewek malah ngajakin ngobrol mulu. Sedangkan gue ya gak enak, dong, kalau nolak karena posisinya si Maharani ini sama nyokapnya. Pake acara ngenalin nyokapnya kalau gue dulu ini temen deketnya yang sekarang lost contact. Gak tahu, deh, gue.
Setelah Maharani sama nyokapnya pergi, gue bersiap ngegandeng Gea buat lanjut jalan. Eh dianya malah minta pulang.
“Loh, ngapain balik?” Gue nanya sambil bingung, dong. “Mau pindah tempat?”
Dia menggeleng. “Gak mood. Balik aja ayo.”
“Hah? Kenapa, sih?”
“Balik sekarang aja,” kekeuhnya tadi.
Sebenernya lagi, Gea bukan tipe cewek yang suka ngambek gak jelas. Dia jarang banget kayak gini. Selama ini, yang ada dia terlalu cuek ke gue, sampai kadang bikin gue overthinking gak jelas juga, bertanya-tanya apakah Gea ini beneran sayang apa enggak sama gue. Karena gue ngerasanya kayak cnta bertepuk sebelah tangan. Asli, deh.
Gea jarang marah, jarang ngomel, gak pernah bilang sayang, gak pernah manggil sayang, gak pernah ini dan itu yang harusnya udah wajar dilakuin orang ke pasangannya. Kalau aja gue gak merasakan perhatian secara langsung dari cewek itu, gue pasti udah ragu banget sama Gea.
Makanya, kali ini bukannya gue emosi karena Gea kelihatan banget marah ke gue karena perkara Maharani, yang ada gue malah kesenengan.
Gea cemburu, tuh, kayaknya bakalan lebih langka dari pada bunga raflesia. Makanya, momen kayak gini harus diabadikan.
Di mobil tadi, karena dia diem doang sambil ngelihat ke kaca sebelah, gue baru sadar dia bete gara-gara Maharani. Gue isengin aja. Gue sengaja moto-motoin dia, yang mana itu bikin dia makin murka. Bodo amat. Gue beneran seseneng itu karena Gea bisa cemburu.
“Gue bukan cemburu, Jefran. Misal tadi mantan lo itu gak ngelihatin gue kayak ngeremehin gitu, gue gak bakal emosi begini.”
Iya, gue juga sadar banget soal itu.
Gak cuman Gea. bahkan gue tadi juga udah atel banget pengen negur cara Maharani ngelihatin Gea. Bner-bener julid abis. Padahal dibandingin Maharani, jelas Gea lebih kemana-mana. Gak munafik, tapi apa, sih, yang bakal dibanggain dari Maharani selain dia punya d**a segede balon mau meledak? Gak ada.
Tapi lagi-lagi, apa yang hendak gue sampaikan ke Maharani selalu bikin gue mikir ulang karena ngelihat ibu cewek itu yang menatap antusias ke arah percakapan gue sama anaknya. Makanya, kalau aja Gea sadar, dari tadi ngobrol sama Maharani, gue banyak muji-muji cewke gue ini.
Selain karena Gea emang worth buat dipuji banyak-banyak, gue juga pengen Maharani sadar dia gak ada apa-apanya sama Gea—tentu aja pakai bahasa yang alus.
Gue memeluk lehernya dari samping. Bikin Gea yang duduknya agak berjarak sama gue itu badannya jadi miring ke arah gue karena kepalanya gue kekepin. Gue ciumin kepalanya, gemes setengah mati.
“Lucu banget pacar siapa, sih, lo?”
“Pacar orang.”
“Iya, lah. Masa pacar pohon?”
“Ha-ha. Lucu lo,” jawabnya sinis sambil melepaskan diri dari gue.
Tapi karena gue beneran lagi mode pengen nempel-nempel sama dia, jadi gue kembali menarik pinggangnya agar duduk merapat sama gue.
“Tapi jujur, ya, Ge. Gue seneng tahu lo bisa ekspresif begini. Kapan lagi, ya, kan?”
“Ekpresif ngapain?” tanyanya sambil memandang gue aneh.
“Ya elo cemburu—“
“Bukan cemburu dibilangin.”
“Iya, intinya emosi karena cewek kayak gini. Lo gak pernah sama sekali. Padahal kita udah pacaran berapa bulan, coba?”
Dia bergeming. Gue tahu dia juga baru sadar kalau selama ini dia jarang menunjukkan perasaanya. Alias being ekspresif. Kayak manusia normal gitu maksud gue. Kalau seneng ya ketawa. Kalau sedih ya nangis. Kalau kesel ya marah. Selama ini Gea kebanyakan datar mulu mukanya.
“Lo capek?”
Mendengar itu, gerakan jempol gue di atas punggung tangannya berhenti. Gue langsung ngangkat kepala karena barusan emang lagi nunduk
“Capek apa? Ngampus? Enggak juga.”
“Bukan,” dia gelengin kepala. “Capek punya pacar kayak gue.”
“Hah?” Gue malah ketawa, dong. “Apa, sih, Babe?”
“Gue jarang ekspresiin diri. Selama ini lo sering protes kalau lo kepingin sekali-kali gue manja, atau marah pas lo lagi sama cewek lain—“
Gue mengangguk, membuatnya berhenti ngomong. “Iya emang,” gue manggut-manggut lagi. “Inget, gak, bahkan pas gue bilang ke elo ada temen gue, cewek, lagi ke apartemen malem-malem lo cuman bilang ya udah gak papa?”
Dia meringis.
“Kayak gitu jujur aja bikin gue kesel, Ge. Ya emang sih gue bohongan doang itu bilang begitu. Tapi yang pasti, bahkan gue pancing aja, lo tetep biasa-biasa aja, kan?”
Dia menghela nafas.
“Tapi bukan berarti gue capek pacaran sama lo. Gue aja masih sesayang ini, kok. Gue kepingin lo lebih ekspresif, kayak yang gue bilang tadi. Tapi sekali lagi, bukan berarti gue gak suka lo yang sekarang. Cuman perlu dirubah dikit aja gitu biar kelihatan manjanya.”
Tapi karena Gea masih diem, gue inisiatif narik tangannya sebelum merengkuh tubuh cewek itu. Lagi, gue ciumi puncak kepalanya, menjalar ke samping kepalanya kemudian.
“Jangan ngerasa bersalah, ya, Ge?”
“Terlanjur, tahu.”
“Jangan. Gue cinta lo apa adanya. Cueknya elo udah jadi resiko. Kalau lo bisa berubah, itu bagus. Tapi kalau gak bisa, ya, gak papa. Asal lo masih disini sama gue, setia dan gak neko-neko di luaran sana, masih sayang sama gue, that’s more than enough.”
Karena kalau gak dibilangin kayak gini, bisa-bisa cewek cuek ini bakal overthinking semalaman—kayak biasanya kalau dia abis kena omongan orang, pasti dipikirin sampai pagi.
“Sayang?”
Dia mengangguk kala gue menagih jawaban. “Iya, Jef.”
“Good girl.”
Dia melepas pelukannya. Kemudian berdiri dari sofa membuat gue mendongak sambil memegangi jemarinya.
“Pindah ke kamar, yuk. Ngantuk.” katanya.
Gue berdiri menurut. mencuri kecupan di bibirnya sebelum kami sama-sama ke arah kamar utama milik Gea dan tidur siang disana.
Well, emang dari awal gue ke apartemen cewek itu buat numpang tidur siang—kayak biasanya—walaupun biasanya gue masih sempet-sempetnya cari kesempatan di atas ranjang sama cewek itu. Tapi siang ini jelas berbeda dengan siang-siang yang lalu.
Ngelihat Gea menguap beberapa kali saat hendak naik ke atas ranjang bikin gue gak tega minta yang aneh-aneh. Jadi pilihan terbaik untuk saat ini adalah ikutan merem setelah Gea ngedusel di d**a gue, bikin tangan gue memeluknya erat dengan satu selimut hangat menutupi kami berdua dari kaki hingga leher.
When I'm away
And you're at home
I don't believe
You're on your own
It's my foolish
Insecurity
Can't rid myself
Of jealousy
Jealousy
As thick as mud
It's in my veins
It's in my blood
Jealousy
It's plain to see
I love you more
Than you love me
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kami berdua sama-sama kebangun di pukul enam senja. Eh, senja bukan? Karena gue mau bilang sore, tapi udah gelap. Tapi mau bilang malem, jam segini, tuh, sebenernya bukan malem, kan?
Sebetulnya gue kebangun lebih dulu hampir setengah jam yang lalu. Tapi karena Gea meluknya erat banget, mana mukanya kelihatan kecapekan, gue gak tega buat gerak yang mana bisa aja bikin dia kebangun. Alhasil gue memilih membalas pelukannya dan meninabobokan dia dengan usapan lembut di punggungnya.
Kemudian barulah setengah jam setelah itu, dia menggeliat pelan. Melihat mata gue gak ada tanda-tanda kayak manusia yang baru bangun tidur, dia jadi nanya dengan suara khas orang baru melek.
“Lo gak tidur?”
Gue menunduk untuk mengecup matanya sesaat. “Tidur, kok. Tapi barusan kebangun.”
“Jam berapa sekarang?”
“Jam enam,” gue melebarkan tangan, membiarkan dia melepaskan diri dari rengkuhan gue. “Sini selimutan aja sama gue. Jam segini enaknya cuddle.”
“Mau mandi.”
“AC-nya angetin, Ge. Lo pakai tanktop doang gak dingin apa?”
“Lo kira sayuran diangetin?”
Gue memutar bola matanya. Baru mau protes dan jawab kalau aja Gea gak segera mengambil remote dan menuruti kalimat gue.
“Mau mandi?” tanya gue, padahal tadi dia juga udah bilang.
Dia mengangguk sembari membuka walk closet, mencari baju ganti.
“Emang mau kemana?”
“Ya enggak kemana-mana. Emang harus kemana dulu biar boleh mandi?”
Beer juga, sih.
Gea ini termasuk orang yang suka banget mandi. Sebetulnya bukan ‘mandi’nya tapi berendamnya. Cewek itu suka banget berendam dan ebrenang. Pokoknya sesuatu yang membuatnya tenggelam di air. Dia bahkan bisa sehari tiga sampai empat kali mandi. Beda lagi sama pacar dia yang kalau gak mau kemana-mana ya gak bakal mandi seminggu.
Gak papa. Emang yang namanya pasangan harus saling melengkapi begitu.
Setelah cewek gue meggeser mirror untuk menutup walk cloet, dia noleh lagi ke gue. “Lo gak mau mandi?”
Gue menggelen tanpa mikir panjang. “Dingin.”
“Pakai air panas, lah. Apaan banget alasan lo gak make sense.”
“Males, Ge. Mau males-malesan aja gue.”
Dan itu juga bener.
Karena belakangan gue jarang banget punya waktu buat jadi pengangguran dan males-malesan begini, gue harus memanfaatkan waktu dengan baik yaitu rebahan all day dan all night.
“Mandi dulu. Lo pulang ngampus tadi juga belum sempet mandi.”
“Gue masih—“
“Iya, masih wangi gue tahu. Tapi wanginya kecampur sama kuman. Gak lengket apa badan lo?”
Gue menggeleng jujur.
Dia berdecak kesal. “Mandi.” titahnya gak mau dibantah.
Emang Gea doang yang pacar rasa emak begini. Suka banget marah-marah dan ngomel kalau gue gak mau mandi.
“Mandi sama gue, deh,” katanya lagi mencoba membuat gue bilang iya. “Mandi sama gue, ya?” ulangnya.
Jadi gue menyeringai senang dan langsung lompat dari kasur. “Oke!”
Well, emang siapa yang mau nolak kalau dapet tawaran mandi bareng dari pacar secantik Gea Abrillea?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah melakukan ritual berdua sebelum mandi dan baru membersihkan diri, gue dan Gea keluar dari kamar mandi gak barengan. Tentu aja karena Gea harus memakai segenap produk untuk mempercantik wajahnya, yang padahal kalau kata gue dia udah cantik banget bahkan tanpa pake apa-apa di kulitnya.
Tapi sekali gue ngomong gitu, yang ada gue ditampol karena dituduh ngegombal. Emang cewek aneh. Orang gue jujur juga.
Gue duduk di ujung kasur Gea dengan rambut masih setengah basah, kaos abu-abu bergambar logo The Beatles dan celaan pendek rumahan. Tangan gue sibuk buka aplikasi online buat pesen makanan. Sambil scroll, gue agak teriak agar Gea yang ada di dalam kamar mandi bisa denger.
“Ge, gue pesenin makan, ya?”
“Iya.”
“Lo ada request?”
“Enggak ada. Ngikut lo aja.”
Gue manggut-manggut, gak peduli walaupun sebenernya dia juga gak tahu gerakan kepala gue. Orang dia lagi ada dimana.
Setelah selesai mengkonfirmasi pesanan, gue menaruh ponsel di atas ranjang secara sembarangan. Gabut, gak tahu mau ngapain. Jadi gue menghidupkan televisi lagi biar gak sepi-sepi amat sebelum kemudian Gea muncul dari dalam dengan bathrobe masih melekat di tubuhnya.
“Udah pesen?” tanyanya memastikan.
Gue mengangguk. “Kok belum ganti baju?’
“Bentar, mau ngehairdryer rambut. Rambut lo mau dikeringin juga?”
Kali ini gue menggeleng.
Gue lebih memilih buat mengamati pergerakan cewek itu yang tampak emang udah hafal banget mulai dari ngambil barangnya dimana, nyolokin kabel, dan lain sebagainya sampai kemudian udah siap ngeringin rambut.
Gea ngelirik gue dari kaca. “Apa liat-liat?’
“Buset, jutek.”
“Nanyaaaa,” ujarnya protes bikin gue ketawa. “Eh, Jef. Pesen dimsum juga coba. Tiba-tiba pengen dimsum.”
Kalimatnya itu bikin gue mengurungkan niat buat kelar kamar untuk bikin kopi hitam. Gue balik badan, membungkuk meraih ponsel dan mendekat ke arahnya sambil jemari sibuk mengota-atik di atas layar.
“Dimsum yang di biasanya?”
“Gak usah disana. Pasti udah abis jam segini. Terserah yang dimana, deh. Cari yang bintang lima.”
“Oke.”
Sambil jemari gue scroll terus ke bawah buat mencari toko yang pas, gue merapat ke arah punggungnya yang masih sibuk ngeringin rambut sama hairdryer. Satu tangan gue memeluk pinggangnya dari belakang dengan hidung turun menciumi tengkuk cewek itu. Padahal mata gue masih fokus cari makanan di hape.
“Wangi banget pacar Jefran,” ucap gue sambil mengedus tengkuknya.
Gea langsung mencabut kabel hairdryer. Rambutnya emang terlihat udah gak basah kayak tadi. Hanya saja masih setengah kering.
“Namanya juga abis mandi.”
Gue mendengus. “Emang gak bisa banget, ya, lo kalau gak sarkas?” tanya gue bercanda sambil kembali menciumi tengkuknya. Gea merebut ponsel dari tangan gue, kemudian memilih pesen dimsum sendiri yang mana itu bikin kedua tangan gue juga kembali nganggur.
Jadi yang gue lakuin adalah mempererat rengkuhan dari arah belakang. Iseng, satu tangan gue naik hingga dadanya, lalu meremas dan memijatnya membuat Gea melenguh.
“Jangan nakal. Lo tadi udah bikin gue lemes di kamar mandi.”
“Gak nakal. Gue cuman mau pegang.”
“Awas aja kalau minta lagi.”
“Kenapa?” Gue malah nanya.
Dia memutar bola matanya dan gue bisa lihat itu dari arah kaca tempat Gea bercermin.
“Kita aja abis mandi!” dia langsung nyolot sambil melotot bikin gue ketawa dan cium pipinya dari belakang. “iya, iya, enggak minta lagi. Kan tadi udah di kamar mandi.”
Dia mengangkat jempolnya, kemudian mengusap samping kepala gue asal-asalan. “Good boy.”
“Tapi kalau nanti tengah malem boleh, kan?”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Loving him is like
Driving a new Maserati down a dead end street
Faster than the wind, passionate as sin
Ending so suddenly
Loving him is like
Trying to change your mind
Once you're already flying through the free fall
Like the colors in autumn, so bright
Just before they lose it all.”
Sembari mendengarkan lagu Red dari Taylor Swift yang terdengar dari spotify di laptop gue, Gea membaca buku tebel yang berhubungan sama salah satu mata kuliahnya. Jangan tanya judulnya apa karena gue juga gak tahu dan gak penting juga buat ditanyain. Orang gue gak minat ikutan baca.
“Ge, udahan, kek, baca bukunya.”
Dia menurunkan benda di kedua tangannya, tapi tetep menunduk. Iya, lah, nunduk. Orang yang ngajak dia ngomong aja lagi tiduran di paha dia.
“Baru juga berapa bab.”
“Tapi gue jadi lo anggurin. Gue ngegame gak lo bolehin.”
“Ya gak papa kalau lo mau ngegame. Tidurnya di apartemen lo aja gak usah nginep sini.”
Ya beginilah, saudara dan saudari. Emang Gea, tuh, anaknya begini.
Gue sadar diri, kok, tapi Gea begini karena tahu gue lebih baik istirahat karena besok udah mulai latihan lagi sama Lima Hari sampai seminggu ke depan sebelum perform di salah satu gig artis besar.
Lagi pula, mata gue emang kelihatan capek banget karena terus-terusan ngelihatin hape dan laptop. Kebanyakan ngerjain tugas dan kebanyakan main game. Makanya dia mau gue vakum dulu dari gawai.
Gea menaruh bukunya di atas nakas sebelum menunduk dan mencium bibir gue sekilas, yang mana gue jadi harus menahan pipinya sesaat agar dia mau agak lamaan dikit.
“Tidur sekarang aja?” dia nanya setelah menjauh, kemudian melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sebenernya bukan gue dan Gea banget, sih, tidur jam segini. Tapi karena udah gak tahu mau ngapain, kayaknya emang itu yang paling bener buat dilakuin.
Tapi gue menggeleng. “Pillow talk, yuk? Sekalian siapa tahu nanti ketiduran.”
“Boleh.”
Gue mengangkat kepala buat bangun dari paha Gea hanya untuk kembali tidur di tempat yang bener, yaitu di atas bantal dengan Gea yang sekarang juga memposisikan diri senyaman mungkin dengan selimut yang sudah menutupi keseluruhan badan.
“Mau ngomongin apa?” katanya. “Lo ada yang mau diceritain emang?”
"Ada."
"Apa?"
"Our s*x activity." ujar gue jujur dan gamblang. lalu terkikik geli mendapati ekspresi Gea. Pasti ini cewek otaknya udah mikir kemana-mana, deh. Padahal maksud gue, kan beneran mau bahas tentang itu tanpa ada niat ngegodain.
Dasar Gea Dirty Abrillea.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *