Jefran : Pillowtalk

3350 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  “Pillow talk, yuk? Sekalian siapa tahu nanti ketiduran.” “Boleh.” Gue mengangkat kepala buat bangun dari paha Gea hanya untuk kembali tidur di tempat yang bener, yaitu di atas bantal dengan Gea yang sekarang juga memposisikan diri senyaman mungkin dengan selimut yang sudah menutupi keseluruhan badan. “Mau ngomongin apa?” katanya. “Lo ada yang mau diceritain emang?” "Ada." "Apa?" "Our s*x activity." ujar gue jujur dan gamblang. lalu terkikik geli mendapati ekspresi Gea. Pasti ini cewek otaknya udah mikir kemana-mana, deh. Padahal maksud gue, kan beneran mau bahas tentang itu tanpa ada niat ngegodain. Dasar Gea Dirty Abrillea. Gue mendorong dahinya ke belakang, pelan. “Mikir apa, Cantik?” “Gak miki apa-apa.” Gue ketawa. “Gak. Bukan yang gimana-gimana. Gue cuman mau ngomongin soal the last time we did it.” “Kemarin lusa maksud lo?” Gue nyengir. “Iya.” Kalau dipikir-pikir, gue sama Gea ini emang sering banget ngelakuin ‘itu’. Kayak setiap berduaan bentar, tiba-tiba berujung kesana. Ciuman dikit, ujungnya kesana juga. Tapi bukan berarti maksud gue tiap hari, ya. Baik gue sama Gea bukan hyper s*x juga, kali. Hanya saja, tiga kali dalam seminggu itu beneran keseringan kalau menurut gue. Apa lagi dengan status gue sama dia yang masih pacaran. I mean, gue sama dia belum nikah. Tapi gue seenaknya ngajakin anak orang buat begituan mulu. Ini yang pengen gue bahas sama Gea. “Don’t you think that we too often?” tanya gue kemudian. “Apa? Making love?” “Iya.” “Kenapa tiba-tiba mikir kesana?” dia memicing aneh memandangi gue. “Gue punya salah?” “Bukan, Baby. Gue cuman belakangan lagi mikir aja. Jangan-jangan lo selama ini make love sama gue terpaksa? Padahal gak nyaman?” “Gue nyaman-nyaman aja, sih.” “Bener?” “Iya. Jefran, gini, deh. Gue bahkan pernah bilang pas pillowtalk kita minggu lalu gak, sih? Inget gak yang gue bilang kalau gue ngerasa dicintai tiap kita make love?” Ah, yang satu itu. Iya, gue jelas masih inget. Gue masih inget gimana dia bilang kalau dia seneng karena tiap ngelakuin itu, gue selalu mengutamakan kenyamanannya. Gea bahkan cerita kalau dulu pas sama mantannya, dia selalu dibikin hampir pingsan saking kasarnya dan tega bikin Gea sampai kesakitan. Bener-bener bukan nikmat lagi yang dirasain, tapi sakit kayak lagi diperkosa. “Bukan berarti gue gak suka dikasarin. I like to do b**m some times as if it with you,” lanjut Gea bikin mata gue naik lagi ngelihat ke arahnya. “Paham bedanya, kan, Jef?” Gue mengangguk, mencium bibirnya sekilas. Baru gue mau ngomong, dia udah nyium gue sebagai pembalasan. Kecupan doang, sih. Terus dia ngomong, “Gak usah overthinking soal itu. Gue selalu jujur kalau gak nyaman. Ya, kan?” “Iya. Pertahanin yang satu itu, ya, Ge. Gue gak mau bikin lo gak nyaman.” “Kita juga bukan yang setiap hari ngelakuin. So i think it’s okay.” Gue berdeham mendengar itu. “Tapi, Ge. Jujur aja, ya. Kadang gue suka ngerasa bersalah.” “Karena dikit-dikit minta?” Gue meringis, tapi kepala gue juga akhirnya mengangguk. Lagian semua yang bikin gue overthinking emang harus keluar malam ini semua. Toh gue udah kepikiran sejak kemarin malem buat ngomongin ini tapi gak ada waktu mulu. “Terus suka keinget pas kamu lagi capek tapi aku malah gak tahu diri malah minta.” Gea terkekeh, bikin gue berdecak. Padahal gue beneran ngerasa bersalah pas itu. “Tapi jadinya gue tetep nolak, kan?” “Tapi tetep bantuin gue.” “Iya, soalnya kasihan.” “Tuh. Padahal lo lagi capek pas itu.” “Jef. Jefran, hei,” Cewek gue itu merangkum pipi gue dengan tangan sebelahnya. Membuat gue menciumi jari jempolnya yang berada di dekat bibir gue. “Dengerin gue. Gue yang gak keberatan. Kalau gue capek beneran, gue selalu nolak, kok. Selalu bisa nolak dan lo gak pernah maksa. Lagian kenapa, sih, random banget tiba-tiba ngajakin bahas ngomong beginian?” “Ya maksudku biar clear aja.” “Udah? Itu aja yang mau diomongin?” Gue mengangguk ragu. Sebelum memulai percakapan ini tadi, gue padahal udah inget-inget apa aja yang mau gue omongin. Karena emang banyak padahal perkara ranjang doang. Tapi sekarang malah udah lupa semua. “By the way, lo pernah ngomongin ini sama orang tua lo? Tentang s*x education?” Pertanyaan Gea bikin gue mengangguk. “Walaupun gak deket sama bokap dan nyokap, tapi beberapa kali gue ketemu mereka, selalu itu yang dibahas.” “Mereka tahu soalnya kalau lo gak mungkin tumbuh jadi cowok alim.” “Sialan,” gue memakinya bercanda. “Tapi selain itu, kayaknya karena mereka tahu gue tinggal di aoart sendirian jadi ada kemungkinan bakal bawa cewek dan aneh-aneh.” “But you did.” Jefran menyunggingkan senyum miring. “Iya. Ini nyatanya sekarang lagi sama lo tiduran berdua.” “Tapi kalau ngomong gitu gimana, sih? Gak canggung emang?” “Loh, lo emang gak pernah ngomongin ini sama bokap atau nyokap?” Gea menggeleng. Jefran manggut-manggut paham dan mengusap kening pacarnya, seolah memberi tanda kalau pacarnya itu gak perlu menjelaskan lebih lanjut karena Jefran paham. Gea, pacarnya ini, juga anak korban broken home. Bedanya sama gue adalah kalau bokap nyokapya Gea walaupun udah cerai, mereka tetep akur. Sementara bokap dan nyokap gue mana pernah. Yang ada kayak saling ngejelekin satu sama lain di depan orang-orang. Sisi positifnya orang tua gue adalah mereka gak sesibuk itu sampai gak pernah ngurusin anak—walaupun gue juga gak mau diurus mereka. Sementara Gea, orang tuanya sibuk banget. Ke Jakarta, alias ke Indonesia, bisa-bisa pas natalan doang. Separah itu. Biasanya, sih, sering pulang tapi cuman sehari atau seminggu. Gak pernah menetap lama kemudian langsung lanjut lagi ke negeri orang. “Kalau gue, sih. Nyokap yang sering bilang kayak gue gak boleh pilih cewek sembarangan. terus, ya, harus main aman aja. Yang kedua tadi bokap, sih, yang bilang.” “Pesan tersiratnya adalah, mereka ngasih izin?” “Bukan ngasih izin, sih, Ge, namanya. Kalau ngasih izin kayak gimana aja dengernya. Tapi lebih ke mereka tuh sadar diri sekarang kalau gak pernah bisa ngelarang aku buat gak ini dan gak itu karena—ya, you know aku anaknya gak bisa banget dikekang. Jadi jalan amannnya adalah mereka ngasih tahu kalau aku gak boleh begini, gak boleh begitu tapi versi lebih mateng aja kalimatnya.” “Maksudnya?” “Ya kayak bilang kalau gak boleh lupa sama pengaman kalau lagi main biar gak ribet di kemudian hari. Soalnya banyak cewek modus bilang hamil biar dinikasin—ya begitu-begitu, deh, pokoknya.” Gea manggut-manggut. “Gue boleh tahu first person lo gak, Ge?” Dia ngelihat gue agak gak yakin. “Yakin?’ “Yakin apa?” “Yakin mau ngorek info yang beginian? Lo, kan, jealousan jadi cowok.” Gue menggaruk pipi yang gak gatel. Emang bener, sih, gue cemburuan. Tapi gue terlanjur penasaran. Apa lagi dia kelihatan pro banget bahkan sejak awal main sama gue, gue selalu terpukau. Gue jadi pengen tahu gimana hatinya dulu bekerja kalau sama cowok lain, selain dan sebelum sama gue. “Ya gak papa. Lagian kita gak pernah ngomongin ini dari awal deket.” “Soalnya kita sama-sama gak suka ngungkit masa lalu. Kita sama-sama punya prinsip gak ngepentingin masa lalu pasangan.” Gue mengangguk setuju atas itu. “Kecuali malem ini, deh. Karena gue terlanjur penasaran.” “Hm, tapi gantian, ya?” “Ask and Ask, nih, ceritanya?” Dia mengangguk lucu. “Oke. Lo dulu atau gue dulu?” “Gue, dong. Ladies, first, tau.” ‘Iya, iya. Ladies first, iya. Ya udah apa?” “First person lo?” Denger itu, gue ketawa sambil menjentikkan jemari di atas kening Gea. “Gak kreatif lo kalau bikin pertanyaan.” “Bodo amat.” “Hm, siapa, ya?” gue sok mikir. “Bentar, gue inget-inget.” “Alah! Bohong banget, deh, kalau gak inget.” “Lah?” Gue ngakak jadinya. “Kenapa gak mungkin gak inget?” “Ya namanya aja first time! Susah lupainnya.” “Biasa aja, sih, gue. Orang dulu cuman karena keburu kepo aja makanya pas punya pacar pertama langsung begituan.” Dia langsung mengerling jahil. “Oh, jadi sama pacar pertama lo dulu? Siapa namanya? Sibad?’ Gue ketawa lagi, meraup wajahnya dengan gemas. “Apaan, dah, sibad. Lo kira Siti Badriah?” “Eh, siapa sih namanya?” “Siba.” “Oh, iya. Siba. Tapi namanya unik, loh, ya. Jarang tuh ada yang punya nama Siba.” Gue mengangguk-angguk. “Kalau dipikir-pikir, gue udah lost contact dari lama banget, deh, sama dia. Kemana ya dia sekarang? Aduh, aduh, aduh! Ge, iya, ampun! Sakit!” “Makanya jangan aneh-aenh lo kalau ngomong!” Sambil mengusap kepala, gue masih terkikik geli. “Aduh, sekarang pacar gue udah bisa agresif ternyata. Dipanasin dikit udah kebakaran.” ledek gue, dengan hati berbunga-bunga. "Sekarang giliran lo. Siapa?" "Loh, bentar. Gue kan belum selesai tanya." "Eh, yang namanya Ask and Ask ya satu-satulah." "Ya udah, pake rules gue," dia nyengir. "Tanya sepuasnya dulu baru gantian." Ngelihat Gea sekarang dengan semangat empat lima langsung duduk di atas kasur, dengan posisi kaki bersila, mana matanya yang tadi udah merah karena mengantuk, gue yakin banget nih malem ini kita berdua pasti malah begadang gara-gara Ask and Ask. Salah banget emang nyarain pillow talk berakhir ngegame. Mana gue yang udah gak kuat buat melek pula. "Dudukan aja, sini," dia menepuk sisi kosong di depannya. Menyuruh gue yang udah siap banget buat tidur buat ikut bangun dan dudung di hadapannya.  Gue menghela nafas. "Kenapa kok bau-baunya kita bakal jadi kelelawar hari ini, ya?" Dia cuman ketawa sesaat sebelum memberi gue kecupan. "Noh, gue kasih biar melek." "Dih, segitunya. Kelihatan banget lo kepo sama masa lalu gue." "Emang lo gaaaaaaak?" Gue mengedikkan bahu sok mengelak. Padahal, mah, ya iya. Pillow talk My enemy, my ally Prisoners Then we're free, it's a thin line I'm seeing the pain, seeing the pleasure Nobody but you, 'body but me 'Body but us, bodies together I love to hold you close, tonight and always I love to wake up next to you * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  “Jefran, mumpung beridiri, sekalian dong hidupin speakernya.” Gue denger itu langsung noleh ke arah dia dengan pandangan memicing. “Jangan bilang lo mau nyetel lagu?” “Hih, emang kenapa?” “Udah amlem, Ge. Ini kenapa lo jadi semanagt begini, sih, padahal tadi katanya ngantuk?” Gea nyengir, memperlihatkan gigi-gigi putihnya membuat cewek itu tampak dua kali lipat lebih menggemaskan, kayak lagi main iklan Pepsodent. Gue mengangguka akhirnya, mendekat ke arah speaker di kamar cewek itu yang terletak di atas meja di samping TV. “Bluetooth mode,” katanya mendikte. “Iya, tahu.” Setelah melakukan apa yang dia mau, gue masuk ke kamar mandi karena dari awal gue bangn dari kasur emang niatnya mau ke kamar mandi karena kebelet pipis. Samar-samar, dari dalam kamar mandi gue mendengar Gea mulai nyanyi-nyanyi bikin gue terkekeh geli. Sometimes when I'm with you I just get that feeling inside Sometimes when I see you I can't take you out of my mind Everyday from the sun rising up till the night falls Give my all just for you cause you're all I'm dreaming of Nothing else I need you to do You should know by now That I feel so good somehow inside Satu lagi yang unik soal Gea Abrille. Sebenernya banyak, sih, yang punya karakter yang satu ini. Cuman menurut gue gimana Gea selalu ngulangin lagu yang itu-itu mulu setiap kali suka sama satu lagu, bikin gue ketawa sendiri. Pernah, nih, satu bulan lalu. Dia lagi bucin sama lagunya Pamungkas yang judulnya Monolog. Sebulan penuh yang didengerin dia, yang dinyanyiin dia, ya, cuman lagu itu. Di mobil dengerin itu, ngelamun dikit nyanyi itu, sampai-sampai gue yang gak pernah dengerin lagu Pamungkas sebelumnya—maksud gue lagu Mas Pam yang ini—jadi ikutan apal karena keseringan denger. Terus karena beberapa waktu lalu pas gue manggung sama anak Lima Hari bawa lagu ini, sebetulnya lagi acak aja. Ceritanya ada pengunjung restoran yang request lagu Afgan yang judulnya Heaven. Karena kebetulan anak Lima Hari pada tahu, ya udah kita nyanyiin. Terus Gea yang waktu itu nemenin gue manggung, dia tiba-tiba jadi suka lagu ini. “Eh, tadi judulnya apa, sih,” dia nanya pas kami udah on the way pulang, udah di mobil ceritanya. “Yang tadi ada cewek request.” “Yang mana? Banyak.” “Aduh, yang kamu kebagian reff—sial, gimana sih liriknya? Lupa lagi.” “Hah?” gue malah bingung dong dia ngasih cluenya gak jelas. “Apa, sih? Pilihan Hatiku?” “Bukan itu mah aku juga tau.” “Eung, yang lagu barat?” “Bukan, yang Isyana itu loooh.” “Ooh, yang sama Afgan? Judulnya Heaven itu.” Dia lagsung menjentikkan jari. “Ah, iya. Heaven,” ulangnya kemudian dia menghidupkan MP3 d mobil dan dengerin lagu itu, Eh siapa yang sangka dia sampai sekarang malah dengerin itu mulu dimana-mana. Abis cuci tangan dan ngeringin pakai tisu, gue menghampiri cewek yang lagi ngangguk-ngangguk ngikutin irama lagu yang dia denger. Masih Heaven. Ever since day one I knew you were the one, inside Every kiss, every touch Makes my heart feel so fine I'm in heaven I'm in heaven Gue ikutan nyaut setelah mencium puncak kepalanya. “Everyday from the sun rising up till the night falls. Give my all just for you cause you're all I'm dreaming of. Nothing else I need you to do.” Dia tersenyum sambil mendongak, membuat gue jadi menurunkan kecupan di bibirnya. “You should know by now That I feel so good somehow inside Ever since day one I knew you were the one, inside.” “Gak pernah ganti-ganti lagunya.” “Hehe, biasalah.” Gue mengambil gelas air putih di atas nakas lalu meminumnya hingga tandas, kemudian menyamankan duduk di atas kasur, sama-sama bersila seperti posisi duduk Gea di hadapan gue saat ini. “Jadi? Beneran begadang kita?” tanya gue agak ragu, apa lagi saat melihat jam dinding barusan, ini beneran udah malem banget alias mau ganti hari udahan. ‘Lo ngantuk emang?” “Enggak. Guenya gak papa. Lo-nya. Mau naik darahnya?” Iya, Gea ini punya darah tinggi yang mana sering kambuh kalau begadang. Walaupun kata dia itu cuman berlaku pas dia masih SMP sampai kelas 1 SMA doang, tetep aja gue gak mau lengah jagain dia, dong. Every kiss, every touch Makes my heart feel so fine I'm in heaven Come over baby, just lay here with me You know that I'll be the first thing you see Cause you're the reason I breathe easily Easily, easily “Lebay. Udah gak papa tahu gue, nih.” Gue menghela nafas. Tangan gue bergerak mengambil selimut lalu menutupi pundaknya yang terbuka. “Mulai sekarang?” gue nanya. Dia mengangguk. “Ask and Ask-nya pakai rule gue tadi, ya.” “Iya, Hon.” “Tapi ada rule-nya lagi.” “Apa?” “Gak boleh bohong—“ ‘Ya kalau itu emang begitu permainannya, Sayang.” “Maksud gue kalau bohong ada hukumannya. Harus digambar mukanya pakai lipstick gue.” Gue mengernyit mendengar itu. “Mana bisa kita deteksi yang ditanya bohong apa gak. Kecuali pakai alat yang apa tuh namanya—lie detector atau apa sih yang kalau bohong nyetrum.” Dia langsung diem. Terus nyengir. “Oh iya juga, ya. Percuma gue ngeluarin lipstick.” katanya kemudian menaruh lipstick di sebelah pahanya. Gue mengecup bibirnya sekali lagi karena tahu cewek itu abis pakai dan coba-coba lipstick karena kelihatan merah. “Udah, ayo. You first." "Gue lagi? Terakhir, kan, udah gue yang nanya." "Hah? Emang iya?" "Iya, yang gue nanya first person bikin lo gak perjaka." Gue ngakak. "Bahasa lo, Ge. Ya udah gue, ya. Kalau lo sama siapa?" "Ih, lo tahu orangnya, tahu!" "Hah, sumpah?" Cewek itu mengangguk. "Si Romeo, yang waktu itu kita sempet sapa-sapaan pas belum jadian." "Ooh, yang badannya keker?" "Iya, itu." "Wih, gak main-main. Lo bilangnya cuman temen waktu itu. Bilang, kek, kalau mantan." "Ya gak enak, lah, ngakuin dia jadi mantan di depan orangnya." "Terus-terus? Gimana ceritanya?" "Awalnya?" Gue mengangguk. Bukannya cemburu, yang ada gue sama Gea nih sama-sama antusias buat ngomongin first s*x kita sama mantan. Ya, gimana, ya. Ngapain juga cemburu orang sama masa lalu? Yang paling penting, kan, Gea sama gue sekarang, dan gue sama dia.  "Ya gitu. Pas SMA, kan, jadi clueless--" "Ah, boong. Gak mungkin seorang Gea clueless." Dia ketawa sambil dorong dahi gue. "Kurang ajar lo." "Ye, emang kan? Pasti lo pernah nonton yang enggak-enggak. Jadi udah tahu harus apa." "Ya iya, sih, emang pernah nonton. Tapi kalau praktek kan baru pertama ya sama Romeo. Jadi clueless, lah. Emang lo gak?" Gue ragu tapi menggeleng. "Kayaknya sih agak clueless. Tapi karena udah kepancing, ya, jadi ada inisiatif aja. Kayak tahu harus apa walaupun belum pernah sama sekali. Paham gak lo?" 'Dia mengangguk-angguk. "Kayak gitu juga yang gue maksud. Gue clueless tapi gak b**o-b**o amat. Tapi untungnya Romeo, tuh, apa ya. Walaupun beda empat tahun sama gue, tapi dia tahu ngetreat virgin tuh kayak gimana. Jadi ya gak nyesel-nyesel amat, lah." "Enak mana sama gue?" tanya gue jahil. Sebenernya, sih, dalam hati udah ketar-ketir takut sakit hati kalau aja dia jawab dia lebih seneng main sama mantannya. Karena seinget gue dulu pas ketemu sama Romeo di tempat billuard, Romeo tuh badannya yang gede, tinggi, macem siapa, ya kalau artis Indonesia? Gak sampai Dedy Corbuzer tapi keker intinya. Ketara banget kalau suka ngegym. Jadi gue tebak staminanya emang bagus. Anjir. Inscurenya cowok, tuh, kadang ada disitu, man. "Masih tanya lo?' "Sama dia?" tebak gue. Dia ketawa denger itu. Wah, ini cewek. Bisa-bisanya ketawa padahal gue beneran ketar-ketir.  Dia menarik leher belakang gue. Gue tahu dia mau nyium, jadi ya gue biarin aja. Lagian enak, kok, ciuman. Cuman bentar, sih, kali ini. Dia kemudian menjauh sambil ngusap bibir gue yang basah karena tingkahnya. "Romeo emang yang pertama dan mungkin bakal unforgettable. Tapi sama lo yang terbaik." 'Peres." "Sumpah," Dia menunjukkan dua jemarinya pertanda ia beneran bersumpah. "Soalnya gue gak pernah sesayang ini sama cowok. Sama lo doang. Terus--sialan, lo masa lupa sih gue selalu bilang kalau gue suka banget pas lo nyentuh gue karena lo selalu being gentleman?" "Ge." panggil gue tiba-tiba. "Hah? Apa?" "Gak usah Ask and Ask, deh. Dilanjut besok aja." 'Dih, kok gitu?" Gue membawa tubuhnya ke atas pangkuan dan bersiap melucutinya. "Gak tahu. Turn on banget gue denger lo jawab kayak gitu. Makin cinta banget sama lo." You should know by now That I feel so good somehow inside Ever since day one I knew you were the one, inside Every kiss, every touch Makes my heart feel so fine Every kiss, every touch Makes my heart feel so fine I'm in heaven * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN